Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
8. Penyakit Naiya


__ADS_3

"Iya.. cowok Lo. Udah ah, ikut gue. Biar Naiya jadi urusan mereka," ajak Olivia. Tangannya hendak menarik Audrey, tapi dengan cepat Audrey mundur.


"Gue mau antar Naiya ke rumah sakit dulu!"


Gavino yang diam, mendekati Arvino yang berdecak pelan, karena melihat Audrey membicarakan pemuda lain. Gavino menepuk pundaknya, dan mengisyaratkan pada pemuda itu, agar membawa dengan cepat Naiya ke rumah sakit.


Arvino yang melihat isyarat itu tersadar, dan langsung menggendong Naiya ala bridal style. Dan berlari ke arah parkiran, meninggalkan Audrey dan Olivia. Ketiga teman Arvino bergerak mengikuti.


"Tuh, udah dia bawa. Gak usah lah, Lo khawatir ke si anak penyakitan itu, udah banyak kok yang jadi pahlawan nya dia," pungkas Olivia.


Audrey hendak jalan, tanpa mendengar ocehan Olivia, tapu tangannya duluan ditahan oleh gadis itu. Merasa geram, Audrey menyentak tangan itu, tidak keras, tapi mampu membuat cekalan nya terlepas.


"Oliv. Gue gak peduli siapapun laki-laki yang Lo bicarain, gue cuman mau ikutin mereka ke mana Naiya dibawa. Dan satu lagi, jangan bilang Naiya dengan panggilan 'anak penyakitan', karena panggilan itu ngeganggu!"


"Aku gak tau itu karena sakit nya kumat atau apa. Dan kalau kumat pun, itu gak mungkin tiba-tiba, aku harus cari tau." Audrey curiga, ada seseorang yang membuat Naiya pingsan seperti itu.


Olivia terdiam akan ucapan yang dikeluarkan gadis di depannya. Terdengar dehaman keras dari mulut Audrey, membuat pikiran Olivia yang tadi sempat berkelana, kembali ke tempatnya.


"M.. maaf, gue.. cuman gak mau Lo dalam masalah." Olivia menunduk, dan memainkan tangannya. Audrey terkesiap, dia tidak pernah melihat Olivia yang seperti ini. Biasanya hanya pendiam, dan sedikit menyinyir.


Tsundere seperti di manga-manga Jepang. "Ya udahlah. Gue mau ikutin mereka dulu, Lo mau ikut, ikut aja, kalau gak ya udah."


"G.. gue ikut!"


...☁️☁️☁️...


Walaupun agak sedikit susah untuk meminta izin keluar dari sekolah akhirnya Arvino dengan yang lainnya bisa membawa Naiya ke rumah sakit. Dan kini Naiya sedang diperiksa, di ruang UGD.


"Kalau terjadi apa-apa ke Naiya, gue bakal basmi Lo, Audrey," geram Arvino. Giginya bergemelatuk, dan tangan saling menggenggam erat, menampilkan urat-urat nya.


Tapi salah satu dari mereka tidak bisa menampik, jika dirinya lebih khawatir dengan apa yang akan Arvino lakukan pada Audrey. Bahaya, Audrey dalam bahaya. Bila pemuda itu mengamuk.


Hening, tidak ada obrolan lagi. Menunggu di depan ruangan yang entah sudah berapa menit belum ada yang keluar. Dokter maupun, suster. Waktu baru berjalan empat menit kurang, tapi rasanya sudah setahun.


"Lama banget sih, dokternya," gerutu Nano.

__ADS_1


CKLEK!


Pintu terbuka. Menampakkan seorang laki-laki muda berhas putih, keluar dari ruangan itu. "Dengan keluarga Naiya?"


"Saya, Dokter. Saya tunangannya," akui Arvino. Membuat yang lain sedikit terkejut, dan menetralkan kembali wajah mereka. Terutama Nano, yang hatinya berdenyut sakit, tapi dia sadar, memang Naiya bukanlah milik dia.


"Penyakit Naiya, yang seharusnya dijaga, sepertinya kambuh. Apa yang menyebabkan, Nak Naiya, bisa kambuh?"


Mereka diam, tak bisa menjawab, memang mereka tidak tahu pasti, apa yang menyebabkan Naiya bisa kambuh. Hanya ada Audrey di sana, membuat Arvino mengira bahwa gadis itu yang membuat pacar nya pingsan.


Sebelum menjawab, suara tapak kaki sedikit kencang mengarah pada merek, membuat Arvino dan yang lain menoleh pada pembuat bising. Audrey dan Olivia.


"Dok! Dokter, gimana keadaan adik saya? Dia gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Audrey khawatir dengan kondisi sang adik. Arvino menatap nyalang punggung Audrey di depannya.


