Tragedi September

Tragedi September
Bantuan Sudah Datang


__ADS_3

Terimakasih Nauval, kamu sangat pengertian sekali ujarnya.


Itu sudah kewajiban aku kakak. Kataku kepada nurul.


Haaahhh !


Semenjak kapan itu menjadi kewajiban kamu Val ? sambil mengerutkan kening dan menarik alisnya keatas Nurul bertanya.


Semenjak tadi pagi, disaat Ummi berpesan sebelum kita pergi agar aku selalu menjaga kakak.


Ohh begitu, katanya sambil membulatkan bibir.


Kamu anak yang baik val, pantasan abah suka padamu. Kata Nurul kepadaku.


"Hmmm, bukannya kakak yang suka padaku? gumamku dalam hati."


Setelah cukup lama beristirahat dan menunaikan sholat, kami melanjutkan pencarian dan kami sampai dipinggiran desa yang terselimuti tanah merah. Kulihat ada beberapa orang yang sedang mencoba menggali dengan alat seadanya. Aku hampiri mereka dan coba untuk ikut membantu.


Nurul hanya melihatku dari jauh, menunggu dipinggiran yang aman. Sesaat kemudian kita mendengar suara minta tolong. Dengan penuh semangat, kita bersama sama terus untuk menggali lebih dalam lagi. Dan akhirnya kita melihat sebuah celah yang terbuka, dari dalam tampak uluran tangan seseorang untuk menggapai sesuatu dan meminta tolong untuk di selamatkan. Akhirnya kita bersama sama bisa mengeluarkannya.


Ternyata pak samsu yang barusan teriak teriak minta tolong pada kami.


Pak samsu berhasil selamat dari bencana karena bersembunyi dikolong meja saat tanah perbukitan menghantam rumahnya.


Segera pak Samsu diangkat ketempat yang lebih aman dan dirawat oleh ibu ibu beserta Nurul.


Aku dan warga desa lainnya masih mencoba menggali ditempat lainnya mungkin masih ada warga desa lain yang bisa kami selamatkan.


Tiba tiba.


Terlihat ada kaki yang terjulur ditanah galian kami. Setelah digali dengan hati hati, kami menemukan istri pak Samsu yang telah meninggal ditimbun tanah longsor. Perlahan kami mengangkat jenazahnya kepinggiran.

__ADS_1


Pak Samsu yang mengetahui istrinya ditemukan sudah meninggal, langsung menghampiri jenazah istrinya sambil berkata; maaf ayah tidak bisa menyelamatkan ibu sambil menangis di atas jenazah istrinya. Sore itu juga kami menyelenggarakan pemakaman istri pak Samsu.


Karena hari sudah mulai beranjak senja, aku mengajak nurul untuk kembali kepondok tempat Ummi berada. Bergegas kami berdua beriringan jalan menuju pondok, sesampainya di pondok terlihat Ummi menunggu kita dengan wajah cemas.


Nurul segera menghampiri, sedangkan aku terus kepancuran untuk membersihkan diri dan melihat mereka berbincang, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tahu.


Setelah selesai membersihkan diri aku kembali kedepan pondok, ternyata Nurul telah menyiapkan jagung yang direbus Ummi tadi siang untuk aku santap. Karena lapar, tanpa banyak bicara aku melahapnya.


"Enaknya masakan ini, sahutku dalam hati."


Malam ini kami melewati seperti malam malam sebelumnya. Persediaan makanan kami telah habis, pagi pagi sekali aku harus berangkat lagi keladang bapakku memetik beberapa jagung untuk memenuhi kebutuhan pokok kami.


Ummi dan nurul kebelakang menyiapkan makanan dari jagung yang telah aku bawa tadi pagi. Setelah sarapan, aku mengajak Nurul untuk kembali lagi mencari abahnya dan keluargaku dan seperti biasa Ummi menyetujuinya. Setibanya aku dipinggiran desa ternyata sudah banyak orang berkumpul.


Ternyata itu tim bantuan dari TNI dan Polri telah sampai didesa kami. Mereka akan melakukan pencarian korban bencana dan juga ada dari relawan yang ikut membatu penggalian.


Tidak hanya bantuan dari tenaga TNI, Polri dan Relawan tapi ada juga bantuan masyarakat di luar kampung yang tidak terdampak bencana mengirimkan kebutuhan pokok seperti baju, makanan dan obat obatan.


