
Dari semalam, telpon Ilyas dipenuhi oleh pesan telpon dari Nadya. Perempuan itu mengirim puluhan telpon dan ratusan pesan berisi permintaan maaf serta dia meminta pertemuan mereka berdua.
Ilyas semalaman tidak bisa tidur. Kepalanya dipenuhi oleh Nadya dan Jiani. Bahkan Jianj yang baru dikenalnya masuk ke dalam pikirannya. Pikiran soal rencana pernikahan yang akan dia jalani dan Nadya yang akan menjalankan pernikahan tanpanya.
Apakah ini nyata? Ini semua terlalu mendadak dan rancu. Sakitnya masih terasa, dia belum bisa menatap Nadya apakah nanti dia akan kuat dan bisa menahan kendali ketika mendatangi pernikahan mereka? Apa kah dia akan menghancurkan pernikahan itu? Pikirannya berkecamuk dalam diam.
Siang ini di hadapannya, gadis yang dulu teramat dia cintai dan dia selalu membanggkannya, yang fotonya dia pajang di kamarnya. Gadis yang selalu bersikap manis disertai malu-malu, membuat Ilyas selalu ingin menyayanginga. Rasanya dia selalu ingin menarik gadis itu untuk membangun rumah tangga bersamanya, namun kali ini hanyalah dorongan yang bisa diambil. Karna dia sudah tertarik oleh orang lain, bukan dirinya yang menarik.
Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan gelisah. Tidak ada yang memulai obrolan diantara mereka yang saling menahan rasa rindu, hanya bisa tertanam dalam lubuk yang terdalam. Kali ini mereka sudah berbeda, bukan lagi sepasang seperti sepatu yang akan selalu menjadi dua namun satu. Dia telah kehilangan.
"Apa kabar, Ilyas?"
Kali ini panggilannya bukan 'Mas', panggilannya menjadi nama aslinya. Kata 'Mas' itu sudah terkubur sepertinya atau sudah ditaruh kepada orang lain.
"Baik." Jawab seadanya tanpa bertanya balik karna dia bisa melihat bagaimana penampilan Nadya. Gadis itu masih terlihat baik-baik saja walau dari tadi dia menghindar ketika mata mereka berpas-pasan, enggan menaut.
"Maafin aku maksa buat minta ketemu. Aku tau dari Mbakmu kalau kamu lagi disini. Jadi... Aku harus menjelaskan semuanya, kan?"
Ilyas diam, mulutnya tertahan untuk mengeluarkan seuntai kata pun. Rasanya ketika dia berbicara akan ada getaran menyakitkan.
"Aku minta maaf. Aku tau aku salah, ini semua memang kesalahan. Aku... khilaf, kelepasan. Maafin aku, Yas." Ucapnya dengan pelan namun Ilyas masih bisa mendengarnya dengan baik.
Kali ini dia sudah berani menatap mata Ilyas. Mata teduhnya kini berganti dengan sayu, penuh kesedihan di dalam sana yang akan tumpah kapan saja jika siap.
"Aku udah menyakiti kamu sangat dalam bahkan mematahkan perjanjian kita soal kita akan menikah tahun depan. Maafkan aku untuk semuanya."
Rangkaian kata itu masuk ke dalam telinga Ilyas dengan jelas sedangkan mulutnya masih tertutup rapat.
"Aku, aku ingin kita masih bida berteman baik dan kamu masih bisa jadi saudara dengan Mas Radit tanpa rusak karna masalah ini."
Mana bisa? Atau memangnya bisa?
__ADS_1
"Aku maafkan." Sampai akhirnya untaian kata itu keluar dari mulut Ilyas. Walau masih banyak yang belum termuntahkan.
"Datang ke pernikahanku besok. Kamu tidak ingin pulang ke rumah Ibumu?"
"Besok saya akan datang dan pasti akan bertemu dengan Ibu." Jawabnya walau engga.
Nadua mengangguk-angguk dengan pelan, "Ibumu pasti rindu kamu juga. Besok datang dengan keluarga saja." Sarannya.
"Saya akan datang tapi bukan dengan keluarga saya, Nad." Tekannya.
"Kalau gitu... aku pulang, ya? Makasih untuk semuanya dan maaf sekali lagi, Yas. Aku harap kita akan masih berhubungan baik dengan cara lain." Lalu diselingi senyum getirnya.