"Nak Niya kambuh. Apa penyebabnya dari kambuh nya? Dan kenapa obat nya tidak dipakai?" Dokter itu bingung, obat asma yang ia pernah sarankan, tidak dipakai. Padahal sangat perlu untuk kesehatan nya.


Perlu diketahui, penyakit yang dimaksud kan adalah, asma. Tapi penyakit sebenarnya, adalah kanker yang bersarang di hatinya gadis itu. Menyedihkan sekali. Masih stadium 2, tapi gadis itu tidak memikirkan itu.


Dia hanya ingin bersenang-senang, dan melanjutkan hidupnya sebisa mungkin. Penyakit itu hanya keluarganya yang tahu, dan beberapa temannya yang tahu, seperti Arvino dan ketiga sahabatnya.


SRAT!


Bahu kanan Audrey ditarik kasar menghadap ke belakang, dan entah kapan, pipinya telah merasa panas. Pemuda itu, di depannya, Arvino. Dia membulatkan matanya.


"Wah, apaan! Lo berani banget nampar perempuan!"


Arvino di dorong kasar, membuat punggungnya terbentur dinding. Gavino menatap lurus pada pemuda yang berani pada gadis. Bukan, bukan dia membela Audrey.


Olivia membalas, dengan menampar pipi Arvino, mata nya menyorot tajam pemuda itu, yang memegangi pipinya. "Lo gak bisa ya, gak kasar sama cewek! Di sini rumah sakit, jangan buat keributan deh!"


Audrey menahan Olivia, menenangkan gadis itu agar tidak membuat keadaan semakin panas. Dokter disana hanya seperti patung.


"Adik-adik, tolong jangan berisik di rumah sakit," peringat suster di belakang Dokter laki-laki itu, dengan lembut.


Audrey meminta maaf, atas keributan yang terjadi. "Maaf, saya mau menjenguk adik saya, boleh?"

__ADS_1


"Silahkan." Pertanyaan yang tadi, seperti angin lewat, dan terlupakan dokter itu. Audrey masuk, diikuti Olivia. Arvino yang akan masuk, ditahan Gavino.


"Jangan. Yang ada, Lo buat kacau," ujar Gavino dengan suara seraknya. Nano, juga Aldi mengangguk setuju.


"Lo di sini dulu, diem, duduk dengan tenang," kata Aldi, sembari merangkul pundak Arvino dan mendudukkan dirinya.


Arvino menggeram kesal. "Akh! Kalian buat gue jengkel!"


...☁️☁️☁️...


Sang pemeran utama, mengelus tangan halus milik adiknya. Adiknya tertidur dengan damai, mata yang tertutup itu bergerak. Dan kening yang menyernyit, membuat Audrey tahu, jika adiknya mulai siuman.


"Kamu baik-baik aja, Naiya?" Tanya Audrey, saat setelah sedetik mata Naiya terbuka. Mengelus pipi gembulnya, dan sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Kakak. Aku dimana?" Kepalanya melihat kiri dan kanan, agar memastikan penglihatannya.


"Lo di rumah sakit," jawab Olivia sembari berjalan mendekat ke arah ranjang. Membuat Audrey mengangguk singkat, membenarkan jawaban gadis yang memotong omongannya.


"Kenapa bisa?"


"Penyakit kamu kambuh. Sekarang kakak tanya, kenapa bisa asma kamu kambuh?"


Naiya mengatupkan bibirnya. Mata nya melihat ke arah lain. "Obat ku abis."


Audrey tahu, adiknya berbohong. Gelagat nya terlihat, dan itu mudah ditebak. Audrey menghela nafas panjang. Dan memejamkan matanya.


"Jangan bohong. Kakak gak suka kamu bohong," balas Audrey, rahangnya mengeras. Naiya menggigit bibir bawahnya, bingung akan bagaimana menjawab pertanyaan kakak nya.


"A.. aku kambuh, karena.."


Ucapannya berhenti, dan manarik nafasnya. "Ada seseorang yang ngambil obat aku, dan aku gak tau siapa. Jadi tadinya aku mau ke kamar mandi buat ketemu kakak, minta anterin buat beli. Tapi ada yang bekap aku dari belakang, aku gak tau siapa. Dan, jelas aku gak bisa nafas" jelas Naiya dalam sekali tarikan nafas.


Audrey mengepalkan tangannya. Siapa, yang berani berbuat jahat pada adiknya, dia akan beri pelajaran. Tapi, setidaknya, dia ingat bahwa dekat kamar mandi ada satu CCTV, dekat tempat kejadian.


"Let's see, who are you!?"

__ADS_1


...☁️☁️☁️...


BERSAMBUNG...


__ADS_2