
Ketika melamun sendiri, aku dikagetkan dengan seseorang yang menepuk pundakku. Entah sudah berapa lama dia berdiri disampingku.
Nauval kamu pulang, katanya sambil menatapku. Ternyata nurul anak buya labay yang kini berdiri sejajar denganku.
Ia kak aku pulang, jawabku pada nurul tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan jauh kedepan. Aku memanggilnya kakak, karena nurul lebih tua 2 tahun diatasku.
Nurul kuliah kebidanan di ibukota propinsi dan dia adalah anak sulung dari buya labay guru mengaji sekaligus guru spiritual dan guru silatku
waktu dikampung. Kabarnya nurul telah dijodohkan dengan Anto sahabat dari ayah nurul buya labay sendiri. Tapi nurul menolak perjodohan itu karena sekarang bukanlah di zaman siti nurbaya yang di paksa menikah atas dasar perjodohan. Buya labay terpaksa mengikuti kemauan anak sulungnya itu dan membatalkan perjodohannya.
Tanpa basa basi langsung aku lontarkan banyak pertanyaan kepada nurul.
Kakak bagaimana keadan ayah ,ibu dan putri disana? apakah mereka dalam keadaan baik baik saja? dimana mereka sekarang ? aku ingin segera berjumpa dengan mereka bisakah kakak mengantarkan aku kepada mereka sekarang?
Seperti tidak terkendali, bertubi tubi pertanyaan dari mulutku pada nurul tapi dia hanya diam tidak menjawab, disudut matanya mulai
membias butiran bening kristal yang mulai meleleh dan membasahi pipi indahnya.
Nurul menjawab pertanyaanku sambil terbata bata; aku tidak tau val kita semua berlarian tanpa arah saat bukit bukit disekitar kampung runtuh ketika gempa kemaren menguncang.
Kakak dari mana ? apakah kakak tidak melihat mereka ? semalam kaka tidur dimana ? apakah kakak tidak pulang untuk tidur dirumah ? dengan penuh selidik aku bertanya pada nurul.
Sambil mengusap air mata, nurul menggelengkan kepalanya. Semalam aku, ummi dan adik adik lari ke bukit yang agak landai. Ketika kami merasakan gempa dan mendengar gemuruh tanah longsor dari bukit sekitar kampung. Aku tidak berani pulang karena aku takut sekali. Semalam kami tidur dipondok ladangnya pak Samsu.
Pak samsu adalah tetangga kami. Ntah bagaimana keadaan beliau, kami juga tidak tahu keberadaannya sekarang.
__ADS_1
Pagi ini aku keluar ingin melihat bagaimana situasi dan kondisi kampung kita, dari jauh tadi aku melihat kamu berdiri sendiri disini. Makanya aku kesini menghampiri.
Aku terdiam mendengar penjelasan dari nurul. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kelurgaku dan semua orang-orang dikampung saat ini. Kita sama sama diam dan masih memandang kabut yang masih menyelimuti pandangan ke arah kampung. Bergulat dengan seribu tanya dan fikiran yang menghantui dikepala kita masing masing.
Masih sunyi dan sepi dipagi hari dan mataharipun belum tampak memunculkan sinarnya untuk menghangatkan di pagi ini. Kami hanya menunggu karena sebentar lagi matahari pagi akan muncul untuk mengusir kegelapan malam yang terselimuti kabut.
Ketika mentari dengan malu malu muncul dari ufuk timur dengan sinarnya yang masih buram, keadaan sekitarku sudah mulai berangsur angsur terang. Sesaat kemudian, kabut mulai tersingkap dan agak samar mulai terlihat kearah perkampunganku walupun belum terlihat dengan jelas.
Nurul tiba tiba teriak, " Tidak !".
Aku terkejut dengan suara nurul dan wajah pucat pasinya. Nurul tiba tiba memeluk aku begitu eratnya sambil mengguncang guncang tubuhku, seakan tidak percaya dengan apa yang telah dia saksikan. Pemandangan kampung yang kulihat
begitu menyeramkan sehinga nurul tidak sanggup melihatnya. Dia memelukku untuk menyembunyikan pandangan dari apa saja yang baru terlihat.
