
Kemarau menerjang Indonesia saat ini. Audrey keluar dari rumah untuk mencari sesuatu yang bisa menghilangkan dahaga nya. Kemarau begini dia memakai celana olahraga agak di bawah lutut, dan kaos lengan pendek.
Dengan berjalan kaki, berjalan ke arah minimarket terdekat, namun matanya melihat kedai es yang sepertinya baru dibuka.
"Sejak kapan ada kedai es di sini?" Tanya nya pad diri sendiri. Audrey tersenyum tipis, "ke sana aja deh, sekalian rasa."
Langkah kakinya membawa tubuhnya pergi masuk ke dalam kedai itu.
"Selamat datang di kedai d'earte," sambut salah satu dari staff di sana. Audrey melihat menu yang ada di sana, dan mengetuk meja saat bartender di situ masih tertunduk merapikan sesuatu.
"Permisi mbak, saya mau—." Audrey berucap begitu namun terdiam melihat siapa yang menjadi bartender di depannya. "Maureen," gumamnya.
Maureen juga merespon hal yang sama, lalu gadis itu berdeham. "Iya mbak, mau pesan apa?" Tanya nya, bersikap profesional.
Dirinya menjawab, "red Velvet iced coffee with cream cheese."
"Baik, mohon ditunggu."
Audrey melihat sekeliling mencari tempat duduk yang kosong. Dan mendudukinya dan menunggu pesanan nya datang, namun sebenarnya dirinya masih heran, kenapa Maureen bekerja di kedai ini?
"Red Velvet iced coffee with cream cheese-nya." Maureen mengantarkan pesanannya dan berbalik, tapi sebelum perempuan itu pergi, Audrey menahannya.
"Lo tau, kita harus ngomong habis ini?" Dengan nada dinginnya, lalu Audrey meminum Red Velvet buatan kedai itu. Ia masih menatap punggung Maureen yang agak gelisah.
"Gue kerja sampai malam, Drey."
Audrey menghela napasnya, dia tak mungkin menunggu sampai malam. Bukan hanya tentang pekerjaan yang dilakukan Maureen, tapi tentang hubungan Audrey dan Maureen yang akan berusaha ia perbaiki.
"Gue.. juga mau ngomong penting. Tapi, mungkin gak sekarang," jawab Maureen. "Besok aja ya? Di sekolah."
Lalu Maureen pergi meninggalkan Audrey yang memandang datar perempuan itu. "Huh.. memang sih bukan waktu yang tepat."
...🥀🥀🥀...
Audrey melihat sekeliling, rumah nya tampak sepi. Dia hanya masa bodo dengan hal itu, dia tidak peduli. Yang hanya ia pikirkan sekarang, kenapa dan bagaimana caranya ia bisa kembali ke tempatnya yang seharusnya?
Atau ke surga, mungkin? Kenapa malah masuk ke tubuh antagonis yang dibenci keluarga nya, dan mempunyai riwayat hidup yang menyedihkan dibandingkan dirinya.
Audrey membanting tubuhnya ke kasur. Memejamkan matanya, menjernihkan isi otak kepala nya.
"Apa aku harus nunggu lagi? Kapan aku bisa ketemu kalian di atas sana, yah, ibu?" Gumamnya lirih. Kedua tangan nya menutupi wajahnya, yang sedikit memanas. Tapi sebuah suara membuat tubuh nya tersentak kaget.
"Apa maksudnya?" Tanya orang yang membuatnya kaget itu di depannya, Audrey bangun dari tidurnya, menatap sedikit panik, namun tetap menenangkan diri agar tidak gugup.
"Maksud apa?" Tanya Audrey dengan nada yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Apa maksud Lo, ngomongan Lo?!"
Audrey mengalihkan pandangannya dari orang di depannya, "Lo mungkin salah dengar, Liv."
Kerah Audrey ditarik, agar Audrey menatap nya. "Maksud dari perkataan Lo, Drey! Gue gak salah denger!"
"Lo gak tau apa-apa, Liv, jadi berhenti ikut campur!" Audrey menepis tangan Olivia dengan kasar, dan sedikit menaikkan nada suaranya. Olivia sedikit terkejut melihat hal itu.
Audrey tersadar, dia terlalu kentara. Dia terkejut juga dengan dirinya yang sensitif. Gadis itu menatap Olivia yang mematung. Dan bangkit berdiri meninggalkan nya.
"Maaf, gue gak bermaksud." Setelah mengucapkan itu, Audrey pergi keluar dan menutup pintu kamar. Di luar kamar Audrey lagi-lagi merasa bersalah, ini kedua kalinya dia membuat temannya pasti akan benci padanya.
Audrey memejamkan matanya, saat pintu kamar di belakangnya terbuka. "Segitunya gue di mata Lo, ya Drey? Padahal gue cuman khawatir, gue bener-bener serius, gue gak mau kehilangan sahabat gue!"
Audrey membalikkan tubuhnya menghadap Olivia, tatapan nya yang biasanya memang datar, kini diri nya sendiri merasakan emosional dari setiap kata perkata yang dikeluarkan Olivia.
'Believe or not?'
Hanya itu.
...☁️☁️☁️...
Audrey menyandarkan tubuhnya pada ayunan. Dia memang sadar, manusia di sini berbeda dengan mahluk di dunia asli. Pistanthrophobia. Sebenarnya, Audrey yang asli yang mempunyai riwayat fobia ini.
