Tragedi September

Tragedi September
Nol Rupiah


__ADS_3

Aku mencari kian kemari, tapi tidak juga aku temui bang Bonar. Setelah menanyakan kebeberapa orang aku mendapat jawaban kalau dari tadi bang Bonar terlah pergi mengambil muatan baru untuk diantarnya.


Kini aku hanya sendiri, sepi ditengah keramayan Ibukota. Tidak ada sanak maupun saudara. Bahkan orang yang aku kenali juga tidak ada. Benar benar sebatang kara lahir dan batin. Benar kata bang Bonar waktu itu.


Ibukota bukanlah tempat yang menyenangkan.


Tanpa kusadari kakiku telah melangkah keluar dari kawasan pasar Induk, kearah jalan raya didepan pasar. Aku bingung mau kemana, Kekiri atau kekanan sama saja. Aku tidak tahu kemana arah tujuannya.


Aku memilih kearah kanan, karena kanan lebih baik dari pada kiri menurut ajaran agama. Seperti pesan guruku Buya Labay.


Aku berjalan menyusuri trotoar dipinggir jalan raya. Banyak mobil berlalu lalang siang ini. Jalanan begitu padat dengan mobil dan sepeda motor. Kadang kadang jalanan macet karena ada angkutan kota yang menaikan atau menurunkan penumpang disembarangan tempat.


Kemacetan semakin padat saat aku mendekati pertigaan. Banyak kendaraan yang tertahan lajunya karena lampu merah menyala.


Aku perhatikan papan penunjuk arah tujuan, Kekiri Pondok Gede tetap lurus mengarah ke Pasar Rebo. Apakah Pondok Gede seperti pondok pondok yang ada pada ladang ladang dikampungku yang dibuat sangat


besar? Entahlah, aku memilih tetap lurus berjalan ke arah Pasar Rebo.


Mungkin disitu lebih banyak keramaiyan dari pada aku menuju ke Pondok Gede yang membuat aku sedikit penasaran. Seberapa besar pondok pondok yang ada disitu.


Aku melanjutkan perjalanan. Agak jauh juga berjalan, samapi lagi aku diperempatan simpang jalan yang begitu ramainya. Kembali kulihat rambu rambu arah penunjuk jalan yang


terpasang tinggi dengan huruf besar besar.


Arah menuju kiri Kampuang Rambutan Kanan Pasar Minggu dan lurus, Cijantung, Cisalak, Cibinong. Semua diawali Ci yang aku tidak tau apa artinya.


Eh... tapi Pasar Rebo sudah tidak ada lagi tertulis dipapan tersebut. Apakah aku sudah melewtinya. Tapi sedari tadi aku berjalan aku tidak melihat keramayan sebuah pasar.


Tidak mau untuk terus memeikirkan tentang Pasar Rebo, aku kembali memilih untuk berbelok kearah kanan. Menuju Pasar Minggu. Kanan lebih baik dari kiri gumamku. Kalau tetap lurus untuk menyeberang jalan aku akan sedikit kesusahan karena banyaknya mobil yang lalu lalang.


Sorepun menjelang, kendaraan makin banyak berlalu lalang. Setelah beristirahat beberapa kali di Masjid untuk sholat atau sekedar pura pura cuci muka di Mushala dan meminum air kerannya untuk melepas dahaga dalam perjalanan.


Beberapa saat setelah Magrib dalam perjalanan aku sampai lagi kepersimpangan yang lebih padat. Kadang kereta lewat cukup cepat,


membuat jalan semakin macet menunggu kereta melintasi jalan raya.

__ADS_1


Kembali kulihat arah penunjuk jalan, Lurus Serpong, Lebakbulus Ragunan, kekiri Lenteng Agung, UI ,Depok kekanan Pasar Minggu, Pancoran.


Kembali aku pilih arah pasar Minggu.


Ketika gerimis mulai turun, aku masih melanjutkan perjalanan. Malam makin merambat. Tapi kendaraan dijalanan masih tetap padat. Ketika hujan mulai agak lebat, akupun bergegas berjalan mencari tempat untuk


berteduh.


Sebuah dipan kayu disamping sebuah Rumah makan jadi pilihanku untuk berteduh menghindari hujan yang mulai membasahi pakaiyanku satu Satunya.


Aku menengadah keatas memperhatikan titik titik hujan yang turun diujung atap. Teringat akan masa kecilku dikampung dulu. Mandi hujan bersama putri adikku dan saling kejar kejaran dibawah curah hujan. Kadang aku terpeleset karena tanah yang licin mengejar Putri, bergulingan ditanah dan semua baju kotor.


