Tragedi September

Tragedi September
Dalam Pondok Berduaan


__ADS_3

Kenapa kakak berada dikampung ? kataku memulai percakapan.


Ada buku tugas kuliah yang ketingalan Val, jadi aku pulang untuk mengambilnya. Kalau kamu sendiri val, bukankah kamu sekolah dikota P ? katanya sambil melirikku.


la kak aku sekolah disana, waktu setelah gempa aku segera pulang karena kawatir dengan keluargaku disini.


Kami terus berbincang bincang dalam perjalanan. Mungkin hanya sekedar untuk melupakan apa yang telah terjadi pada kami semenjak gempa mengguncang kemaren.


Setibanya kami diladang cabe suasana sangat sepi dan tidak ada seorangpun disana yang kami temui.


Tampak ladang cabe dengan batang pohon yang dulu berdiri kokoh sekarang hanya tinggalkan tanah merah saja dan potongan potongan kayu yang berserakan.


Kehawatiran yang coba kami lupakan dengan berbincang bincang selama diperjalanan kini muncul kembali. Nurul melepasakan tangannya yang sedari tadi aku genggam dan diia berlari menghampiri pondok diujung ladang. Pondok yang biasanya dipakai berteduh dan istirahat oleh abahnya diwaktu bekerja diladang. Aku segera mengikutinya dari belakang.


Setelah pintu pondok dibuka, ternyata tidak ada siapapun didalamnya. Nurul langsung jatuh tertunduk dilantai dan berurai air mata. Dia sangat berharap sekali bisa menemui abahnya disini tapi malah tidak ada seorangpun didalam pondok. Aku bingung tidak tahu harus berbuat apa.


Harapanku sama saja dengan Nurul, untuk bertemu dengan keluargaku disini tapi itu semua hilang diwaktu kita memasuki pondok tanpa seorangpun di dalamnya.


Kulihat Nurul terisak isak menangis sambil menyebut nama abahnya.


"Abah..."


"Abah...."


Dimana abah ? nurul sudah cari kemanan mana tapi nurul masih belom bertemu dengan abah. "Nurul kangen abah ! sambil sujud berurai air mata."


Perlahan aku duduk disamping Nurul dan mengambil bahunya untuk kusandarkan didadaku. Nurul menagis terisak isak dan perlahan aku usap kepalanya yang tertutipi jilbab Syar'i untuk menenangkan Nurul. Perlahan aku hapus air matanya dari pipi Nurul yang teramat lembut itu. Tangisannya masih terdengar dan aku seakan kehabisan kata kata untuk menghiburnya karena aku juga sudah tidak sanggup lagi menahan buliran air mataku yang mau jatuh.


Aku juga teramat sedih memikirkan nasib keluargaku. Ayah, ibu, putri apakah kamu baik baik saja saat ini ? gumamku dalam hati. Kuberharap semoga ALLAH selalau melindungi mereka dimanapun mereka berada.


"Ayah...."


"Ibu......"


Aku rindu ? kataku dalam hati sambil memeluk Nurul.


Kami saling terdiam dalam pikiran kami masing masing. Beberpa saat kemudian tangisan Nurul sudah tidak terdengar lagi dan Kulirik wajahnya, ternyata dia sudah tertidur pulas dalam pelukanku. Entah semenjak kapan dia tidur, aku tidak menyadarinya. Mungkin tadi ketika fikiranku melayang pada kelargaku dia telah tertidur.


Kuamati dengan dekat wajah Nurul.


Parasnya begitu cantik, alisnya tebal dengan bulu mata yang lentik.

__ADS_1


Hidungnya agak mancung, bibirnya itu terlihat sangat indah dan sedikit terbuka membuat barisan gigi putihnya yang berjejer rapi mengintip keluar disela bibir cantiknya.


"Tiba tiba, rasa itu muncul kembali. Rasa saat di mana keperjakaan bibirku telah dia rengut tadi." Aku tersenyum sendiri jika mengingatnya.


"Apakah saat ini aku akan membalas mengecup bibirnya? pikirku."


Tapi aku tidak boleh melakukan itu, aku harus membuang jauh pikiran mesum yang mulai meracuni otakku. Bagaimanapun aku sangat


menghormatinya.


Waktu berlalu, sedangkan Nurul terus tertidur dengan pulas. Badanku sudah mulai terasa kaku, entah sudah berapa lama aku duduk diam menahan tubuh nurul yang bersandar dipelukanku. Aku tidak tega untuk melepaskannya dan menidurkannya diatas lantai, lagi pula aku tidak mau mengusik tidurnya.


