
Aku alihkan pandangan kedepan, aku lihat gerbang depan sekolah masih tertutup rapat dan terkunci. Dari jauh sudah tidak tampak lagi pak sapri satpam sekolah, yang biasanya selalau siap siaga dipos jaganya.
Kemana pak sapri ? Aku mulai bingung dan berfikir bagaimana aku akan keluar dari lingkungan sekolah ini. Pagar sekolah terlalau tinggi, apakah aku harus mencari dulu kemana perginya pak sapr ?.
Seribu tanya hinggap dikepala membuat aku semakin tidak tenang.
Tanpa pikir panjang lagi hanya mengikuti hati nurani. Dengan sekuat tenaga aku berlari menuju depan pagar sekolah. Dengan mengerahkan
segala energi yang ada aku terus berlari menuju pagar pembatas antara halaman sekolah dengan jalan raya didepannya.
Saat jarakku semakin dekat dan instingku bergerak cepat, aku langsung naik dan kupanjat pembatas sekolah yang amat tinggi itu. Dengan segenap daya dan upaya, aku menjejakkan kaki kananku terakhir dihalam sekolah. Dan berusaha melompati pagar pembatas yang menjulang tinggi. Tubuhku terasa ringan dan melayang, tanpa aku sadari pagar pembatas sudah terlewati.
"Bruak...!"
Aku terjatuh bergulingan ditrotoar depan sekolah. Tadi aku hanya memikirkan untuk melompat setinggi tingginya, tanpa memikirkan bagai mana cara mendarat dengan sempurna.
Aku menoleh kebelakang untuk melihat kembali pagar pembatas sekolah yang begitu tinggi. "Tidak aku sanggka, aku telah melompatinya."
Seakan tidak percaya, tapi aku telah melakukannya.
Kulihat situasi disekeliling, kondisinya begitu kacau balau. Kutengok ada bus di jalan seberang yang sudah miring kekanan mau jatuh. Ban sebelah kanan depan dan belakang sudah berada diatas trotoar yang agak tinggi, sehingga membuat badan bus oleng kearah kanan.
Beberapa sepeda motor bergelimpangan jatuh dijalan raya. Mungkin pengendaranya tidak bisa mengendalikan laju sepeda motor disaat gempa sedang berguncang hebat.
Ada juga rumah besar, mewah dan megah bagaikan istana, aku kira tidak akan roboh. Tapi apa daya, di guncang dengan gempa yang dahsyat seperti tadi rumah mewah itu pun tidak dapat lagi menopang badannya yang mewah seakan tidak punya nyali untuk melawan sang gempa.
Seluruh kendaraan dijalanan terhenti, tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan. Mungkin takut, takut akan terjadi gempa susulan.
Seperti biasanya yang aku ketahui, gempa itu selalau ada susulannya.
Walau dengan getaran yang sedikit lebih kecil atau lebih besar sekalipun.
Semua orang terlihat dengan wajah duka yang mencekam dan air mata mereka mengalir. Masih banyak orang orang yang duduk di atas trotoar jalan, mereka merasa lemas karena dikejutkan oleh gempa yang berguncang cukup hebat.
Aku mulai berusaha bangkit dari jatuhku. Kurasakan ada beberapa bagian tubuhku yang terasa sakit. Celanaku terlihat robek dan kancing bajuku ada yang terlepas mengkin karena tadi waktu melompati pagar sekolah. Aku mencoba menggerakkan beberapa bagian tubuh untuk melakukan peregangan. Setelah merasa cukup dan merasa tidak ada bagian yang fatal di tubukku cidera, aku mulai melangkah pulang.
Aku ingin pulang sesegera mungkin ke kampung halamanku. Aku ingin sekali bertemu ayah, ibu dan putri.
Putri adikku satu satunya yang amat aku sayangi, karena aku dan adikku sangat dekat sekali.
Aku mulai menyeret langkah kakiku menuju pasar. Karena dari pasarlah ada mobil yang menuju kampung halamanku.
"Semoga di pasar masih ada angkutan yang bisa kutumpangi untuk pulang menuju kampung halaman, hanya itu yang ada dalam fikiran ku."
Kulihat disekeliling, rumah rumah yang rubuh tidak berdaya menahan akan kekuatan gempa yang terjadi. Sungguh dahsyat gempa yang terjadi barusan, hampir semua rumah di taklukkan olehnya.
__ADS_1
Anak anak kecil bertangisan dengan teriakan ketakutan dipinggir jalan sambil memeluk erat orang tuanya. Mungkin mereka belum tahu dan belum mengerti apa yang baru saja terjadi.
Sedangkan orang tuanya berusaha menenangkan isak tangis anaknya, walau mereka sendiri sedang berurai air mata.
Pemandangan miris yang aku lihat menambah kekawatiran aku terhadap keluagaku di kampung. Aku segera berlari menuju pasar untuk mencari angkot yang bisa aku tumpangi menuju kampung halaman. Walaupun agak tertatih tatih, akhirnya dengan sedikit berlari aku
sampai juga dipasar.
