Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
7. Perdebatan tak kunjung usai


__ADS_3

//ADA BAGIAN YANG DIREVISI//


//TERIMA KASIH//


Pemuda itu menyernyit tidak senang. Gadis di depannya sudah berani melawan, padahal biasanya, Audrey hanya melakukan tingkah menggemaskan agar diampuni.


"Lo—"


"Cukup," ucap pemuda yang sedari tadi diam.


Audrey mengalihkan perhatian pada pemuda itu, "Gideon?" Batinnya.


"Kita cabut," perintah Gideon dengan datar. Dan berbalik menjauh dari riuh kantin akibat perdebatan yang terjadi baru saja. Gideon tidak suka menjadi pusat perhatian, itu yang membuatnya menghentikan perdebatan Nano dan Audrey.


"Dia bisa ngomong, toh. Gue kira bisu," celetuk Olivia.


"Hush. Gak boleh gitu," ucap Audrey. Naiya menghembuskan nafas lega, akhirnya dia tidak lagi ditarik paksa oleh para pemuda itu, untuk kali ini.


"Iya, iya deh."


"Tapi, setidaknya mereka gak cari gara-gara ke kakak. Aku gak mau kakak digangguin mereka, apalagi karena aku," batin Naiya.


"Ini karena Naiya! Kalau Naiya gak ada di sini, kan Lo gak diganggu, Drey. Katanya Lo gak mau berhubungan sama mereka lagi, ini karena Naiya, Drey, karena bocah itu!" Olivia hanya dapat berkata itu dalam hatinya.


Katanya tidak mau cari masalah, katanya tidak mau berhubungan sama kelompok Arvino itu, tapi biang masalah nya ada dekat mereka. Naiya. Sebenarnya siapa yang salah di sini?


...☁️☁️☁️...


"Agh! Pacar gue susah diatur sekarang, dia jadi pembangkang, semenjak Audrey keluar dari rumah sakit!" Arvino jengkel karena Audrey, sifat Naiya tidak seperti itu.


"Lo terlalu posesif!" Sentak Gideon. Lalu menarik kerah Arvino, yang mencak-mencak tidak jelas. "Berhenti," tekan nya.


Arvino membalasnya dengan tatapan sinis, "Lo gak usah ikut campur, Morgan!"


Aldi dan Nano hanya diam, sudah biasa melihat keduanya bertengkar karena berselisih pendapat. Terutama mengenai Naiya. Gideon selalu menasihati agar Arvino tidak terlalu keras pada pacarnya, apalagi memaksa.


Memang dari mereka berempat, hanya Gideon yang paling dewasa. "Arvino, cukup. Kali ini, dengerin kata Morgan," balas Nano.

__ADS_1


"Benar. Naiya juga gak mungkinlah jauhin kakaknya, walaupun kakaknya kayak gitu."


Arvino menggeram kesal, kenapa malah pada membela Gideon dari pada nya. Ketua dari kelompok ini, adalah dia! Jadi, seharusnya mereka membela nya diri nya!


"Kalian semua sama aja." Arvino melemparkan meja kayu yang di sampingnya ke lantai, sampai hancur berkeping-keping.


"Lo, gak lebih baik dari sampah, Vino," gertak Gideon.


"Tutup mulut Lo! Dasar bisu!"


Nano dan Aldi hanya menghitung beberapa detik, yang akan terjadi biasanya. Dengan jari, mulai dari lima, masih dengan beradu mulut. Dan tutupan jari terakhir, memulai pertengkaran.


BUAGH!


Arvino dipukul kencang di perut. Membuatnya bangkit, dan memukul balik Gideon. Nano merangkul Gideon, dan Aldi menahan Arvino. Seperti anak kecil, mereka.


"Udah Woi! Malu napa sama umur, masih aja berantem!"


Gideon berhenti, dia menyeka keringat yang mengucur membasahi dahinya. Dekat mata nya ada memar yang dibuat Arvino. Begitupun Arvino, perut nya masih terasa ngilu.


Mereka hanya diam, Arvino tidur terlentang di lantai semen Rooftop gedung sekolah. Dikebanyakan film dan cerita, rooftop adalah tempat yang paling menarik. Paling enak untuk berkumpul nya mereka.


"Gak ada sopan santun," desis pemuda itu, memejamkan mata menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. Walaupun begitu dia tersenyum kecil, karena begitu-begitu hanya geng nya lah mengerti keadaan dirinya.


Yang sedari kecil tidak pernah dianggap oleh orang tuanya, membuatnya berubah menjadi anak nakal yang sudah di luar batas. Suka merokok, dugem, minum-minuman keras.


