
"Menunggu siapa ?" kata wanita itu dari belakang mengagetkan Nauval.
"Eh, kamu. Aku kira kamu sudah pergi".
"Mana mungkin aku pergi tanpa pamit kepada orang yang sudah menyelamatkan dan merawat aku semalaman" katanya sambil tersenyum
pada Nauval.
"Ayo kita sarapan" kata nauval karena senyum wanita itu mengoda imannya.
Dengan duduk dilantai ubin mereka sarapan bubur ayam pagi itu dengan saling diam.
"Boleh aku tinggal disini untuk beberapa hari kedepan ?" kata wanita itu setelah menghabiskan makanannya. Nauval pun menatapnya dengan penuh heran.
Memang kenapa kamu tidak mau pulang ?
"Pria semalam mungkin akan tetap mencariku".
Baiklah..., kata Nauval mengizinkan karena pertimbangan keselamatan wanita itu.
"Raisa.., dengan menyorongkan tangan kedepan sambil menatap wajah Nauval dengan dalam."
"Aku Na, Nauval" agak kaget menyambut uluran tangan Raisa dan bersalaman, karena tatapan mata raisa begitu dalam.
"Maaf tolong dilepas" kata Nauval sambil melirik tangannya yang masih digenggam Raisa.
"Oh ia..., kata Raisa sambil tersenyum dengan gigi kelincinya yang indah."
"Aku mau mandi Val, boleh aku pinjam bajumu dulu buat ganti ?" Nauval bergegas menuju lemari pakaiyannya dan memilih yang terbaik untuk raisa pakai. Kaus berlengan panjang dan celana pendek salah satu club bola Nauval letakan diatas ranjang.
"Pakailah, mungkin agak kebesaran bagimu Tapi kalau tidak suka dengan pilihanku, Dilemari masih ada, kamu bisa mengambilnya sendiri." Aku mau pergi kerja dulu nanti siang aku pulang lagi.
Terimakasih atas tumpangannya dan kebaikan kamu, Aku menunggu kamu pulang kata Raisa sambil tersenyum. Nauval mengangguk dan
melangkah pergi meninggalkan kontrakan.
"Aku menunggumu pulang" kata kata Raisa itu terngiang ngiang ditelinga Nauval sepanjang perjalanan menuju warung nasi pak Agus. Teringat akan Nurul yang sudah lebih enam bulan terpisah. Bagai mana kabarnya disana ?
apakah dia masih akan menunggu aku pulang ? batin Nauval berkata.
Teringat kembalin saat saat kebersamaannya dengan Nurul, Nauval senyum senyum sendiri. Apalagi saat saat Nurul mencuri keperjakaan
bibirnya. Tanpa Nauval sadari dari jauh bang Naga sudah memperhatikan Nauval berjalan sambil tersenyum sendiri mendekat menuju rumah makan.
"Tumben senyum senyum sendiri Val, bagaimana kabarnya wanita semalam, apa sudah kamu pakai ?"
"Wanita.. Nauval agak binggung."
__ADS_1
"Jangan pura pura bodoh dan tidak tahu Val, aku melihat sendiri kamu menggendongnya dan membawanya pergi, Kemana kamu bawa dia
semalam dan sudah kamu pakai berapa kali.?" Kata bang Naga penuh selidik. Tapi Nauval masih binggung dengan kata kata pakai yang di
maksud oleh bang Naga.
"Pakai apaan bang aku tidak mengerti maksud abang.?" tanya Nauval ingin tau.
"Bah polos kali kau rupanya" dengan logat batak bang Naga menjawab sambil mendekatkan mulutnya kekuping Nauval dan berbisik.
"Kau tiduri maksudku " Sambil tertawa. Nauval kaget mendengar penjelasan bang Naga.
"Aku bukan laki laki seperti itu bang, aku masuk dulu mau bantu bantu bu Yasmi" sambil berjalan masuk kedalam warung.
"Eh Nauval tadi ada orang yang mencarimu, sepertinya teman teman wanitamu semalam" Teriak bang Naga sambil melihat Nauval berlalau dihadapannya menuju dapur dan membantu bu Yasmi.
Menjelang siang semua pekerjaan dapur sudah selesai, saat akan melangkah keluar dari warung nasi ingin istirahat sejenak di dipan tempat
biasanya.
Nauval melihat pak Agus berbicara dengan 3 orang berpakaiyan seragam hitam hitam yang banyak ditempelin dengan atribut salah satu ormas.
Pak Agus seperti gugup dan menunduk menghadapi lawan bicaranya, Tapi karena lelah Nauval tidak begitu memeperdulikan obrolan mereka didalam warung makan. Saat mau merebahkan badan, tiga sedan mewah
masuk keparkiran rumah makan. Beberapa orang pria berbadan tegap langsung buru buru turun dari mobil.
