Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
17. Seseorang?


__ADS_3

Entah tetesan keberapa yang dikeluarkan kulit nya, hingga dirinya seperti orang dehidrasi. Gimana gak, dia sendirian di suruh bersihin lapangan luar yang segede itu. Napasnya saja sudah terengah-engah.


"Wih, dah bersih nih."


Dengan wajah tak bersalah pemuda yang menyebalkan itu datang. Melihat wajah cemberut dari cewek nyebelin yang sudah disampirkan olehnya pada seseorang di depannya.


"Makanya, kalau sakit jangan lari lagi dari UKS. Jadi gue anggap Lo udh sembuh."


"Penyiksaan ini namanya!" Seru Audrey dengan manyun. Aih, tau gini dia harusnya berpura-pura lemah, tapi dia tidak suka jadi perempuan lemah. Serba salah sih. Yang ada dua-duanya juga tetap kena.


"Salah sendiri," ejeknya, membuat Audrey tambah naik pitam. Audrey meninggalkan laki-laki itu, dengan sapu yang sudah di taruh di lapangan. Lagipula lapangannya sudah bersih.


"Cih, lain kali kalau ketemu lagi gue timpuk pak paku Thor aja tuh muka, nyebelin banget," gumam Audrey. Tebakkannya ini sudah bel istirahat, ya iya lah, karena para murid bergegas keluar dari kelas.


"Audrey," panggil seseorang, dengan suara serak dan berat darinya. Dia memutar bola matanya malas, harus sama siapa lagi dia berurusan, dia perlu makan dan minum, tahu gak sih! "Lo gak mungkin gak denger panggilan gue 'kan, Drey?'


Laki-laki di belakang nya dengan kasar menarik bahu nya untuk menatap wajahnya. "Arvino," geram gadis itu karena perbuatan kasar itu.


Laki-laki itu terkekeh seram, "Lo tau, semua yang Lo buat gak bakal mempan buat gue berbalik suka sama Lo. Mau Lo jauhin gue, mau Lo deket sama cowok cupu si ketos itu, gue gak peduli!"


Hei, apa secara tidak langsung laki-laki di depannya itu cemburu, dan sangat memperhatikan gerak-gerik dirinya dari kemarin. Lalu gadis itu menyeringai lebar, "cemburu kagak, tapi ternyata tau ya apa aja yang gue lakuin. Jangan-jangan Lo stalker ya? Idih, freak!"


Laki-laki itu menahan napasnya, marah besar karena sudah di hina oleh Audrey. Cengkraman tangannya mengerat di bahu Audrey, membuat Audrey mengambil tangan itu, tapi ternyata dari belakang Arvino, ada yang menarik kerahnya dan menarik laki-laki itu menjauh dari Audrey.


"Eits! Ngapain nih? Pembullyan ya?" Dengan nada tengil ketua OSIS yang tadi menghukum Audrey berbicara seperti itu. Orang-orang sekeliling melihat drama mereka.


Arvino menghentak kasar lengan dia. "Jangan sentuh gue, sialan!"


"Wowowo, santai bro." Elfarick pelakunya terkekeh geli melihat wajah marah dari Arvino.


Arvino menatap tajam gadis itu setelah Elfarick membuatnya geram, "Lo bakal terima akibatnya!"


Dengan sekejap pergi meninggalkan kerumunan. "Siapa takut, gue gak pernah takut sama manusia, sama sama makan nasi kok," gumam Audrey.


"Heh! Bubar! Bubar! Ngapain ngumpul di sini!" Elfarick berteriak dengan tegas.


..._____...


Audrey masuk ke dalam kantin, dia berpikir, sepertinya melupakan sesuatu namun apa? Dia duduk di salah satu kursi setelah memesan makanan, kelelahan karena sudah mengalami jam-jam yang panjang hari ini.


"Woi! Drey. Lo dari mana dah?"

__ADS_1


Nah benar, itu mereka. Audrey terlalu lelah sampai melupakan mereka berdua. Audrey cengengesan menatap keduanya yang sudah duduk di depannya. Berdengus sebal menatap dirinya.


"Sorry. Tadi gue kena hukum, terus langsung kesini." Sambil bertopang dagu, menatap keduanya.


"Alasan," gumam Olivia memalingkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya. Audrey tersenyum.


"Oliv, ada serangga di hidung lu," ujarnya tiba-tiba. Olivia membelalakkan matanya dan panik.


"Mana Oi! Mana!" Sembari menepak-nepak hidungnya. Membuat Audrey, dan Maureen tertawa.


"Just kidding, babe." Sontak hal itu membuat wajah Olivia memerah.


"Ugh, i hate you, Drey." Olivia berdiri pergi dari sana. Membuat keduanya terpaku. Padahal dirinya berniat untuk bercanda, dan ingin membuat sosok gadis itu tidak kaku atau datar lagi.


"Drey, Lo tau apa yang gue pikirin?" Pertanyaan Maureen membuat Audrey mengangguk dan menghela nafasnya.


"Gue gak tau dia ternyata belum maafin gue." Audrey menatap punggung Olivia yang sudah menghilang dari pandangannya. "Gue mau susul bentar ya," pamit Audrey pada Maureen.


Maureen mengangguk, "iyep. Baikan sana!"


..._____...


Olivia berpikir, sejak kecelakaan itu sahabatnya agak berubah. Dulu yang tak pernah membentaknya, tak membuat dirinya takut, lalu selalu saling berbagi cerita tentang suka dan duka.


