Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
1. Prolog


__ADS_3

Seorang perempuan baru saja keluar dari kamar nya, dengan pakaian yang sudah rapi. Rambut blonde nya yang terurai dikibaskan.


Sembari menyisir rambutnya, dia mendengar handphone nya berdering. Lalu mengangkat telepon itu setelah melihat siapa yang menelepon pagi-pagi begini.


Sisir yang dipakai disimpan kembali ditempat seharusnya. Suara cempreng menusuk telinga nya, hampir saja telinga nya menjadi tuli. Seketika membuat nya menjauhkan handphone nya dari telinganya.


"Yak! Kenapa kamu baru mengangkat teleponnya?! Aku sudah menelpon mu berpuluh kali, kamu tau!"


Perempuan itu berdengus kesal mendengar hal itu. Temannya ini lupa apa bagaimana, kalau handphone nya saja rusak dan sekarang handphone nya beli yang baru.


"Handphone ku rusak dan sekarang baru beli." Jawab perempuan itu dengan datar. Sembari berbicara, dirinya menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Mengoleskan selai coklat pada dua roti, dan satu lagi dengan selai strawberry.


Roti dengan selai strawberry diletakkan pada piring di depan perempuan tersebut. Orang di seberang sana menghela nafas nya. "Maaf aku lupa."


"Kamu sedang apa?" Orang tersebut kembali membuka pembicaraan. Perempuan itu meletakkan selai di tempatnya kembali, dan duduk dengan santai di kursinya.


"Seperti biasa." Perempuan itu memakan rotinya perlahan, tanpa ada seorang pun datang ke meja makan itu.


"Apa kamu membuat tiga roti lagi untuk bertiga?"


Tidak ada jawaban, perempuan itu terdiam. Kebiasaan tiap harinya seperti ini jika bangun pagi-pagi, dia akan membuat sarapan untuk bertiga. Satu tetesan air mengalir dari sudut matanya, dengan cepat dihapus oleh nya.


"Aku sudah bilang, lupakan kejadian itu, Rasha. Mereka sudah bahagia di sana. Orang tua mu sudah bahagia, Sha."


Perempuan yang dipanggil Rasha hanya menangis tanpa suara. Dia selalu ingat akan kejadian tragis yang terjadi pada orang tuanya, tidak bisa dilupakan, padahal sudah lama terjadi.


Pada saat itu, Rasha sekeluarga pergi bersama, ke suatu tempat yang Rasha tahu adalah rumah Om dan Tante nya. Kakak dari ayahnya. Umur nya masih terbilang kecil, sekitar enam tahun.


Saat perjalanan, mobil yang digunakan masih baik-baik saja. Sembari bernyanyi layak nya keluarga bahagia. Ayah nya yang menyetir, dengan ibunya duduk di samping pengemudi.


Tanpa disadari dari depan mobilnya ada sebuah truk makanan, yang membuat ayahnya banting setir, dan menabrak batu tebing yang ada. Menghindari truk, namun tetap membuat mereka kecelakaan.

__ADS_1


Tabrakan mobilnya dengan batu tebing membuat airbag di depan terbuka. Tapi karena memang sangat keras tabrakan itu, membuat badan ayah dan ibunya terhimpit. Dirinya terisak, sakit, sedih, panik, semua bercampur dalam hati anak kecil itu.


Penglihatan terakhirnya adalah orang-orang membawa dirinya serta kedua orang tua nya pergi menjauh dari tempat itu. Lalu semua gelap.


"Tetap saja. Aku gak bisa lupain itu."


Rasha meminum kopinya. Dulu sejak kecelakaan, dirinya dirawat dan diajarkan oleh Om dan Tante nya. Beginilah cara dia berbalas budi pada keduanya, berhasil menjadi seorang penulis terkenal.


"Ya udah lah. Kamu kan mau pergi ke pertemuan. Buruan, ntar telat!" Ujarnya.


"Iya Marsya." Rasha mematikan handphone nya. Bersiap pergi, mengambil kunci mobilnya. Kendaraan nya membelah jalanan.


Hari ini dia akan pergi ke pertemuan para fans dari buku miliknya. Dari semua buku yang Rasha miliki, yang paling terkenal adalah buku berjudul Nothing Like You.


