Tolerate It.

Tolerate It.
Seleksi dari teman.


__ADS_3

Jia lupa kalau Sera pasti akan menginap disini. Dan lihat sekarang, ketika Jia dan Ilyas sedang berada di depan rumah Jia, mengantarkan Ilyas yang akan pulang malah bertemu dengan dua curut peliharaan Jia alias; Sera dan Ben.


Gadis rempong dan heboh itu menghadang Ilyas yang akan pulang, dia menahan kepulangan Ilyas karna katanya ingin menyeleksi calon suami Jia padahal aslinya Jia tau kalau Sera sedang melaksana misi modusnya. Jadinya mereka malah berdiri di depan teras rumah Jia, mengobrol.


"Hi, Ilyas! Aku Sera. Kita beberapa kali pernah ketemu di RUPS." Katanya dengan menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


"Ilyas. Oiya kah? Tapi maaf, sayangnya saya gak pernah lihat kamu. Padahal kamu bisa nyapa saya kalau merasa mengenal." Ucapnya dengan nada sopan bahkan disertai senyuman ramahnya. Entah mengapa Jia jiwa posesifnya menguar ingin menutup senyuman Ilyas yang dia tebarkan itu. Rasanya, senyumannya teruntuk dirinya saja.


"Hahaha. Malu dong. Lagian siapa sih yang gak kenal kamu. Oiya, kenalin ini Ben, manager, asisten, dan sahabat Jia. Jadi kita bertiga sahabatan dari dulu." Jelasnya sambil menyenggol Ben yang dari tadi diam seperti tidak berminat memperkenalkan dirinya.


Ilyas anggukan kepalanya sebagai tanda menyapa, "Ilyas," Katanya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Ben," Ben menerima uluran jabat tangan itu.


"Jadi kenapa kamu tiba-tiba mau nikahin si curut ini? Kamu tau gak kalau si curut ini itu cewek matre."


"HEH!" Semprot Jia karna disindir matre walau kenyataanya benar.


"Loh? Kok marah. Kan emang bener."


"Ahahaha. Gapapa kok, saya kaya ini jadi cukup buat biayain Jia."


Mendengar perkataan itu membuat Jia jadi menahan senyum malu-malunya. Bahkan pipinya jadi tersipu malu. Astaga, kenapa sih dia ini? Masa dia baper karna cuman diperlakuan begini sih?


Sera mendecakan lidahnya, "Ck, harusnya kamu gak jangan nikah sama dia. Tapi sama aku aja, hehehe." Ucapnya dengan cengengesan.


Ben melirik Sera yang ada di sampingnya langsung menempeleng kepala Sera dengan wajah datarnya. "Bener-bener lo dasar bibit pelakor."


Sera memegang kepalanya sambil mendengus pada Ben karna kesal. "Apa sih lu? Syirik aja."


"Bukan syirik. Itu cemburu." Sindir Jia karna hanya gadis itu yang mengetahui perasaan Ben namun Sera tidak pernah peka.


"Ilyas mau langsung pulang?" Tanyanya dengan suara melembut tanpa menanggapi omongan Jia.


"Iya, udah malem juga. Saya gak enak kalau mampir-mampir terlalu malam."


"Yaampun, idaman banget kamu jadi mau nikahin, hehe."

__ADS_1


Jia sudah menampilkan wajah kucing garongnya yang siap mencakar Sera detik itu juga. "Heh gatel! Masuk sana kalau mau numpang tidur, jangan gak tau diri gitu!" Nah, keluar sudah mulut pedasnya jika sedang kesal.


"Idih, parah banget kasar banget deh dede Jia. Ilyas kok mau sih sama Jia? Kamu terlalu wow buat Jia yang wew."


Ben langsung menggeret Sera untuk masuk ke dalam dari pada semakin panjang urusannya atau takut jika Jia akan cakar-cakaran bersama Sera hanya karna laki-laki.


"Udah ayok lo mending masuk dari pada makin kegatelan." Kritik Ben sambil menyeret tangan Sera. "Masuk dulu, ya? Hati-hati di jalannya, Yas." Pamit Ben lalu mereka masuk.


Terdengar suara protesan dari Sera di dalam sana membuat Jia geleng-geleng.


"Maafin temen-temen Jia, ya? Mereka emang suka agak gila gitu."


Pantas saja kelakuan Jia kadang di luar nalar ternyata teman-temannya saja sefrekuensi dengannya. Jadi tidak heran kalau Jia agak aneh kelakuannya.