Untuk membersihkannya aku berdiri dibawah cucuran atap karena air hujan mengalir deras dari sana menyiram tubuhku. Membantu


menghilangkan kotoran tanah yang menempel dibaju yang aku pakai. Bapak sambil minum kopi ditemani Emak hanya tersenyum dari dalam rumah melihat keakrapan aku dan putri.


Lamunanku lenyap seketika mataku silau memandang, didepanku sudah berhenti sebuah bus angkutan kota. Lampunya begitu terang menyorot tepat dimata. Sesaat kemudian mesin mobil mati diikuti lampunya juga turut padam melenyapkan sinar yang menyilaukan.


Kondektur turun dipintu belakang diiringi sopir yang turun dari pintu depan. Mereka berdua berjalan mengarah pintu depan rumah makan.


Seketika pria itu bangkit berdiri dari duduknya mengambil ember dan tongkat kayu panjang seperti kain pel lantai berjalan kearah mobil.


Menyalakan keran yang sudah tersambung derngan selang didekatku.


Kemudian menyiram seluruh mobil dengan air selang tadi. Tongkat kayu yang ada kainnya dimasukkan kedalam ember, yang ternyata telah ada air dicampur detergennya. Dengan itu dia menggosok seluruh badan mobil.


Aku cuma mengamati, sampai akhirnya dia menyudahi kerjanya dengan menyiram lagi seluruh badan mobil untuk menghilangkan busa sabun yang menempel. Kemudian meletakkan alat kerjanya didekat keran air yang tidak lupa dia matikan disampingku dan terus berlalau pergi.


Karena lelah telah berjalan jauh, aku tertidur didipan kayu tersebut. Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai aku dikagetkan dengan seseorang yang menepuk bahu dan membangunkanku.


"Le cuci mobilnya " Akupun kaget dan binggung menoleh kekiri dan kanan, pada siapa pria didepanku itu bicara.


"Kenapa kebingungang cepat cuci mobilnya Le, aku mau buru buru pulang".


katanya mempertegas maksud.

__ADS_1


Seperti tersihir akupun segera menyalakan keran dan mengambil ember dan tongkat kayu yang berada dekat disampingku. Aku langsung mencuci mobil seperti apa yang dilakukan pria kurus tadi yang telah aku amati.


Setelah selesai dan mematikan keran air dan meletakkan semua peralatan yang aku pakai ditempatnya semua. Pria yang menyuruhku tadi


menyodorkan uang padaku. Karena itu aku anggap sebagai upah dari kerjaku, aku terima saja pemberiannya.


"Lain kali yang bersih nyucinya, sekarang karena aku buru buru " katanya berlalu menaiki mobil dan segera pergi.


Aku melihat uang yang ada di genggaman tanganku. 15,000 rupiah setelah aku menghitungnya. Lumayan batinku dalam hati, bisa untuk membeli nasi pengganjal perut yang sudah mulai lapar. Sambil mengantongi uang


tersebut dan kembali menuju dipan kayu dimana tadi aku rebahan.


Sebelum aku duduk seseorang menarik bahuku dengan kencang, membuat tubuhku berputar kebelakang dan menoleh. Belum sempat


melihat orang yang menariku begitu kencang.


Plak...


Sebuah tinju bersarang dipelipis kiriku. Aku kaget dan mundur beberapa langkah. Ternyata pria bertubuh kurus tadi yang telah memukulku.


Untung saja dia, kalo Anto yang melakukannya mungkin aku sudah pingsan seketika dalam keadaan tubuhku lemah belum makan seharian.


"Jangan coba coba merampas pekerjaanku disini".


"Mana uang yang baru kamu terima tadi" katanya sambil menyodorkan tangan padaku. Perlahan aku merogoh kantong dan menyerahkan uang yang baru aku terima padanya.


Tanpa bicara lagi diapun pergi menjauh dari hadapanku. Aku terduduk lesu, dengan cacing cacing diperut yang sudah mulai berontak untuk


diberi makan. Sambil mengusap pelipisku yang agak sakit.


Saat ini aku tidak punya uang satu senpun untuk sekedar membeli makanan pengganjal perut.


Dalam keadaan Nol Rupiah aku termenung sendiri, Jakarta begitu kejam.


Tadi pagi aku kehilangan uang dan seluruh pakaiyan sekarang baru saja aku hasilkan uang dari kerjaku dirampas oleh pria kurus tadi.

__ADS_1


Ternyata Jakarta betul betul tidak menyenangkan, seperti kata bang Bonar padaku.


__ADS_2