Menceritakan tentang seorang perempuan dan laki-laki saling mencintai. Namun terhalang oleh penyakit yang disembunyikan perempuan itu. Perempuan tersebut pergi, selalu menghindari laki-laki itu, karena penyakitnya.


Perempuan ini bernama Naiya Floella Mahendra. Memiliki saudara perempuan, yang membencinya karena laki-laki. Nama kakak nya adalah Audrey Helena Mahendra.


Perjuangan percintaan Naiya dan laki-laki itu tertulis jelas di buku Rasha. Dengan Audrey yang menjadikan Naiya sasaran kemarahannya, dan kebenciannya.


Audrey dulu dan yang sekarang benar-benar berbeda menurut Naiya. Audrey juga mengakui pada dirinya sendiri, jika adiknya tidak salah. Tapi egonya lebih tinggi, dari rasa sayang nya pada Naiya.


Tapi di akhir cerita, kakaknya meninggal karena dibunuh oleh suruhan seorang laki-laki. Ya, orang yang dicintainya. Laki-laki itu bernama Arvino Putra Bagaskara.


Penyakit Naiya pun sudah sembuh, karena Arvino selalu menyemangati. Mereka hidup bahagia tanpa ada gangguan dari siapapun. Memang suatu hal yang klise sebenarnya.


...☁️☁️☁️...


Mobil yang Rasha bawa melaju membelah jalanan Jakarta. Hari sudah mulai gelap, matahari kembali ke tempat persembunyiannya. Dan bulan tengah berjalan keluar dengan gagah berani.


Lampu-lampu jalan menyala, hanya beberapa kendaraan yang ada di jalan. Rasa kantuk mulai menyerang, dia menyesal karena telah tidur larut malam, membuat kantung mata nya muncul.

__ADS_1


Kepalanya berat, matanya menjadi sayu, beberapa kali berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Sadar tidak sadar, Rasha mengerem mobil nya ketika tahu apa yang ada di depannya sebuah motor melaju kencang.


CIIIT!


Mobil nya berhasil menghindari motor yang melaju, namun mobil nya malah mogok di tengah jalan yang sepi. Motor yang melaju sudah menghilang di gelap nya malam.


Sepertinya rem motor itu blong, pikir Rasha.


Rasha mencoba menghidupkan mesin mobilnya berkali-kali, tetap tidak bisa menyala. Dirinya keluar, setelah membuka kap mobil nya.


"Kenapa tiba-tiba mogok?" Dirinya bertanya-tanya. Melihat sekitar, apakah ada seseorang yang bisa dimintai tolong, tidak ada rupanya.


Jalanan sepi, gelap, hanya sinar dari lampu jalan yang ada. Toko-toko sekitar nya tutup, dia tahu, toko-toko itu memang sudah lama tidak buka. Rasha mengusap rambut nya ke belakang.


Dia bisa saja meninggalkan mobilnya. Namun kaki nya enggan bergerak. Kaki Rasha membawa nya jalan untuk ke pinggir jalan, tanpa disadari, sebuah mobil pickup dari arah kiri melaju ke arahnya.


Suara klakson mobil itu tak terdengar sama sekali. Mobil itu mengerem, suara decitan ban dengan aspal terdengar. Rasha menoleh ke kiri. Mobil yang melaju kencang, dan tiba-tiba mengerem itu tetap menabraknya.


BRAK!


Rasha terpental tiga meter dari tempatnya berdiri. Sopir dari mobil pickup yang menabraknya bahkan sampai shock, dan keluar menghampiri nya. Dengan sedikit panik, dirinya mengeluarkan handphone nya.


Darah mengucur deras dari kening, hidung bahkan mulutnya. Badan Rasha serasa remuk, tak mampu menahan semuanya. Sopir mobil pickup itu mencoba menelpon ambulans, sembari berjalan mondar-mandir.


Rasha tersenyum lirih. "Mungkin ini akhir hidup ku. Tapi kuharap, aku masih bisa diberi waktu untuk hidup. Dan aku senang, masih bisa merasakan sakit, walaupun diakhir hidup ku."


Matanya melirik langit malam, lalu menutup matanya. "Ayah, ibu. Kita akan bertemu."


Semua nya gelap, tidak ada sinar yang menerangi harinya. Dia bahkan tidak bisa mewanti-wanti hal ini.


...☁️☁️☁️...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2