Tragedi September

Tragedi September
Meninggalkan Berlian


__ADS_3

Selepas zuhur beberapa truk datang memesuki desa kami, tim yang ditunggu tunggu pak Gatot telah datang. Ada beberapa puluhan orang


pasukan TNI dari pusat datang, dengan serta membawa semua material bahan bahan yang dibutukan untuk kembali membangun desa kami.


Setelah menghadap dan memberi laporan singat kepada pak Gatot, Komandan yang baru datang itu segera memerintahkan bawahannya


untuk segera menurunkan muatan truk. Aku hanya melihatnya dari kejauhan aktifitas mereka.


Tiba tiba terlintas dari fikiranku sebuah ide.


Aku segera menghampiri dan mencari cari supir truk tersebut. Setelah bertemu dengan salah seorang sopir aku menyapa.


"Selamat siang bang, boleh tahu dariman semua barang barang itu abang bawa tanyak" Pada sopir yang bertubuh besar dan wajah agak


menakutkan, karena ada bekas luka sayatan dipipi kirinya memanjang sampai kedagu.


"Dari jakarta dek" jawabnya dengan ramah. Ternyata wajahnya saja yang menakutkan. Kelihatannya dia adalah orang yang baik. Wahh, kebetulan sekali. kataku dalam hati.


"Kapan mobil ini akan kembali kejakarta bang ?" tanyaku berusaha untuk bersikap lebih akrab lagi.


"Kalau tidak ada kendala mungkin besok pagi dek."


"Boleh aku ikut menumpang bang " kataku menjawab cepat. Diapun terkejut dan menatapku seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


"Apkah orang tua kamu akan mengizinkan, Jakarta itu jauh sekali dek" katanya menatap ragu padaku.


"Aku sudah tidak punya siapa siapa lagi bang, semua sudah terkubur bersama tanah yang menimpa desa kami" wajahnya terlihat sedih


mendengar penjelasanku.


"Aku turut berduka cita, aku Bonar siapa namamu" katanya sambil mengulurkan tangan padaku untuk berkenalan.


"Aku Nauval bang" kataku sambil menerima uluran tangannya.


"Baiklah kalau kamu benar benar mau ikut, kebetulan aku sendiri dimobil" katanya sambil tersenyum padaku.


"Terimakasih bang" kataku kegirangan sambil menyalaminya kembli.


"Aku pamit dulu bang".


"Oke.. aku tunggu kamu besok pagi dimobil" kata bang Bonar padaku.


Aku dengan tergesa gesa bergegas pergi mencari Nurul, aku harus mengabarinya secepat mungkin.


Setelah mencari cari cukup lama, akhirnya aku melihat Nurul sedang mencuci piring disumur pinggir desa. Aku segera mendekatinya.


Setelah dekat aku langsung saja mengambil piring yang penuh busa sabun dari tangannya, dan kemudian membantu membilasnya dengan air yang bersih.


"Tumben kamu mau membantu aku mencuci piring" katanya sambil tersenyum melirikku.

__ADS_1


"Kak besok aku mau berangkat ke Jakarta" kataku padanya. Seakan tersentak mendengar ucapanku, Nurul meletakkan kembali piring yang


mau disabuninya.


"Kamu serius Val" dengan nada heran Nurul bertanya.


"la kak aku serius".


"Dengan apa kamu akan pergi besok "tanya Nurul penuh selidik.


Dengan truk yang tadi datang kak, aku sudah bicara pada sopirnya.


"Ternyata sopirnya baik sekali dan mengijinkan aku menumpang ikut bersamanya ke Jakarta".


Nurul terlihat sedih mendengar penjelasanku.


"Jika kamu pergi kamu tidak akan melupakan janji kamu kemarenkan Val ?" kata Nurul penuh tanya.


"Mana mungkin aku akan melupakannya kak" kataku sambil tersenyum pada orang yang telah merampas keperjakaan bibirku. Nurul hanya


tersenyum mendengar jawabanku. Dan kami terus melanjutkan mencuci piring berdua. Jauh disana ditempat yang tidak aku sadari, dari tadi Anto mengawasi gerak gerikku. Dia masih


marah padaku, tapi tidak bisa berbuat apa apa. Karena Nurul akan selalau melindungi aku dari amukan amarahnya.


Sore itu pak Gatot pamit padaku untuk kembali pulang. Aku memeluknya dan meneteskan air mata melepas kepergian pak Gatot. Orangnya baik sekali, seorang perwira tinggi yang ramah terhadap semua orang. Dikartu namanya kemaren aku lihat Logo bintang dua, ada tulisan


Mayor Jendral Gatot Pranomo. Di ikuti alamat dan nomor telephonnya. Aku tidak mengira pangkatnya setinggi itu, dia begitu santun pada


Hari berlalau dan malampun datang, saat aku duduk berdua dengan Nurul ditempat biasa kita sering berkumpul dengan pak Gatot dan Roby.


"Val, jangan pernah lupakan janji yang kamu ucapkan dulu disini ya. Ingat pohon itu telah menjadi saksinya" kata Nurul sambil menoleh kebelakan mengarah kepohon yang dia maksudkan.


