Tragedi September

Tragedi September
Disuapi Nurul


__ADS_3

Setelah penguburan Buya Labay aku nurul dan ummi beserta dua anaknya yang lain, tidak kembali lagi kepondok pak samsu. Kini kami bersama warga yang selamat lainnya tinggal ditenda tenda penampungan. Setiap waktu sholat Aku akan jadi imam sholat berjamaah bersama warga dan Tim sukarelawan yang membantu pencarian korban. Seperti hari ini


selesai sholat, aku duduk sendirian disebuah tenda yang dikhususkan untuk tempat melaksanakan ibadah.


"Suara kamu merdu dan lafaz lafaz bacaanmu indah sekali terdengar saat menjadi imam" kata seseorang menghampiriku.


Terimakasih Bapak, ucapku ke bapak tersebut.


"Saya Gatot pimpinan tim sukarelawan dari ibu Kota" katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.


"Saya Nauval, Nauval Arkan pak " jawabku sambil menerima uluran tangannya dan dia segera duduk disebelahku.


Kamu umur berapa dan sekolah dimana ? Tanya pak gatot.


Umur saya baru 16 tahun pak dan saya sekolah dikota P. Jawabku sambil senyum kepada pak gatot.


"Oh kota P, banyak orang orang besar negeri ini yang jadi pahlawan dari kota itu" ucapnya kepadaku.


Tiba tiba seseorang pria berbadan tegap menghampiri kami.


"Lapor Ndan, seorang korban ditemukan lagi" Pak Gatot hanya mengangguk lalu menoleh padaku.


"Nati kita sambung lagi ceritanya, aku kelokasi dulu Val" katanya sambil berlalau diiringi oleh pria tegap tadi yang memberi laporan.


Aku mengiringi mereka dari belakang, siapa tahu salah satu dari keluargaku yang ditemukan. Tapi langkahku terhenti karena sudah dihadang oleh Nurul.


"Val makan dulu, ini aku bawakan makanan buat kamu" kata Nurul sambil menyerahkan piring ditangannya padaku.


"Aku belum lapar kak" jawabku.


"Krauk...Krauk..."


Cacing diperutku langsung berontak, nurul pun tersenyum padaku mendengar suara dari perutku. "Sialan cacing diperutku ini, tidak mau kompak dengan mulut" umpatku dalam hati.


"Kalau lagi malas makan biar aku suapin saja" kata nurul yang sudah menyendok nasi dan mengarahkannya kemulutku, reflek aku


membuka mulut dan mamakannya.

__ADS_1


Saat mengunyah nasi dimulut, jauh disudut sana aku melihat Anto yang sedang menatapku dengan pandangan yang berapi api. Sadar dengan kejadian tadi, aku mengambil piring yang sedang dipegang Nurul.


"Biar aku makan sendiri kak" Malu diliahat orang orang kataku pada nurul.


Kita duduk disana saja val di bawah pohon yang rindang dan ada beberapa kursinya, Aku mengiringi langkah Nurul menuju tempat yang di tunjuk oleh nurul.


Ummi dan adik adik kamu apa sudah makan ? Tanyaku pada Nurul disela sela makanku.


Sudah, mereka sudah makan tinggal kamu saja yang belom makan val. Kamu dari tadi aku tungu tungu tidak datang untuk makan bareng didapur umum.


"Oh tadi aku lagi bersama pak Gatot, Komandan tim relawan dari ibukota" jawabku.


Kakak sendiri apa sudah makan ? tanyaku kepada Nurul.


"Sudah kok barusan bersama ummi dan adik adik aku" Ucap nurul sambil tersenyum padaku.


Setelah selesai makan aku masih terus berbincang bincang dengan nurul, kemudian pak Gatot datang menghampiri kita dengan ajudannya tadi.


"Apakah saya mengganggu orang yang sedang pacaran" kata pak Gatot seketika telah sampai didekatku.


Tidak pak, jawabku sambil melirik wajah Nurul yang terlihat bersemu merah menahan malu mendengar ucapan pak Gatot.


"Iya pak cuman berteman kok" kata nurul sambil sedikit manyun.


Perkenalkan pak, Ini Nurul anaknya Buya Labay yang jenazahnya ditemukan sambil mendekap Al-quran kemaren.