Setelah membagikan bantuan, aku bersama warga, TNI dan Polri mulai melakukan pencarian dan penggalian. Sudah ada beberapa korban yang ditemukan, mereka semua meninggal.


Tapi ayah, ibu dan putri belum ditemukan, begitu juga dengan Buya Labay Abah Nurul.


Haripun mulai siang, ketika alat berat datang kelokasi pencarian yang dipimpin langsung oleh seorang komandan beserta membawa pasukan berseragam oren dan bantuan bahan pokok menyusul dengan beberapa truk, Aku dan warga lainnya segera membantu menurunkannya dari truk.


Sesaat setelah itu, dapur umum sudah berdiri dengan bantuan tenda dari Polri. Kami juga mendirikan beberapa tenda untuk warga desa lainnya.


Kulihat Nurul sedang memasak dengan ibu ibu lainnya, menyiapkan makan siang untuk kami.


Hari berlalau dengan cepat, sorenya semua korban yang di temukan telah di kebumikan dengan prosesi keagamaan. Tapi belum ada tanda tanda keluargaku dan buya labay ditemukan.


Walau warga sudah banyak yang mendatangi tenda tenda yang tadi kami dirikan dan pada setiap warga yang datang aku selalau menanyakan tentang keluargaku serta buya Labay tapi masih seperti kemaren, belum ada satupun warga yang memberi jawaban memuaskan.

__ADS_1


Sebelum magrib aku dan Nurul pamit. Taklupa aku membawa beberapa selimut, tikar dan pakaiyan batuan untuk kebutuhan kami dipondok nanti. Nurul juga membawa bekal makanan untuk Ummi dan adik adiknya.


Kulihat Anto masih dengan pandangan berapi api menatapku saat aku akan kembali dengan Nurul. Dia tidak berani berbuat macam macam lagi padaku, karena takut akan ancaman Nurul. Kalau tidak ada Nurul mungkin aku sudah dihajarnya sampai mati. Aku tahu dan sudah merasakan pukulannya saat latihan silat bersama. Dia begitu keras saat menjadi asisten pelatih buya labay dan aku pernah dilatih


dan dihajar sampai dua kali pingsan dihalaman surau olehnya.


Diperjalanan pulang hati aku gundah karena belum bisa bertemu dengan ayah, ibu dan putri, dan hampir saja aku terjatuh karena lamunanku. Sampai sampai Nurul kaget akibat aku hampir jatuh.


Dia bertanya, kenapa val kok sampek mau terjatuh ? apa yang kamu fikirkan ?


Aku cuman kepikiran sama ayah, ibu dan putri kak. Apa mereka baik baik saja ? atau mereka sama seperti yang aku temui tadi dengan tidak bernyawa lagi.


Husst !.


Nurul langsung menutup mulutku dengan jarinya.


Jangan berkata seperti itu, tidak baik val, kita harus punya pemikiran yang positif. Yakinkan hati kamu val, kalau keluarga kita akan selamat. Serahkan semuanya kepada Allah, karena Allah tahu yang terbaik bagi umatnya.


Aku cuman menganggukan kepala dan berkata Iya kak.


Sesampainya kami dipondok pak samsu nurul segera menghampiri Ummi, ntah apa yang mereka percakapkan aku cuman bisa melihat dari kejauhan.


Ummi kembali tertunduk lesu setelah mendengar penjelasan Nurul.


Dan seperti biasa aku segera kepancuran untuk membersihkan badan, Setelah selesai aku segera ke surau karena disana sudah ada Ummi, Nurul dan adik adiknya yang menunggu aku untuk berjamaah.


Dikala waktu sholat aku kehilangan konsentrasi dan kehusukan karena teringat ayah, ibu dan putri, sehingga aku melantunkan ayat ayat suci dengan isak tangis.


Selesai sholat aku langsung dipeluk oleh nurul dan berkata ; Jangan sedih val, pasti ayah, ibu dan putri baik baik saja disana.


Benar val, serahkan semua kepada yang Maha Pencipta. Allah tidak akan memberikan beban hidup yang tidak bisa kita pikul val, jadi teruslah berdoa untuk keselamatan keluarga nauval. Kata ummi kepadaku.

__ADS_1


Nurul pun ikut sedih dan meneteskan air mata karena teringat abahnya.


__ADS_2