
Segera kuselimutkan jaketku pada tubuh nurul takut aku tidak tahan melihat lembah diantara dua bukit indahnya tersingakap menggoda. Aku menutupinya agar pemandangan ini tidak menjerumuskan aku ke lubang dosa dan melemahkan imanku.
"Biasanya nurul berhijab, mungkin
tadi karena terburu buru pergi untuk mencari buya labay dia lupa memakai hijabnya" fikirku.
Tapi hasrat kelaki lakianku terus bergetar tapi aku tidak berani lagi menatap wajah cantik nurul takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Nurul merasakan getaran dan sedikit denyutan dipipi kirinya membuat dia tersadar, perlahan kepala nurul bergerak menggesek kelaki lakianku dan aku sedikit merasa tidak nyaman dengan pergerakan kepala nurul.
Saat aku lirik sekilas, matanya mulai terbuka. Butiran bening itu kembali mengalir disudut matanya nurul, perlahan dengan lembut aku usap buliran bening yang hampir masuk ke telinganya.
Jangan menangis kak nurul, nanti aku juga ikutan menagis kataku agak berbisik di telinganya. Doa kan saja semoga tidak terjadi apa apa pada keluarga kita sambungku. Dia hanya mengangguk lemah menyetujui perkataanku.
Ayo aku antar kakak ke pondok pak samsu menemui Ummi dan adik adik kakak. Mungkin mereka sudah menghawatirkan kakak karena sudah lama belum kembali dari tadi.
Nurul berusaha bangkit dari pangkuanku tapi dia jatuh lagi. Hati hati kak, apa kakak tidak kuat untuk berdiri ? tanyaku kepada nurul.
Sepertinya dia sudah tidak kuat untuk berdiri sendiri, tubuhnya lemas seperti tidak bertenaga.
Aku gendong ya kak ? sepertinya kakak tidak kuat untuk berjalan kataku sambil menatapnya.
Dengan sedikit tarikan disudut bibir, dia tersenyum dan mengangguk setuju.
Perlahan dengan hati hati aku mulai mengangkat untuk menggendongnya.
Nurul langsung mengalungkan kedua lengannya dileherku meski terasa agak berat, aku terus melangkah berjalan menuju pondok pak samsu.
Uminya terkejut melihat aku datang menggendong putri sulungnya.
Ada apa Nauval ? apa yang terjadi pada anak Ummi ? Bertanya sambil memberikan mimik wajah yang kawatir.
__ADS_1
"Kakak nurul tidak apa apa Ummi" cuma tadi pingsan saja, kataku menjawab tanya Ummi. Nurul ikut menyela, la nurul tidak apa apa kok Ummi, nurul baik baik saja katanya dalam masih gendonganku.
Oh..., mari baringkan nurul didalam podok Val, kata ummi yang menyadari kalau nurul masih dalam gendonganku.
Nurul berbisik, bibirnya yang indah itu hampir menyentuh daun telingaku. Turunkan aku val, aku tidak mau ummi kawatir dengan keadaanku.
Baik kak. Kataku sambil tersenyum kepada nurul. Perlahan aku menurunkan nurul walaupun agak limbung berdiri aku terus memegangi pinggang rampingnya. Berjaga jaga kalau nanti nurul jatuh pingsan lagi fikirku. Nurul menggenggam tanganku yang berada dipinggangnya, sambil melirik berkata; jangan dipegangi terus, malu dilihat ummi katanya lirih sambil tersenyum manis kepadaku.
Muka aku pun merah padam, karena tanpa kusadari sedari tadi tanganku dipinggangnya. Aku malu pada nurul dan ummi. Tapi ummi hanya tersenyum kearah kita karena ummi juga mendengar apa yang dikatakan nurul.
Kenapa nurul sampai pingsan Val ? tanya ummi menghilangkan kecanggungan aku.
Nurul menyela sebelum aku menjawab, Ummi tadi pagi aku pergi untuk mencari Abah.
Tadi Nurul hanya bertemu dengan Nauval, ummi. Mungkin sekarang Abah berada di tempat yang lain, ditempat yang lebih aman kata nurul kepada umminya.
Tapi aku tahu ada keraguan dan kecemasan memikirkan abahnya dari nada suaranya yang terdengar olehku.
