
Val ! Nauval...,
seketika suara lembut itu terdengar dekat ditelingaku. Perlahan kurenggangkan pelukan pada Ibu.
Astaghfirullah...
Aku terlompat kaget sambil melepaskan pelukanku.Ternyata yang aku peluk tadi adalah nurul. Tapi, kenapa rasa dipelukannya berasa nyaman seperti dipelukan ibuku sendiri ? Fikirku sambil melihat nurul.
Maaf kak aku kira tadi ibu, agak gugup aku berkata karena malu sudah salah orang.
Tidak apa apa kok Val, katanya sambil tersenyum.
Oh ya Val sebentar lagi Magrib, kamu belum sholat Ashar. Makanya tadi aku bangunkan kamu, katanya sambil tersenyum malu meninggalkanku.
Aku segera menuju pancuran untuk berwuduk.
Setelah selesai sholat, aku pamit pada Ummi, untuk mencari bekal makan malam kita nanti. Dengan senang hati mereka mengizinkannya.
Aku berinisiatif keladang ayahku, disana banyak tanaman jagung mungkin saja masih ada dan belom hilang di makan longsor. Aku cepat bergegas karena sebelum senja berubah jadi malam aku harus sudah kembali lagi ke pondok pak Samsu.
Dengan membawa banyak tongkol jagung yang aku petik dari ladang ayahku, semoga mereka senang dengan apa yang aku bawa ini.
Assalammualaikum ummi,
Maaf ummi, hanya ini yang bisa aku bawa dari ladang, kataku pada Ummi.
Waalaikumsalam.
Terima kasih Nauval, ini sudah cukup untuk mengganjal isi perut kita dimalam ini, jawab Ummi.
Aku kembali kepancuran untuk berwuduk. Kamipun kembali berjamaah untuk menunaikan shalat magrib bersama.
Sesaat kemudian, dengan api unggun yang aku buat diluar pondok, nurul dan aku membakar
jagung yang tadi aku bawa. Bersama sama kami menikmati menu makan malam kami hari ini. Walaupun cuma jagung bakar, tapi terasa nikmat
kurasakan.
Sebelum tidur kami berjamaah bersama seperti biasa. Ummi dan anak anaknya tidur didalam pondok, sedangkan aku tidur diluar beralaskan tanah beratapkan langit. Lelah hari ini membut aku cepat tertidur lelap sampai pagi.
Sebelum fajar menyingsing diufuk timur, aku sudah terjaga. Kulihat Ummi, Nurul dan adik adiknya masih lelap dalam tidur. Ketika matahari telah sempurna menerangi bumi, kami teleh selesai sholat dan sarapan dengan sisa jagung bakar semalam. Aku berkeinginan untuk kembali mencari dimana keluargaku. Saat aku pamit pada Ummi, Nurul juga berkeinginan ikut bersamaku mencari Abahnya. Ummi menyetujuinya dan berpesan agar aku menjaga
__ADS_1
Nurul baik baik. Setelah mengangguk setuju dan mengucapkan salam.
Assalammualaikum ummi, kami pergi dulu. Kata Nurul.
Hati hati ya, jangan pulang sampai larut malam. Kata ummi kepada kita berdua.
Baik ummi, kata nurul.
Aku hanya tersenyum. Kegirangan karena bisa berduaan lagi sama nurul, di dalam fikiranku.
Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya Nurul kembali menggenggam tanganku.
Aku takut jatuh lagi, katanya sambil tersenyum padaku.
Aku sudah terjatuh, gumamku dalam hati.
Setelah lama menyusuri kebun dan ladang, kami bertemu dengan beberapa orang warga desa. Kembali bertanya kepada warga, apa diantara mereka ada yang melihat keluarga kami ?.
Tapi hasilnya nihil, tidak ada seorangpun yang melihat keluarga kami. Aku dan Nurul pamit untuk mencarinya di tempat lain.
Plak....
Tiba tiba aku jatuh terkapar ditanah. Tengkuk sebelah kananku dihantam oleh sesuatu yang sangat keras. Pandangan matakupun berkunag kunag.
Aku coba bangkit sambil menggoyang goyangkan kepala untuk menghilangkan pusing dan mengembalikan penglihatanku. Kulihat Anto
berdiri dengan tangan terkepal dihadapanku.
Ternyata dialah tadi yang telah memukulku.
Dari mana kamu membawa Nurul semalaman ? katanya dengan penuh amarah menatapku.
