
Kulihat langit tanpa bintang, gelap dan sunyi sesekali kilatan petir menyilaukan pandangan. Kemudian ada suara hewan dan burung hantu lagi menghiasi malam. Aku bergulat dengan fikiranku sendiri memikirkan tentang ayah, ibu dan adikku putri. Bagaimana keadaan mereka sekarang? dimana mereka ? sedang apa mereka saat ini?
Gelisah pikiranku memikirkan mereka di sana.
Tiba tiba laju mobil melambat, menghilangkan lamunanku tentang kampung halaman. Didepan kami semua mobil terhenti. Jalanan jadi macet, mobil yang aku tumpangi sudah tidak bisa bergerak maju lagi.
Aku bertanya pada pak amir, Apa yang terjadi didepan sana pak ?
Entahlah, mungkin ada kecelakaan didepan sana. Pak amir sambil bergegas turun dari kendaraan untuk melihat situasi di depan. Kamu tunggu disini dan jaga mobil val, katanya sambil segera pergi. Aku hanya menganggukan
kepala dan terdiam sendiri.
Semoga tidak terjadi apa apa, gumamku dalam hati.
Dibelakang mobil yang kutumpangi telah mulai banyak kendaraan yang berhenti. Klakson mobil mulai terdengar bersahut sahutan. Suasana mulai ramai karena banyak orang orang yang keluar dari kendaraan ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi, sehinga membuat perjalanan mereka terhenti.
Kulihat kedepan, pak amir mulai kembali dengan langkah yang tergesah gesah. Pak amir berkata, tebing disisi kanan longsor val menimbun jalan yang akan kita lewati. Kita tertahan disini dan tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi.
Aku terkejut mendengar penjelasan pak amir, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Apakah akan diam menunggu sampai bantuan datang memperbaiki kerusakan jalan ? Tapi itu tidak mungkin, sampai kapankah aku harus menunggu ? Fikirku.
"Maaf pak aku harus melanjutkan perjalanan pulang walau dengan jalan kaki."
"Pak amir menoleh padaku dan berkata, hati hati di jalan."
Hanya itu yang tergambar dari wajahnya yang kecewa melepas kepergianku.
Baik pak, terimakasih atas tumpangannya sambil mulai melangkah berjalan meninggalkan pak amir dan mobilnya.
Dengan sedikit bergegas aku berjalan menyusuri trotoar, lampu lampu mobil sangat membantu menerangi langkahku menyusuri jalan trotoar dimalam ini. Setelah cukup jauh berjalan, kilatan petir menyambar terang, sekejap suasana sekitar terang benerang seperti siang.
Dan kulihat didepan ada gundukan tanah merah yang sudah menimbun seluruh jalan. Inilah yang menyebabkan kendaraan tidak bisa lagi meneruskan perjalanan.
Aku mulai ragu dan hatiku mulai bimbang, Apakah aku akan tetap meneruskan perjalanan ini ?. "Dalam fikiranku; gundukan tanah itu terlalau tinggi dan sangatlah berbahaya untuk mendakinya disaat ini. Mungkin longsornya masih akan bisa terjadi jika gempa susulan datang lagi."
Tapi hati kecilku berkata; Ayah, ibu ingin aku pulang, putri juga menunggu aku dikampung halaman.
__ADS_1
Tekatku sudah bulat, bagaimanapun caranya aku harus pulang.Tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi, aku terus berjalan perlahan dan pasti, gundukan tanah yang tinggi itu aku hampiri.
Perlahan lahan aku mulai memenjat menaiki gundukan tanah yang menghalangi jalanku. "Dalam fikiranku, makin lama makin tinggi dan semakin ceram."
Beberapa kali aku kepleset kebawah, karena tanah yang aku injak tidak mampu menahan berat tubuhku di karenakan tanahnya berlumpur.
Dalam gelapnya malam tanpa bintang dan bulan, aku terus mendaki dan menggapai apa saja untuk aku jadikan pegangan. Aku berusaha keras segera untuk melaluinya karena ada rasa kawatir dan takut dihati, takut tebing yang curam menjulang disebelah kananku runtuh lagi menimpa dan menguburku hidup hidup disini.
Aku teringat kembali orang orang yang aku sayangi ayah, ibu dan putri, itulah pemicu semangat untuk segera dapat melewati rintangan ini dengan secepatnya.
Akhirnya aku sampai dipuncak setelah tanah didepanku terasa menurun. Aku bangkit berdiri dan mencoba berlari menuruninya walau kadang kakiku terperosok dalam tanah yang gembur, tapi sekuat tenaga aku terus berlari.
Dalam sorotan lampu mobil, akhirnya aku berhasil menuruni gundukan tanah yang begitu tinggi. Semua mata tertuju padaku melihat keheranan waktu aku menuruni bukit yang menutupi jalan yang mau mereka lewati.
