
Hembusan berat dari mulutnya, yang memakai alat pernapasan. Mata hazel nya perlahan terbuka, berkedip beberapa kali dengan pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Napasnya masih terlihat berat. Menatap sekitar, ingin meregangkan tangannya yang terasa pegal. Tapi ada sesuatu yang menahan salah satu tangannya. Kepalanya menoleh pada orang yang tertidur di sampingnya.
Sedikit menyernyit, siapa orang ini? Dia terlihat asing dimatanya. Uh, badannya terasa pegal dan sakit. Perlahan mendudukkan dirinya, tanpa menggangu orang di sampingnya.
Matanya terfokus kepada seseorang yang tertidur, mengusap rambut yang menutupi wajahnya. Wajahnya cantik dan halus, dan kelopak matanya yang sedikit bergerak, mungkin terganggu akan usapan itu.
"Unghh.." Lenguhan terdengar dari bibirnya. Matanya mengerjap, dan akhirnya terbuka dengan sempurna. Dengan cepat gadis manis, menurut dirinya, menegakkan tubuhnya.
"Kakak! Kakak udah bangun?! Aku panggilin dokter dulu ya," ujar gadis itu. Gadis itu bangkit, meninggalkan dirinya sendiri terduduk di atas ranjang rumah sakit.
"Siapa dia? Dan kenapa aku di sini? Bukannya aku ada di jalan, mau ke pertemuan?" Tanya nya pada diri sendiri. Tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, lalu sedetik kemudian ingatan yang bukan milik nya mendatangi nya.
Semua nya gelap.
...π₯π₯π₯...
"Benar, Dok. Tadi kakak saya udah siuman, tapi sekarang malah pingsan lagi, kayak nya. Gak mungkin kan saya salah lihat, mata saya gak se picek itu." Jelas gadis yang tadi keluar. Sayup-sayup dirinya mendengarkan obrolan gadis itu, mata nya perlahan terbuka.
Pingsan yang baru saja terjadi padanya adalah cara untuk ingatan asing memaksa masuk ke otak nya. Walau masih hitam putih; tidak jelas.
"Kak, kak Audrey! Kakak akhirnya sadar!" Sontak sang dokter menoleh padanya. Tunggu, apa katanya? Audrey? What, dirinya bukan Audrey! Dia kan Rasha.
Tunggu. Tunggu. Audrey? Sepertinya tidak asing dengan nama itu. Dia ingat sekarang! Nama itu berada di dalam salah satu buku novel buatannya. Nothing Like You.
What theβ jadi sekarang dirinya masuk ke dalam buku novelnya. Dia shock, untung saja tidak ada riwayat jantung membuat dirinya tidak sampai pingsan akan semua ini.
Gadis yang memanggil nya dengan nama Audrey seketika panik, melihat kakaknya menunduk meremas kepala nya.
"Kak. Kakak kenapa, ada yang sakit?"
Dia bergeming, "aku baik-baik aja."
Dokter yang merawat nya memeriksa keadaannya, walaupun dia hanya diam, dan memproses semua. Resah dan gelisah, menyatu dalam kalbu. Jadi, dirinya meninggal, dan jiwa nya pindah ke raga orang yang berada dalam novelnya sendiri.
__ADS_1
Loading dulu otak ku, pikir nya.
"Apakah ada keluhan, nak Audrey?" Tanya dokter yang sudah memeriksa keadaannya, seperti detak jantung, infus, dan juga tekanan darah.
Dia harus membiasakan diri untuk panggilan Audrey. Audrey menggeleng dan tersenyum tipis.
"Gak, dokter. Saya hanya sedikit pusing aja." Jawab nya, suara nya sedikit serak dikarenakan tenggorokan yang kering. Mungkin sudah cukup lama Audrey terbaring di ranjang rumah sakit, terbukti dari tubuhnya yang mati rasa saat mencoba untuk digerakkan.
"Syukurlah, karena kamu cukup lama terbaring di sini sejak kecelakaan itu, untuk saat ini kamu istirahat dulu ya. Saya permisi," ujar dokter itu, dan pamit untuk pergi keluar dari kamar.
Gadis manis yang diam berdiri di sana sepertinya peka akan keadaan Audrey. Mengambil sebuah gelas berisikan air minum, dan memberikannya pada Audrey. Audrey menatapnya.
"Terima kasih, Naiya." Setelah nya, Audrey meneguk dengan perlahan-lahan air putih itu. Dibantu oleh gadis yang diyakini sebagai adik Audrey, Naiya.
Gadis itu mematung, seperti baru pertama kali, sang kakak bisa begitu hangat padanya. Bisa berkata terima kasih padanya, dan mengucapkan nama nya. Gelas dikembalikan ke tempatnya, dan gadis yang baru saja dipanggil Naiya oleh Audrey mendudukkan dirinya di kursi.
"Kak."