Kak Anto apa yang telah kamu lakukan, teriak Nurul yang sudah berdiri diantara aku dan Anto.
Awas kamu kak anto, akan aku adukan perbuatan kamu ini pada Abah ! Ancam Nurul pada Anto. Karena takut akan ancaman Nurul, Antopun segera berlari meningalkan kami.
Kamu tidak apa apa Val ? kata Nurul sambil menghampiriku.
Mana yang sakit ? katanya sambil satu tangannya mengusap pipiku.
Tidak ada yang sakit kak, aku sudah biasa seperti ini jika sedang latihan silat dengan Anto, jawabku untuk menghilangkan kecemasan Nurul.
__ADS_1
Ayo kita pergi dari sini kak, kataku. Karena semua mata warga terjudu pada kami.
Segera kami menjauh pergi meninggalkan kerumunan warga. Setelah agak jauh berjalan, Nurul menghentikan langkahku. Tangannya bergerak mengusap sudut bibirku tanpa dapat aku mencegahnya.
Kamu berdarah Val, duduklah dahulu kita istirahat disini. Aku hanya mengangguk tanda menyetujuinya.
Dengan hijabnya Nurul menyapu darah yang menetes disudut bibirku. Aku hanya terdiam sambil menatap wajahnya. Kembali mata kami bertemu pandang. Ada pancaran yang aneh dibalik mata indahnya kulihat. Pancaran yang membuat aku tenang dan nyaman untuk menatapnya lebih lama lagi. Jantungku berdegup kencang, perasaanku mulai tidak menentu. Rasa itu seakan datang kembali, rasa yang seperti kemaren.
Sakit tidak ? tanya Nurul membuyarkan pandanganku dari mata indahnya.
Tidak kak, jawabku sambil berdiri untuk menghilanagkan kegugupan.
Ayo kita jalan lagi kak, kataku untuk menyembunyikan debaran jantung yang semakin kencang dari Nurul.
Diapun mengikuti langkahku pergi.
Kami terus mencari, sudah ada beberapa warga desa yang kami temui tapi belum ada juga tanda tanda di mana keberadaan keluarga kami.
Matahari semakin tinggi, kini tepat bersinar diatas ubun ubun kami. Aku segera mengajak Nurul untuk berteduh sejenak dibawah pohon yang bisa meneduhi kami. Nurul segera duduk dan menyandarkan tubuhnya ke pohon.
Tunggu disini sebentar kak, kataku sambil berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan dari Nurul.
Aku segera berlari mencari air, setelah mengambil sehelai daun keladi dan seetibanya dialiran kecil air yang berada tidak jauh dari tempat berteduh tadi aku menampung airnya dengan daun keladi yang aku bawa. Setelah merasa agak cukup dengan langkah hati hati aku membawanya kepada Nurul.
Buka mulutnya kakak ? Seakan fahan dan mengerti dengan maksudku, Nurul pun menengadahkan wajahnya sambil membuka mulut. Perlahan lahan dengan hati hati aku meneteskan air didaun keladi kemulut Nurul. Setelah habis diminum diapun tersenyum padaku.
Terimakasih val, kamu memang anak baik dan lelaki perhatian. Katanya kepadaku sambil tersenyum.
Akupun tersenyum mendengar pujian yang di lontarkan Nurul kepadaku. Aku pun bertanya balik kepada dia, Apa kakak lapar ?
Tidak val, air tadi sudah cukup untuk mengganjal perutku. Kalok kamu val ? nurul bertanya balik.
Aku balas hanya dengan senyuman, tapi mempunyai arti.
Dan aku ajak Nurul kembali lagi untuk mencari keluarga kita karena waktu sudah mau sore. Nurul pun berdiri dan memegang kembali dengan erat tanganku.
"Aku kembali tersenyum dengan tingkah nurul yang aneh menurutku."
Kita mencari kesana kemari masih belom ada hasil dan matahari sudah mulai menghilangkan sinarnya di bumi, tandanya waktu sudah mau malam. Kita bergegas untuk pulang kembali ke pondok bersama ummi dan adik adik nurul.
Kulihat raut wajah nurul terlihat sedih dan kecewa, karena di hari ini kita masih belum menemukan abahnya.
__ADS_1
Sama seperti nurul aku sebenarnya juga merasa sedih belum bisa bertemu dengan Ibu, ayah dan putri.