Tragedi September

Tragedi September
Sore Itu....


__ADS_3

Sore itu Pukul 17:00


"Bruukkk..."


Untuk kedua kalinya tubuhku dihantam bola basket membuyarkan segala lamunanku tentang Ayah, Ibu dan Putri. Aku bangkit dari rebahan dan memungut bolanya dan mulai mendribling bola menuju pinggir lapangan. Dengan posisi kuda kuda yang mantap aku mencoba mengarahkan bola kearah ring basket.


"Huuupp...," dari jarak yang cukup jauh dengan sedikit melompat dan fokus pada ring sasaran, bola meluncur dari tanganku.


Yes.


Sempurna, tree poin yang aku dapat dari lemparan bolaku tadi.


Tanpa menyentuh ring, bola meluncur bebas dalam jaring basket.


Aku segera lari ketengah lapangan dan siap untuk ikut bermain. Beberapa kali bola lepas dari tanganku direbut lawan main, mungkin aku kurang fokus mendribling bolanya. Terkadang operan bolaku bisa dicuri oleh lawan.Tapi aku masih tetap semangat untuk bermain.


Permainan sore ini begitu seru. Saliang membalas dan kejar-kejaran poin.


Oh iya, aku adalah salah satu tim basket disekolah ini. Sudah banyak piala kejuaraan yang kami sumbangkan untuk tim basket sekolah kami.


Maka dari itu tim basket sekolah kami banyak di idolakan oleh para siswi. Tapi aku tidak perduli akan semua itu. Walau aku tahu ada beberapa siswi yang coba coba cari perhatian dan ingin mendekati aku.


Seperti susi, yang sering menawarkan sebotol air mineral setiap aku selesai berlatih basket. Biasanya sebelum aku selesai latihan susi telah


berada dipinggir lapangan menonton kami latihan. Dia lebih dahulu selesai dengan aktifitasnya di lapangan Voli.


Atau rena yang berteriak teriak dipinggir lapangan menyemangati saat aku mendribling bola.


Ada juga maya yang jauh disudut sana dibawah pohon pinus. Walau tangannya selalau memegang buku bacaan, tapi sesekali matanya yang bening selalau mengawasi gerak gerikku.


Maya selalau membayang bayangiku dimanapun berada. Diperpustakaan di kantin di Masjid dan di lapangan, dimana saja aku berada pasti ada


maya dari jarak yang agak jauh menyendiri. Dengan selalau ditemani buku ditangan kemanapun maya pergi.


Tidak tahu kalau ke toilet apa maya bawa buku juga atau tidak sambil senyum senyum aku membayangkannya.


Maya terkenal dengan julukan siswi kutu buku. Tidak salah, karena maya selalu menjadi langganan juara umum disekolah ini berturut turut setiap semesternya.


Walau sudah hampir dua tahun kami satu sekolah, tapi aku belum pernah bertegur sapa dengan maya. Beda jauh dengan susi dan rena, karena dengan keduanya aku dibilang cukup akrab. Sering berbincang jam istirahat dikantin dengan mereka.


Pukul 17:15


Aku bermain basket lagi bersama teman teman setimku. Untuk latihan agar semakin kompak dan solid dalam bermain basket. Aku mendapat bola operan dari beni, aku dalam posisi bebas tanpa kawalan dan kembali aku coba untuk mengarahkan bola kepapan ring basket lawan.


Kubidik tepat ring basket sambil siap siap dengan kuda kuda untuk melempar bola.


"Huppp....,"


Sial, aku kembali tidak fokus. Kulihat ring basket sasaran bidikan berayun kiri dan kanan. Lama lama bertambah kencang dan,


DERRRRRRTTT....


DERRRRRRTTT....


Bergoyang lebih kencang lagi. Lapangan yang sebelumnya rata dengan coran semen kini mulai bergelombang seperti ombak lautan. Mengguncang seluruhnya yang ada disekitarku. Tubuhku lemas berkeringat dingin.


Aku tertegun dan tak sadar diri seperti terhipnotis.

__ADS_1


Beni bertanya kepadaku, Apa itu ya ?


Aku pun melongo menanggapi pertanyaan dari Beni.


Tanpa sadar bola basket yang aku pegang terjatuh dari genggaman. Kulihat bangunan sekitar berayun ayun seperti kapal yang dipermainkan gelombang laut. Kakipun sudah tidak merasa menapak ditanah lagi.


Lama lama getarannya semakin cepat, dan aku terjatuh. Dengan posisi tiarap dilapangan, aku melihat disekitar. Satupun teman tidak ada yang


berdiri. Semua tiarap sambil mengucapkan ayat ayat suci dan berkata ;


Ya Allah.


Astaghfirullah.


Astaghfirullah.


Adapun yang menangis karena ketakutan.


Pukul 17: 16


Guncangannya semakin lama semakin hebat. Seakan bumi ini mau amblas kepusaran bumi. Suasana makin mencekam dan menakutkan dikala anak anak saling berteriak dan menjerit jerit karena ketakutan. Semuanya masih bergoyang bagaikan ombak samudera yang sedang mengamuk di landa badai.


