
tama menggandeng tangan tasya berjalan beriringan mengabaikan semua mata yang sedang memperhatikan keduanya. pandangan semua orang penuh dengan arti dan pertanyaan.
" *dewi kita......
" apa dewi kita sudah berpasangan.....
" ini apa yang terjadi.....
" mungkin kah.....
" bagai mana mungkin dewi ku berpacaran.....
" wah lihat keduanya bergandengan tangan.....
" jika keduanya bukan pacaran terus apa*.....
itulah kiranya dari semua orang yang terus berbisik bahkan berbicara sendiri bahkan ada yang berlebihan dengan pingsan, lemas, menangis, bahkan berlari dengan berteriak seperti anak kecil.
tasya sempat merasa tidak nyaman tapi ketika tangannya semakin erat di genggam tama dan tama memberikan senyum dengan mengangguk. membuat Tasya meyakinkan dirinya bahwa ini semua baik dan akan baik baik saja.
" yank aku antar sampai di sini ya...
kamu masuk dan jadilah pacar yang baik..... " ujar tama
" em... baik lah..... " jawab tasya dengan senyuman.
" gadis baik.... " ujar tama dengan mengucel rambut tasya lembut sehingga berantakan.
" tama.... " keluh tasya.
" by..... sayang sampai jumpa. "
tasya dengan mengangguk tersenyum mengiyakan kepergian tama. tama pun pergi meninggalkan tasya di depan pintu kelas, tasya masih melihat kepergian tama hingga tama hilang dari pandangannya.
" Tasya.... " ujar Ririn memanggil.
" Ririn kamu baru sampai..... " ujar tasya.
" hehehe.... aku sih sudah sedari tadi sampai tapi aku masih di kelas ayank dion tadi.... " ucap Ririn menjelaskan.
" ngapain di kelas dion... " tanya tasya kepo.
" nggak ada cuma di kenalin aja sama teman teman dia. " ujar Ririn.
" oh..... " jawab tasya.
" eh sya kamu bawa mobil sendiri. " tanya Ririn ganti bertanya.
" nggak aku bareng tama..... " ucap tasya asal kena aja.
" apa sya....
tama........ " ucap Ririn
" eh..... " tasya jadi salah tingkah.
" cie cie cie.... yang sudah pacaran.... " goda Ririn.
" auk ah gelap... " ucap tasya pergi dengan wajah memerah.
" sya... sya... tunggu..... " panggil Ririn menyusul.
kemudian keduanya segera duduk di kursi yang sudah ada mereka duduk berdekatan karena Ririn penasaran bagai mana cerita tasya yang menerima tama.
" jadi gimana sya.... " cecar Ririn memaksa tasya untuk bercerita.
" bagai mana apanya sih rin... " ujar tasya mulai jengah.
__ADS_1
" bagai mana tama nembak kamu dan bagai mana kamu menerimanya sya. " ucap ririn.
" kamu tuh kepo banget sih rin...
aku gak bisa jelasin seperti apa tapi itu begitu menyentuh dan aku hanya bisa mengatakan ya untuk menerima tama. " jelas tasya.
" ah.... jadi penasaran..... " ujar Ririn.
" biasa aja kali..... " tasya.
sedangkan di kelas tama yang memang satu kelas dengan doni the gang.
" roman romannya ada yang sedang bahagia nih. " ucap doni yang melihat kedatangan tama yang tampak penuh semangat.
" pastinya lah.... " jawab tama kemudian ikut nimbrung di tempat doni.
" jadi gimana bro apa kamu berhasil.... " ujar doni bertanya.
" berhasil lah aku benar benar bersyukur. " ucap tama.
" widih bakan makan gratis nih. " ujar doni.
" kamu bisa makan sepuasnya di manapun kamu mau don tenang saja. " ujar tama.
" memang kamu bawa tasya ke mana..... " tanya doni.
" gak jauh sih cuma taman pinggir kota, karena hanya di sana yang bisa aku sewa. " jelas tama.
" gila orang tajir mah beda ya...... " ujar doni tidak menyangka jika tama sampai menyewa sebuah taman.
" untuk tasya aku akan lakuin apa aja. " ujar tama.
" keren keren..... memang pasangan serasi ya.
yang satu super tajir yang satunya lagi kecantikan tiada tanding. " ungkap doni.
" em... sepertinya hatiku sudah terazab. karena saat ini hatiku sudah benar benar terkunci dengan satu nama itu Ririn. " jelas doni.
" jadi kamu akan serius dengan Ririn... " ujar tama.
