
"Maksud kamu apa, Naiya?" Tanya sang ayah terkejut kan apa yang diputuskan sepihak oleh anak bungsunya. Tentu keluarga Arvino juga terkejut, dan marah akan keputusan itu.
Audrey, Mario, Olivia, dan Lily hanya bisa terdiam. Sang pemeran utama terdiam berdiri, menatap sang adik dengan tatapan mata yang tak dapat diartikan semuanya.
"Ini pasti gara-gara dia kan!" Tunjuk Arvino dengan kasar pada Audrey. Gadis itu sadar, pasti keputusan itu akan menyebabkan dirinya yang dituduh, padahal kan ini sudah cukup membuktikan bahwa Naiya memilih pa yang ia mau. Dan dia mau dibatalkan. Audrey pasrah, dia tidak akan menentang alur cerita sekarang. Dia tidak bisa menghentikan dan mengembalikan semua yang harus berjalan.
"Well.. jari Lo itu kotor kak, jangan nunjuk kak Audrey pake jari gak suci Lo!" Mario berdiri di tempatnya, menatap tajam Arvino yang masih menunjuk Audrey. Dan laki-laki itu menggeram menatap Mario.
"Lo diem! Gak usah ikut campur!" Bentak Arvino. Marah besar, kenapa dia ditolak, bisa kacau kalau begini terus.
Olivia berdiri ikut membela, "Kita keluarga, masalah Lo disini cuman karena ditolak, jangan jadi gila deh!"
Audrey tersenyum tipis menatap keduanya, setidaknya, walau dirinya terlihat sama sekali tak ada tempat untuk bersandar di rumah ini, tapi Olivia dan Mario ada di pihak nya.
Lily menatap 5 orang yang berdiri itu. Dan berkata setelah melihat tiga orang yang berderet, "saya salut liat kalian bertiga."
Semua langsung menatap dirinya yang sekarang ikut berdiri dan berjalan ke arah Audrey dan deretan nya.
"Lily apa yang kamu lakuin?" Tanya ayahnya berbisik pada Lily yang sudah melewati dirinya, membuat pria itu menyernyit aneh. Dia berdeham.
"Maaf, bukan saya menyela, atau ikut campur, semuanya. Tapi apa yang diperdebatkan itu sudah cukup membuktikan, bahwa sang calon, ups, maaf, maksudnya mantan calon Naiya itu tidak memiliki attitude yang 'cukup' bagus, di kalangan kita," jelas Lily tersenyum manis menampilkan keanggunannya. Tapi terdengar mencela sekaligus.
"Apa maksud Lo?!" Arvino menggebrak meja, dan hendak berjalan ke seberang. Situasi semakin buruk dibuatnya.
"Cukup, Arvino!" Tegas sang bunda. Wajahnya memerah malu, tapi tetap menahannya.
"Tapi, bund—"
"Apa yang mereka ucapkan benar, jadi jangan buat bunda sama ayah 'semakin' malu!"
Arvino terpaku menatap kedua orangtuanya membentaknya. Dan menatap benci pada Audrey, yang berani-beraninya mempermalukan dirinya, pasti gadis itu penyebabnya! Lah, apa salah Audrey coba.
Naiya menekankan suaranya, "jangan membentak, atau menuduh kakak saya yang bukan-bukan, tuan Arvino. Ini karena ulah anda sendiri, yang memang tidak memiliki attitude pada setiap wanita."
Arvino menggelatukkan giginya. Dan berlalu pergi dari sana. Nino, selaku yang membuat acara, dari keluarga Mahendra berdeham. Dan menyela, "semuanya, tolong duduk kembali ke tempatnya, dan acara tetap berlanjut."
Audrey melirik Lily yang tengah berjalan ke tempat duduknya. Ajaib juga anak itu. Bisa berbicara tanpa takut seperti anak-anak lainnya. Yang tertekan dan pasti terkekang oleh orang tuanya.
Setelah Nino menenangkan tamu-tamu dari ketiga keluarga, termasuk keluarganya juga acara dilanjutkan dengan berdiskusi mengenai Mario dan Lily.
..._____...
__ADS_1
Setelah itu, mereka, Audrey, Mario, Olivia, dan juga Naiya, berkumpul di taman belakang. Yap, mereka masih diam membisu karena memang tadi acara yang benar-benar kacau. Masing-masing menghela napas dan berpangku tangan.
"Hai," sapa seseorang yang baru saja datang ke antara mereka, membuat mereka mendongakan kepala melihat siapa yang ikut serta. "Biasa aja dong liatnya," cengir nya, lalu duduk di salah satu kursi dekat Audrey.
"Lo ngapain ke sini?" Tanya Olivia dingin.
"Ly, Lo gak ikut pulang?" Tanya Mario, yang dijawab senyuman tipis dan gelengan kepala.
"Gue pengen gabung aja sama kalian," ujarnya sembari tersenyum sumbar. Dirinya memang mau bergabung dengan mereka, terlihat mereka itu tidak bermuka dua, Lily terlalu lelah menghadapi orang-orang seperti itu.
