
Sudah saatnya aku memikirkan cara untuk segera pergi dari desaku ini. Apalagi aku sudah tidak punya siapa siapa lagi disini. Anto juga akan menjadi ancaman tersendiri bagiku kalau tetap berada didesa ini. Bisa saja kalau Nurul telah kembali kekampusnya, Anto akan menghajarku sampai mati. Aku harus mencari seseorang untuk meminta pendapat dan sarannya akan masalah ini. Nurul, pak Gatot atau Roby yang harus aku temui ? hanya mereka yang begitu dekat dan akrab denganku akhir akhir ini.
Seketika terlintas dipikaranku pada Ummi.
"Mungkin Ummi lebih pantas untuk aku temui dan meminta saran darinya" Akupun bergegas berjalan mencari Ummi. Setelah tanya kian kemari akhirnya aku menemukan Ummi sedang mencuci kain di sumur pinggiran desa dan kebetulan sekali Ummi sedang sendiri.
"Assalamualaikum" sapaku pada Ummi.
"Waalaikumsallam" jawab Ummi.
"Ada apa Val ? Nurul kemana ? kenapa kamu sendirian saja kesini ? tanya Ummi kepadaku.
"Aku belum melihat Nurul setelah sholat gaib tadi Ummi" jawabku sambil agak canggung.
"Ada apakah gerangan sampai kamu kesini sendiri, sepertinya ada yang penting yang ingin kamu bicarakan dengan Ummi Val" betul sekali Ummi. Sambil menghela Nafas mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan maksud tujuanku menemui Ummi dan langsung saja aku berbicara; "Begini Ummi, aku berencana akan pergi dari desa ini".
"Kemana ? apakah kamu akan masuk asram lagi disekolahmu" jawab Ummi.
"Bukan Ummi, aku tidak mungkin melanjutkan sekolah lagi karena aku sudah tidak ada lagi yang akan membiayai aku untuk sekolah Ummi, sekarang aku hidup sebatangkara" Wajah Ummi keliatan sedih mendengar penjelasanku.
Kalau Abahnya Nurul masih ada kami akan membiayai sekolah kamu Val, tapi mau bagaimana lagi sekarang Ummi harus membiayai kuliah Nurul dan sekolah adik adiknya. Rencana kamu mau pergi kemana Val ?
tanya Ummi.
"Entahlah Ummi aku juga belum tahu mau kemana" sambil terdiam kebingungan.
"Kalau kamu pergi jauh tentu Nurul akan sedih Val, Ummi lihat Nurul sangat senang sekali jika berada didekatmu" Aku hanya tersenyum
mendengar perkataan Ummi.
"Ummi tidak bisa melarang kamu untuk pergi Val tapi cuma satu pesan Ummi untuk kamu, kapanpun dan dimanapun kamu berada jangan lupakan ajaran dan petuah Abah Nurul padamu selama ini" Ummi tahu kamu adalah anak yang berbakti dan baik pada semua orang. Jika kamu telah bosan berkelana kembalilah kesini, Ummi dan Nurul akan senatiasa menunggu kedatangnmu.
"Baiklah Ummi" jawabku sambil tersenyum pada Ummi.
Sedikit hilang beban dihatiku setelah bertemu dan mendengar saran dari Ummi tadi. Akupun segera melangkah menuju pohon yang biasa jadi tempat berbincang bincang bersama dengan pak Gatot, Roby dan Nurul. Kulihat nurul sudah berada di pohon yang biasa kita ngobrol, ntah dia sudah tau aku mau kesana atau memang ini kebetulan saja.
"Kakak sudah lama disini" sapaku.
__ADS_1
"Aku sudah dari tadi menunggu kamu disini Val" sambil cemberut menatapku.
"Tumben kakak menungguku disini, tidakkah sebaiknya kakak berada disana menemani calon tunagan kakak" kataku dengan nada pelan sambil melirik kearah Anto yang agak jauh duduk disebrang sana sambil membbelakangi kami.
Wajah Nurul langsung cemberut dan berpaling dariku. Sepertinya dia marah dan tidak menyukai kata kataku tadi.
Menyadari hal itu aku langsung berkata; "Maaf ya kakakku yang cantik kalau aku sudah salah cakap dan membuat kakak marah" kataku sambil berjongkok dengan sebelah dengkul menahan tubuh ketanah dan mengulurkan sebelah tanganku pada Nurul.
Nurul seketika melihat kearahku dan tersenyum "Gaya kamu itu seperti disinetron saja Val, Tapi sayang ditanganmu kosong tidak ada apa apanya. Kalau disinetron sinetron FTV tangan
pemeran pria akan memegang kotak berisi cincin berlian yang akan diserahkan pada wanita yang ingin diajaknya menikah" sambil menatap aku penuh dengan arti.
"Tanganku memeng kosong kak, tapi didalam genggamannya ada permintaan Maaf yang tulus kepada kakak" Apkah kakak mau menerimanya ? Kataku pada Nurul.
Dia begitu terharu mendengar kata kataku, kemudian menjabat erat tanganku.
Aku kemudian duduk disamping Nurul setelah dia menerima Maafku. Ketika aku akan memulai percakapan kulihat pak Gatot datang dengan pak Roby menghampiri kami.