Tapi, dia tidak pernah mengajak mereka bertiga yang sudah seperti keluarga sendiri.


...☁️☁️☁️...


Audrey pergi ke kamar mandi setelah berpamitan pada dua gadis yang bersamanya, Naiya dan Olivia. Walaupun meninggalkan kecanggungan di antara mereka.


Audrey membasuh wajahnya, menghela nafasnya seketika. Alur novel nya berubah, tapi memang itu kemauannya. Agar dirinya tetap hidup, tidak mati mengenaskan seperti di cerita itu


Nano, pemuda itu, mencintai Naiya dalam diam, yang selalu menjaga Naiya. Bukan, bukan karena penyakit yang diderita gadis itu, yang membuat Nano meninggalkan Naiya.


Akibat Arvino, pemuda itu dalang Nano menjauh. Ancaman yang tak terduga dari sahabatnya, menorehkan luka yang sangat dalam bagi Nano, orang yang dia sudah anggap keluarga, begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


Gavino, pemuda itu hanya beberapa kali muncul, dengan dialog yang selalu singkat. Dan sifat nya hanya dua, dingin, dan datar. Tak ada yang lain, dia dikatakan tewas di dalam ceritanya, akibat terjatuh dari tebing curam, saat acara perkemahan sekolah.


Gavino yang menolong Arvino, dengan keegoisan sang protagonis pria, Arvino membiarkan Gavino tergelincir tanpa membantu, padahal dia sudah dibantu.


Digambarkan, dalam Nothing Like You, karakter ketiga teman Arvino adalah pengkhianat. Karena memang jelas, selain genre utama nya romantis, genre pendukung nya adalah pengkhianatan.


"Sebenarnya sebagai penulis gak rela buat plot yang seharusnya ada, malah tergantikan."


Audrey keluar dari kamar mandi, tanpa sengaja melihat Naiya yang sudah tergeletak tak berdaya, tidak jauh dari posisi tubuhnya. Matanya membelalak, berlari mendekati Naiya.


"Naiy, Naiya! Bangun!" Teriak nya. Dengan sedikit bergetar tangannya nya menelpon seseorang yang ada di kontak nya. Kontak yang Audrey asli namai, 'calon masa depan'.


Agak geli memandang nama itu, tapi dia harus meminta bantuan. Tidak mungkin dia menggendong adiknya sendirian. "Halo.. Oi, Bedebah, tolongin adek gue! Dia pingsan," dengan nada tak nyantai Audrey berbicara seperti itu.


Dan langsung mematikan handphone nya, berharap yang ditelepon cepat datang. Kepanikan menghantam tubuh nya. Beberapa menit berlalu, akhirnya Arvino dan teman-temannya menghampiri dengan tergesa-gesa.


"Lo apain, Naiya, hah?!" Bentak Aldi. Lain dengan, Arvino tanpa banyak basa-basi, pemuda itu menggendong Naiya ke arah parkiran mobil. Khawatir terpancar dari wajahnya.


"Lo apain Naiya, sekali lagi gue tanya, Drey," geram Aldi. Dahi Audrey mengerut tidak suka, apa-apaan pemuda di depannya. Menuduh sembarangan.


"Gak usah nuduh sembarangan! Gue aja baru liat, kalau Naiya pingsan. Kalian gak tau kejadian nya, gak usah banyak cing-cong deh. Kalau salah, yang ada Lo sendiri yang malu, dasar cacing kremi!" Rasanya Audrey ingin mengeluarkan semua unek-unek yang tersimpan dalam hatinya.


"Lo.. kalau dibilang minta maaf, ya, minta maaf! Apa susah nya."


"Gue gak melakukan kesalahan apapun. Dan gak melakukan aktivitas yang menganggu kalian, kalian juga gak mau gue ikut campur, ngapain juga cerca orang sampe segitu nya."


"Naiya adik gue, dan gue gak akan pernah membuat Naiya terluka," sinis Audrey,


Aldi berdecak, tangannya mengepal di bawah sana, dan Audrey tentu melihatnya.


"Loh, Audrey. Tadi, Naiya tanyain Lo, kemana sih, kok lama disitu?"


Suara gadis itu menyapa gendang telinga sang Adam yang tengah ber-sitegang dengan sang hawa. Olivia, gadis itu tak bisa berlama-lama di kantin.


"Oiya tadi gue liat, pacar Lo, Lo tega ngebiarin tuh cowok nunggu?"


"Hah, cowok? Siapa?" Siapa? Yang dimaksud Olivia, dia sama sekali tidak kenal dengan orang yang dimaksud.

__ADS_1


......☁️☁️☁️......


BERSAMBUNG...


__ADS_2