
" siang tante....
apa Tasya tidak ke kampus ya tan.... " ujar Ririn bertanya melalui sambungan telepon.
" iya rin....
Tasya lagi demam, sepertinya dia kelelahan... " jelas ibu Tasya.
" oh...
apa perlu di bawa ke dokter tan biar Ririn antar sekalian... " ujar Ririn menawarkan.
" sudah rin tadi pagi sudah di periksa dokter. " ibu Tasya.
" ya sudah syukur jika begitu tante..
semoga Tasya bisa segera pulih dan kembali lagi seperti dulu. " ucap Ririn.
" iya rin... makasi ya... " ucap ibu Tasya.
" ya sudah tante Ririn akhiri dulu jika Ririn sempat Ririn akan pergi ke sana.. " ucap Ririn.
" iya.... " ucap ibu Tasya.
" tama.... " suara serak Tasya.
" ssst.... ssst.... sabar ya sayang. " ujar ibu Tasya.
Tasya kini hanya berbaring lemas tampak pucak suhu tubuhnya juga masih cukup tinggi walau sudah turun sejak semalam.
" Tasya kuat sayang...
ayah dan ibu selalu bersama Tasya.... " ujar ibu Tasya dengan lembut mengusap rambut Tasya.
" tama bu....
tama jahat.....
Tasya benci tama..... " ucap Tasya begitu lirih.
" iya sayang..... " ujar ibu tasya
di kampus tama sedari tadi berkeliling seperti sedang mencari seseorang tapi tak kunjung terlihat bahkan tama mendatangi kelas biasanya juga tidak ada. hingga akhirnya tama melihat orang yang biasanya bersama orang yang tama cari.
" rin.... tunggu.... Ririn..... " sultan tama berlari cepat.
" rin.... " ujar tama setelah berhasil menyusul Ririn.
" kamu berani muncul di hadapanku akan ku pastikan hari ini kamu hancur.... " ujar Ririn penuh emosi segera segera melayang kan tendangan.
tama juga bukan orang biasa, dia seorang ahli bela diri jadi tama masih memiliki reflek yang bagus. serangan dari Ririn bisa tama tahan dengan baik. " rin apaan sih kenap...... " belum juga tama selesai bicara Ririn melancarkan serangan lainnya tama tetu menghindari serangan itu.
akhirnya tama dan Ririn terlibat pertarungan yang mana tama hanya menahan dan menghindar tanpa berniat melawan.
__ADS_1
" rin sudah cukup aku tidak mau menyakiti kamu nanti. " ujar tama.
" memang aku perduli setidaknya aku harus bisa mematahkan tangan atau kaki kamu baru aku akan puas. " ujar Ririn.
" rin oke aku minta maaf jika aku salah tapi aku sungguh tidak bermaksud aku sungguh mencintai Tasya hanya saja ayahku tak merestuinya bahkan sampai mengancam keluarga Tasya. " jelas tama.
" ya sudah jangan lagi kamu tunjukin wajah kamu di depan Tasya aku tidak mau Tasya menagisi kamu. jika kamu lakukan itu aku akan buat kamu menyesal. " ujar Ririn mendengus.
" rin tunggu, di mana tasya aku tidak melihatnya hari ini. " ujar tama
" ngapain kamu masih mencarinya apa kamu masih belum puas menyakitinya apa kamu berharap Tasya mati hah. " ujar Ririn sarkas.
" rin aku tau aku salah tapi aku masih peduli dengan Tasya jika bukan karena ancaman papa ku aku akan mempertahankan hubungan ini bahkan jika aku harus di usir sekali pun. " ujar tama dengan nada tinggi karena malas untuk menjelaskannya lagi.
Ririn sedikit terkejut dan takut tapi mentalnya begitu kuat sehingga Ririn tidak mundur sedikit pun. " udah deh tama jika kamu masih peduli dengan Tasya lebih baik kamu pergi jauh saja aku yakin Tasya akan semakin tersiksa jika masih melihat kamu. " ujar Ririn pergi begitu saja.
tama hanya diam saja tidak lagi mengejar Ririn karena dia tau itu hanya akan percuma saja.
Ririn segera pergi ke tempat parkir untuk segera pergi karena dari pagi tadi doni tidak memberikan kabar.
di tempat lain.
" agus... " ucap seorang lelaki paruh baya.
" iya ada apa yah.... " ujar agus menjawab.
