
Dalam Lamunan aku merogoh kantong celana. Disana aku menyimpan kalung pemberian Nurul. Aku genggam erat kalung tersebut dan meyakinkan diri kalau Nurul akan menungguku. Menungguku pulang untuk mengungkapkan rasa yang sudah mulai tumbuh dan bersemi dihatiku pada Nurul.
"Jalan bang, aku yakin kalau Nurul memang jodohku TUHAN akan selalau menjaga hatinya untuk aku bang" kataku dengan penuh keyakinan pada bang Bonar. Bang Bonar melirikku dan tersenyum, kemudian berkata.
"Baguslah kalau begitu, kamu lebih mempercayai TUHAN mu dari pada perkataanku, kalau tidak rukun iman mu akan bertambah lagi satu. Bukan lima lagi, tapi enam. Percaya pada Bonar pria Batak yang ganteng ini." Kata bang bonar sambil tertawa dan mulai menginjak pedal gas nya lagi setelah beberapa lama terhenti.
Jauh perjalanan mulai aku rasakan, siang sudah berganti malam. Malampun berganti pagi. Dan sorenya selepas waktu Ashar mobil yang
aku tumpangi tiba diujung pulau Sumatera. Ujung paling selatan, Dermaga pelabuhan Bangkauheni.
Perlahan dengan hati hati bang Bonar menaikan mobil kegeladak kapal feri, yang akan mengantarkan kami keseberang. Menyeberangi selat Sunda untuk menuju Pulau Jawa. Pulau yang dimana lbukota Negri ini berada.
Setelah memarkirkan mobil, bang Bonar mengajak aku naik kehaluan kapal. Karena kalau berada tetap dimobil, akan terasa panas katanya. Diatas udara lebih segar dan pemandangan laut lebih indah untuk
dinikmati kala sore menjelang. Ternyata dihaluan kapal sudah ada banyak penumpang, kami mencari kursi kosong untuk diduduki. Setelah beputar putar mencari, kami menemukan kursi kosong diujung paling belakang kapal.
Pemandangannya langsung mengarah kebukit Barisan ujung pulau Sumatera.
"Pergilah keujung lorong sana, belilah dua gelas kopi. Kopi akan terasa nikmat sambil kita melihat matahari tenggelam dari sini." Kata bang Bonar sambil menyerahkan uang pecahan 20,000 padaku, sebelum aku sempat
menjejalkan tubuhku dikursi kosong yang akan kutempati. Hanya dengan anggukan setelah menerima uang dari bang Bonar aku
melangkah kearah yang dia maksudkan.
"Kak kopi hitamnya dua gelas " kataku pada pelayan kedai minuman.
"Sebentar ya Aaa "jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan sederet gigi putihnya yang indah. Aku menunggu pelayan tersebut menyiapkan kopi pesananku.
Sesaat kemudian.
"Ini kopi dua gelasnya Aaa, Cukup 10,000 saja untuk dua gelas kopinya.
Aku segera membayar dan agak kebingungan. Setelah menerima uang kembalian aku kembali ketempat bang Bonar. Dalam perjalanan sambil mebawa kopi, mahal sekali kopi ini batinku.
Untuk dua gelas kopi ini saja, sama nilainya dengan uang saku yang dikasih bapak untuk satu minggu aku berada di asrama sekolah.
Setelah duduk didepan bang Bonar yang dari tadi menunggu, aku bertanya.
"Bang apakah kopi dikapal ini sangat spesial ?"
"Biasa saja, masih sama dengan kopi kopi diwarung lainnya, memang kenapa Val?
__ADS_1
"Kok harganya mahal sekali bang ?"
" Oh.. itu sudah biasa Val, kalau diatas kapal, diatas kereta sumua harga makanan dan minuman akan naik berkali kali lipat Val."
"Begitu ya bang, kalau dikampungku harga kopi satu gelas Cuma 400 rupiah bang, kalau dua gelas kopi ini sama saja dengan uang yang diberi bapak setiap minggunya jika aku akan balik keasrama sekolah bang.
Bang Bonar Cuma tesenyum mendengar penjelasanku..
Teeeet... Teeeet.. Teeet..
Aku kaget mendengar suara yang sangat keras sekali. Wajahku pucat pasi dan menggigil ketakutan. Dalam fikiranku, apakah itu tanda bahaya. Mengisyaratkan kalau kapal akan segera tenggelam. Tapi kulihat bang
bonar santai saja sambil menyeruput kopi digelasnya.
"Tenang saja Val, tidak usah takut. Itu tanda kalau kapal yang kita tumpangi akan menarik Sauh dan segera memulai perjalanan untuk menyeberang."
Seakan mengerti dengan apa yang baru aku rasakan, bang Bonar memberi penjelasan sebelum aku bertanya padanya.
Kapal feri yang kami tumpangi mulai lepas dan meningalkan dermaga. Kuperhatikan kebawah, gelombang air yang besar muncul dari bagian
belakang kapal. Karena baling baling yang mendorong kuat lajunya kapal.
