
Aku berjalan menyeberangi jalan utama menuju gerbang sekolah dan memasukinya karena pintu gerbang sedikit terbuka. Kulihat sekeliling
suasana sunyi tanpa seorangpun yang kulihat dihalam sekolah. Beberapa gedung sekolah terlihat hancur dan ada gedung yang masih berdiri tegak tapi terdapat beberapa retakan yang cukup besar. Dulu halaman depan sekolah terlihat rapi dan indah tap sekarang banyak sampah dedaunan kerinh dan kayu yang tumbang. Aku rindu suara hiruk pikuk mereka ketika beraktifitas tapi sekarang entah dimana mereka semua ? Apakah mereka sudah pada pulang kerumah masing masing? Umpat ku di dalam lamunan.
Aku teringat dengan Maya, apakah dia tidak apa apa setelah tertimpa dahan kayu dulu ? cidera atau tidak waktu tertimpa dahan kayu dulu ? Semoga dia baik baik saja dan suatu saat semoga kami dipertemukan kembali.
Teringat lagi akan nasibku waktu berlari pulang dari sekolah untuk segera bertemu dengan keluargaku dikampung. Tapi sampai detik ini aku belum mengetahui dimana keberadaan mereka, hanya Tuhan lah yang tahu dimana keluargaku berasa saat ini. Aku berfikir sampai Air mataku kembali mengalir tanpa bisa kubendung lagi. Tidak mau larut terlalu dalam kesedihan, aku segera beranjak kembali menuju Bataliyon Pak Roby.
Setelah aku keluar dari gerbang sekolah aku melihat Pak Roby menungguku diparkiran dan berkata padaku; "Ayo kita pulang Val, kasihan Nurul menunggumu terlalau lama disan."
Aku hanya mengangguk diam tanpa suara dan mobil segera meluncur kembali menuju desaku. Dalam perjalanan aku terus diam merenung dan memikirkan keadaan keluargaku.
Setiba dikampung aku turun tanpa suara dan berjalan tanpa arah tujuan pasti. Aku berfikir dan berkata dalam lamunanku, akan kemanakah aku setelah ini ? Sekarang aku sudah tidak memiliki siapa siapa lagi, apa aku melanjutkan sekolah ? itu pu tidak mungkin karena siapa yang akan membiayai sekolahku ? Apa aku Bertani saja seperti ayahku ? Itu juga tidak mungkin, Tapi tetap disini akan membuat aku selalu larut dalam kesedihan karena akan teringat ayaj ibu dan Putri adikku.
Aku tegaskan pada diriku sendiri dan berkata aku harus pergi dan menjauh dari kampung halamanku ini. Hanya itu satu satunya cara untuk melupakan kesedihan ini.
Tiba tiba aku terdengar suara nurul,
"Tidak jangan paksa aku" lamunanku seketika buyar mendengar teriakan itu.
Seketika aku berlari menuju sumber suara tadi dan waktu hampir sampai langkah kakiku terhenti ketika melihat disana Nurul dan Anto saling berdebat.
"Kamu harus menikah denganku setelah keadaan pulih dan kembali normal" kata Anto pada Nurul.
"Aku tidak mau" bantah Nurul.
"Kita akan menikah, nanti aku akan bicara pada Ummimu" ucap anton dengan tegas.
"Tidak aku tidak mau" jawab Nurul setengah berteriak.
__ADS_1
Tiba tiba Anto menyadari kehadiranku.
"Kamu lagi, ada keperluan apa kamu kesini" kata Anto dengan murkanya sambil menunjukku dengan telunjuk kirinya. Wajahnya terlihat merah
padam penuh amarah menatapku sehingga nyaliku ciut melihatnya seakan mau menerkamku hidup hidup.
"Apa belum cukup pelajaran yang aku berikan kemarin, Kesini kamu akan kuhajar sampai mati saat ini juga" Gertakan Anto membuat aku tambah menggigil ketakutan.
Secepat kilat nurul melompat menghadang Anto dengan kuda kudanya yang kokah berdiri menantang Anto yang akan menerkam aku hidup hidup.
Nurul berkata dengan tegas "Hadapi aku dulu sebelum menyentuhnya" seperti singa betina yang sedang terluka dengan suara menggelegar, membuat Anto kaku tidak bergerak sama sekali.