Oh...,ini anaknya almarhum pak buya labay yang kemaren jenazahnya sambil memegang al-quran itu, cantik ya val kata pak gatot sambil memandangiku dan tersenyum padaku.


"Saya turut berduka cita" kata pak Gatot sambil mengulurkan tangan pada Nurul.


Terimakasih pak sambil menundukkan kepala karena malu dengan candaan dari pak gatot barusan.


"Saya Roby ajudannya pak Gatot dalam menangani bencana" kata pria berbadan tegap disamping pak Gatot sambil mengulurkan tangannya pada Nurul.


Nurul melirik aku sekilas sebelum menerima uluran tangan Roby.


Setelah bicara panjang lebar, akhirnya aku tahu kalau pak Gatot adalah seorang perwira tinggi dimabes TNI dan Roby adalah Komandan Kompi dengat pangkat kapten bataliyon dikota tempat aku sekolah.

__ADS_1


Pembicaraan hangat disiang itu membuat aku bisa sedikit melupakan kesedihanku, semenjak itu aku pak Gatot dan Roby semakin dekat dan


akrab. Kami sering menghabiskan waktu berbincang bersama sama.


Beberap hari kemudian, ketika aku sedang sarapan pagi dengan Nurul ditempat biasa kita bertemu. Roby menghampiriku, "Nauval maukah kamu menemani aku ke kota P sekarang ? Ada beberapa instruksi dari pak Gatot yang harus aku sampaikan kepada komandan Bataliyon" kata pak Roby padaku.


"Siap Kapten, kataku dengan sikap seperti seorang anggota TNI sambil hormat pada Roby" Nurul sampai tertawa melihat ulahku.


"Aku pinjam dulu ya pacarmu hari ini" kata Roby sambil menggoda Nurul dan seketika wajah nurul berubah menjadi merah.


"Boleh saja pak, asal dia dikembalikan dengan sehat walafiat dan tidak kurang satu apapun" jawab Nurul sambil melirik padaku.


Aku pun tersenyum malu mendengar kata kata dari perbincangan pak Roby dan Nurul.


"Ayo Val kita segera berangkat, agar bisa cepat kembali kesini, Kasihan Nurul nanti terlalau lama menunggumu" kata Roby mencoba menggoda Nurul lagi. Aku Cuma tersenyum melihat Nurul yang salah tingkah.


Aku pamit ya kak mau menemani pak Roby dulu, Kakak jaga diri baik baik disini dan tolong Salamin ke ummi kak sambil kutersenyum kepada nurul.


"Hati hati dijalan dan cepat kembali" kata Nurul melepas kepergianku dengan wajah yang agak sedih.


Aku dan Roby segera menuju mobil yang dikendarai oleh Roby sendiri. Sebelum mobil berjalan Nurul melambaikan tangan kepadaku. Wajahnya terlihat sedih, seakan aku pergi untuk selama lamanya dan tidak pernah kembali lagi.


Mobil melaju dengan kencang kearah kota P. Jalanan terlihat lenggang hanya sedikit kendaraan yang kita temui dijalanan. Dipinggir pinggir jalan banyak berdiri tenda tenda darurat yang dibuat oleh warga sekitar yang rumahnya telah hancur karena gempa kemaren.


Mobil telah sampai digerbang Bataliyon kota P.


Kamu mau tunggu dimobil atau ikut aku kekantor menemui komandan Val ? tanya Roby sebelum memarkirkan mobilnya.


"Aku mau keseberang depan saja pak untuk melihat situasi di sekolahanku" jawabku sambil melihat sekolahan.


"Satu jam lagi aku tunggu kamu disini ya" kata Roby sambil bergegas turun dari mobilnya.


Aku segera menyusul mengikutinya turun dari mobil.


"Sipa pak !"


Setelah turun dari mobil aku pun berjalan menuju sekolahanku dan aku tengok kiri kanan masih tetep seperti kemaren berantakan dan banyak pohon tumbang.

__ADS_1


Aku teringat lagi waktu gempa kemaren, disinilah pertama kali aku merasakan gempa yang amat dahsyat guncangannya. apakah teman teman ku sekarang baik baik saja ? Dalam fikiranku ketika melamun di depan sekolah.


__ADS_2