
tama hanya bisa melihat kepergian Tasya dengan perasaan yang berat sungguh bukan keinginannya untuk menyakiti wanita baik hati itu tapi itu karena.
" tama kamu sungguh pengecut kamu sungguh tak pantas untuk nya kamu sangat buruk, buruk sekali. sepertinya aku memang harus pergi jauh, ini sudah tak baik jika aku terus di sini aku pasti akan selalu menyakiti hatinya. " ujar tama di hatinya.
Tasya sendiri kini masih menangis di kamar mandi hatinya sungguh masih begitu hancur ketikan mendengar suara dan sosok tama.
" kenapa......
kenapa tasya....
kenapa kamu lemah....
bukankah kamu sudah menganggap dia masa lalu.....
sadar sya ini sudah satu bulan berlalu..... " ujar tasya melihat pantulan dirinya di cermin dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
di depan kelas Ririn masih duduk bersama doni Ririn menunggu kedatangan tasya karena ibu tasya menghubungi ririn mengatakan jika tasya jari ini datang ke kampus.
" yank kenapa gak kamu coba hubungi saja si tasya.... " ujar doni.
" iya.... iya... aku coba hubungi. " ucap Ririn kemudian segera mengotak atik ponselnya kemudian menempelkan ponselnya di telinga.
ponsel tasya berdering tapi itu tidak bersama tasya itu ada di mobil tasya melupakan ponselnya sebelum turun dari mobil.
" gak di jawab. " ucap Ririn.
" coba sekali lagi... " ujar doni.
hingga tiga kali Ririn mencoba hasilnya sama tidak ada jawaban dari tasya. " udah gih kamu masuk ke kelas ntar kan kelas sudah di mulai aku akan cari si tasya gimana. " usul doni.
" lah emang kami gak ada kelas... " tanya Ririn.
" enggak.... "
" trus kamu ngapain ke kampus.... " tanya ririn.
" nemenin kamu lah yank.... " ujar doni.
" hemmmm... " jawab ririn dengan perasaan tak percaya tapi juga senang karena doni memperlakukan dengan baik.
" udah gih masuk noh muka kamu sudah seperti kepiting rebus. " ujar doni.
" doni kamu ya.... " ujar tasya memukul doni.
" eh rin.... kamu kan teman tasya ya..... " ujar seorang perempuan yang baru saja datang di hadapan ririn dan doni membuat keduanya segera bersikap normal.
" eh iya iya.....
kenapa ya. " ucap ririn.
" itu aku tadi liat si tasya lari lari tapi sambil nangis dia menuju toilet. aku denger dari temen temen tasya habis bertengkar dengan tama tadi di depan. " jelas orang itu.
" sial....
tasya..... " ucap ririn berlalu tanpa peduli apapun.
" yank tunggu....
eh... makasi ya udah nolongin... " ucap doni segera menyusul ririn.
ririn berlari sangat kencang hingga akhirnya harus menabrak seseorang yang membuat keduanya terjatuh.
" sial.... " umpat ririn.
__ADS_1
" eh kamu gak papa kan... "
" kamu..... " ucap ririn.
" ririn.... "
" sial kamu ternyata....
bukan kah sudah aku bilang kami jangan pernah muncul di depan tasya. " ucap ririn penuh amarah dengan terus bangkit dari jatuhnya di susul juga tama.
" aku.... "
" bajingan.... " ucap ririn mengumpat dengan sinis lalu pergi. dengan cepat lagi.
tama hanya diam tidak lagi mengatakan apapun dan melihat kepergian ririn.
" yank.....
cepet banget tuh bocah. " ucap doni berlari menyusul ririn yang kebetulan juga bertemu tama yang sudah akan pergi.
" eh tama.... " ucap doni.
" loh kamu don....
kamu lagi ngejar ririn tuh ririn ke arah sana. " ucap tama.
" oh ya udah... " ujar doni akan berlalu.
" eh tunggu ada apa dengan ririn. " tanya tama penasaran.
" gak penting. " jawab doni kemudian berlari cepat.
Ririn sendiri kini sudah memasuki kamar mandi setibanya di sana pemandangan mengejutkan di lihat Rani di mana sosok tasya sudah tergeletak pingsan di lantai.
kemudian doni datang. " yank gi........ " ucap doni tak sampai. " ya ampun tasya...... " ujar doni melihat tasya yang sudah pingsan.
" yank cepet diapain mobil. " ucap ririn panik.
