
Sesat kemudian dua mobil kembali masuk kearea parkiran. Dengan sigap pria kurus tadi bergerak untuk segera mencucinya. Tidak lama berselang beberapa mobilpun menyusul datang. Hingga kini halaman parkir sudah penuh dengan bus bus kota yang berdesakan.
"Hai kamu, bantu aku mencuci mobil malam ini" kata pria itu sambil menyerahkan alat alat yang dipegangnya padaku. Mungkin dia merasa
kewalahan karena banyak mobil yang datang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Aku segera mengangguk setuju, karena aku pikir dengan membantunya tentu dia mau membagi sedikit rezekinya malam ini untuk membeli nasi
penggajal perutku yang sudah lapar dari tadi.
Satu mobil telah selesai aku cuci, terus mobil kedua mulai aku sirami. Tidak terasa sudah ada tujuh mobil yang aku kerjakan dari tadi. Ini adalah mobil terakhir yang masih ada diparkiran. Sedangkan pria kurus tadi kulihat sedang duduk disamping pintu masuk rumah makan, sambil
mengawasi aku dari kejauhan.
Setelah selesai aku meletakkan dan merapikan kembali alat alat yang aku pakai, pria itu menghampiri.
"Ini jatahmu malam ini" katanya sambil menyerahkan uang ditangannya kearah aku.
"Terimakasih bang kataku segera mengambilnya. Diapun berlalau pergi keluar dari area parkiran. Aku tidak tahu mau kemana dia. Mungkin menuju pulang karena malam sudah semakin larut.
Teringat dari tadi cacaing cacing diperut yang sudah berteriak untuk dikasih makan, aku segera bergeges menuju warung nasi.
"Nasi pakai telur berapa buk".
"6,000 ribu saja".
"Dibungkus satu ya buk" kataku sambil menyerahkan uang yang masih aku genggam.
Setelah menerima nasi dan kembalian uang, aku kembali kedipan kayu didepan. Disana aku nikmati makan pertamaku di lbukota sendiri.
Alhamdulillah akhirnya aku makan juga malam ini, puji syukurku pada Allah yang telah memberi rezkinya dengan jalan yang tidak aku duga.
Nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan berkata dalam hati.
Karena lelah dan kekenyangan aku tertidur. Tapi baru saja mau terlelap aku dibangunkan seseorang. Ternyata ibu ibu tadi yang melayani aku dirumah makan.
"Tolong angkat semua belanjaan ini kedapur katanya".
Dengan sigap aku segera bergerak mengangkat beberapa belanjaan, mengiringi langkah ibu terdsebut di belakang. Ada beberapakali aku
mondar mandir mengangkatnya. Terakhir yang paling berat, sekarung beras dengan agak susah aku pikul sendiri kedapur.
"Setelah selesai semua aku segera bermaksud pergi, tapi...."
"Ini sudah ibu siapkan sarapan pagi" kata ibu itu sambil mengeluarkan beberapa makanan kecil dari kantong belanjaannya tadi. Beserta dengan
segelas kopi hangat yang telah terhidang dimeja.
__ADS_1
"Terima kasih buk" kataku sambil duduk untuk melepas lelah.
"Kalau kamu sudah selesai dengan sarapanmu bantu ibu membawa air dari sumur belakang ya, ibu butuh air untuk memesak didapur".
"Baik bu' jawabku singkat.
Pagi sampai siang aku memebantu ibu itu didapur, apa yang disuruhnya segera aku kerjakan sampai dia selesai memasak semua menu masakan.
"Kamu tinggal dimana" tanya ibuk itu setelah semau pekerjaannya rapi.
"Saya baru datang kemaren dari kampung bu".
"Oh ya, kampung kamu dimana ?
"Di daerah B bu, yang kemaren desanya tertimbun longsor karena gempa".
"Bagaimana keluargamu yang lainnya, apakah mereka selamat dari bencana?."
"Semua tertimbun tanah longsor tapa ditemukan jasadnya lagi bu, cuma saya sendiri dikeluarga yang selamat".
"Astagfirulah, semoga mereka semua ditempatkan disisi ALLAH".
"Eh nama kamu siapa ?".
'Nauval bu" jawab saya sambil tertunduk karena teringat akan Ayah Ibu dan Putri.
"Mau kemana tujuan kamu, adakah sanak famili yang akan kamu kunjungi disini ?."
"kalau kamu memang tidak punya tujuan kamu disini saja dulu, bantu bantu ibu. Ya sudah Mungkin kamu lelah, kamu boleh istirahat dikamar belakang."
Semenjak itu Aku bekerja di warung nasi membantu pekerjaan apa saja yang bisa aku kerjakan. Kalau malam aku juga tetap membantu mencuci mobil. Bang Naga namanya pria kurus kemaren yang menjadi pimpinanku
untuk mencuci mobil.
Setiap malam aku di gaji 10,000 oleh bang Naga. Karena makan sudah gratis, aku menitipkan seluruh gaji yang aku dapat dari bang Naga kepada ibuk punya warung nasi setiap harinya.