Melihat enam orang laki laki berbadan tegap setengah berlari menghampirinya, Nauval tidak ingin didahului oleh mereka. Secepapat kilat Nauval berdiri melompat sambil mengayunkan tendangan kiri kearah pria yang paling depan. Sebelum kaki kiri menginjakkan tanah kaki kananpun sudah menyapu sekitar tiga orang sekaligus jatuh terkapar diaspal.
Dengan sigap Nauval menghindari pukulan dari yang lainnya ikut menyerang. Gagal dengan serangan pertama, kini keenam pria itu
mengelilinggi Nauval dan mengurungnya.
Sebelum mereka bergerak menyerang Nauval terlebih dahulu menyerang. Satu dua pukulan bersarang ditubuh lawandan Nauval selalau bergerak lincah menghindar. Tanpa ada satu pukulan yang menyentuh kulitnya.
Tidak sampai dua menit semua lawan sudah terkapar diaspal yang keras.
Meringis kesakitan dan tidak kuat bangkit lagi.
"Jangan coba coba membuat keributan disini, kalau tidak ingin berurusan denganku" Teriak Nauval sambil menunjuk hidung pria yang diperban, berdiri disamping mobilnya tidak ikut menyerang. Dengan gemeteran dia mengangguk kemudian masuk mobil sebelum mengajak teman temannya pergi.
Semua orang yang menyaksikan Aksi Nauval terpukau kaget, tidak menyangka dalam sekejap mata seorang Nauval bisa melakukannya.
Enam orang sekaligus tumbang dalam waktu yang singkat.
Setelah mereka pergi Nauval masuk kewarung nasi, dengan tangan yang masih bergetar menahan emosi menuangkan air kedalam gelas dan meminumnya. Sadar dari tadi ada yang memeperhatikannya, Nauval menolehkan pandangan pada orang yang tadi sedang berbincang dengan pak Agus.
Merekapun segera memalingkan wajah dan buru buru pergi setelah berpamitan pada pak Agus. Setelah merasa agak tenang, Nauval beranjak duduk dihadapan pak Agus.
__ADS_1
"Maaf pak kalau saya sudah membuat keributan disini."
"Seharusnya saya yang berterimakasih kepadamu Val."
"Kok bisa begitu pak ?"
"Kamu tahu orang yang baru saja pergi itu."
"Tidak, mereka siapa pak ?."
"Itu ormas yang mau meminta jatah keamanan pada bapak. Saat kamu mengambil air dan minum tadi mereka bertanya pada bapak, dia itu siapa ? Bapak jawab saja kalau kamu itu adik bapak yang baru datang dari kampung.
Mendengar itu mereka segera buru buru pergi. Padahal sebelumnya mereka mengancam bapak, kalau tidak memeberi uang keamanan akan menghancurkan warung ini."
"Kalau ada yang seperti itu lagi jangan dikasih pak. Enak saja minta uang sedangkan kita bating tulang mengumpulkannya."
"Oh ya pak tapi kalau saya yang memintanya tidak apa apakan pak ?" kata Nauval sambil tersenyum.
"Saya mau minta dua bungkus nasi sekalian mau izin pulang sebentar pak."
"Buat wanita itu ya, Bapak sudah mendengar ceritanya dari Naga tadi pagi."
Cepatlah ambil dan bungkus sendiri, mungkin dia sudah lapar menunggu kamu dirumah" kata pak agus sambil tersenyum.
"Jangan pakai telor seperti yang biasa kamu makan, ambillah rendang dan ayam panggang buat dia".
" Memang boleh banyak lauknya pak ? nanti bapak rugi."
"Kamu ambil sepuluh juga aku belum rugi, karena ormas tadi minta 500,000 perbulannya untuk uang keamanan.
" HEHEE... aku ambil rendang dan ayam ya pak karena aku tidak tahu selera makannya."
"Bawakan juga jus alpukat buat dia Val" kata pak Agus sambil berteriak pada pegawainya untuk membuatkan jus yang dia maksud.
Nauval segera melangkah pulang, sampai didepan pintu dia tidak berani langsung masuk seperti biasanya. Mengetuk pintu dulu dan mengucap salam. Raisa membuka pintu dan menjawab salam sambil tersenyum menyambut
kedatangan Nauval.
Raisa memakai baju yang tadi diberikan Nauval, dia terlihat cantik. Pundaknya sedikit terbuka memperlihatkan tali tipis bra nya yang berwarna merah, karena baju yang dipakai agak kebesaran sampai diatas lututnya.
"Ini aku bawakan nasi ayo kita makan" Raisa menerimnya, melangkah kedalam dan duduk diatas ubin. Ketika akan duduk didepan raisa Nauval mengurungkan niatnya. Karena sekilas dia lihat ****** ***** merah raisa mengintip.
Menoleh keranjang dan mengambil celena pendek yeng tergeletak diujungnya.
"Pakai ini , bahagian bawahmu mengoda imanku" kata nauval sambil menyerahkan celana ditangan kearah Raisa. Dengan tersenyum malu dan wajah bersemu merah Raisa segera mengambil celana ditangan Nauval dan bergegas kekamar mandi.
Setelah itu makan berdua.
__ADS_1