" iya iya..... " ucap doni cepat.
di rumah tasya kini tasya sedang berada di pelukan ririn. " rin.... aku sudah berusaha kuat rin tapi pada akhirnya aku lemah rasa sakit di hatiku membuat aku lemah rin. " ucap tasya dengan sedih.
" sabar sya aku tau sulitnya kamu.....
dan ini juga hal yang pertama kali untuk kamu jadi ini sudah pasti akan sangat sakit sya tapi aku yakin kamu bisa dan kamu kuat sya. " ucap ririn.
" ini sudah sebulan berlalu rin.... " ucap tasya.
" tidak perduli berapa lama waktu berlalu jika itu hati yang terluka itu akan sulit untuk sembuh dan jika itu sudah sembuh itu juga akan sulit untuk tidak berbekas. sya sabar ya sya..... " ucap ririn.
" em..... " ucap tasya.
saat itu sudah menjelang sore, ririn memutuskan untuk kembali karena sudah sejak siang tadi menemani tasya. dan juga tasya sekarang sudah jauh lebih baik dan tenang.
" ya udah sya aku pulang ya... " ucap ririn.
" iya... " jawab tasya.
" sya aku balik ya.... " ucap doni.
" iya don....
aku titip ririn ya jaga dia jangan sakiti dia aku tidak mau ririn sedih sepertiku. " ucap tasya menahan tangis.
__ADS_1
" kamu tenang saja sya aku akan jaga dia dengan baik.
kamu harus sabar ya sya dan cobalah untuk membuka hati untuk orang lain mungkin dengan begitu masalah kamu akan sedikit ringan karena akan ada yang siap berbagi. " ucap doni.
" entah lah akan ku pikirkan nanti. " ucap tasya.
" woy..... ngomongin apa sih asik banget tuh..... " ucap ririn jenaka.
doni pun segera pergi dengan sedikit basa basi dengan tasya sebentar. setelah kepergian doni dan ririn tasya segera kembali ke kamarnya tasya memutuskan untuk membersihkan tubuh nya dengan air hangat.
malam pun datang tasya sedang duduk di depan meja dengan kaca besar di hadapan ya melihat dirinya di cermin. sedangkan di luar ada sosok pria yang cukup tampan tidak kalah tampan dari tama.
ding dung...... DING ding...... tung..... suara bel.
pintu pun di buka yang membuka pintu pada saat itu adalah tasya. " malam tante.... " ucap orang itu.
" malam siapa ya.... " ucap Ibu tasya.
" saya agus tante... " ucap orang itu.
" agus..... " ucap Ibu tasya berpikir karena sepertinya mengingat sesuatu. " oh agus yang waktu itu juga datang mencari suami saya. " ucap Ibu tasya.
" iya tante..... "
" oh ya sudah ayo masuk.... masuk..... saya akan panggilkan suami saya. " ucap Ibu tasya.
" terimakasih tante.... " ucap agus.
tak lama setelah itu ayah tasya datang dan duduk bersama agus. " nak agus..... " ucap ayah tasya. " rupanya kamu benar benar datang malam ini. " lanjut ayah tasya.
agus menjawab dengan sopan. " iya Pak agung..... tidak ada alasan untuk saya tidak datang karena saya juga bersungguh sungguh. " ucap agus dengan lantang tanpa keraguan.
" hahaha.... jiwa muda yang berapi rapi... " ucap ayah tasya.
" tasya nya ada kan pak agung. " ucap agus.
" lah kamu ini masih panggil pak... saja. " ujar ayah tasya. " tasya ada di kamarnya tenang saja. " lanjut ayah tasya.
" eh iya maaf Pak agung sudah terbiasa dengan itu eh maksud saya om.. " ujar agus.
" hahaha ya ya ya tak masalah... " ujar ayah tasya.
di kamar.
" tasya.... " ucap sang ibu lembut.
" iya bu... " ucap tasya beranjak dari duduknya di depan meja rias.
" di bawah ada agus dia datang untuk bertemu kamu. " ucap Ibu tasya.
" iya bu..... " jawab tasya tak semangat.
" sya jika kamu tidak ingin jangan di paksa Ibu akan...... "
" tidak bu..... tasya akan menemuinya... " ucap tasya cepat memotong ucapan ibunya.
" ya sudah ayo. "
" em.... "
√ LIKE....
√ COMEN....
__ADS_1
√ VOTE