Baru aku rasakan kalau separuh aku telah tertinggal, setelah aku tidak menjejakkan kaki ditanah Sumatera lagi. Hatiku telah digenggamnya, Nurul.
Entah kapan aku bisa kembali untuk melihat kamu tersenyum lagi. Kupandangi terus pulau Sumatera sampai lenyap dari penglihatan,
kemudian aku tengadahkan kepala kelangit senja dan bergumam. ayah ibuk dan putri aku pergi dulu. Alfatihah...
Di ujung barat sana Matahari mulai tenggelam, awan berarak berwarna keemasan karena pantulan cahayanya begitu indahnya alam semesta ciptaan ALLAH yang maha kuasa.
Tapi semua keindahan sore ini tidak dapat untuk aku nikmati, aku teringat akan semua orang orang yang aku sayangi. Mereka telah jauh tertinggal diseberang sana. Mulai saat ini aku akan selalu merindukannya.
Aku alihkan pandangan kearah tujuan, kulihat disana sangat banyak lampu dinyalakan. Oh inikah pulau jawa itu terang benerang bagaikan
siang di malam hari. Beda jauh dengan kampungku tanpa penerangan jalan. Sungguh sangat luar biasa.
"Ayo kita turun kemobil, sebentar lagi kapal merapat kedermaga pelabuhan Merak," kata bang bonar membuyarkan lamunanku. Tanpa
berkata sepatah katapun aku mengikuti langkah kakainya. Dengan perasaan yang tidak menentu.
Mobilpun meluncur keluar dari kapal fery yang dikemudikan bang Bonar, berapa saat kemudian mobil keluar dari dermaga pelabuhan
__ADS_1
Merak Banten. Mengarah jalur Tol Merak Jakarta. Mobil melaju dengan cepat didalam jalan Tol bebas hambatan.
Menjelang subuh mobil mengakhiri perjalanan jauhnya. Disebelah timur kota jakarta. Pasar lnduk Kramatjati.
"Kita sudah samapi kata bang Bonar" padaku, setelah membangunkan aku yang terlelap tidur.
Aku segera membuka mata dan melihat sekitar,
Inikah Jakarta lbukota negri ini, Kok tidak ada gedung gedung tinggi menjulang seperti yang biasa aku lihat diTV.
"Kita di Induk Kramatjati, disini tidah ada gedung pencakar langit seperti yang kamu bayangkan Val" Sudah berulang kali bang Bonar bisa menebak pikiranku.
"Disini tempat biasa mobil aku mangkal menunggu dan mencari muatan Val".
"Aku kekantor Exspedisi dulu, mau laporan sekalian cari informasi kalau ada muatan yang akan dibawa lagi apa tidak, dibelakang sana ada Mushola Kamu bisa sholat dan tidur disana untuk istirahat melanjutkan tidurmu tadi".
"Baiklah bang, terima kasih" aku segera buru buru pergi, karena sesuatu yang tiba tiba menyesak dalam tubuhku untuk dikeluarkan dan dibuang segera. Tanpa kesulitan, aku berhasil menemukan Mushola dan melepaskan hajatku.
Setelah itu aku mandi dan berganti pakaiyan. Aku Cuma memiliki tiga lembar baju dan dua celana, itupun aku dapatkan dari sumbangan untuk korban bencana desaku. Cuma itu barang barang berharga milikku selain dari kalung pemberian Nurul.
Juga sejumlah uang pemberian Roby sebelum dia kembali ke Bataliyonnya. 10 lembar uang 10,000 rupiah yang tersimpan rapi dalam amplop, yang aku sembunyikan dalam lipatan bajuku didalam tas kecil yang aku bawa
dari kampung.
Setelah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah di Mushola, aku mencoba merebahkan diri dipojokan belakang. Tubuhku terasa lelah, dua hari dua malam dimobil. Dengan berbantalkan tas pakaiyan aku berbaring
dan tidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur aku tidak menyadarinya. Sampai aku rasakan panas dan seluruh tubuh bermandi keringat. Cuaca Jakarta
panas sekali aku rasa. Tidak seperti dikampungku yang selalau sejuk.
Seketika aku sadar, tas pakaiyanku yang tadi aku pakai untuk bantal tidur sudah tidak ada lagi. Mushola terlihat sepi, tidak ada seorangpun yang dapat aku tanyai. Aku melangkah keluar untuk melihat, apakah ada seseorang disekitar Mushola. Ternyata tidak ada juga seorangpun yang aku jumpai.
Aku mulai panik, Kurogoh kantong celanaku. Ternyata kalung pemberian Nurul masih ada tersimpan dengan aman. Tapi pakaiyanku dan uang pemberian Roby hilang bersamaan dengan tas aku ?.
Kemana perginya, apakah seseorang telah mengambil dan mencurinya? atau bang Bonar yang telah membawanya. Aku segera bergegas pergi mencari bang Bonar..
Tapi...
Mobil bang Bonar sudah tidak terlihat lagi ditempat dia memarkirkan kendaraannya tadi. Aku semakin tambah cemas. Karena Cuma bang Bonar yang aku kenal disini.
__ADS_1