Semakin hari warung nasi semakin ramai, sehingga pemilik warung memperkerjakaan dua orang pegawai baru untuk membantu kelancaran usaha mereka.
Pemilik warung bernama pak Agus, dan istrinya ibu Yasmi. Dia juga berdarah minang, Maninjau kampungnya. Baru tiga tahun merintis usaha
warung nasi disini. Orangnya sangat baik dan selalau ramah kepada setiap orang.
Tidak terasa sudah tiga bulan aku disini, kamar dibelakang warung nasi sudah tidak nyaman lagi untuk ditempati. Biasanya aku sendiri, semenjak
ditambah dua karyawan lagi terlalau sesak menempati kamar itu untuk tiga orang.
Setelah meminta pendapat pada bang Naga, aku memutuskan untuk mandiri dan mencari kontrakan sendiri. Karena merasa uang tabungan pada bu Yasmi sudah cukup untuk membayar kontrakan.
__ADS_1
Dengan berat hati pak Agus dan bu Yasmi mengizinkannya, dibantu bang Naga aku mencari kontrakan disekitar itu juga. Biar mudah untuk pulang dan pergi kerja.
Enam bulan berlalu begitu cepat, timbul rasa rinduku pada bang Bonar. Setelah minta izin pada pak Agus, aku berangkat ke Pasar Induk Kramat jati ingin mencari Bang Bonar. Kutanyai pada beberapa supir yang aku temui, ternyata bang Bonar lagi ke Surabaya mengantar barang.
Dengan perasaan kecewa aku kembali pulang.
Malam itu setelah mencuci beberapa mobil, aku melepas lelah di dipan kayu depan warung Nasi. Sekarang aku sudah tidak terlalu repot lagi
membantu, karena warung nasi sudah ada dua orang karyawan. Saat mau merebahkan badan aku mendengar keributan kecil diseberang
jalan. Terdengar suara jeritan wanita, tapi aku tidak memperdulikannya. Mungkin saja pasangan muda mudi yang sedang bertengkar batinku.
"Tolong.. Tolong.."
Aku segera bangkit dari tidur dan menoleh, Seorang wanita muda sedang ditarik tarik oleh dua orang pria kearah mobil sedan mewah yang
terparkir. Siwanita terlihat meronta ronta dan terhuyung huyung karena diseret pria tersebut.
Secepat kilat aku langsung berlari menghampiri.
"Lepaskan wanita itu. !" kataku agak keras.
"Jangan ikut campur urusanku, urus saja urusanmu" kata salah seorang pria yang masih menyeret wanita itu.
"Tolong aku " dengan suara yang makin melemah wanita itu menatapku sambil berurai air mata. Aku berjalan mendekat, menarik tangan pria tersebut dan melepaskan pegangannya dari legan siwanita.
Melihat aku melakukan itu tangan satunya lagi bergerak melayang untuk menamparku. Dengan sebuah sentaka aku menarik tangannya yang masih aku pegang kemudian melepaskannya.
Dia pun tersungkur keaspal.
Temannya terkejut melihat apa yang sudah aku lakukan, segera dia mengambil ancang ancang untuk menyerangku. Sebelum bergerak
menyerang, kaki kiriku sudah bersarang dipelipis kanannya. Dia jatuh seperti pohon pisang yang ditebang. Diam diaspal dan tidak bergerak lagi.
Pria yang tersungkur tadi telah bangkit dari jatuhnya, kulihat dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Melihat temannya sudah terkapar nyalinya jadi ciut. Segera diseretnya teman itu menaiki mobil.
Sebelum berlalau pergi dengan mobilnya, dia sempat mengancamku,
"Awas kau..!".
Kulihat wanita yang tadi, ternyata sudah jatuh terduduk diaspal.
"Kamu tidak apa apa ?" tanyaku sambil membantunya berdiri. Tercium aroma yang aneh dari nafasnya. Dia Cuma menggeleng.
"Bawa aku dari sini, kepalaku pusing, aku ingin segera tidur" sambil bergayut sebelah tangan dipundakku. Mabuk dia ternyata gumamku. Mau aku bawa kemana dia malam ini. Kerumahnya, tapi aku tidak tahu dimana rumahnya. Kewarung nasi ? Ah nanti aku tidurkan dimana dia kalau diwarung nasi.
Tanpa pikir panjang aku membawanya kerumah kontrakanku. Tapi kakinya seakan sudah tidak sanggup dipakai untuk melangkah lagi.
__ADS_1
Terpaksa aku mengangkat dan menggendongnya.
Sesampai dikontrakan aku membaringkannya di ranjang kecil yang aku miliki. Kubuka sepatu ketnya agar tidak mengotori alas kasur. Dia hanya memakai baju tanpa lengan dipadu dengan rokmini diatas lutut. Takut menggoda imanku, kemudian aku selimuti sekujur tubuhnya.