Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
13. Maureen Alexandra Wallie


__ADS_3

"Drey.. kita ke perpus yok, ini si Maureen tumben mau ke sana!" Ajak Olivia, sepertinya mencoba untuk membuat Maureen dan Audrey menjadi dekat lagi. Maureen mengangguk semangat.


"Ngapain?" Tanya Audrey dengan wajah datarnya.


"Gue lagi nyari buku, dan ini penting banget!" Seru Maureen. Wajah nya memang biasa saja, tapi nada bicara nya terdengar antusias. Audrey tidak tega jadinya untuk menolak.


Tapi dia masih merasa aneh, sebenarnya. "Terus ngapain ajak gue, kalian kan bisa," jawab Audrey. Maureen menghela nafasnya.


"Oh oke. Makasih atas waktunya," ujarnya. Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya berada. Olivia menggelengkan kepalanya pelan sembari menatap Audrey yang biasa-biasa saja.


"Maureen cuman mau minta ditemenin kita aja, loh, Drey. Kok Lo gak mau sih?" Tanya Olivia baik-baik. Audrey duduk dengan menghadap ke arah gadis yang sedang berbicara dengan nya.


"Gue belom terbiasa. Kayak gue yang waktu pertama kali ketemu Lo, belum terbiasa." Jelas Audrey menyipitkan matanya. Melirik sekejap pada Maureen yang merebahkan kepalanya di meja, dan beralih pada Olivia kembali.


"Belum terbiasa, kalau ngobrol terus pasti terbiasa kan." Ujar Olivia. Audrey memikirkan apa yang Olivia katakan. Benar juga sih. Ego nya membuat dirinya menjadi seperti ini.


"Iya.. iya deh," balas Audrey dengan malas.

__ADS_1


Maureen menenggelamkan wajahnya ke tangannya yang ada di meja, dan mengerucutkan bibirnya. "Ish, katanya best friend, tapi gak bisa peka kalau ini gue!" Batinnya. "Atau.. orang itu bohong?"


Audrey mengusap tengkuknya, dan menatap ke luar jendela. Merasa aneh atas apa yang terjadi, jadi diri nya hanya memandang ke luar saja.


...☁️☁️☁️...


Maureen menatap tajam seseorang di depannya. dia merasa geram akan suatu hal. "Katanya Audrey itu Rasha, tapi kenapa tadi dia gak kenal gue. Lo bohongin gue ya?!"


Seseorang yang ia ajak bicara terkekeh. "Lo tau, dengan fisik Lo yang kayak gini, beda sama siapa yang dia kenal. Pastinya dia gak tau, karena Lo bukan Marsya, tapi sebagai Maureen di sini!"


"Semua ini kan kemauan Lo. Kemauan Lo yang mau ikut ke tempat Rasha, sahabat Lo berada. Dan Lo dapatin itu."


Maureen menggebrak meja, dan bangkit berdiri, berjalan meninggalkan orang yang tersenyum miring itu. "Marsya, ini mau Lo, jadi gue kabulin."


...☁️☁️☁️...


Sepertinya hobby, atau kemampuan Audrey sebenarnya, menurun ke Rasha. Melukis. Melukis menjadi kesukaan nya dari dulu, sampai sekarang. Setiap helai bulu dari kuas dia torehkan pada kanvas.

__ADS_1


Audrey berada di dalam ruangan art. Dimana memang selain taman, tempat ini juga, sebagai penenang hati nya. Helaan nafas keluar dari mulutnya.


"Apa dia memang orang yang aku kenal? Karena walaupun dia terlihat asing, tapi semua sifat nya membuat pikiran ku tertuju pada satu orang."


"Apa itu kamu? Marsya?" Gumamnya, yang pastinya tidak didengarkan oleh siapapun. Hanya dirinya seorang. Gambar yang semula hanya guratan pensil, perlahan membentuk sebuah lukisan yang indah.


Dua tangan yang saling bergandengan. Makna nya gamblang, banyak, bisa banyak hal makna yang ditemui.


Tapi makna yang paling mendasar menurut nya adalah, tangan itu adalah sepasang sahabat dengan kesetiaan nya yang pasti tak akan membuat mereka terpisahkan.


Dia hanya melanjutkan lukisan lama Audrey yang belum pernah lagi Audrey sentuh di dalam ruangan art itu. Sebenarnya guru seni yang memaksakan dirinya agar bisa menyelesaikannya.


"Em.. jadi kangen."


...☁️☁️☁️...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2