Tranformasi Sang Istri

Tranformasi Sang Istri
ungkapan hati agus


__ADS_3

tasya keluar dari kamarnya dengan masih terlihat muka yang tampak sedih tapi masih tidak mengurangi nilai kecantikannya.



" ayah....


mas agus.... " sapa tasya. yang di sambut oleh agus dengan anggukan penuh senyum.


" kemari nak duduk lah. " ucap ayah tasya


" nah nak agus ini tasya....


tasya ini nak agus....


ayah sudah cerita sebelumnya bukan tentang maksud dan tujuan nak agus datang ke sini. " ujar lanjut ayah tasya.


" iya ayah... " ujar tasya.


" nah jadi kalian mengobrol lah ayah ada di ruang tengah. " ucap ayah tasya.


" apa ayah tidak di sini saja... " ucap tasya.


" jika ayah di sini kalian tidak akan leluasa ngobrolnya nanti..... " ucap ayah tasya.


" em tapi...... "


" sudah mengobrol lah.... " ujar ayah tasya yang berlalu pergi.


tasya pun tak lagi menahan sang ayah sejenak masih tidak ada obrolan keduanya sama sama diam tasya hanya menunduk saja.


" tasya.... " panggil agus.


" eh.... i... i.. iya mas. " ucap tasya.


" apa kamu baik baik saja. " ujar agus bertanya.


" tasya baik baik saja mas... " ujar tasya.


" em maaf jika aku datang di waktu yang tidak tepat.. " ucap agus semakin menemukan alur untuk mengobrol.


" tidak mas...... " ujar tasya.


" bukan aku ingin mengorek luka kamu tapi....


ingat sya selandai-landainya jalan masih akan ada batu krikil jadi jangan putus untuk terus jalan... " ucap agus.


" iya mas terimakasih.... " ujar tasya.


" sya aku punya tempat yang bagus untuk kamu yang sedang bersedih. apa kamu mau datang.... aku bisa bawa kamu ke sana. " ucap agus.


" em....


tasya tanya ayah dan ibu dulu ya mas. " ucap tasya.


setelah mendapatkan izin dari ayah dan ibu tasya akhirnya tasya keluar bersama agus sepanjang jalan tidak ada obrolan hanya ada kebisuan dengan tasya yang terus saja menunduk.


" sudah sampai.... " ujar agus.


" eh sudah sampai saja kok cepet. " ujar tasya kaget.


" lihat lah jam di ponsel kamu kita sudah setengah jam perjalanan. " ujar agus merasa lucu karena tasya yang terkejut.


" eh benarkah.... " ujar tasya malah memeriksa benar ponselnya. " eh iya. " ujar tasya dengan polosnya.


" mau turun.... " tawar agus.

__ADS_1


" em. " jawab tasya kemudian mengikuti agus yang turun.


" ini di mana mas. " tanya tasya karena merasa asing dengan tempat yang di datanginya sekarang.


" ini bukit bulan.. " jawab agus.


" eh aku tidak pernah dengar tentang itu. " ujar tasya merasa tidak pernah mendengar nama tentang bukit bulan.


" hehehe itu aku yang memberi nama. " ujar agus.


" oh... " jawab tasya.


" aku beri nama bukit bulan itu karena dari sini kamu akan melihat bulan dengan jelas dan dekat lihat lah. " ujar agus.


tasya pun melihat ke mana bulan itu berada melihat sinar bulan tasya merasa sinarnya benar benar mewakili perasaannya malam ini perasaan campur aduk di hatinya mulai bergejolak seakan ingin di muntahkan.


agus melangkah sedikit ke depan yang merupakan jurang. " aku cinta kamu.... " teriak agus sangat keras membuyarkan lamunan tasya tentang perasaannya.


" eh mas apa yang kamu lakukan. " ujar tasya.


" aku sedang mengeluarkan seluruh yang ada di hatiku. " agar aku tidak merasakan beban.


" apa kamu mau coba sya. " lanjut agus.


" eh tidak mas. " jawab tasya.


" coba lah sya mungkin bisa sedikit mengurangi bebanmu. " ujar agus.


" tapi...... "


" ke mari dan cobalah. "


" apa yang harus aku ucap kan mas. "


" em. " tasya


sejenak tasya diam melihat ke arah bulan gejolak dalam dirinya semakin besar, tasya merasa ini memang perlu di keluarkan jika tidak akan semakin berlarut larut nantinya.


" langit apa salahku mengapa dia menyakiti ku....


aku benci kamu........


kamu jahat........


pergilah selamanya......


bangsat...... " ujar lantang tasya dengan sedikit menitikkan air mata.


" sudah.... " ucap tama setelah memberi waktu sejenak.


" sudah.... " jawab tasya.


" apa masih merasa berat. "


" tidak.... "


kemudian agus mendekat dan menyandangkan jaketnya pada tasya. " anginnya cukup dingin jadi pakai lah. " ujar agus.