Tanpa menghiraukan pandangan mereka yang menyimpan seribu tanya melihat diriku, aku terus berlari tanpa memikirkan keadaan disekitar.
"Dalam hati, perjalananku masih jauh dan aku harus terus berlari disela sela kendaraan yang terhenti."
Setelah sekian lama berlari, jalan di depanku sudah mulai terasa gelap. Semakin lama semakin gelap dan pekat, karena aku sudah jauh
rasakan dibeberapa bagian tubuhku mulai terasa sakit dan matirasa akibat luka yang aku alami.
Berlari dan terus berlari, dinginnya malam tidak menghalangi semangatku untuk berlari. Karena gelapnya malam beberapa kali aku tersandung dan jatuh, yapi aku bangkit lagi dan terus berlari.
Saat lelah sudah mulai menghampiri sekujur tubuhku. Keringat mengalir begitu deras membasahi seluruh pakaiyanku, aku merasa kampung halamanku semakin dekat. Langkah kakiku mulai melambat seakan sudah tidak ada tenaga lagi untuk berlari. Rasanya aku mau berhenti dan diam sejenak untuk istirahat.
Tiba tiba kulihat didepan sana ada ayah, ibu dan putri sedang berdiri didepan rumah, seakan mereka tahu akan kepulanganku. Mereka bertiga tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku ingin menyambut kedatangan anak laki laki satu satunya. Semangatku bangkit kembali setelah melihat mereka dan aku semakin cepat berlari ingin segera memeluk ayah, ibu dan adikku putri yang berdiri disana.
Ketika jarakku kira kira tinggal 50 meter lagi, mereka membalikan badan dan berjalan beriringan menuju kedalam rumah. Aku terus berlari menghampiri mereka tapi aku terlambat, sebelum aku sampai ayah, ibu dan putri telah masuk kedalam rumah.
Aku berteriak memanggil manggil mereka.
Ayah.
Ibu.
__ADS_1
Putri.
Tunggu aku, aku sudah pulang sambil terisak isak. Tapi tidak ada sahutan dari mereka.
Tubuhku terasa semakin lemas tidak berdaya dan akhirnya jatuh terhempas ke bumi tidak ada kuasa lagi untuk bangkit.
Ayah, ibu, putri, hanya itu yang bisa aku ucap dalam hati. Entah berapa kali kata itu aku ulang ulang hingga akhirnya aku memejamkan mata.
Tiba tiba ada seseorang yang memeluk aku dan aku membuka mata perlahan lahan, ternyata
Ibu memelukku dengan erat, mengecup ujung kepalaku dengan penuh kasih sayang, sedangkan putri menggenggam tanganku dan menciumi punggung tanganku. Ayah hanya tersenyum melihatku kemudian berkata,
jaga dirimu baik baik nak jangan lupa ajaran dan nasehat ayah selama ini.
Kemudian mereka hilang dan kembali gelap yang kurasa. Suasana begitu hening, sunyi dan tanpa suara. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.
Akhirnya aku terbangun dan membuka mata, entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu dimana aku berada, sekujur tubuhku terasa sakit semua seperti tertindas truk tronton yang rasanya amat sakit.
Hawa dingin mulai terasa menusuk tulang tanpa kusadari diriku sudah terbaring dijalanan. Kupandangi langit yang mulai samar terbias sinar fajar pagi.
Dan aku kebingungan kenapa diriku sampai berada disini, bukankah tadi ayah, ibu dan putri ada disampingku mendampingi aku. Aku mencoba mengingat ingat lagi apa yang terjadi pada diriku tadi malam, apa mungkin aku hanya bermimpi tadi malam bertemu dengan ayah, ibu dan putri dalam fikiranku.
Aku berusaha bangkit dan duduk, walau kurasa sekujur tubuh terasa sakit. Kualihkan pandangan ke sekitar untuk mengenali dimana keberadaanku sekarang. Dikiri kanan kulihat hutan perbukitan.
Oh, aku baru sadar bukan kah ini jalan menuju ke kampung halamanku. Kuputar badan untuk melihat kebelakang kearah kampung halaman,
semua masih terlihat samar dalam bayangan. Tertutup kabut pagi yang amat tebal menghalangi pandanganku. Aku tertunduk dalam diam.
Namun tib tiba "Astagjfirullah, Ya Allah."
Aku sampai terlompat mundur karena sangat terkejut diriku berdiri di pinggir jurang. Ternyata jalan yang kutapaki menuju pulang telah amblas ke perut bumi yang tiada aku ketahui dalamnya.
Kalau saja aku tidak terjatuh dan pingsan tadi, mungkin sekarang aku sudah berada didasar jurang yang tidak aku ketahui seberapa curam dasarnya.
Aku terpaku sendiri, memandangi jurang yang menganga didepanku. Jalan menuju kampung halaman telah terputus, entah bagaimana lagi aku akan melanjutkan perjalanan ini.
__ADS_1