"la kakakku yang bawael dan galak" candaku padanya.


"Kapan aku galak, memangnya aku pernah marah padamu ?" tanya Nurul.


Aku cuma tersenyum senyum melihatnya. Dia berpaling dan memasang wajah kesal.


"Kakak galak jika berhadapan dengan Anto" kataku hampir berbisik dekat telinganya. Nurul kembali menatapku dan tersenyum penuh arti. Arti yang tidak bisa aku tebak maksut dan tujuannya.


Kemudian Nurul memasukan kedua tangannya kedalam hijab Syari yang dia pakai. Ketika tangannya sudah keluar lagi dari hijab aku melihat sebuah kalung digenggamannya.


"Simpan ini Val, untuk mengingatkan kamu pada janji yang sudah kita ucapkan disini" katanya dengan penuh meyakinkan. Entah kenapa seperti tersihir aku menerimanya tanpa berkata kata.


Sebelum malam bertambah larut kami segera beranjak pergi untuk istirahat ditempat


masing masing malam ini.


Pagipun menjelang. setelah sholat subuh Nurul mendekat menghampiriku.

__ADS_1


"Kamu mau berangkat sekarang Val?"


"la aku pamit kakak" jawabku pada Nurul. seketika Nurul mengambil tanganku menyalaminya kemudian mencium punggungnya. Aku kaget dengan apa yang dilakukan Nurul. Seharusnya aku yang melakukan itu padanya, karena Nurul lebih tua dariku.


"Pergilah hati hati dijalan, ingat selalu ajaran dan petuah Abah selama kamu diasuh menjadi muridnya, Aku menunggumu disini " kata Nurul lirih. Dalam batinnya berkata . Aku menunggumu pulang untuk menjadi suamiku.


Setelah menatapnya sesaat, aku berpaling dan melangkah pergi meninggalkan Nurul menuju mobil bang Bonar.


Tadi kulihat mulai ada sedikit kristal bening disudut mata Nurul. Aku tidak ingin melihat kesedihan Nurul melepaskan aku pergi.


"Kamu sudah siap untuk berangkat" kata bang Bonar yang sedang duduk dibelakang setir mobilnya ketika aku sudah berada didekatnya.


"Siap bang" jawabku sambil bergegas naik kemobil. Kulihat lagi ketempat tadi Nurul berdiri, dia melambaikan tangan melepas kepergianku .Seiring mobil yang dikemudikan bang Bonar mulai berjalan aku juga membalas


lambaiyan tangan Nurul.


"Siapa gadis itu, pacar kamukah ?" kata bang Bonar yang melirik spion mobil melihat Nurul melambaikan tangan.


"Bukan Bang, dia itu anak guru mengajiku Buya Labay yang sudah almarhum." Dengan nada datar aku menyembunyikan rasa yang sudah


mulai tumbuh dihatiku pada Nurul dari selidik bang Bonar.


"Kenapa tidak kamu pacari saja" kata bang Bonar sambil melirikku.


"Nurul lebih tua dari aku dua tahun bang, mana mungkin aku mencintai orang yang lebih dewasa dariku" aku berkilah, karena sepertinya bang


Bonar mengetahui isi hatiku.


"Oh namanya Nurul. Sesuai ya dengan parasnya, cantik dan ayu. Tapi nanti apakah kamu tidak akan menyesal karena sudah meninggalkannya


sekarang".


Dak dik duk...bunyi jantungku langsung tersentak mendengar. Terkejut mendengar perkataan bang Bonar. Apakah ia aku akan menyesal nanti ? Aku menjulurkan kepala dari jendela mobil untuk melihat kebelakang. Tapi desaku sudah tidak terlihat lagi. Karena mobil sudah cukup jauh berjalan.


Tiba tiba bang Bonar menghentikan kendaraannya. Seakan dia mengerti


dan tahu apa yang sedang aku rasakan. Rasa takut kehilangan jika nanti Nurul telah dimiliki oleh orang lain.


"Kalau kamu tidak ingin kehilangan Nurul, batalkan saja niatmu untuk pergi ke Jakarta. Sebelum mobil ini terlalau jauh berjalan. Aku tidak mau jika suatu saat nanti kamu akan menyesalinya. Jangan melepaskan berlian


ditangan hanya untuk mengusap air mata dipipi menghilangkan kesedihan."😊


Kata kata bang Bonar sangat tepat menghujam kedalam hatiku, Aku pergi meninggalkan Nurul untuk menghilangkan kesedihanku. Benarkah Nurul berlian berharga yang seperti disebut bang Bonar tadi?


Hatiku jadi bimbang dan ragu.


"Turunlah Nauval, aku yakin bahagiamu ada bersama Nurul. Pulau jawa bukanlah tempat yang baik dan menyenangkan untuk kamu melupakan kesedihan. Hatimu tertinggal disini, jangan paksakan tubuhmu untuk pergi".


Aku merenungi setiap kata kata dari bang Bonar. Semuanya memang benar dan tidak ada salahnya. Akupun mulai ragu untuk melanjutkan perjalanan ini. Meninggalkan berlian berharga yang takkan mungkin aku temui ditempat

__ADS_1


lain dimasa yang akan datang.


__ADS_2