Tranformasi Sang Istri

Tranformasi Sang Istri
cerita doni


__ADS_3

doni sejenak menghirup udara cukup dalam untuk mengisi paru parunya kemudian di hembuskan lagi. walau dirinya tidak dekat dengan Tasya hanya sebatas teman karena doni memiliki hubungan dengan Ririn yang menjadi sahabat Tasya.


" jadi...... " ujar doni mulai bercerita tentang tama yang memutuskan hubungan dengan Tasya. dan juga menjelaskan alasan mengapa tama mengakhiri hubungannya dengan Tasya.


Ririn yang mendengar cerita dari doni sangat marah dan ingin sekali bertemu dengan tama dan menghajar wajah tama.


" jadi dengan alasan itu lah tama mengakhiri hubungannya dengan Tasya. aku yang merasa tidak suka dengan keputusan tama jadi memberikan pukulan pada dia dan ya begini lah jadinya. " ujar doni menjelaskan.


" dasar tama sialan aku akan hancurkan aset masa depannya nanti berani sekali menyakiti Tasya. " ujar Ririn dengan nafas yang menderu.


" sudah lah rin alasan tama juga masuk akal, jika di banding dengan keluarga tama memang benar keluarga tante tidak ada apa apanya dan tama juga mencoba melindungi Tasya kan. " ujar ibu Tasya walau sedikit geram dan marah, tapi masih bisa tertutupi.


" Ririn nggak Terima jika seperti ini tan, Ririn yang sudah bujuk Tasya untuk menerima tama Ririn jadi merasa bersalah jika pada akhirnya seperti ini. " ujar Ririn penuh rasa bersalah.


" sudah lah mungkin ini yang terbaik. " ibu Tasya.


" e..... Tasya nya baik baik saja kan tante...


Tasya gak bakalan ngelakuin hal hal nekat kan tan.... " ujar doni.


" tante yakin Tasya akan baik baik saja. dan masih bisa berpikir jernih.... " jawab ibu Tasya.


banyak obrolan yang telah berlalu doni yang merasa ini sudah terlalu lama kemudian mengajak Ririn untuk kembali saat keduanya tinggal berdua saja di ruang tamu.


" yank balik yuk..... " ujar doni.


" nggak ah aku mau di sini aku mau temenin Tasya. " jawab Ririn.


" eh.... yank Tasya butuh waktu sendiri dan lagipula sudah ada tante. sosok seorang ibu lah yang sangat di butuhkan untuk saat ini. " ujar tama menasehati.


" masak sih.... " ungkap Ririn.


" di bilangin ngeyel....


sosok ibu itu sudah terikat lahir dan batin dengan anaknya jadi ibu itu lebih perasa dari pada kami yang hanya sebatas sahabat dan ibu lebih tau apa yang harus di lakukan pada Tasya untuk saat ini. " ujar doni.


" em.... ya udah deh....


kita balik mungkin yang kamu katakan benar waktunya tidak tepat untuk ku. " ucap Ririn yang masih enggan sebenarnya


Ririn dan Doni akhirnya pun pulang setelah berpamitan dengan ibu Tasya kini Ririn sudah ada di dalam mobil doni.


" yank.... luka kamu gimana. " ucap Ririn melihat luka lebam di wajah doni.


" udah enggak papa kok yank nanti juga sembuh setelah di kompres. " ujar doni.


" terus kamu kenapa tadi seperti meringis kesakitan saat beranjak dari duduk kamu kamu juga memegangi rusuk kamu. " tanya Ririn karena merasa ada yang doni sembunyikan.


" oh.... anu itu... aku baik baik saja yank udah kamu tenang aja.... " ujar doni tidak jujur.


" ya sudah. " ujar Ririn memberikan pukulan ringan di rusuk doni membuat doni mengadu kesakitan


aahk......

__ADS_1


" nah itu yang kamu bilang baik baik aja coba aku lihat. " ujar Ririn.


" eh nggak usah yank. " ujar doni.


doni tidak bisa berbuat banyak karena dirinya sedang menyetir jadi Ririn dengan mudah menyingkap baju doni terlihat di sana tepatnya di rusuk doni ada gores dan membiru.


" ya ampun yank kenapa sampai seperti ini. " ujar Ririn tanpa terasa tangan Ririn menyentuh luka itu membuat doni mengeluhkan sakit dan Ririn reflek kaget.


" hehe... udah yank itu juga sudah biasa kok. " ujar doni.


" kita ke rumah sakit. " ucap Ririn tegas.


" eh ngapain sih yank ke rumah sakit aku baik baik saja. " ujar doni ingin menolak.


" aku tidak mau tau kita ke rumah sakit sekarang. " ucap Ririn melihat ke arah doni dengan nanar.


" aku antar kamu ke rumah dulu ya...


aku baik baik saja ini hanya luka kecil kok... " ujar doni masih menolak. mendengar apa buang di katakan doni Ririn hanya menunduk kemudian menangis.


doni tentu panik melihat itu dia segera mencari tempat untuk menepikan mobil karena tidak mungkin menghadapi masalah ini dengan keadaan sedang menyetir.


" yank kamu kenapa nangis apa aku sudah nyakitin kamu. " ujar doni yang sudah menepikan mobil.


" aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja karena aku ingin menjadi orang yang selalu perhatian sama kamu tapi kamu begitu keras menolaknya jadi untuk apa adanya aku jika kamu tidak mau membagi sakit kamu dengan aku. " ujar Ririn dengan menunduk.


" *Aih... hanya karena aku menolak untuk di periksa dia sudah bersedih sebenarnya hatinya terbuat dari apa sih lembut banget. untung aja aku sudah serius dengan rani, coba aja masih cuma main main tau dah apa yang bakalan di lakukan gadis kecil ini. " ucap hati doni.