Suasana pasar kacau balau. Jalanan aspal kulihat ada yang retak retak. Beberapa toko sudah ada yang rubuh dan ada pula yang sudah rata dengan tanah. Sebagian lagi masih berdiri, tapi disana sini menyisakan retakan yang cukup besar pada dindingnya.
Suasana kepanikan makin terasa, saat jalanan mulai dilewati oleh kendaraan. Mobil dan sepeda motor dipacu dengan kecepatan tinggi oleh
pengemudinya. Mungkin mereka ingin segera sampai dirumah, ingin mengetahui bagaimana keadaan keluarganya yang ditinggal saat mereka
ke pasar.
Ada ibu ibu yang sambil berlarian berteriak memanggil manggil nama anaknya. Mungkin dia kepasar meninggalkan anaknya sendirian dirumah.
"Tiba tiba" diseberang jalan aku melihat seorang gadis kecil berlarian melintasi jalan sambil menangis kedua tangan menutupi matanya. Dengan reflek, aku segera berlari dan melompat menagkapnya. Kembali aku jatuh bergulingan dipingir jalan dengan gadis kecil dalam pelukanku.
Kamu tidak apa apa adek ? sambil memapah dia untuk berdiri.
Dia cuma menggeleng sambil menatap mataku.
Gadis kecil itu berusia sekitar 9 tahun dengan mata sembam karena menangis.
Anak kecil itu menjawab pertanyaan ibunya, tidak apa apa bunda, Uda ini telah menyelamatkan Melly.
Terima kasih kamu sudah menyelamatkan anak saya. Saya tadi melihat mobil melaju begitu kencang saat anak saya mau menyeberang jalan, maka dari itu saya teriak teriak barusan.
Untung ada kamu, kalau tidak ada kamu saya tidak tahu bagaimana nasib putri saya satu satunya ini.
Sama sama ibu, maaf saya harus segera pulang sambil berlalu melihat mereka.
Ibu ibu tadi teriak kepadaku, Kamu laki laki yang baik, semoga kamu selalau beruntung.
Aku hanya tersenyum mendengar kata kata baik ibu yang anak aku selamatkan tadi.
Aku terus berjalan menuju terminal angkutan kota yang mengarah ke kampung halaman, tapi tidak ada satu mobilpun aku lihat disana. Hari
mulai gelap, kini senja telah berganti dengan malam. Lampu penerangan jalan mati semua, menambah gelap suasana malam ini.
Tanpa berpikir lagi, aku segera berlari menuju arah pulang. Tidak mungkin rasanya bagiku untuk menunggu anggkutan umum untuk
Aku tumpangi, walau terasa sakit disekujur tubuhku tidak aku hiraukan aku harus terus berlari agar segera sampai ditujuan.
__ADS_1
Dalam gelapnya malam aku terus berlari tanpa menghiraukan mobil atau motor yang melaju kencang dijalanan. Aku berlari dan terus berlari, hingga langkahku terhenti pada sebuah mobil pic up yang terhenti dipinggir jalan.
Beberapa kali mobil di starter tapi tidak mau menyala. Aku hampiri dan bertanya, kenapa bang mobil nya ? mogok ya.
la mungkin, sepertinya pengapiannya sudah soak ini. Saya minta tolong dik, bantu dorong mobil saya ?
Boleh, ayo aku dorong bang.
Dengan bergegas aku mengarah ke belakang mobil dan mulai mendorong. Memang agak berat didorong sendiri, tapi dengan sekuat tenaga aku mencoba terus mendorong.
Perlahan mobil mulai bergeser dan berjalan. Terus aku dorong dan mulai melaju dari pelan lama lama semakin kencang.
Bruumm,
Bruumm,
Tiba tiba mesin mobil menyala.
Terimakasih dik,
Nama kamu siapa dik ?
Sama sama bang,
Saya nauval bang. Nama abang siapa ?
Saya pak amirudin, panggil saja pak amir.
kira kira adik mau kemana ini ?
Mau pulang ke kota A Pak.
Naiklah aku mau ke kota B, mungkin bisa sedikit membantu tumpangan bagi kamu walau cuma separuh jalan.
Terimakasih pak, aku langsung buka pintu mobil dan duduk di sebelah pak amir.
Aku melanjutkan perjalanan pulang dengan tumpangan mobil pak amir. Dalam hati aku berkata, Alhamdulillah aku dapat istirahat sejenak melepaskan lelah dan penatku setelah jauh berlari.
Kamu dari mana dik ? Pak amir bertanya kepadaku.
Dari sekolahan pak, sahut aku sambil sedikit memejamkan mata.
Pak ami bertanya lagi, Sudah malam kok baru pulang dik ?
Aku tinggal diasrama sekolahan pak, ingin pulang melihat keadaan keluarga dikampung.
__ADS_1
Pak amir kembali fokus mengemudi, kami sama sama diam dalam perjalanan. Mobil melaju dengan kencang membelah sunyinya malam dan melewati kendaraan yang di tinggal oleh pemiliknya dan rumah rumah yang hancur karena gempa.