" kamu kapan menikah nak ayah lihat kamu sama sekali tidak pernah membawa wanita ke rumah ini untuk di kenalkan pada ayah. " ujar sang ayah
" hah agus tidak memikirkan itu untuk saat ini agus masih mau fokus untuk karir agus. " ujar agus.
" iya ayah tapi siapa dan kemana harus agus cari kebanyakan wanita sekarang memandang harta agus tidak suka itu. " ucap agus.
" hah iya juga sih....
tapi apa kamu tidak memiliki seseorang yang bisa membuat kamu tertarik. " tanya ayah agus.
" yang membuat agus tertarik ya..... " ucap agus berpikir hingga wajah Tasya pun muncul.
" sepertinya ada...
tapi agus tidak yakin sih. " ujar agus.
" siapa nak katakan pada ayah.. "
" itu agus baru pertama kali melihat dan bertemu dengan dia ayah. agus sempat di buat tidak bisa teralihkan saat memandangnya. dia itu namanya Tasya putri dari pak agung.... " jelas agus.
" agung.....
apa maksud kamu agung teman ayah itu... " ujar ayah agus.
" iya ayah....
saat agus terakhir kalinya ke sana agus bertemu dengan anak gadis dari pak agung dan agus sungguh sangat terpesona dengannya. " ujar agus.
__ADS_1
" bagus bagus.... itu bagus ayah mendukung itu. kamu lanjut kan nak ayah akan membicarakan ini dengan agung dan kamu dengan anaknya. " ujar ayah agus semangat.
" eh apa sih yah agus gak yakin... " ujar agus.
" eh jangan gak yakin gitu gus ayah yakin kamu bisa jika nanti kamu bisa mendapatkan anak pak agung lalu menikah sebagai hadiah dari ayah, ayah akan serahkan perusahaan kepadamu. " ujar ayah agus.
" ayah bercanda ya.... " ujar agus.
" mana ada ayah bercanda ayah serius. " ujar ayah agus meyakinkan.
Waktu terus berlalu tak terasa sudah satu minggu, kini Tasya sudah mulai kembali walau tidak seutuhnya wajah cantiknya juga sudah kembali walau kini sudah sedikit kurus.
" pagi sayang... " ujar ibu Tasya.
" pagi bu... " ujar Tasya datar saja tidak semangat seperti biasa.
" duduk sayang kita sarapan. " ucap Ibu Tasya lembut.
kini Tasya dudu di kursi yang biasa dia tempati. " ayah kemana bu tumben masih belum duduk di sini. " ujar tasya
" ayah bilang sedang tidak enak badan sejak semalam ayah mu mengeluh sakit kepala. " jelas ibu tasya.
Tasya segera berdiri kemudian pergi menuju kamar ayahnya berada tanpa bicara ibu Tasya sendiri hanya diam kemudian menghirup nafas dalam dalam.
ya sejak beberapa haru ini mental Tasya benar benar di perasaan oleh ayahnya untuk bisa bangun dan bangkit ayah Tasya tidak henti henti nya untuk membuat Tasya bangkit dari keterpurukan nya.
" ayah.....
ibu bilang ayah sakit.... " ujar Tasya setelah masuk kamar.
" eh anak ayah....
ayah sudah baik baik saja sayang hanya ayah sedang tidak nafsu makan ibu mu sedang membuatkan ayah bubur. " ujar ayah Tasya tersenyum.
" kenapa ayah tidak bilang sama Tasya.... " ujar Tasya.
" hey hey... ingat jangan menangis lagi jangan tunjukkan kamu lemah ok.... " ujar ayah Tasya karena sudah melihat tasya.
" tapi ayah... ayah.... " ujar Tasya masih saja pada akhirnya menangis.
" tenang tenang saya sudah jangan nangis kamu kuat jangan jadi lemah. " ujar ayah Tasya memeluk Tasya.
" Tasya sudah berusaha ayah tapi..... " ujar Tasya tak sampai.
" sudah ayah tau Tasya tidak lemah ayo sekarang hapus air matanya katakan Tasya bisa. " ucap ayah Tasya menatap tegas Tasya.
" iya Tasya kuat.... Tasya kuat. " ujar Tasya terus mengulang kata kata itu.
Tasya yang sekarang lebih pendiam dan dingin dengan pria.
prinsipnya jangan pernah menaruh kepercayaan mu sepenuhnya pada seorang pria.
karena kamu tidak bisa meramal apa yang akan terjadi di masa depan. walau masa depan masih rahasia tapi akan lebih baik jika kamu bersiap sejak sekarang.
__ADS_1