
doni yang melihat Ririn akan pergi segera menarik Ririn dalam pelukannya lagi Ririn terkejut tanpa bisa melakukan apapun dirinya benar benar jatuh dalam pelukan doni wajahnya mendongak melihat ke arah wajah doni yang menunduk. sangat dekat itu lah jarak mereka bahkan tubuh mereka kini benar benar menempel.
sejenak saling tatap doni lah yang mengambil inisiatif terlebih dahulu dengan sedikit memiringkan kepalanya. Ririn yang melihat itu memejamkan matanya dan sedikit membuka bibir basahnya setelah sejenak menelan ludahnya.
" *tuhan niat hati ini ingin beriman tapi raga ini sungguh tak bisa menahan nafsu dari godaan nafsu yang membutakan. " ujar hati doni yang mana sudah menempelkan bibirnya itu di bibir basah Ririn.
" Ririn apa yang terjadi denganmu ayo lawan Ririn ini jangan sampai terjadi......
em.... ini ini hangat apakah ini ciuman pertamaku. sial doni benar benar melakukan nya tapi kenapa aku tidak menolak malah aku menikmatinya." ujar hati Ririn*.
Ririn yang merasa nyaman tanpa sadar mengalungkan lengannya di leher doni menarik doni yang sudah akan menyelesaikan ciuman itu. keduanya sejenak berciuman hingga akhir menyudahinya karena nafas keduanya sudah tidak karuan.
keduanya saling membelakangi keduanya sama sama tidak menyangka dengan adegan ini yang sudah terjadi sungguh itu terjadi begitu saja.
" doni kamu mengambil ciuman pertama ku sebelum waktunya. " ujar Ririn menunduk malu.
" ah itu.....
itu bukan salahku bukankah sudah aku katakan untuk segera pergi karena bahaya jika terlalu lama berdua jika di tempat sepi. " ujar doni.
" itu bukankah aku sudah ingin pergi mengapa kamu menarik ku dan melakukan itu. " ujar Ririn.
" benar tapi kamu tidak menolaknya bahkan kamu menarik ku untuk lebih dalam melakukanya. " ujar doni.
" ini..... "
" sudah lah lagi pula kamu adalah pacarku jadi aku rasa tidak salah mengambil itu sebelum orang lain yang mengambilnya. dan lagi aku juga bukan pria bajingan yang setelah menikmati akan membuangnya begitu saja. " ujar doni.
Ririn hanya diam dan membenarkan apa yang dikatakan doni Ririn juga memastikan jika doni benar benar dengan perkataannya.
" sudah ayo lekas kembali sebelum hal lain yang jauh terjadi. " ujar doni menggandeng Ririn.
Ririn diam saja mengikuti langkah doni sejenak terlukis senyum di sudut bibirnya sejenak juga merasa canggung. karena dirinya malah menarik doni untuk lebih dalam.
" *Ririn mengapa kamu bisa seperti ini pasti saat ini doni berpikir kamu itu begitu murahan. hah... bodoh.... bodoh... bodoh..... " hati Ririn.
" ini sudah di luar kendali ku ini di luar dari rencana ini apa yang sebenarnya terjadi bagai mana aku bisa melakukan itu mungkin Ririn akan membenciku dan berpikir aku ini sama saja dengan pria brengsek lainnya yang hanya tau menyalurkan kenikmatan sesaat yang setelah tersalur dengan puas dan sudah bosan akan di buang begitu saja. mana sekarang dia tidak berbicara sama sekali haduh bagai mana ini. " hati doni*.
" Doni.... Ririn aku...... " keduanya saling memanggil secara bersamaan.
" ada apa...." ujar Ririn.
" kamu saja dulu.... " doni.
" kamu saja.... " Ririn.
" baik lah.
rin aku minta maaf atas apa yang terjadi, aku benar benar tak menyangka akan akan terjadi seperti itu. " ujar doni dengan memegang dua tangan Ririn.
" ah itu juga aku mohon padamu jangan berfikir aku seperti wanita murahan lainnya aku hanya tidak mengerti dengan apa yang terjadi sungguh itu di luar kendaliku. " ujar Ririn menunduk.
"sudah aku tidak berfikiran seperti itu tentangmu lebih baik ayo segera pergi tinggalkan tempat ini aura tempat ini sangat mendukung untuk kita. " ujar doni.
" em... " jawab ririn mengangguk.
__ADS_1
kembali doni menggandeng Ririn dan jalan beriringan Ririn hanya ikut saja tanpa ada penolakan.
flashback off
" Ririn mikirin apa sih... " ujar tasya.
" enggak hanya ke inget masa lalu saja. " jawab ririn
" memang ada apa dengan masa lalu. " kembali tasya bertanya.
" hay yank maaf lama ni si ketoprak susah bener di atur. " ujar doni langsung duduk di kursi di hadapan ririn.
