
Sudah lima hari berlalau, sampai detik ini belum ada tanda tanda keberadaan keluargaku. Aku duduk sediri termenung didepan pondok pagi ini.
Ummi menghampiri aku dan berkata ; "Nauval telah lima hari terlewati, mungkin sudah saatnya kita mengikhlaskan orang orang yang kita sayangi" Air mataku mengalir mendengar kata kata Ummi. Tapi kulihat Ummi berusaha tetap tegar menghadapi semua ini, mungkin dia selalau berusaha menyembunyikan kesedihannya didepan anak anaknya.
"Baiklah Ummi" Melihatkan ketidak berdayaan akan diriku menerima semua cobaan ini. Terfikir dalam ingatanku, kalau aku akan hidup sendiri tanpa orang tua dan sanak saudara. Sepertinya aku akan menjadi anak yatim piatu fikirku sejenak.
"Kita selenggarakan sholat gaib berjamaah" kata ummi sambil berdiri tegak berlalu menuju pancuran untuk berwuduk.
Saat sholat gaib, air mataku terus bergulir dengan deras tanpa bisa kutahan lagi. Begitu juga Ummi dan anak anaknya aku dengar saling terisak dalam tangisan. Selesai sholat mereka saling berpelukan, sedangkan aku terdiam sediri dalam kesedihan mendalam. Tubuhku terasa lemas dan fikiranku kacau balau. Aku tak tahu harus kemana setelah ini, apa tetap disini atau pergi kekota lain ? Bencana ini telah memisahkan aku dari orang orang yang sangat aku sayangi. Aku hanya menyendiri dibelakang pondok sendiri mencoba menyembunyikan kesedihanku dari semua orang.
Tiba tiba aku mendengar suara....
Val. Nauval.., kita harus kedesa lagi kata Nurul mengusik kesendirianku.
Ternyata itu suara Nurul yang mengajak aku pergi kedesa lagi. Kulihat Nurul kini sudah berganti pakaiyan dengan baju kemaren yang aku bawa dari tenda penampungan. Kulihat dia begitu cantik siang ini, seperti bidadari yang turun dari khayangan. Sedikit menghibur mataku yang tadi larut dalam kesedihan.
"Aku mandi dan ganti baju dulu ya kak" jawabku padanya sambil menuju pancuran didekatku.
Ketika aku mau membuka baju aku melirik
kebelakang kulihat Nurul masih berdiri ditempatnya tadi.
"Aku mau mandi, apa kakak mau melihatku mandi ? Kataku padan Nurul sambil tertawa geli.
Mukanya langsung bersemu merah karena malu mendengar kata kataku.
"Aku ambilkan baju ganti" katanya sambil berlalu menghilangkan malu.
Sekalian sama handuknya kak, kataku kepada Nurul.
Ok...,dia mengganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Sesaat kemudian Nurul sudah mencul lagi membawa baju ditangannya dan handuk yang aku pesan barusan.
Kulihat Nurul terkesima memperhatikan otot otot diperutku yang tanpa baju.
Iihhh...., kamu mesum ya val berani telanjang didepan anak gadis katanya sambil menutup matanya dengan sebelah tangan, tapi disela sela jarinya masih keliahatan mata indahnya mengintip padaku dan aku hanya tersenyum
melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Ini bajunya dan handuknya cepat mandi, aku tunggu didepan" nurul langsung pergi dari hadapanku. Sebelum hilang dari pandangan dia sempat melirik kebelakang dan tersenyum padaku.
Aku tidak tahu dengan maksut senyumannya itu.
Sedang mandi aku tersenyum senyum sendiri mengingat kejadian tadi.
Sudah lima hari kami bersama teringat lagi peristiwa waktu kami jatuh bergulingan bersama. Disaat itu dia telah mengampil keperjakaan bibirku. Teringat juga saat dia menyapu darah dibibirku dengan hijab syar'inya ketika Anto calon tunagannya memukulku secara tiba tiba.
Aku bergegas mandi, karena aku tidak ingin Nurul terlalau lama menungguku. Setelah berganti pakaiyan dengan yang lebih bersih aku
bergegas berjalan kedepan pondok untuk menemui Nurul.
Dia tersenyum menyambut kedatanganku, senyumannya itu membuat jantungku bergetar dan nafasku pun sudah tidak beraturan. Karena dijalari rasa yang melambungkan hati sanubariku.