Ilyas mengangguk, "Nadya,"
Nadya sudah bangkit itu mengalihkan tatapannya pada mata Ilyas, "Ya?"
"Boleh minta saran butik di dekat sini?"
"Untuk yang besok akan mendampingi saya. Boleh minta saran butik perempuan yang bagus?" Pintanya membuat Nadya terdiam saat itu.
Ilyas bisa melihat tatapan terkejut dari mata gadis di depannya. Pengenalannya selama bertahun-tahun membuat dia pasti selalu mengenal segala jenis tingkah gadis itu. Dan juga senyuman palsunya.
Dia tidak baik-baik saja. Dan semoga akan baik-baik saja.
...----------------...
Kamar indah gadis ini tegang apalagi para orang disini kecuali Ben wajah lelaki itu menampilkan raut wajah biasa saja walau dia kepo setengah mati pun. Dia masih bisa menahan raut datarnya, namun dia siaga selalu siap telingannya untuk mendengar. Walau terlihat tidak peduli namun dia akan selalu peduli untuk mendengarkan segala cerita sahabatnya, bahkan selalu diam-diam membantu tanpa dipinta pun.
"Siapa? Nadya? Nadya mantannya Ilyas dan dia bakal nikah besok?" Tanya Jiani penuh dengan raut kebingungan dan otaknya sudah pasti membuat konsep segala cocokologi yang dia bisa.
"Siapa tau Nadya ini dua orang. Kembar nama gitu." Ben yang berusaha berpikir positif. Walah dia selalu terihat keki kesal pada kedua wanita sahabat menyebalkannya ini, tapi dia akan senantiasa selalu memberi pemikiran positifnya.
__ADS_1
"Nadya Mayara kan?" Sera memastikan.
"Iya. Di chat dia bilang nama cewek yang besok nikah itu Nadya Mayara. Berarti dia mantannya Ilyas?" Mata sipit itu membola karna keterkejutannya.
"Selacak informasi yang gue cari. Mereka gak ada kabar soal putus."
"Lo cari informasi dimana sih? Emang ada orang gabut selalu nyebar informasi begituan?" Tanya Ben dengan heran karna Sera selalu bisa mengorek-ngorek informasi orang.
"Lo gak usah tau. Kekuatan ini hanya dimiliki oleh perempuan." Jawabnya lalu Ben mendengus memilih diam, menyaksikan kedua wanita ini yang akan overthinking.
"Jadi alasan lo mendadak mau nikah apaan?!" Sentak Sera kembali meminta penjelasan.
Jiani menghela nafasnya lalu menceritakan dari asal mula yang seperti diceritakan Kai dan menceritakan soal pertemuannya dengam Ilyas. Ben dan Sera mendengarkan dengan tenang, tumben sekali Sera tidak memotong pembicaraan, sepertinya gadis itu benar-benar ingin tahu secara mendalam soal ini.
"Heum... Kalau menurut gue sih, alasan dia mau nikah karna mantamnya juga mau nikah?"
"Kalau iya, dongkol banget pemikiran dia." Ben mulai mengomentari ucapan Sera.
"Yaelah. Bisa aja kan? Terus kebetulan aja tuh denger pembicaraan si Jia dan sialannya nih bocah entah sial atau beruntung dapet Ilyas. Sialan." Dengusnya dengan nada kesal.
"Buat apaan nikah kalau gak ada rasa cinta."
"Buat apaan pacaran kalau gak ada rasa cinta." Sindir balik Sera karna lelaki itu pernah memiliki hubungan seperti itu membuat Ben benar-benar kesal dan mulai memutuskan untuk diam saja.
"Jadi lo diundang ke pernikahannya besok?"
"Iya,"
"Wah, keren juga si Ilyas milih penggantinya. Dia langsung cari pengganti yang langsung diatas perempuan itu walau ya bentukannya kaya gini. Tapi bolehlah." Ucapnya dengan menatap penampilan Jia yang berada di depannya.
"Kalau dia memang mau pamerin i. Dia milih orang yang bener, i gak peduli soal dia manfaatin i doang. Karna i juga manfaatin dia, jadi akan i bantu soal dia memenangkan ajang pamer itu." Lalu dia mengambil ponselnya dan mengaca disana dengan senyuman centil. "Tepat banget! Dia milih cewek yang tepat." Katanya penuh dengan percaya diri.
__ADS_1