Dan Rasha tau akan hal itu, dia merasakan ketakutan yang sangat besar saat mencoba mempercayai orang. Entah apa yang membuat Audrey asli tidak memiliki kepercayaan seperti itu. Rasha bahkan tidak pernah menuliskan bahwa Audrey memiliki penyakit.
Ayunan itu bergoyang, tanda ada seseorang ikut menaikinya dan duduk di sebelah Audrey yang masih terpejam, tapi gadis itu sadar. Mata indahnya perlahan terbuka, dan menengok ke arah seseorang itu.
"Naiya.."
Iya, gadis di sampingnya adalah adiknya. "Ini minum kak. Siapa tau bisa nenangin hati kakak."
Audrey melihat gelas yang disodorkan, dan mengambilnya, tanpa meminumnya. Keheningan terjadi.
"Maaf."
Audrey menyernyit, "untuk?"
"Karena ngedenger kakak berantem sama kak Oliv."
Hei, mengapa dia mendengar kata maaf darinya? Padahal dia tidak peduli, kalau pertengkaran tadi didengar satu rumah. Bukannya tak peduli, sih. Tapi dia hanya tidak bisa berpikir matang.
Gadis itu mengusak rambut nya sendiri dengan gusar. Audrey menunduk menatap gelas di tangan nya, meneguknya sedikit. "Naiy, gue gakpapa tentang hal itu. Tapi gue bingung gimana caranya buat perbaikin hubungan gue sama Oliv, gue gak bermaksud untuk.."
"Kak, dari dulu bukannya kalian selalu begitu?"
__ADS_1
"Hah?"
Dirinya cengo. Tentu saja dia tak tau apapun, dia hanya memiliki ingatan dari tulisan novel buatan nya di dunia sana. Mana bisa dia tahu, masalah dahulu.
"Kalian, memang kadang kalian berantem, entah karena kakak yang keras kepala, atau kak Oliv. Tapi pada akhirnya mengalir seperti biasa lagi, baikan."
Audrey terkekeh, "ternyata kamu seperhatian itu sama gue."
Naiya panik, "apa? Nggak ya. Aku cuman biasa aja, kok. Kakak kegeeran."
Tersenyum dengan kecut, namun samar. "Iya deh. Umm.. makasih, Naiy. Aku mau masuk dulu," pamitnya meninggalkan Naiya yang menatap punggung nya dengan tatapan tak bisa diartikan saat mendengar Audrey bergumam.
"Oliv, Maureen. Mereka berdua temen aku, yang dalam satu hari udah aku bikin sedih. Hishh, gimana sih Rasha!"
Gumaman yang ia kira dapat didengar olehnya sendiri, namun ia tak tahu Naiya mendengar nya.
...☁️☁️☁️...
Kling...
Pintu cafe itu terbuka, dan pelanggan masuk dari pintu itu disusul suara ketukan suara sepatu kets miliknya.
"Ice Coffee Americano nya satu, minum di sini, Maureen," ujarnya sembari tersenyum menatap Maureen yang agak terkejut dengan kedatangan keduanya. Kemarin, lalu hari ini. Maureen kira gadis di depannya tidak akan membeli di sini lagi, setelah penolakan yang ia berikan untuk mengobrol.
"Baik, ditunggu, Audrey." Maureen mempersilahkan Audrey untuk duduk di bangku dekat bar.
"Jadi untuk apa Lo datang ke sini? Bukannya gue dah nolak ngobrol? Apalagi ngeliat sikap lo yang tiba-tiba berubah." Maureen tertawa sinis, sembari membuat kopi untuk Audrey. Dia tak mengerti, apa Audrey sesudah mulai mengenal dirinya siapa?
"Gue salah buat Lo sakit dengan kata-kata gue. Jujur, gue memang gak mengingat apa-apa selain gue itu udah terbaring di ranjang rumah sakit. Gue gak inget tentang keluarga gue, tentang Oliv, tentang.. Lo."
Maureen mendengarkan masih sembari membuat kopi kesukaan Rasha saat menenangkan diri karena tertekan akan deadline bukunya. Maureen tersenyum tipis dia tak akan melupakan itu
"I'm so sorry, Maureen. Aku akan berusaha ingat, atau kita bisa memulai nya dari awal."
Hadis itu, Audrey. Dia harus berusaha untuk mempercayai orang jangan phobia nya membuat dirinya semakin menjauhi kata percaya pada orang-orang.
"Ada syarat yang harus kamu lakukan, Audrey." Maureen tersenyum miring, menawarkan sesuatu yang tentu dapat menguntungkan bagi dia. Audrey menyernyit melihat Maureen yang malah mengajukan syarat. Sudah seperti mau membuat kartu tanda penduduk syaratnya perlu 17 tahun untuk bisa membuat kartu itu.
"Jika aku bisa, maka akan aku coba."
Mereka jadi terbiasa berbicara dengan aku-kamuan berdua. Maureen memberikan se-gelas Ice Coffee Americano di meja bar tepat depan Audrey. Tubuhnya dicondongkan ke depan, untuk berbicara dengan jelas pada gadis di depannya.
"Aku mau—"
...☁️☁️☁️...
__ADS_1
BERSAMBUNG..