Dimanakah kampungku ? apakah sudah tiada lagi ? pikirku sambil meratap bercucuran air mata.
Ketakutan sekarang menghampiri diriku, takut dengan keadaan keluargaku. Bagaimana dengan mereka semua yang berada dikampung ? selamatkah mereka ? bisa melarikan dirikah mereka seperti nurul ketempat yang lebih aman ? Segala pertanyaan berkumpul dalam otak yang tidak bisa kujawab sendiri.
Dan aku mulai kembali memikirkan Ayah, ibu dan putri. Dimana mereka Ya Allah ? apa mereka selamat dari bencana ini ? Ucapku dalam hati.
"Tolong Ya Allah, selamatkan keluargaku dan pertemukan aku dengan mereka kembali." Ucapku sambil terisak isak dengan nurul yang masih memeluk.
Sesaat aku baru sadar dari fikiranku yang menakutkan ternyata nurul sudah tidak bergerak lagi dalam pelukan. Aku coba mengguncang tubuhnya tapi tetap diam, seketika kutepuk pipinya dia dan masih diam. Ternyta nurul telah pingsan tidak kuat meliat apa yang terjadi, segera aku baringkan tubuh nurul karena aku sudah tidak sanggup berdiri dengan keadaan terus menerus memeluk tubuh nurul.
Aku binggung harus bagaimana, apakah aku harus segera pergi mencari keluargaku disekeliling perbukitan ini ? mungkin saja mereka masih selamat dan berada disuatu tempat yang aman sekitar desa fikirku.
__ADS_1
Tapi, bagaimana dengan nurul, apakah aku akan meninggalkannya begitu saja ? Mana mungkin, rasanya aku tega meningalkan Nurul. Tidak tega membiarkan seorang gadis cantik lemah tidak berdaya terbaring sendiri dijalan yang sunyi ini.
Aku mengangkat kepalanya dan meletakannya diatas pahaku. Aku ingin membuat dia nyaman berbantalkan sebelah kakiku kasihan kalau dia
hanya tergeletak di aspal yang keras fikirku.
Kulirik wajahnya, bibirnya mulai membiru. Wajahnya agak pucat, tapi aura kecantikannya masih terlihat nyata. Membuat kelaki lakianku sedikit bergetar seperti harimau kelaparan yang rasanya mau menerkam mangsanya saja.
Astaghfurullah, segera aku hilangkan fikiran kotor dari benak kepalaku.
Kulihat sekelilingku, suasana masih sepi mencekam tidak ada tanda tanda seorang pun berada disekitar kami. Kembali kulihat wajah nurul yang begitu cantik wajahnya meski tanpa taburan make up. Tanganku bergerak tanpa kusadari mengelus dan menyingkap rambut di dahinya. Kuputar kembali pandangan kesekitarku, masih seperti tadi belum
ada perubahan, hening dan sunyi seperti di dalam hutan yang tanpa ada kehidupan sama sekali.
Kutundukan wajah nurul kepangkuanku dan menatapi wajah nurul. Bibir tipis dan indah nurul sedikit terbuka, menggodaku untuk segera ingin ********** sehingga membuat aku menelan air ludah sendiri.
Sepertinya tidak akan ada orang yang akan menghampiri kesini, sekarang hanya ada aku dan nurul di tempat yang sunyi dipagi ini dalam fikiranku.
Dengan agak susah, perlahan aku membuka resleting jaket yang aku pakai untuk menutupi tubuh nurul. Walaupun terasa dingin aku tetap
melakukannya, agar aku segera bisa memberi sedikit kehangatan pada tubuh nurul dipagi hari ini.
Semakin lama semakin muncul rasa ingin ******* bibir nurul yang tipis dan menggoda itu, dan ingin rasanya badan ini memeluk nurul yang kedinginan. Tapi, aku sadari bahwa nurul adalah wanita baik baik mana mungkin aku tega melecehkannya apalagi dalam kondisi sesulit ini.
Segera aku hilangkan fikiran kotor dari kepalaku dan aku pandangi kembali di sekitar kami, mungkin ada pergerakan dari seseorang yang selamat dari bencana ini.
__ADS_1