
Kami menyusuri jalan perkebunan dipinggiran bukit dan sesekali aku melihat kearah desa yang dimana dulu berada rumahku. Sudah tidak aku ketahui lagi dimana pastinya lokasi rumahku sekarang, semua hanya ada gundukan tanah merah yang mengubur desaku.
Perlahan sayup sayup aku mendengar suara percakapan orang orang, nurul terhenti dalam langkahnya. Mungkin dia juga mendengar suara
Suara itu.
Val, ada orang disebelah sana sambil menunjuk Nurul memandangku.
Tanpa menjawab aku bergegas menuju arah yang ditunjuk Nurul.
Akhirnya aku melihat beberapa orang kampung yang berkumpul dibekas ladang jagung yang sudah panen.
Bergegas aku dan Nurul menghampiri mereka tapi sebelum aku sampai Anto dengan tergesa gesa telah menyongsong kami.
Kamu tidak apa apa Nurul ? Semalaman aku mencarimu dan aku sangat menghawatirkan dirimu. "Cerocos Anto yang seakan tidak
memperdulikan kehadiranku."
Aku dan Ummi beserta adik adikku baik baik saja, kami dipondok pak Samsu semalaman.
Seakan tidak puas dengan jawaban Nurul aku melihat Anto menatapku penuh selidik, tapi aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan
menuju kerumunan orang orang kampungku. Nurul segera menyusul, seakan tidak mau jauh dariku meninggalkan anto yang kebingungan
sendiri menatap kepergian kami.
Setelah bertanya kepada beberapa orang yang aku temui, mereka hanya menggeleng berkata tidak tahu dan tidak melihat keluargaku maupun Buya Labay. Walaupun agak kecewa mendengar jawaban mereka, aku masih mencoba tersenyum dan mengucap terimakasih pada mereka yang sudah aku temui.
"Nurul kulihat tertunduk lesu mendengar jawaban mereka."
Sabar yak kak, kita akan terus mencari sampai menemukan dimana keberadaan abah buya dan keluargaku. Kakak jangan menangis lagi nantik hilang cantiknya, kataku bercanda dan sambil tersenyum kepadanya.
"Ayo kak kita coba cari ketempat lain, ujarku sambil melangkah pergi."
__ADS_1
Iya val semoga hari ini kita menemukan abah dan keluarga kamu.
Tiba tiba Nurul menggenggam erat telapak tanganku sambil mengiringi langkah disisi kiriku. Dengan sepontan aku juga menggenggam erat tangannya. Mungkin dengan begitu bisa menguatkan sedikit hatinya yang sedang
bersedih memikirkan Abahnya.
Kami berjalan meninggalkan kerumunan orang orang yang tanpa aku sadari Anto sedang mengawasi kami. Anto merasa cemburu karena aku meninggalkannya sambil beriringan dan bergenggaman tangan dengan Nurul calon tunangannya.
"Hatiku berkata, Rasain Lho di cuekin sama Nurul."
Kami terus berjalan dipinggiran jurang yang terjal mengelilingi kampung untuk encari cari disekitar mungkin ada warga lain yang bisa kami temui.
Tiba tiba kami jatuh terpeleset berguling guling ditebing yang tidak begitu curam, dengan reflek yang cepat aku segera menangkap pinggang nurul dan membawanya erat kepelukanku. Beberapa dahan kayu terasa menghantam punggungku sangat sakit kurasakan. Ketika terhenti dari jatuh, nurul sudah berada diatas tubuhku dan tanganku masih erat memeluk tubuhnya.
Beberapa saat mata kami saling bertatapan dan kubertanya, Kakak tidak apa apa ? sambil memecah kesunyian.
Terimakasih kamu sudah melindungi aku Nauval, kalau tidak ada kamu aku akan berada disini sendirian sambil tersenyum kepadaku.
"Mana mungkin aku akan tega meninggalkan kakak sendiri disini" jawabku sambil aku lempar kembali sebuah senyuman yang tersirat.
"Aku kaget bukan main" Ini mimpi apa bukan ya, pikirku dalam hati sambil tercengang menatap Nurul.