" ya sepertinya aku akan mengikuti jejakmu untuk serius dengan ririn... " ujar doni.
waktu berlalu jam demi jam sudah di lewati di kelas, kini kelas Tasya juga sudah berakhir dengan beberapa patah kata dari sang dosen untuk menutup kelas hari itu.
" sya kita ke kantin dulu yuk cacing di perutku sudah berperang sejak tadi. " ujar Ririn dengan tangan mengelus perutnya.
" ya sudah ayo..... " timpal Tasya setuju.
" kenapa hari ini aku merasa aneh ya.... " lanjut Ririn.
" aneh kenapa rin. " tanya tasya mulai mengamati sekitarnya. tasya dan Ririn kini sudah keluar dari kelas.
" aku merasa kampus tidak sesepi ini dan ini mengapa sepertinya semua orang sedang tak bersemangat tampak murung. " ujar Ririn walau banyak orang berlalu lalang tapi sungguh mereka tampak berbeda dari hari biasanya.
" kamu aneh rin aku tidak merasa aneh...
sudah lah ayo cepet ke kantin nanti keburu tidak kebagian tempat. " ujar Tasya tidak peka dengan suasana di sekitarnya.
" ya sudah ayo.... " ucap Ririn.
sedangkan doni dan tama baru saja selesai kelas. " tama ke kantin yuk.... " ujar doni yang sedang memasukkan ponselnya ke saku.
" sorry don aku mau ke kelas tasya saja, kamu duluan saja. " ujar tama seperti terburu buru.
" emang ya kalo sudah jatuh cinta rasa lapar bisa jadi no berapapun. " ujar doni.
" sudah ya aku duluan. " ujar tama beranjak.
__ADS_1
" ets...... tunggu dulu jangan buru buru..... " tahan doni dengan memegang bahu tama.
" apa lagi sih don aku buru buru nih.... " ucap tama dengan serius.
" aku tau kamu buru buru....
tapi kamu percuma saja ke kelas tasya dia sudah keluar...
saat ini tasya dan Ririn sudah ada di kantin. " ujar doni memberi tahu.
" alah sok tau aja kamu tuh.... " ujar tama tak percaya.
" hey bro....
lihat ni...... " ujar doni memperlihatkan pesan di ponselnya pada tama.
( " yank aku di kantin nyusul yah, sekalian ajakin si tama karena tasya juga di kantin. " ) pesan dari Ririn.
" eh....yau dah ayo cepet berangkat..... " ujar tama dengan cepat.
" ya elah tuh anak gesit amet sih.... " ujar doni segera menggunakan ranselnya kemudian menyusul tama.
" bro tungguin.... " ujar doni yang sudah tertinggal cukup jauh.
" cepet.....
kamu lambat sekali.... " ujar tama.
" lambat lambat.
kamu tu yang tidak sabaran. " teriak doni di hatinya.
di kantin.
" rin duduk di sana saja di sana masih kosong.. " ujar tasya menunjuk ke meja yang tampak masih kosong.
" boleh ayo..... " ujar Ririn setuju.
setibanya di meja itu tasya dan Ririn segera saja duduk di kursi yang sudah ada tampak kantin yang juga begitu penuh.
" sya... kamu mau pesan makan apa minum. " tanya Ririn dengan melihat daftar menu.
" em.... aku pesan keduanya saja. " ujar tasya menjawab dengan melihat pesan di ponselnya berharap seseorang mengirimkan pesan.
" apa tama masih di kelas....
apa aku kirim pesan lebih dulu saja pada dia...
tapi..... " hati tasya berharap dan bingung.
tasya tidak sadar jika Ririn sudah memanggil lebih dari tiga kali. hingga akhirnya Ririn menggoyangkan sedikit tubuh tasya.
" eh.... ya...... " ujar tasya.
" kamu kenapa sih sya..... " ujar Ririn dan matanya sejenak menangkap layar ponsel tasya yang menunjukkan menu pesan atas nama tama.
" nggak rin gak papa kok.... " ujar tasya cepat.
" kamu tuh sya kalo mau kirim pesan ya kirim pesan lagi pula dia juga kan sudah jadi pacar kamu. " ujar Ririn asal kena saja.
" eh enggak kok...
apaan sih rin. " ujar tasya kemudian mengambil menu makanan dan membacanya untuk menghilangkan kepanikannya.
" ya elah sya santai aja kali aku ini sahabat kamu yang sudah lama jadi aku ini sudah banyak tau tentang kamu. dan kenapa kamu jadi bloon sih sya baca daftar menu saja kebalik. " ujar Ririn kemudian membalik daftar menu di tangan tasya.
tasya pun jadi salah tingkah dan tidak bisa berbicara apapun wajahnya bersembunyi di balik daftar menu itu.
__ADS_1