" eh tidak perlu mas aku baik baik saja. " ucap tasya.


" pakai lah....


ada sebuah study mengatakan suasana hati seseorang bisa mempengaruhi daya imun seseorang jadi suatu sana hati seperti kamu akan mudah sakit. " ujar agus.


" terimakasih. " jawab tasya.

__ADS_1


hening ya selama beberapa menit hening dua orang itu sedang tenggelam dalam pikirannya masing masing.


" tasya.... " ucap agus.


" ya.... " jawab tasya melihat ke arah agus keduanya saling berhadapan sejenak sampai agus memalingkan wajahnya melihat ke arah bulan.


" aku kalah.... " ujar agus.


" kalah..... " ucap tasya bingung. " kalah apa mas... " tasya penasaran.


" menatap mata kamu sya..... " ujar agus.


" eh.... "


" sya aku bukan orang yang romantis aku juga bukan seorang yang puitis yang bisa membuat wanita jatuh hati bahkan sampai menangis. malam di mana aku datang saat pertama bertemu kamu di sana lah aku meletakkan hatiku, sebulan lamanya aku coba mengabaikan tapi akhirnya hati ini masih ada di kamu malam ini aku putuskan untuk datang mengungkapkan. mungkin ini tidak tepat dengan kamu sekarang tapi aku tidak masalah dengan itu kamu bisa katakan tidak dan aku tidak akan mengganggu lagi. " ujar agus masih menatap bulan.


" jauh sebelum aku bertemu denganmu tak ada pun satu mata yang mampu menggerakkan hati ini. sejenak aku berpikir apa hati ini sudah mati, tapi saat itu aku bertemu denganmu dan mata ini melihat matamu entah mengapa hati ini bergerak dan jantung di pompa begitu cepat. " ujar agus melanjutkan.


" tasya aku datang membawa ketulusan, maukah kamu menerima kehadiranku. " ujar agus.


sejak awal tasya hanya memandang wajah agus sejenak tasya mengagumi wajah tampan agus tersirat dari setiap kata yang di ucapkan yang begitu dalam membawa angin sejuk di hati tasya tapi rasa sakit itu masih mendorong keraguan tentang apa yang harus dia katakan untuk menjawab agus.


" hah sepertinya aku terlalu banyak bicara...


ayo malam sepertinya semakin larut kita pulang.... " ujar agus kemudian melihat ke arah tasya. wajah itu kini bertemu lagi kali ini agus tidak mau mengalah. tasya juga tidak berniat untuk berpaling dia terus menatap mata agus mencari jejak kebohongan atau apa pun itu yang bisa mewakilkan hati tasya untuk menolak.


tapi semakin dalam memandang tasya tidak menemukan apapun malah hati tasya semakin dalam untuk yakin menerima agus.


" kamu menang aku kalah kali ini. " ujar tasya kemudian berpaling.


" eh ada apa... " ucap agus salah tingkah.


" rasa sakit ini terlalu dalam tapi entah mengapa malam ini sakit itu berangsur menghilang. sejenak ragu untuk menerima hadirnya seorang untuk mengisinya lagi tapi setelah tenggelam dalam mata hitam yang jernih itu aku tak memiliki alasan apapun untuk menolak. entah hati ini yang lemah atau perasaan ini yang kuat. " ujar tasya


" aku tidak tau harus berkata YA atau TIDAK tapi jika harus mengatakan tidak sepertinya itu membohongi diri sendiri. jadi cobalah untuk ada dan temani aku dalam sepi hati ini. " ujar tasya dalam dan penuh senyum matanya lekat melihat bulan.


" jadi apa kamu mau menerimaku sya. " ujar Agus.


" ya dan juga tidak..


kita jalani saja mas.....


jika kamu sudah merasa pas datang ke rumah dan mintalah aku pada orang tuaku. " ujar tasya tersenyum melihat ke arah Agus.


" ah baik lah aku anggap ini sebagai lampu hijau untukku kedepannya. " ujar Agus.


" lampu hijau.... " bingung Tasya.


" maksud ku kamu memberikan jalan untukku untuk menempatkan namaku di hatimu. " ujar Agus.


" alah bilangnya gak puitis puitis tapi buktinya bisa tuh. " ujar tasya.


" eh... apa yang seperti itu juga puitis aku pikir itu ungkapan garing biasa saja. "


tasya tak menjawab dia hanya menikmati angin dan cahaya bulan dengan ribuan ribuan atau bahkan jutaan bintang di langit.


" indah " ucap taya.


" lebih indah kamu sya. "


" dingin.. " ucap tasya.


" tak sedingin hari hariku sebelum mengenal kamu sya. "


" hah semua cowok sama saja, mereka pandai meluluh kan hati wanita dengan kata kata manis mereka. " tasya.

__ADS_1


__ADS_2