Ummi tertunduk lemas mendengar penjelasan nurul berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya dihadapan anak anaknya.
Sambil tertunduk ummi berkata, semoga abahmu baik baik saja nak dengan nada meyakinkan anak anaknya.
Mereka terus berbincang bincang, seakan tidak menghiraukan kehadiranku yang berdiri sejak tadi di dekat mereka.
Matahari mulai terlihat bulat sempurna disudut timur bumi. Aku baru sadar dari kemaren sore aku belum menunaikan kewajiban agamaku dan bergegas aku menuju pancuran yang berada di belakang pondok untuk membersihkan badan dan berwudhuk.
Setiba di pancuran aku membersihkan tubuhku yang kotor kemudian mengambil wuduk. Setelah itu kembali ke depan pondok, melihat aku yang telah menghadap kiblat siap siap untuk sholat dihalaman depan pondok nurul berteriak.
Tunggu nauval ! Aku dan Ummi juga belum sholat subuh. Kita sholat berjamaah bersama, aku dan ummi wudhu dulu katanya sambil bergegas pergi disusul oleh Ummi dan di belakang dua adik laki laki nurul juga mengikuti.
Aku menunggu mereka untuk beberapa saat.
__ADS_1
Kini hanya dengan memakai jilbab syar'i panjang ummi dan nurul datang menghampiri, sedangkan adik laki lakinya sudah mengambil saf dibelakangku.
Tanpa kusuruh adik laki laki nurul sudah mengumandangkan ikomah tanda kami untuk segera melaksanakan Sholat.
"Mungkin sudah menjadi kebiasaan dikeluarga mereka jika Buya labay tidak bisa kesurau dan sholat berjamaah, fikirku."
ALLAHUAKBAR.
Aku segera mulai mengangkat tangan untuk melakukan sholat. Ketika mulutku mulai melafazkan Ayat ayat suci dengan suara agak keras, mulutku mulai bergetar dan suaraku semakin serak diiringi air mata yang mulai mengalir dipipiku. Sayup sayup juga aku dengar, isak tangis dibelakang sedikit menggangu khusukku dalam ibadah.
Akhirnya prosesi keagamaan ini aku akhiri dengan menguycapkan salam dengan menoleh kekanan dan kekiri. Setelah memanjatkan beberapa doa untuk keselamatan keluargaku dan orang orang sekampung. Aku bangkit dari
duduk dan berpamitan kepada ummi, aku mau ijin pamit ummi untuk mencari kelurgaku dan orang kampung lainnya.
Tuggu Nauval, aku ikut. Kata Nurul bergegas berdiri sambil melihat ke Ummi untuk meminta persetujuan.
Hati hati Nauval dan cepat kembali, kabari Ummi kalau kamu sudah bertemu dengan Abah Buya dan keluarga kamu. Pergilah bersama Nurul, Ummi akan menunggu disini bersama dengan adik adik Nurul.
"Di hatiku merasa gembira, karena nurul ikut aku untuk misi pencarian abah buya dan keluarga aku yang masih belom di ketemukan."
Nurul pamit dulu Ummi, katanya sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Ummi kemudian melangkah pergi.
Nauval pamit Ummi, setelah melihat anggukan Ummi aku secepatnya menyusul Nurul meninggalkan pondok pak Samsu.
"Di benakku sambil berjalan, Ya Allah tolong kami, mudahkanlah kami dalam pencarian hari ini dan semoga aku cepat menemukan ayah, ibu dan putri serta abah Buya."
Nurul semakin cepat melangkahkan kakinya meninggalkanku di belakang sendirian dan ku panggil dia. Kakak Nurul, pelan pelan saja jangan tergesah gesah.
Maaf val, aku berjalan terlalu cepat ya, sampai sampai kamu tertinggal di belakang sambil mengusap air mata yang berada di pipinya.
Ku bertanya dengan suara yang sedikit pelan. Kenapa kak nurul, kok meneteskan air mata lagi ? Nurul kembali memelukku sambil menjawab pertanyaanku. Apakah kita akan berhasil menemukan Abah buya val ?.
__ADS_1
Aku cuman bisa mengganggukkan kepala dan berkata Insyaallah, serahkan semuanya kepada Allah yang Maha Esa dan Maha Tahu, kita cari semaksimal mungkin hari ini.