Waktu seakan berhenti untuk berputar beberapa saat. Bibirku yang sejak tadi mengucapkan kata kata cuci tidak henti hentinya bergumam


Astaghfirullah, Ya Allah.


Dalam hati aku berkata "Tolong hambamu ini Ya Rob. Tolong selamatkan hamba Ya Allah."


Entah sudah berapa lama kami diguncang dengan kekuatan yang maha dahsyat. Aku tidak tahu, yang aku rasa begitu amat lama sekali.


Menakutkan dan melemahkan seluruh sendi ditubuhku ini.


Lambat laun mulai terdengar isak tangis, makin lama makin keras. Kuperhatikan sekeliling, teman teman mulai bangkit dari jatuhnya. Air mata mereka terlihat mengalir membasahi pipi. Suasana menjadi haru.


"GEMPA....,"


"GEMPA....,"


"Apa barusan itu Gempa ?"


Itulah yang terucap di bibirku setelah menyadari apa yang baru saja aku alami. Dihadapanku susi dan puan saling berpelukan sambil menangis.


Disamping kiriku juga kulihat alex dan beni sama sama meneteskan air mata dan ketika aku berpaling kekanan.


"Astaghfirullah....,"


Maya !


Kulihat Maya tak bergerak, tubuhnya ditimpa dahan kayu yang tumbang. Dengan mengumpulkan seluruh tenaga aku berusaha berdiri. Dengan sekuat energi aku segera berlari ke arah maya. Kuraih kepala maya dan menekan urat nadi dilehernya.


Kupanggil panggila namanya;


"May...,"


"Maya....!"


Apa kamu masih sadar ?

__ADS_1


Ternyata dia pingsan dan segera aku coba mengangkat dahan kayu yang menimpa tubuh maya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha sendiri menyingkirkan dahan kayu tersebut, tapi sedikitpun dahan kayu itu tidak bergerak. Terlalau besar dan berat untuk aku angkat sendirian.


Aku teriak sekencang kencangnya;


"Tolong.....,"


"Tolong....,"


Ada yang tertimpa dahan kayu disini.


Kupanggil teman teman untuk membantu aku mengangkat dahan kayu yang besar itu.


Beni...!


Alex....!


"Cepat kisini bantu aku untuk mengangkat dahan kayu ini." Cepat !


Ayo pada hitungan ke tiga kita angkat bersama sama.


Satu....


Dua.....


Tiga.....


Angkat !


Dengan di bantu oleh beberapa teman akhirnya aku bisa mengangkat bongkahan dahan kayu tersebut.


Dan segera aku gendong dan aku bawa maya pergi dari sana ke tempat yang lebih aman.


Maya sudah lemas sekali dan tidak sadarkan diri. Kusandarkan kepala maya tepat di pangkuanku. Dan terbesit sebentar di kepalaku, terpaku melihat wajah maya yang amat manis dan sejuk untuk di pandang.


Astaghfirullah....,


Apa yang aku pikirkan ini.


Sejenak aku periksa kembali nadi maya. Aku lihat bola matanya, ternyata dia tidak apa apa cuman pingsan saja. Alhamdulillah.


Kemudian susi dan puan turut menghampiri aku dan maya, dan aku berkata tolong rawat maya. Dengan mengangguk setuju, mereka menuruti permintaanku.


Sore kian merambat menuju senja. Suasana semakin kacau dan menakutkan. Terdengar jeritan tangis dari para siswi yang memanggil


nama orang tua masing masing. Mereka pada ketakutan dengan apa yang sudah terjadi. Mereka pada berkelompok kelompok dan saling berangkulan untuk saling menguatkan.


Sore yang beberapa saat lalau indah penuh dengan canda tawa, dengan seketika berubah menjadi duka. Tuhan telah menunjukkan kekuasaannya pada kami disore ini. Hanya beberapa saat, tawa telah tergantikan oleh air mata. Maha besar Allah dengan segala kekuatannya.


Kepanikan yang sejak tadi terjadi belum berhenti. Kondisi halaman depan sekolah begitu mengerikan. Ada beberapa pohon yang tumbang. Pagar pembatas pinggir lapangan yang retak retak dan mau roboh. Sebagian gedung sekolah pun ada yang telah hancur bagaikan gedung yang terhantam bom atom.


Tiba tiba....,


"Aku tersentak, aku teringat akan ayah, ibu dan adikku putri."


Mereka, ya mereka !


Bagaimana keadaaan mereka sekarang dikampung ? Apakah mereka baik baik saja ? Apakah gempa ini juga terjadi juga dikampung halamanku ? berbagai pertanyaan di benak fikiranku mulai muncul.

__ADS_1


Aku semakin gelisah, pikiranku mulai tidah menentu. Terbayang hal hal yang mengerikan terjadi pada mereka. Dalam hati aku berkata "Ya Allah lindungilah mereka dari hal hal yang tidak aku inginkan."


Ingin rasanya aku cepat pulang dan menemui keluargaku dikampung.


__ADS_2