"Kalian memang pasangan yang serasi seperti amplop dan perangko, dimanapun aku lihat kalian selalau bersama" kata pak Gatot sambil duduk didepanku. Pak Roby tersenyum mendengar kata kata pak Gatot dan menyela;
"Kalau kalian menikah nanti aku akan menghadirinya, jangan lupa kabari aku ya" canda Pak Roby sambil menatapku dan kemudian melirik Nurul.
"Eh kebetulan sekali Pak Gatot dan Pak Roby datang kesini" kataku mengalihkan percakapan.
Saya mau menyampaikan sesuatu, "saat ini aku sudah menjadi yatim piatu, Untuk melanjutkan sekolah akupun sudah tidak ada biayalagi dan aku berkeinginan untuk pergi merantau" kataku pada mereka.
"Kalau kamu mau melanjutkan sekolah, aku akan membiayaimu" kata pak Gatot.
"Ya aku juga akan turut membantu" sela pak Roby.
"Terimakasih akan niat baik pak gatot dan pak Roby" bukannya saya tidak menghargai itu semua, Tapi saya ingin pergi dari desa ini untuk
melupakan semua kenangan indah dengan ayah ibu dan putri adik saya.
Nurul terlihat sedih mendengar kata kata yang baru aku ucapkan.
"Bapak sudah menganggap kamu anak tapi kamu menolak pertolangan dari bapak nak" apa kamu sudah memikirkan dengan matang apa yang akan kamu lakukan ?. Bapak tidak bisa memeksamu untuk tetap melanjutkan sekolah dan bapak juga tidak bisa mencegahmu untuk merantau. Karena ada filsafah minang "Karantau bujang dahulu dikampuang paguno balun, kok isuak pulang mambangkik batang tarandam" yang mana artinya merantau dulu selagi muda nanti kembali pulang untuk mensejahterakan keluarga dan orang kampung.
__ADS_1
"Walau sangat disayangkan, tapi aku menghargai keputusanmu va" kata
Roby sambil menepuk pundakku.
"Kalau itu bisa membuat kamu tenang dan nyaman pergilah" Bapak akan mendukungmu. "Oh ya, ini kartu nama bapak, apa bila kamu butuh sesuatu hubungi bapak kapan saja, Bapak akan selalu siap untuk membantu" Katanya pak gatot sambil menyerahkan sebuah kartu nama yang baru saja dikeluarkan dari kantongnya.
Aku menerimanya dan segera menyimpannya disaku baju yang aku pakai.
"Ayok Roby kita kemas peralatan, besok kita pulang" kata pak gatot.
"Siap Ndan" kata Roby dengan tegas menjawab.
Mereka berlalu dari kami dan segera pergi berkemas untuk balik esok hari.
Sesaat kemudian nurul berkata "Benar kamu mau pergi Val ? Kata Nurul memecah kesunyian diantara kita. Nurul yang hanya dari tadi diam kulihat dengan raut wajah sedih.
"Benar kak, Aku tidak bisa menghilangkan bayang bayang indah bersama keluargaku jika aku tetap disini dan kemanapun aku melihat selalau terbayang ayah ibu dan putri" Aku ingin menghilangkan dulu bayang bayang itu, agar aku bisa lepas dari kesedihan dan duka ini.
"Apakah kamu juga akan melupakanku ?" tanya Nurul sambil menatap tajam bola mataku.
Sambil tersenyum aku menjawab; "Mana mungkin aku melupakan kakakku yang cantik setelah beberapa hari yang kita lewati bersama". Kakak yang telah merampas keperjakaan bibirku, kakak yang telah melambungkan hati sanubariku saat melihat senyumnya, Kakak yang membuat aku nyaman tenang dan damai dalam hangat pelukannya, ucapku dalam hati sambil menatap bola mata Nurul.
"Kamu janji tidak akan melupakanku disaat kamu berada jauh" kata Nurul sambil menunjukkan jari kelingkingnya padaku.
"Aku janji" kataku sambil mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingking Nurul. Dia tersenyum dan raut kesedihannya tadi mulai pudar.
Keesokan harinya pak roby menemui aku dan berkata; "Val aku pamit, jika ada waktu mampirlah kebatliyon" kata Roby menghampiriku.
"la pak robu terimakasih atas segala galanya dan mohon maaf kalau aku ada salah pada pak roby selama ini" Kataku sambil menjabat tangannya.
"Ini sedikit buat bekal kamu diperjalanan nanti" kata pak Roby sambil menyerahkan sebuah amplop padaku dan memelukku.
"Terimakasih pak roby" kataku saat melepas pelukannya.
Diapun melangkah pergi menuju mobilnya. Sesaat kemudian mobil pak Roby bergerak pergi meninggalkan desa kami dan meningalkan jejak asap kenalpot mobilnya yang membumbung tinggi, Kemudian hilang disapu angin seiring dengan sudah tidak terlihatnya lagi mobil yang dikendarai pak Roby.
Desa kami mulai sepi, satu persatu relawan telah pulang menuju daerah asalnya masing masing.
__ADS_1
Cuma pak Gatot yang belum bisa pulang, karena harus menunggu kedatangan tim relokasi yang akan membangun kembali desa kami.