Baru kali aku ini merasakan yang seperti ini. Apakah aku sudah benar benar jatuh cinta padanya ? Fikirku....
"Ayo kita berangkat Val, aku sudah pamit pada Ummi tadi" Kalau kita akan kembali menuju desa Kata Nurul menghempaskan rasa di hatiku yang tadi melambung karena senyumannya.
Aku cuma menganggukkan kepala tanda menyetujuinya.
"Sudah tidak takut jatuh lagi" kataku coba menggodanya sambil berjalan sejajar tanpa menoleh sedikitpun. Dia hanya diam, tapi sejurus kemudian aku merasakan tangannya telah menggegggam erat telapak tanganku. Aku
"Aku telah jatuh, gumamku dalam hati."
"Sekolah dikota P siswinya cantik cantik ya Val" kata Nurul memecah kebekuan.
"la kak, cantik cantik seperti kakak" jawabku.
"Sudah ada yang menjadi pacarkamu disana val?" katanya sambil melirik padaku.
"Belum ada kak" jawabku singkat.
"Tapi sudah ada yang kamu sukakan" tanya Nurul penuh selidik.
"Sudah kak" jawabku sambil tersenyum pada Nurul.
"Seperti apa orangnya, kalau boleh aku tahu ?" Tanya Nurul dengan wajah cemberut.
"Seperti orang yang sedang aku genggam tangannya" Kataku sambil tertawa dan tidak berani menatap wajahnya.
__ADS_1
"Auu....aku berteriak kesakitan" tiba tiba Nurul mencubit tanganku degan kerasnya.
Kulihat dia sedang tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Kamipun terus berjalan menuju desa.
Setibanya didesa aku mendengar teriakan teriakan dari banyak orang.
"Buya Labay ditemukan, Buya Labay ditemukan."
Segera aku dan Nurul berlari menuju kerumunan warga. Setelah dekat aku melihat buya Labay telah terbujur kaku sambil mendekap erat kitab suci didadanya. Bibirnya sedikit tersenyum dan tidak ada sedikitpun noda tanah yang mengotori pakaiyannya.
Tangis Nurul pecah melihat jasad Abahnya. Dia mendekapku erat dan menyandarkan kepalanya didadaku menangis terisak isak. Tiba tiba
tubuhnya meluncur kebawah dan hampir jatuh dengan sigap aku segera meraih pinggangnya untuk menangkap. Ternyata Nurul tidak sadarkan diri jatuh pingsan dan segera kuangkat ketenda pengungsian.
Kubaringkan dia ditempat yang nyaman dan beberapa ibu ibu aku minta untuk menjaga Nurul. Sebelum aku pergi kepondok untuk mengabari Ummi dan adik adik Nurul.
Dengan berlari lari aku menuju pondok dan dari kejauh aku sudah berteriak teriak.
"Ummi, Ummi, Abah sudah ditemukan."
Ummi dan adik Nurul segera berlarian menyongsong aku.
"Bagai mana Abah, apakah dia selamat dan baik baik saja" tanya Ummi setelah sampai dihadapanku. Aku hanya tertunduk diam dan membisu mendengar pertanyaan Ummi.
Seakan mengerti dengan diamku Ummi berkata.
"Sudahlah tadi pagi kita mengikhlaskan beliau Val, ayok sekarang antar Ummi menemui abah untuk melihat terakhir kalinya".
Aku hanya mengangguk kepala dan terlihat Ummi begitu tegar menghadapi cobaan ini. Berempat beriringan aku, Ummi dan dua adiknya
Nurul menuju perkampungan.
Sesaat kemudian kami sudah sampai. Ummi terpaku berdiri melihat jasad suaminya sambil memeluk kedua buah hatinya. Mereka bertangisan dan sambil memeluk jasad buya labay.
Dan aku segera menghampiri nurul yang lemas badannya tak berdaya melihat kenyataan kalau abahnya sudah tiada.
"Yang kuat kak, kataku."
Tapi nurul tak merespon karena saking terkejudnya dengan kejadian ini, dia tak mampu berkata kata sedikitpun. Aku pun terus menemani dan merangkul nurul yang tak berdaya melihat abahnya yang telah tiada.
__ADS_1