Aku kaget dengan apa yang telah Nurul lakukan kepadaku barusan. Baru pertama kalinya aku dicium oleh seorang wanita cantik seperti nurul. "Dalam hati ku berkata, dia telah mengambil keperjakaan bibirku." Apakah dia telah sering melakukan itu pada pria lainnya? Aku hanya terdiam sambil menatap bola matanya yang memancarkan aura aneh yang menyejukkan hati ketika aku melihatnya.
Sesat kemudian,
Val apa kamu ingin kita terus begini kata Nurul sambil tersenyum manis kepadaku. Buru buru aku sadar dan segera melepaskan pelukan tanganku dari pinggang rampingnya. Tapi Nurul malah tidak juga beranjak bangkit dan terus menatapku dengan tatapannya yang masih menyejukan hati.
Aku jadi canggung dan malu menatap wajahnya kembali.
Tiba tiba aku merasakan kejantananku mulai mengusik di dalam celanaku dan kembali muncul lagi rasa yang seperti kemaren ingin menerkam seorang Nurul dengan kecantikan nya.
"Maaf kak, nanti ada orang yang melihat kita."
__ADS_1
Nurul segera bangkit dan tak lagi menindih tubuhku. Dia terlihat dengan raut sedikit kecewa diwajahnya, kemudian mengulurkan kedua tangan untuk membantu aku berdiri.
Ketika kusambut uluran tangannya diapun kembali tersenyum padaku dengan tatapan yang tidak biasa seperti penuh dengan ke gairahan yang menginginkan sesuatu.
Jantungku berdegup kencang melihat indah senyuman Nurul.
"Baru kali ini kurasakan perasaan seperti ini, Apakah aku sudah jatuh cinta padanya ? Apakah ciuman nya tadi telah menembus jantung hatiku ? Menumbuhkan
benih benih cinta padanya." Tapi aku menepis semua perasaan itu, karena dia lebih tua dariku dan dia juga anak dari guru yang sangat aku segani.
Dengan menuntun Nurul, aku pun mulai berjalan menaiki tebing tempat kita jatuh tadi. Untunglah dia memakai celana kulot yang agak lebar sehingga dengan mudahnya untuk melangkah menaiki tebing ini.
Jaket yang kuberikan untuk menyelimuti tubuhnya kemaren masih dipakai. Nurul terlihat cantik disiang ini, walaupun pakaiyannya banyak dikotori tanah merah karena kami bergulingan jatuh tadi. Aku mengalihkan pandangan darinya, aku takut kalau ada rasa cinta yang mulai tumbuh subur di dalam hatiku dan menjadi nyata.
Kita kearah mana lagi kak ? ujarku memecah kecanggungan yang kurasakan.
Kita kearah sana Val, disana ada ladang cabe kami mungkin Abah menungguku sekarang disana, kata Nurul sambil menunjuk kesuatu arah.
"Ayo kak kita segera kesana sebelum matahiri begitu tinggi, semoga abah dan keluargaku semua menunggu kita disana kataku mulai melangkah pergi."
Tunggu Val !
Iya ada apa kak ? aku menoleh kebelakang karena mendengar pangilan Nurul dan kulihat dia mengulurkan tangan kirinya padaku. Aku mentapnya dengan kebingungan.
"Kalau aku jatuh lagi bagaimana ? kata Nurul dengan nada manja padaku."
Kini aku mengerti akan maksudnya dengan cepat aku sambut uluran tangannya dan melangkah berjalan sambil bergenggaman tangan. Kulirik sekilas wajah Nurul dia tersenyum sambil mencoba mensejajarkan
langkah kakinya denganku.
Di hati kecil ku berbisik kepada fikiran warasku kalok Nurul suka padaku dan kulihat lagi wajah dia masih tersenyum bahagia melihatku.
Aku mau bertanya kepada Nurul tentang perasaannya kepadaku tapi aku tidak berani untuk mengutarakannya apa lagi tidak cocok dengan situasi sekarang yang lagi cemas dan panik. Sehingga aku pendam terlebih dahulu, mungkin lain waktu ada kesempatan yang tepat untuk bertanya. Ujarku dalam hati.
__ADS_1
Kita melanjutkan perjalanan menuju ladang cabe yang di maksud Nurul dengan berjalan beriringan sambil berpegangan tangan dengan erat.