Nurul sudah semenjak usia 3 tahun dididik oleh Abahnya ilmu silat lahir dan batin. Semua ilmu dari Buya Labay telah dia salin dengan sempurna.
Pantaslah Anto jadi kaku dan tidak bisa bergerak menghadapi Nurul, jika melawan sama saja dengan dia bertarung dengan gurunya sendiri.
Bagaimanapun juga Anto tidak akan menang menghadapi Nurul yang sudah menguasai semua ilmu abahnya.
"Ayo kita pergi dari sini Val" kata Nurul sambil menarik tanganku yang gemetaran dan berkeringat dingin setelah digertak Anto.
Setelah aku mulai melangkah Nurul menoleh kebelakang sambil menunjuk Anto dan berkata;
"Jangan kau sentuh Nauval kalau tidak ingin kuhajar" Ancam Nurul pada Anto dengan wajah penuh murka.
Kulihat Anto hanya mengangguk gugup sambil tubuhnya terlihat gemetaran dan aku segera pergi dengan Nurul meninggalkan Anto sendirian.
Diperjalanan aku memikirkan apa yang telah dilakukan Nurul pada Anto tadi. Aku teringat akan kata kata Almarhum Buya Labay bahwa ada ilmu batin. Jika ilmu itu sudah dikuasai Orang yang mendengarkan suara kita bisa mengigil ketakutan dan pingsan. Itulah ilmu kharomah Malaikat Malik penjaga pintu neraka.
Kalau Nurul sudah menguasainya siapapun pasti takut kepadanya jika ilmu itu di gunakannya.
__ADS_1
"Seperti SINGA BETINA yang mengamuk" Gumamku dalam hati sambil melirik Nurul.
Sudah dua pekan pasca gempa berlalau dan sudah tidak ada lagi korban yang ditemukan termasuk jasad ayah ibu dan Putri bersama 300 lebih korban lainnya.
Siang itu semua tim penanggulangan bencana dan seluruh warga desa berkumpul dilapangan bekas penggalian korban gempa. Pak Gatot selaku ketua Tim penyelamat mau memberikan arahan kepada semua orang.
"Assalammualaikum saudara saudaraku semua" pak Gatot mulai bicara.
"Setelah dua pekan dari tim relawan TNI dan POLRI berada didusun ini, untuk melakukan pencarian korban bencana kami menimbang nimbang untuk kebaikan kita bersama kedepannya, maka saya selaku pimpinan
tertinggi disini Ingin menghentikan pencarian korban bencana longsong di desa ini" Apakah semua warga desa dan keluarga korban setuju dengan usulan saya ? kalau setuju hari ini kita akhiri pencarian untuk kedepannya.
Sesaat suasana diam, namun lama lama terdengar bisik bisik warga.
"Setuju..setuju.." Seketika terdengar suara suara itu dari warga desa dan aku hanya tertunduk diam tanpa bisa berkata kata.
"Terimakasih kalau semua warga desa dan keluarga korban menyetujuinya, proses pencarian ini akan kita tutup bersama dengan melakukan sholat gaib berjamaah sore ini" dan dalam dua hari lagi saya akan mengirim tim yang baru untuk merelokasi desa ini. Mereka akan membangun lagi rumah rumah untuk warga setempat dan tempat ibadah serta sekolah beserta fasilitas umum lainnya, kata pak Gatot mengakhiri pertemuan.
Sesaat kemudian pak Gatot datang menghampiriku.
"Maaf Val kami tidak bisa menemukan keluargamu" Kata pak Gatot yang mendekat bersama dengan ajudannya Roby. Mereka berdua memelukku dengan erat mencoba untuk menghilangkan kesedihanku.
Tida apa apa pak ini sudah takdir Yang Maha Kuasa kataku berusaha tegar.
Kami berterimakasih pada bapak bapak semua yang telah membantu kami selama ini disini.
"Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kita semua val" jawab Roby sambil melirik ke pak Gatot.
Beberapa jam kemudian sholat gaib dilakukan berjamaah diatas tanah merah yang mengubur desa kami. Hatiku semakin hampa setelah sholat gaib dilaksanakan dan aku tidak tahu bagaimana nasibku berikutnya.
__ADS_1
Aku menyendiri disudut yang sepi seorang diri untuk menenangkan fikiranku sejenak.