
Audrey sekolah setelah beristirahat di rumah selama dua atau tiga hari kemarin. Seperti di novel buatannya, dia akan berangkat sendiri, menaiki sebuah bus, karena tidak ada yang mau berangkat bersama nya.
Mario, sepupunya diajak pulang oleh orang tuanya, dan tidak mengijinkan pemuda itu pergi bersama Audrey. Sedihnya.
Olivia? Jangan ditanyakan. Gadis itu pergi subuh-subuh, karena ada kegiatan OSIS. Audrey sadar, dirinya tidak akan bisa bangun pagi, karena rasanya ingin balas dendam dengan tertidur sampai puas.
Audrey memasangkan earphone nya ke telinga. Setidaknya kemarin malam dia menanyakan pada sang 'sahabat' nama sekolahnya yang sekarang, walaupun ditatap aneh oleh gadis yang dia tanyakan.
"Alone. Always Alone~"
Gadis itu menyanyikan lagu yang didengarnya, lalu mengganti lirik dengan alone. Bus yang ditumpanginya berhenti di salah satu halte, matanya melihat sesosok pemuda jangkung yang masuk.
Penampilan nya tidak asing, seperti pernah dirinya lihat. Ah, iya. Waktu pertama kali membuka aplikasi bernama Instagram, di mobilnya Olivia. Pemuda dengan slow-motion keluar dari kolam renang.
"Maaf, permisi. Apa kursi di sebelah Lo kosong? Tempat lain penuh soalnya," tanya pemuda itu dengan ramah, senyuman menghiasi wajahnya.
Pupil mata Audrey membulat, matanya mengerjap pelan. Pemuda itu menghampiri tempat duduknya. Dia memperhatikan baju yang dipakai pemuda itu, sama seperti nya.
"Oh, boleh. Silahkan."
Canggung di dekat seseorang yang tidak dirinya kenal. Audrey hanya bisa menatap keluar jendela, dengan earphone yang masih terpasang, suaranya tidak terlalu keras, makanya dia masih bisa mendengar dengan jelas, sapaan pemuda tadi.
"Hei. Kita dari sekolah yang sama rupanya! Kenalin, nama gue Raden Shaka Brawijaya. Kalau Lo siapa?" Tangannya terulur untuk bersalaman.
DEG!
Jadi pemuda yang di depannya, adalah Raden. Antagonis laki-laki yang mengejar Naiya, tapi setelah tahu kalau gadis itu penyakitan membuat nya jijik, dan berbalik membenci Naiya.
Menganggap Naiya akan menjadi bebannya jika sakit itu kambuh. Hanya Arvino seorang lah yang menerima Naiya apa adanya, maka dibuat judul novel Nothing Like You.
Tidak ada yang seperti Arvino, yang menerima Naiya apa adanya. Merawat dan menjaganya, tanpa lelah. Dengan tulus dari hati yang paling dalam.
"Kalau Lo nama nya siapa?" Tanya pemuda itu lagi, ketika Audrey terlihat melamun. Tangan gadis itu menyambut salaman Raden.
"Aku Audrey, maksud gue, gue Audrey Helena Mahendra. Panggi aja, Audrey."
__ADS_1
Raden tersenyum senang. "Yeay, gue punya temen baru. Soalnya gue baru pindah ke SMA Rajawali, tapi bukan Rajawali Televisi."
Audrey hanya tersenyum canggung menanggapi pemuda yang ternyata cukup konyol kelakuannya.
...☁️☁️☁️...
Gadis itu berjalan masuk ke dalam sekolah barunya. Setelah turun dan meninggalkan Raden yang selalu mengoceh tidak jelas, dan sekarang beginilah nasibnya.
"Ini, kelas gue dimana dah?" Gumam Audrey.
"Tas."
Audrey menoleh ke samping saat ada tangan mengenadah di depannya. Olivia, gadis itu 'kan OSIS, benar hari ini jadwalnya dia akan melakukan pemeriksaan setiap tas murid-murid yang akan masuk ke sekolah.
Audrey dengan enggan memberikan tasnya, bukan apa, hanya saja tas adalah barang privasi. Sikap Olivia ini seperti sahabat nya, Marsya waktu menjadi Rasha.
Datar, tapi perhatian. Dan, itu yang membuatnya risih, kenapa? Karena saking miripnya, membuatnya selalu rindu pada sahabatnya. Audrey menghela nafasnya.