Audrey menatap lamat-lamat semuanya, yang menatap waspada ada Lily. Lily? Sebenarnya siapa dia? Gadis itu terlihat mencurigakan, pikiran nya takut salah untuk membuat Lily menjadi salah satu dari mereka.
..._____...
"BODOH!"
BRAK..
Tubuh itu ditarik masuk ke dalam kamar dan dilemparkan begitu saja oleh wanita itu dan disusul suaminya yang membawa stik golf yang memang bukan alat pemukul golf. Laki-laki yang dilemparkan menobatkan stik golf itu, stik pemukul orang sepertinya. Orang yang selalu mempermalukan keluarga.
TAK!
"Sudah bunda bilang Arvino, jangan permalukan ayah mu, terlebih lagi keluarga besar kita! Kenapa bisa-bisanya kamu ditolak, padahal kita sudah melakukan semuanya, agar rencana pertunangan itu terus berlanjut ke tahap pernikahan!!" Bentak bunda nya dengan keras.
TAK!
TAK!
"Ma.. maaf ayah, bunda. Maafin Arvino." Arvino hanya bisa memejamkan matanya, dan kesadarannya mulai menipis.
"Ayah gak mau tau, kamu harus perbaiki lagi nama ayah dan bunda, di mata keluarga besar Argantara!" Itu kata-kata terakhir yang didengar nya, lalu setelahnya dia pingsan, napasnya menderu.
..._____...
Audrey menatap langit-langit, setelah mandi dia mendapatkan telepon dari Maureen. Mereka berbincang asik di telepon. Lalu terdiam. Audrey menghela napasnya. Audrey yang tadi menatap langit-langit, menatap lembar perlembar kertas yang dia tulis mengenai Novel ini. Lalu membereskannya dan menaruhnya di laci, dan dikunci tentunya.
"Ren." Panggil Audrey, dia ingin bertanya sesuatu tapi ragu kelihatannya.
"Ya? Kenapa, Drey?"
"Gue pengen tau, sebenarnya apa yang terjadi dulu di antara kita bertiga, Ren?"
__ADS_1
Maureen di sebrang sana tertegun. Jika Maureen asli yang ditanyai mungkin masih bisa menjawab, tapi dirinya—bukanlah Maureen, melainkan jiwa lain yang masuk ke dalam.
Audrey penasaran dengan hal itu. Siapa tau bisa menjelaskan, dia mau bertanya ke Olivia tapi melihat wajah gadis itu saja sudah menyeramkan.
"Gue kayak udah pikun diusia dini deh, Drey. Gue lupa," cengir Maureen dari sana.
"Haish. Udah ah, gue mau tidur."
"Drey, gue beneran gak inga—"
Telepon dimatikan sepihak oleh Audrey. Dia manyun menatap kontak Maureen, dan mematikan handphone nya. Berbaring, menutup mata nya. "Gue pengen balik ke kehidupan gue. Tapi, gak bisa."
"Hei Audrey, makanya lebih baik kamu kerja sama denganku."
Audrey cepat-cepat membuka matanya, melihat sekeliling. "Siapa disana?!"
"Gue? Tebak dong, siapa gue, Drey. Sosok yang sama mau kasih clue pada Rasha~"
Audrey menelan ludah. "Lo hantu ya?"
"Hantu? No, No, No. Gue itu hidup, hantu itu cuman roh manusia yang kejebak di bumi. Gue itu lo.. Gue adalah Lo versi jahat. Maybe." Tawa melengking, membuat telinga Audrey berdengung, dan kepalanya berdenyut denyut.
"Gila! Berhenti ketawa!" Sentak Audrey. Menatap ke segala arah. Dia berusaha menenangkan diri. Jangan panik.
"Lo benci Olivia! Lo benci Mario! Lo benci keluarga Lo! Bahkan Lo benci Maureen!" Sosok itu seperti ingin memengaruhi Audrey.
Bayangan dari sosok itu begitu jelas sekarang di depannya. Sosok itu tersenyum seram. Tapi telepon dari handphone Audrey memecahkan pikiran Audrey tentang bayangan itu.
Audrey terengah-engah, energi nya terasa terhisap habis karena sosok itu mencoba mengambil untuk mencoba menyempurnakan tubuhnya. Dia melihat kontaknya. Terselamatkan oleh Maureen.
"Halo.." Suaranya parau.
"Drey, akhirnya Lo angkat lagi. Sorry, gue bener-bener gak inget ten—"
"Udah, gakpapa. Gue malah berterimakasih ke Lo. Karena Lo, gue bisa berhasil keluar dari— ah pokoknya gitulah."
"Uhm? Ada apa sebenarnya, Drey?"
"Gak, udah. Tidur Lo, besok sekolah. Bye~"
Audrey menghela napas lega. Lalu kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimut meringkuk di dalamnya. Lelah.
__ADS_1
..._____...
BERSAMBUNG...