"Lo benci banget kan sama Audrey? Sama, gue juga." Pernyataan itu, apa-apaan. Dia tak benar-benar menyatakan kebencian ada Audrey. Dia tak pernah membenci dirinya. Tapi kenapa mulutnya tak menolak kata-kata orang di sebelahnya.


"Dia itu manipulatif, Oliv. Dia egois. Dia memanfaatkan kata-kata amnesia itu, untuk menutupi fakta bahwa dirinya adalah mahluk keji. Dia bakal memperbaiki sikapnya pada semua orang, membuat semua orang mendekati nya. Dengan begitu, sifat nya yang 'fake' itu, bisa buat Lo dilupain dia. Karena Lo gak bakal berguna lagi, Oliv."


Olivia tertegun, sejenak perasaan nya gelisah. Namun sadar, bahwa sosok yang di sampingnya mencoba mempengaruhinya. Mata nya dicoba untuk terbuka. Tapi sebelum pergerakan itu kata-kata terakhir sosok itu membuatnya menegang.


"Terlebih lagi, Lo orang yang dia benci dulu. Dan Lo juga memanfaatkan amnesia itu," tawa orang itu, dan seiring mata nya terbuka melihat sekeliling, sosok itu sudah pergi, lihatlah punggung itu dibalik dinding.


Olivia jadi benar-benar memikirkan sesuatu itu. Tangan nya mengepal kuat.


..._____...


Dugh..


Pundak mereka bertabrakan. Membuat gadis itu meminta maaf, karena dirinya terburu-buru.


"Eh, maaf, maaf—" Audrey mendongak menatap seseorang yang ditabraknya. Raden Shaka Brawijaya, laki-laki di depannya sudah lama tak dilihat olehnya. Laki-laki itu tersenyum cerah.

__ADS_1


"Gak papa! Oh iya kita ketemu lagi, jangan-jangan kita jodoh, Drey!"


Audrey terkekeh terpaksa, menggaruk tengkuknya. "Gue duluan ya. Gue lagi ada urusan."


Rasanya dirinya ingin pergi cepat-cepat dari sosok Raden ini. Entahlah mungkin perasaan nya saja, tapi dirinya merasa selalu dalam bahaya di dekat laki-laki ini, karena statusnya yang antagonis di dalam novelnya. Walaupun sebagian besar, ah bukan, kebanyakan cerita dia terlihat sangat, super super berbeda.


"Ah, iya." Tapi sepertinya tidak di dengar Audrey, karena gadis itu telah meninggalkan nya sebelum dia menjawab. Raden menatap polos angin yang menghembusnya.


"Angin datang kasih kabar~" Senandung nya melangkahkan kakinya kembali.


..._____...


Audrey lega akhirnya terlepas dari pembicaraan dengan Raden. Dan kakinya justru membawa raganya datang ke taman, menyaksikan Olivia yang tengah menunduk.


"Oliv," panggilnya. Membuat Olivia mendongak dan menoleh padanya, seperti biasa menatap dirinya datar selalu. "Maaf, gue cuman mau mencoba bercanda sama Lo."


"Bercandaan Lo basi tau gak. Lo gak lupa apa gimana?! Gue paling gak suka serangga, Drey!" Bentak Olivia dengan kasar. Olivia mengusak rambut nya ke belakang, napas nya seperti menahan tangisnya.


"Kan, gue amnesia," cicit Audrey. Olivia menatap geram, dia jadi ingat pernyataan dari sosok misterius itu, bahwa sahabatnya hanya memakai amnesia nya untuk kepentingan tersendiri.


"Amnesia, amnesia, amnesia! Itu mulu. Oh atau Lo cuman pura-pura amnesia, hah? Lo egois tau gak!" Olivia berdiri, sembari mengatakan itu. Membuat Audrey terperangah.


Ia tau lambat laun, Olivia akan melakukan ini. Dapat dilihat dari wajahnya yang keras. Audrey jadi penasaran apa sebenarnya isi pikiran dari orang di depannya ini. Dia tak mau cari masalah, tapi entah kenapa masalah yang mendatangi dirinya.


Audrey menatap datar Olivia, "Liv, aku minta maaf, kalau perlakuan aku kemarin ngebentak kamu dan tadi ngebuat kamu takut. Tapi kalau kamu memang sahabat aku, kamu gak akan berpikir kalau gue lakuin hal sejahat itu."


"Gue gak tau apa yang mempengaruhi lo. Tapi fobia gue selalu menuntut gue, untuk menjadi orang yang trust issue ke semua orang. Kalau Lo setau itu tentang gue, Lo pasti tau hal itu!"


Kosakata perkata-nya berubah, dia sudah geram. Kalau memang benar-benar sahabat, seorang sahabat akan tetap mempercayainya bagaimana pun itu, seorang sahabat akan selalu disisinya apapun yang terjadi. Audrey sadar, sahabatnya semasa dirinya menjadi Rasha, selalu ada buat nya, pasti sudah tahu seluk-beluk kehidupan nya.


Tapi dia tidak bisa menyamakan orang dengan yang lain. Semua manusia punya perbedaan nya tersendiri.


"Sorry, kalau semua yang gue lakukan atau omongin, menyinggung Lo."


Audrey mau pergi, namun terhenti saat Olivia menjawab semuanya.


"Gue benci Lo berpaling dari gue, Drey. Sahabat macam mana yang gak pernah bilang kesakitan nya ke sahabatnya. Dan apa tadi lo bilang? Gue gak tau kalau Lo punya masalah tentang trust issue? Bahkan Lo gak pernah jelasin hal itu ke gue."


"Karena dulu, memang gue bukan sahabat yang baik buat Lo, Drey." Batin Olivia meneteskan air matanya.


..._____...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2