"Aman. Nih," ucap Olivia sembari tersenyum tipis. Audrey mengangguk dan membalas dengan senyuman.
"Oliv. G.. gue mau nanya, kelas gue dimana ya?" Tanya Audrey dengan nada kecil hampir seperti berbisik, agar tidak terdengar orang.
Audrey terkekeh. "Sorry, gue lupa. Ya udah gue pergi dulu ya."
Audrey langsung berjalan dengan cepat meninggalkan Olivia yang masih memandang nya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo, beda, Drey."
...☁️☁️☁️...
Gadis itu berdengus, kini yang membuatnya bingung adalah dimana tempat duduknya. Dengan gusar dia duduk di kursi dekat lapangan, masih menenteng tasnya.
"Susah nih, memang gue yang buat semua tentang ini. Tapi, kan gak ada sama sekali di benak gue tentang bentukan rumah lah, bentukan kelas, bentukan sekolah," sungut Audrey.
Matanya melihat berapa anak laki-laki yang sedang bermain basket di lapangan depannya. Salah satunya dia kenal, ya, siapa lagi kalau bukan, protagonis pria dalam novelnya, Arvino.
__ADS_1
HAP!
Lemparan basket itu melenceng, hampir mengenainya, tapi untung dirinya menangkap basket itu. Berdiri dengan gusar, menatap orang yang mendekatinya.
"Lo bisa main gak sih?!" Audrey melempar kembali basket itu dengan keras ke arah pemuda itu.
Arvino. Pemuda itu menatap sinis gadis di depannya. Meremas basket yang sekarang di tangannya.
"Lo, ngapain di sini? Bukannya Lo yang cari perhatian ke gue, ya?" Dengan sok pede, Arvino berkata begitu, tapi tatapannya masih datar. Gigi pemuda itu bergemelatuk, melihat Audrey yang tampak tenang.
"Gue, disini? Caper ke Lo? Iyuhh, mendingan gue caper ke oppa oppa Korea daripada Lo, yang masih kalah jauh dari Jungkook, terus Jin, pokoknya semua member grup deh. Lu lebih burik, jelek!" Seru Audrey dengan sinis.
Mata Arvino membelalak. "Heh. Cewek freak Lo! Siapa itu jongkok, terus jin. Mau cosplay jadi dukun Lo?!"
Lah, kok malah dia yang sewot. Hancur image pemuda itu, yang datar, dan dingin. Pusing, lama-lama berurusan dengan Audrey.
"Lo beda, Drey." Gumam Arvino, pemuda itu memijit pangkal hidung nya. Lalu, berbalik menjauhi Audrey, memulai kembali permainan basket bersama yang lainnya.
Gadis yang ditinggal hanya mendengus kesal, dan mencak-mencak di pinggir lapangan. Menggaruk kepalanya, "ini kelas aku ke mana?" Bibir nya mengerut.
"Gue cariin, ternyata Lo di sini. Udah gue duga sih, pasti cowok itu."
Suara itu, milik Olivia. Dengan mata berbinar, dirinya menoleh dengan semangat, ingin cepat-cepat pergi ke kelas, dan tiduran. Ngantuk, lelah, letih, bercampur jadi satu.
Olivia menatap sinis para pemuda yang berkeringat di tengah lapangan sana. Tangannya menarik Audrey untuk ikut bersamanya. Untung Audrey berhasil menggapai tasnya, kalau tidak pasti tertinggal.
"Eh, mau ke mana kita? Gue mau ke kelas!" Rengek Audrey. Olivia mengajaknya ke belakang sekolah, tempat taman berada.
"Lo, gak pernah ya, sekali aja jangan dekat-dekat Arvino. Gue itu udah gak bisa nahan amarah, kalau dia sampe nyakitin Lo!" Olivia sepertinya sangat tertekan akan kelakuan Audrey selama ini.
Audrey hanya menatap polos Olivia, sebenarnya bukan polos hanya saja, wajah Olivia terlihat berbeda. Kali ini, raut nya begitu tulus menasehatinya. Apa gadis ini dapat dipercaya?
"Gue, gak akan lagi ngejar-ngejar cowok anjing kek dia kok, Liv. Pegang kata-kata gue, atau kalau gue mungkin melenceng dari tujuan gue," jelas Audrey.
"Karena tujuan gue sekarang adalah, hidup dengan tenang tanpa ada gangguan dari mereka," lanjutnya.
__ADS_1
...☁️☁️☁️...
BERSAMBUNG...