"Ya, kenapa?" Sahut Audrey.
Iya, pasti nya Naiya bingung karena perubahan yang terjadi dari Audrey. Apalagi sebelumnya sikap Audrey padanya seperti, Naiya hanyalah pembantu, yang selalu disuruh-suruh. Bahkan dibully, dicaci, dan dianggap menjijikkan.
Audrey menahan nafasnya. Betapa kejam sikap Audrey selama ini, ah, iya, padahal dia sendiri yang membuat karakter Audrey seperti itu. Tapi namanya juga novel, pasti ada antagonis dan juga protagonis nya 'kan.
"Aduh, Rasha. Hati kamu lemah kalau liat wajah melas orang." Rutuk Audrey dalam hatinya.
"Bingung, kenapa?" Tanya Audrey. Sebenarnya sudah tahu jawabannya, tapi kali ini dirinya harus pura-pura seperti ini dulu. Rasanya bukan dirinya, kalau ketus atau kejam seperti Audrey.
Naiya menggeleng cepat. Membuat Audrey menatapnya, terlihat imut wajah Naiya kalau begitu.
"Gak. Kakak agak beda aja." Naiya menunduk, dan meremas celana panjang yang dipakainya. Audrey tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya ke pintu. Apa yang selanjutnya terjadi, menentukan alur cerita sebenarnya.
Dia jadi bingung, harus ikut kata hati nya. Atau harus ikut alur cerita yang sudah susah payah dirangkai olehnya. Tapi jika ini kehidupan nya, Rasha pasti tidak akan cari masalah.
Ikuti alur atau ikuti hatinya?
__ADS_1
Naiya menatap canggung ke arah Audrey. "Maaf kak."
Audrey menoleh pada Naiya, memandang heran. Mengapa tiba-tiba meminta maaf, padahal dia hanya diam tak melakukan apapun yang menggangu kenyamanan Audrey.
Naiya menggigit bibir bawahnya. "Kakak pasti nyari daddy dan mommy 'kan. Mereka bilang, mereka sibuk, jadi gak bisa jenguk kakak."
Audrey menganggukan kepalanya mengerti. Ternyata alur ceritanya berubah. Padahal dicerita asli yang ia tulis, alur selanjutnya akan ada orang tua nya yang menyeret Naiya dengan paksa, untuk menjauhi Audrey.
Masih diawal cerita rupanya. Audrey yang kena karma, setelah membully Naiya, dengan menulis kata-kata aneh di setiap lembar buku Naiya. Alhasil, terjadi lah kecelakaan. Sebuah motor menabraknya.
"Gak papa, Nay. Oh iya, kalau boleh kakak tau. Udah berapa lama kakak di rumah sakit?" Tanya Audrey. Dirinya sudah terbiasa dengan bahasa formal sehari-harinya dulu, saat masih di raga Rasha.
Naiya sedikit diam. Oke, Audrey yakin, Naiya masih belum terbiasa dengan perubahan yang signifikan dari nya. Naiya menghela nafasnya.
"Udah semingguan kak." Jawab Naiya, tubuhnya disandarkan pada kursi. Audrey mengangguk.
Audrey benar-benar benci suasana hening dan sepi seperti ini. Membuat dirinya mengingat masa dulu, yang selalu sendiri. Tidak ada ayah dan juga bunda yang menemaninya.
Tapi apakah dia bisa, membuat Naiya dan juga dirinya nyaman. Dan tidak kaku, padahal mereka kakak dan adik. Satu ikatan darah. Orang tua nya mereka juga, dituliskan membenci Audrey.
"Apa kamu canggung dengan ku, Nay? Aku harap kita tidak canggung ke depannya, kita terlihat kaku jadinya." Ujar Audrey menghancurkan keheningan beberapa saat yang lalu.
Naiya terkekeh. "Kakak juga. Formal banget ngomong nya. Jadi aneh. Gak sih, dari awal kakak bangun dari tidur panjang kakak, kak Audrey beda." Cerocos Naiya.
Audrey tertawa. "Ya udah. Aku juga ngebiasain diri, supaya gak terlalu formal kayak gini."
"Nah, gitu dong. Kita gak kaku."
Audrey mengakhiri tawanya. Dan menatap serius pada Naiya. Pilihannya sudah mantap, untuk tidak mengikuti alur cerita, dan akan menjauhi masalah, dan tidak mencari masalah seperti yang Audrey lakukan.
"Maaf. Selama ini, aku gak jadi kakak yang baik buat kamu. Dan perbuatan ku selama ini juga udah di luar batas. Sekali lagi maaf," kata Audrey.
"Mungkin ini masih langkah pertama, untuk mendapatkan ending yang bagus untuk diri ku sendiri. Dari pada mati mengenaskan seperti di cerita ku." Mengingat itu membuat nya merinding sendiri.
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
BERSAMBUNG...