" eh.... " ujar tama terkejut.
sedangkan ririn terkejut mendengar sebutan doni pada tama yang resmi menjadi pacarnya itu saat ini.
" apaan sih yank kamu gak lihat di sebelah aku ada pacarnya loh. " ujar ririn menimpali.
" eh iya lupa jika sahabatku ini sudah tidak lagi jomblo. " ujar doni.
" doni sekali lagi kamu menjatuhkan ku di depan tasya aku hapus kamu dari daftar sahabat. " ujar tama bercanda dan duduk di hadapan tasya.
" ets.... jangan bos...
maaf maaf jangan hapus aku sungguh aku masih membutuhkan uangmu untuk menghidupi ku di kampus. " ujar doni asal kemarin saja.
ririn dan tasya membulat sempurna kemudian tertawa mendengar kelucuan pacar mereka itu.
" kalian terlihat senang. " ujar tama.
" sya apa kamu sudah pesan biar aku pesan untuk kamu ya. " ujar tama lembut.
" em... iya.... itu sudah eh belum. " ujar tasya grogi karena ini pertama kalinya dan saat ini ada orang lain juga di sana.
" ya ampun sya biasa aja kali aku ini kan sahabatmu. " ujar ririn.
" ya sudah ayo pesan atau aku yang pilihkan untuk pesananmu. " ujar tama masih sangat lembut.
" itu aku pilih sendiri saja.... " ujar tasya mencoba tenang.
" yank kamu sudah pesen belum. " ujar doni pada ririn.
" sudah " jawab ririn.
" aku juga samain seperti punya kamu aja. " ujar dion.
setelah tama tau dengan apa yang di pesan tasya tama segera beranjak untuk memesan.
" hey tama aku titip pesanan ku dan ririn juga ya biarkan aku di sini menjaga mereka berdua . "
" hah kamu merepotkan sekali doni....
ya sudah mana. " ujar tama seperti terpaksa.
" ini....
__ADS_1
terimakasih ya bro.... " ujar doni, tapi tama tidak berkata apapun.
" hey sya jadi bagai mana apa yang dapat kamu simpulkan dari tama setelah berpacaran. " ujar doni.
" eh..... " tasya terkejut dengan pertanyaan itu karena tasya juga baru semalam resmi berpacaran dengan tama.
" yank apa sih kamu kenapa bertanya begitu pada tasya. " ujar ririn.
" eh... apa salah yank... " tanya doni.
" tau ah gelap...
sya udah jangan dipikirin kata kata doni ya. " ujar ririn menenangkan Tasya
" enggak kok gak papa. " ujar tasya
" sebenarnya tama orang baik dan sangat ramah. itu saja yang bisa aku simpulkan dari tama. " ujar Tasya
" em.... lebih tampan mana antara tama dan aku. " ujar dion lagi.
" yank apa sih kamu semakin ngaco aja bertanya nya. " ujar ririn kesal mendengar pertanyaan doni.
" apa sih yank ini pertanyaan wajar lagi pula meminta hasil dari perbandingan seorang dewi no 1 di kampus itu sangat jarang. " ujar doni
" hehehe. itu aku bagai mana harus menjawabnya. " ujar Tasya. "
" udah sya gak usah di jawab lagi pula tidak berbobot sama sekali. " ujar ririn menengahi.
" iya...
tapi ada satu hal yang salah di sini aku kenal doni dari rumor jika dia adalah seorang yang cuek dan abai kepada wanita tapi sekarang sepertinya tidak menunjukkan itu. " tanya Tasya mencoba mengalihkan suasana canggung.
" hah sya pria itu memang sangat mahir berkamuflase. " ujar ririn.
" eh.....
yank aku itu tidak seperti itu....
dengar ya aku hanya seperti ini pada kalian dan juga ibu serta adik ku saja selebihnya aku memang seperti yang di rumorkan. " jelas doni.
" jadi rumor itu tidak salah ya. " lanjut Tasya.
" em bisa di bilang gitu sih. " jawab tama.
tak lama tama sudah kembali di ikuti di belakangnya seseorang yang sedang membawakan pesanan mereka semua.
" pesanan datang ujar tama.
sini bak pesanan yang itu. " ujar tama mengambil pesanan milik Tasya kemudian meletakkan dengan sangat hati hati di meja.
" sya pelan pelan ya ini masih panas. atau bagai mana jika aku suapin saja agar aman. " ujar tama penuh perhatian. doni dan ririn hanya bisa menjadi obat nyamuk melihat kemesraan itu sedangkan mbak mbak pengantar pesanan itu senyum senyum sendiri.
" ah itu aku lakukan sediri saja aku bisa lebih baik kamu makan juga. " ujar Tasya memerah di wajahnya karena malu. tapi juga ada rasa senang di hatinya.
" baik lah. " ujar tama.
__ADS_1