"Gapapa. Santai aja, kalau gitu, saya pulang dulu ya?"


Jia mengangguk lalu Ilyas mulai membuka pintu mobilnya.


"Drive safe,"


Ilyas mengacungkan jempolnya lalu mendadah-dadahkan tangannya. Jia menatap kepergian mobil itu.


Ilyas memasuki kamar hotelnya setelah mengantarkan mobil rentalannya. Disana ada Mbaknya menunggunya entah sejak kapan.


"Mbak? Ngapain malam-malam kesini? Sama siapa?" Tanya Ilyas menghampiri Mbaknya.


Mbaknya menolehkan kepalanya dari tatapan ke ponselnya. "Abis dari mana, Yas? Mbak dateng sendiri tadinya gak akan kesini tapi kepikiran kamu juga." Ucapnya dengan senyuman.


"Abis nganter Jia ke rumahnya. Ayok masuk."


Mereka berdua berjalan memasuki kamar Ilyas, "Kenapa gak besok aja sih kesininya?" Tanya Ilyas ketika Mbaknya sudah duduk di kasurnya.


Ilyas membuka jaketnya lalu menyimpannya di sandaran sofa. Lalu dia duduk menatap Mbaknya.


"Tadinya Mbak udah mau tidur sama Ibu tapi kepikiran kamu terus. Kamu gapapa kan?"


"Aku gapapa kok, Mbak. Emangnya kenapa sih?"

__ADS_1


Memang dirinya tidak apa-apa. Sepertinya.


"Serius? Mbak tahu kamu pasti lagi ngerasa campur aduk karna kejadian hari ini. Mbak takut kamu lagi macem-macem."


"Astagfirullah, aku gapapa Mbak. Beneran deh."


Mbaknya menghembuskan nafasnya, "Syukur deh kalau gitu. Kamu bener-bener udah ikhlasin Nadya kan berarti?"


"Iya," Sepertinya.


"Mbak juga mau nanyain soal jia. Maksud kamu apa? Tiba-tiba punya hubungan sama dia. Kamu... Gak selingkuh juga kan, Yas?" Tanya Mbaknya dengan penuh kehati-hatian.


"Nggaklah, Mbak. Kan aku udah janji sama Mbak gak akan nyakitin perempuan."


"Terus kalian kenapa tiba-tiba punya hubungan? Kamu gak manfaatkan demi pelampiasan kamu kan?"


Sepertinya bukan dia yang memanfaatkan, tapi memang mereka saling memanfaatkan.


"Nggak, Mbak. Mbak, ini urusan aku. Mbak tenang aja pokoknya. Jangan pikirin aku, ya? Aku baik-baik aja dan soal hubungan aku sama Jia itu biar jadi urusan pribadi aku."


Mbaknya terdiam beberapa saat ketika mendengar penjelasan dari Ilyas.


"Soal Ibu. Mbak, minta maaf atas sikap dia. Ibu kayanya lagi banyak pikiran akhir-akhir ini, makanya dia bertindak kaya gitu. Mbak jadi gak enak sama Jia. Maafin, ya, Yas?"


"Iya, Mbak. Aku gapapa kok soal itu. Aku ngerti dan Jia juga gak sakit hati soal itu."


Mbaknya mengangguk-ngangguk, "Soal perbaikan. Katanya Ibu pengen ketemu lagi sama Jia besok. Kamu ajak aja dia besok ke rumah, ya? Kita makan siang sama-sama di rumah. Tapi datang pagi. Mbak gak tau kenapa Ibu ngundangnya pagi."


"Makan-makan aja?"


"Ya, sambil ngobrol-ngobrol perkenalan sama Jia. Semoga Ibu bisa nerima Jia deh kalau sudah dekat. Intinya, kayanya kamu harus mendekatkan dulu antara Ibu saka Jia. Kalau Mbak sih, support kamu sama siapa aia asal jangan sama kriminal."


Ilyas terkekeuh, "Yakali, Mbak. Yaudah sekarang aku hubungi Jia dulu. Siapa tau besok dia bisa. Jadi, Mbak mau tidur disini?"


Mbaknya mengangguk kembali. "Iya, di kamar sebelah." Katanya dengan cengirannya.


"Yaampun. Padahal rumah gak terlalu jauh dari sini tapi malah tidur di hotel."

__ADS_1


"Ini demi menemani Adik Mbak paling tersayang." Katanya dengan kekeuhan.


__ADS_2