Aku berusaha tidak bergerak sedari tadi, takut Nurul terjaga. Karena kulihat dia tidur pulas sekali, mungkin karena lelah setelah jauh berjalan.


Dengan sabar aku menunggu Nurul terjaga. Kulihat keluar pondok matahari sudah mulai condong ke barat. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berada didalam pondok ini.


"Kreuk....!"


"Kreuk.....!"


Perutku berbunyi, Baru kusadari dari kemaren siang aku belum makan.


Tiba tiba tangan Nurul mengelus elus perutku. Aku sangat kaget dan menoleh padanya.


hmmm, aku cuma bergumam lirih mengiakan kata katanya.


Nurul segera bangkit dari rebahannya, kemudian berjalan keluar pondok untuk mencari sesuatu yang bisa kita bawa pulang untuk dimakan bersama sama di pondok nanti.


Val mau bantu aku ? tiba tiba Nurul berkata tanpa menoleh padaku.


Dengan susah payah aku berusaha bangkit dari duduk sambil menjawab, Bantu apa kak ?


Itu disana ada beberapa batang singkong, kamu bantu aku untuk mencabutnya ya !


Hanya itu yang bisa kita makan siang ini, Ummi dan adik adik mungkin juga lapar belum makan dari kemaren.


Baiklah kak, jawabku singkat sambil bergegas pergi menyusul nurul yang terlebih dahulu mencabut singkong.


Setelah mencabut beberapa singkong, aku dan Nurul bergegas kembali menuju ke tempat Ummi dipondok pak samsu.


Assalamualaikum, aku memberi salam setibanya ditempat Ummi.

__ADS_1


Waalaikumsallam, terdengar sahutan Ummi dari dalam pondok.


Maaf Ummi kami belum menemukan dan mengetahui dimana keberadaan Abah, kata Nurul setelah bersalaman dan mencium punggung tangan Umminya.


Semoga abahmu baik baik saja, kata Ummi sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya.


Ummi kami berdua tadi dari ladang cabe dan disana kami menemukan pohon singkong. Kami membawanya untuk kita makan bersama, karena tadi nurul mendengar perkelahian didalam perut nauval. Sambil tertawa lepas.


Ummi pun tersenyum lebar mendengar perkataan nurul yang sedikit meledeki aku.


Aku pun tersenyum dan berkata, pasti ummi dan adek kakak nurul belum makan dari kemaren. Sebentar lagi kita makan bersama sama singkong ini.


Aku segera berjalan kebelakang pondok meninggalkan mereka yang masih bercakap cakap, menuju pancuran untuk mebersihkan singkong yang aku bawa. Setelah singkong tadi aku cuci dipancuran, nurul dengan segera


merebusnya. Setelah matang Kami berlima menyantapnya dengan lahap sampai habis tanpa tersisa.


Alhamdulillah kataku, akhirnya perut ini terisi juga setelah dari kemaren tidak makan apa apa.


Nurul pun menyahuti, alhamdulillah meski cuma makan singkong saja tapi membuat kita kenyang.


Iya betul, sahut ummi. Makanan apapun dan seberapapun asal kita syukuri pasti mengenyangkan. Apalagi dimakan bersama sama seperti ini, pasti lebih nikmat.


Aku dan nurul hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Setelah itu, kami kembali menunaikan sholat zuhur berjamaah bersama. Karena terlalu lelah, aku mencoba untuk merebahkan tubuhku dibawah batang cengkeh belakang pondok. Sedangkan nurul masih menceritakan


tentang perjalanan kami tadi pada Ummi dan adik adiknya.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, sampai akhirnya aku terjaga karena aku rasakan ada yang mengelus elus rambutku. Aku coba buka


mata untuk melihat siapa yang telah melakukannya.


"Ibu... !"


Teriakku kaget, segera bangkit dan memeluknya dengan erat. Pelukan yang sangat aku rindukan. Ibu pun memeluk erat sambil mengelus elus


punggung dan kepalaku. Perasaan hangat nyaman dan tenang mulai terasa dalam pelukan ibu. Aku seakan tidak ingin lepas dari pelukan


ibu. Lama sekali kami saling berpelukan.


Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah.

__ADS_1


Dalam pikiranku sambil meneteskan air mata.


__ADS_2