" ya sudah kita ke rumah sakit ya sayang kita periksa luka ini. " ujar doni mengalah.


" apa kamu serius.... " tanya Rani.


" aku serius aku kan sayang kamu jadi selama aku bisa aku kan menuruti semua yang kamu mau dan minta. " ujar doni.


" makasi aku tidak mau meminta apa apa sama kamu aku hanya mau kamu baik baik saja dan kita selalu bersama. " ujar Ririn tulus dengan air mata yang masih mengalir.


doni segera menghapus air mata Ririn dengan mengabaikan rasa sakitnya karena posisinya cukup sulit dan itu sungguh menyakiti doni.


" sudah jangan nangis lagi ya... " ujar doni.


" iya....


tapi apa kamu tidak sakit dengan kamu seperti ini. " ujar Ririn.


" uh..... sakit... " ujar doni akhirnya mengeluh sakit karena itu benar benar menyiksa.


" ya sudah kamu duduk di sini aku yang nyetir. " ucap Ririn.


" ya sudah. " pasrah doni tidak menolak karena tidak mau membuat Ririn bersedih lagi.


di rumah ibu Tasya mencoba mengetuk pintu untuk masuk kamar Tasya walau sebenarnya pintu tidak di kunci.


" Tasya.... ibu masuk ya nak... " ujar ibu Tasya. kemudian membuka pintu. begitu dibuka alangkah terkejutnya di mana terlihat Tasya yang menangis di sudut tempat tidurnya dengan memeluk dua lututnya.

__ADS_1


" ya ampun Tasya.... " ucap ibu Tasya kemudian segera duduk di dekat anaknya itu.


" Tasya.... " panggil ibu.


" bu.... tama jahat bu.... tama jahat..... " ujar Tasya sesegukan.


" iya sayang...


sabar ya nak...... " ibu Tasya merasa hatinya begitu di perasaan rasanya ikut menangis tapi masih di tahan.


" apa salah salah Tasya bu kenapa tama jahat sekali. " ucap Tasya.


" Tasya tidak salah sayang mungkin ini yang terbaik untuk kamu yang sudah Tuhan pilih. jadi Tasya yang sabar ya sayang.... " ujar ibu Tasya memeluk lembut kepa Tasya.


" tapi tama..... "


" sudah sayang di sini Tasya masih punya ibu dan ayah bukankah sebelum ada tama selalu bersama ibu dan ayah... jadi jangan sedih ya sayang... " ibu Tasya mencoba menguatkan tasya.


Tasya hanya menangis dan menangis hatinya sangat sesak sehingga hanya dengan menangis saja itu sedikit berkurang. tak lama ayah Tasya datang karena sebelumnya sudah di hubungi oleh ibu Tasya.


walau saat itu di toko banyak pengunjung ayah Tasya memutuskan menutup toko dengan cepat karena sangat khawatir dengan Tasya.


" Tasya.... ini ayah sayang Tasya baik baik saja kan.... " ujar papa Tasya yang sudah masuk ke kamar.


Tasya yang tadi sudah sedikit tenang kembali menangis melihat kehadiran sangat ayah ibu Tasya juga memberi ruang untuk suaminya.


" nak..... " ujar ayah Tasya yang merasa sangat sedih melihat keadaan putri semata wayang nya itu.


" ayah Tasya..... tama.... ayah tama jahat Tasya..... " ujar Tasya dengan kacau karena hatinya sungguh bergejolak dan sangat ingin mencurahkan semuanya tapi tak sanggup.


" sudah sayang sudah sudah disini ada ayah....


Tasya akan baik baik saja sekarang. " ujar ayah Tasya. ibu Tasya tak tahan melihat itu air matanya menetes dan segera saja pergi dari kamar itu.


ayah Tasya membawa Tasya untuk berbaring di tempat tidur karena ayahnya merasa Tasya sudah kelelahan dan sudah harus beristirahat.


" berbaring lah sayang berbaring lah sabar ya...... " ujar ayah Tasya yang mencoba membaringkan Tasya yang begitu lemas.


" ayah Tasya tidak mau sendiri.... " ujar Tasya sangat parau dan serak bahkan kini air matanya sudah tidak keluar lagi entah itu sudah kering mungkin.


" iya sayang ayah di sini ayah temani Tasya.... " ujar ayahnya sungguh merasa hancur melihat putri nya begitu sedih.


Tasya memeluk ayahnya itu dengan erat dan ayah Tasya hanya membenarkan rambut berantakan Tasya.


lama ayah Tasya menemani Tasya yang kini Tasya sudah mulai tertidur suara sesegukan itu masih terdengar terkadang juga Tasya mengigau memanggil nama tama.


tepat tengah malam ibu Tasya datang dengan mata bengkak seperti habis menangis. " ayah sudah buat ibu yang temani tasya, ayah istirahat saja dulu. " ujar ibu Tasya yang melihat suaminya masih setia mengelus lembut kepala Tasya guna menenangkannya.


Tasya sudah tidur terlentang dan ayahnya duduk di samping Tasya. " hah.... sepertinya Tasya demam bu... " ujar ayah Tasya.


ibu Tasya segera menyentuh dahi Tasya dan benar saja suhunya cukup tinggi. sesekali Tasya masih memanggil manggil tama. " gimana yah apa ibu hubungi dokter saja untuk memeriksa Tasya. " ujar ibu Tasya khawatir.


" tidak perlu bu sepertinya Tasya hanya kelelahan saja malam ini biar Tasya istirahat saja jika besok demamnya masih tidak turun baru kita hubungi dokter. " ucap ayah Tasya.

__ADS_1


__ADS_2