
"Kak Sera lagi ngapain?" tanya seseorang secara tiba-tiba datang di belakangnya.
Sera bergelonjak karna dia sedang memasak ramen sambil melamun. Sera itu suka melamun, brainstorming dengan kepalanya sendiri. Terkadang kala dalam percakapan saja, perempuan dia selalu tiba-tiba diam memikirkan pekerjaannya, para anabul Ibunya, atau mas-mas bakso depan kantornya.
"Eh, hi Kai! Kakak lagi bikin ramen, mau?"
Kai menyenderkan punggungnya di kulkas sambil menatap Sera yang tak ingin menatapnya. Kai sendiri tahu sering mendengar lelucon yang suka dilontarkan oleh Cecenya sendiri soal Kak Sera yang memiliki perasaan untuknya. Entah itu keseriusan atau hanya sekedar candaan.
Tapi sejujurnya, Sera ketika bertemu dengan Kai akan salah tingkah brutal. Perempuan itu selalu nampak gugup kalau di depan Kai. Padahal kepercayaan diri gadis ini patut diacungi jempol makanya selalu memenangkan projek karna skill komunikasinya yang keren dalam membuai.
"Sore-sore gini?"
"Emangnya makan ramen ada jadwalnya?" tanya Sera membuat Kai terkekeuh.
"Enggak sih, Kak. Tapi aku mau dong. Sekalian kita makan bareng."
Walah, wajah Sera sepertinya sudah tersipu malu-malu mendengar hal itu. Walau sudah mengenal adik dari seorang sahabatnya itu dari lama namun tetap saja rasanya dia masih menggebu-gebu.
"Okay, gak ke pabrik, Kai?" basa basi Sera di sela mengambil bungkus ramen lagi.
Karna Jia tidak mau meneruskan mengurus pabrik. Otomatis, Kai lah yang harus menanggung jawabkan segala urusan pabrik ketika Papih mereka tidak bisa. Ditambah Papihnya tidak boleh kecapekan kata Dokter. Otomatis, dia yang menggantikan sambil menunggu sidang kuliahnya.
Kai menggeleng, "Tadi doang sebentar. Ngecheck barang yang baru sampe."
"Gimana keadaan pabrik sekarang?"
"Masih agak turun, Kak. Nilai saham jadi otomatis turun, rencana Papih mau jual lagi sebagian persen saham."
"Sayang banget."
"Iya tapi mau gimana lagi. Butuh pemasokan dana gede, kalau nggak bisa bangkrut lama kelamaan."
Sera mengangguk paham, ditambah dia sering menyaksikan hal yang begini sudah jadi makanannya sehari-hari.
"Coba minta bantuan Jia."
"Maksudnya?"
"Cecemu itu kan lagi deket sama orang yang hobbynya beli saham. Coba tawarin ke dia."
Kai baru kepikiran. Begini-begini juga Kai suka membaca buku majalah perbisnisan, dan Ilyas sering masuk ke dalam majalah bisnis. Terkadang Kai selalu berdecak kagum pada lelaki itu.
"Iya, juga, ya. Nanti deh aku obrolin dulu ke papih."
Berbeda dengan Jia, Kai masih menggunakan kata aku-kamu tergantung situasi terkadang dia juga memakai i-you, sepertinya seingin dia menggunakan kata apa saja.
"Kak," panggil Kai tanpa langsung ke obrolan.
__ADS_1
"Hah?"
Sera mengangkat panci itu untuk mulai memasukan mie ramenya dan punya Kai ke dalam mangkuk.
"Kamu suka aku beneran, kah?"
Saat telinganya mendengar itu otomatis Sera malah memasukan kuah ke dalam mangkok malah tidak sengaja jarinya memegang panci yang tidak tertutupi kain membuatnya kepanasan.
"Aw!"
Kai dengan sigap mendekat, melihat dari belakang. Langsung memegang jari Sera dan dia tiupin perlahan. Tangan lainnya disimpan ke depan untuk menahan tubuh Kai, membuat posisi mereka seperti sedang berpelukan. Bahkan degup jantung Sera berdetak dengan kencang. Bukan soal rasa sakitnya, melainkan soal betapa gugupnya dia berdekatan dengan Kai.
"KALIAN NGAPAIN?" teriak cempreng suara Jia dari belakang.
Sera langsung mendorong dada Kai dengan punggungnya dan melepaskan tangannya yang sedang dipegang oleh Kai. Lalu menatap Jia dan di belakangnya ada Ilyas yang sedang memperhatikan mereka. Mata sipit Jia semakin memicing curiga. Sera hanya bisa berkedip-kedip gelisah takut mereka berpikiran macam-macam.
"Gak ngapa-ngapain. Tadi Kak Sera kena panci panas."
Raut Jia langsung menampilkan rasa khawatir. Walau gadis itu si kecil brandalan punya rasa peduli.
"You gapapa? Kenapa suka ceroboh amat sih?!" katanya sambil memperhatikan jari telunjuk yang terkena panci panas.
"Gapapa elah, lebay lu. Hi, Ilyas!" bukannya merasa tersanjung karna dikhawatirkan, Sera malah melepaskan jarinya yang dipegang Jia lalu menyapa Ilyas.
"Hi! Jarinya gak kenapa-kenapa?"
Jia mendengus lalu menapok lengan Sera, "Gak usah kecentilan!"
Sera meringis lalu mengelus lengannya yang terkena tabokan itu, lalu melirik Kai sekilas yang sedang menatapnya lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Bikin apa sih itu? Mau dong." Jia melirik ke belakang Sera, ada dua mangkuk yang sudah terisi mie ramen.
"Kakak, kamu mau makan?"
"Kita kan udah makan tadi?"
Jia berdiam, berpikir kapan dia makan? Oh ternyata saat makan bersama dengan keluaeganya Ilyas.
"Oh, iya-iya." anggukan Jia.
Jia punya kebiasaan perut karet aias dia susah kenyang terkadang sampai lupa kalau dia sudah makan.
"Emang kamu laper lagi?"
Jia mengangguk kembali. "Mienya buat i boleh gak?"
"Enak aja! Gue yang masak sampe kena panci panas. Lo maen nyerobot mau ambil." sengit Sera tidak terima.
__ADS_1
"Punya i aja makan, Ce."
"Oh, itu punya you? Thanks Kai." katanya dengan cengiran lalu mencium pipi Kai yang lebih tinggi darinya.
Jia menyerobot mengambil mangkuk berisi Mie punya Kai lalu dipindahkan ke meja makan di depan Ilyas yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Nanti naik berat badan ngomelnya ke si Ben." sindir Sera mulai mengambil mangkuknya lalu duduk di sebelah Jia, "Ilyas mau? Biar aku bikinin."
"Cihh, sok lembut."
"Apa sih lo sewot aja?!" semakin galak Sera.
Sebenarnya, Jia takut kalau Sera marah. Karna orang ini kalau marah-marahnya tidak main-main walau lebih emosian Jia kalau sedang kumpul bertiga.
"Nggak. Saya udah kenyang, kalian makan aja."
"Mau kopi, Mas?" kali ini Kai yang menawarkan karna Kai habis membuat kopi.
"Nggak. Saya gak terlalu suka kopi."
Kai mengangguk paham. Padahal biasanya orang pembisnis tidak bisa luput dari kopi.
"Gimana tadi? Lancar gak?" Bisik Sera ketika Kai dan Ilyas fokus mengobrol.
"Kacau!" jawab Jia sambil menyeruput mienya.
"Pasti lo bikin masalah." tuding Sera karna jelas sudah mengenal kelakukan sahabatnya ini.
"Enak aja! Walau iya, sih. Tapi ini semua bukan i yang duluan cari gara-gara."
"Tapi lo ngelawan kan? Jadinya membeledak." bak sudah bisa hapal tanpa dijelaskan pun.
"Iya, gila sih. You kalo liat secara langsung juga bakalan emosi. Harusnya you ikut i."
"Sinting ya, lo?" Bisikannya kali ini agak berisik sampai kedua lelaki di depan mereka menoleh takut dua gadis ini ribut.
Jia melotot kesal karna Sera berisik.
Kedua laki-laki itu melanjutkan obrolannya soal pabrik yang dikelola keluarga Jia.
"You tuh kalo bisik-bisik pelan kenapa sih? Profesional dong! Lebih bagusan bisik-bisik tetangga daripada bisikan you." tegur Jia.
"Yaudah jelasin gimana ceritanya."
"Nanti deh. Kalau Ilyas udah pulang."
Sera mengacung jempol menandakan setuju.
__ADS_1