Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
3. Pengganggu Datang


__ADS_3

Naiya benar-benar terkena serangan berkali-kali lipat, hari ini perubahan Audrey sangat menajam. Dia ragu, mungkin masih tidak bisa menerima maaf kakaknya, tapi dia Audrey, kakaknya!


Tidak mungkin dia tidak memaafkan nya, walau mungkin dia memaafkan Audrey, nantinya tetap tidak akan terlalu dekat seperti dulu. Kalau dulu, kakaknya malah selalu ada di sampingnya, bahkan selalu melindungi nya dari amukan orang tua mereka.


Kalau ingat hal itu, Naiya kadang terkekeh sendiri, betapa dekatnya dulu mereka. Audrey tersenyum lirih pada Naiya, dia tahu pasti kalau Naiya ragu untuk perkataannya. Ragu untuk percaya padanya lagi.


"Aku hanya mau mengatakan itu. Mungkin saat ini, kamu belum memaafkan ku, tapi aku akan bertindak yang seharusnya aku lakukan dulu." Jelas Audrey.


"Aku hanya perlu tindakan sebagai bukti kak, gak lebih." Jawab Naiya.


"Maka itu yang kamu dapat kan." Audrey tersenyum.


Kisah nya yang sekarang, baru saja dimulai. Dan dia akan menentukan sendiri masa depan nya, masa bodoh jika semua yang dilakukan hanya dapat merubah semua alur cerita.


Audrey akan menjadi pribadi yang lebih baik. Rasha akan menjadi masa lalu, yang tak akan pernah dilupa. Apalagi masa lalu nya dengan orang-orang yang disayanginya.


Rindu. Memang. Semoga dia juga bisa bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya kembali. Audrey menghela nafasnya, canggung. Dia membenarkan posisi tidur nya.


"Aku mau istirahat dulu ya." Audrey dengan cepat menutup matanya, menggenggam erat seprai dibalik selimut. Naiya tidak menjawab, hanya anggukan sebagai respon, tak lama tertidur masih dengan posisi duduknya.


...☁️☁️☁️...


Naiya membuka matanya karena sinar matahari menerpa wajah nya. Lalu terbangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya, yang terasa pegal. Namun, saat nyawa sudah terkumpul, Naiya terbelalak.


Kenapa dia sudah di atas sofa. Dimana Audrey? Siapa yang memindahkan dia ke sofa, tidak mungkin kan kalau dia tidur berjalan. Dan tidak mungkin Audrey mengangkat nya, perempuan itu kan baru saja siuman kemarin.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian nya, dan menatap cengo pada kakaknya. Kakak nya itu sedang berjalan masuk ke dalam kamar menggunakan kursi roda, dibantu dengan suster.


"Kak." Panggil nya, membuat Audrey menoleh padanya. Dan menaikan sebelah alisnya.


"Da.. dari mana?"


"Dokter baru saja membantu ku untuk terapi kaki aku," ujar Audrey.

__ADS_1


"Lalu, siapa yang mindahin aku?" Tanya Naiya dengan heran.


"Arvino. Tadi datang buat ajak kamu pulang, tapi kamu masih tidur, jadi dia keluar lagi, gak tau lagi abis itu." Jelas Audrey dengan santai. Suster membawanya ke samping tempat tidur, dan membantunya untuk berdiri, lalu mendudukkan dirinya di atas nya.


Naiya mengangguk singkat setelah mendengar itu. Arvino, laki-laki itu adalah orang yang sudah membuat hubungan ia dan kakak nya hancur. Dia tidak suka dengan pemuda itu, rasanya terkekang.


Apalagi sewaktu di sekolah, kekuasaan pemuda itu membuatnya terpaksa selalu bersama nya. Dan menjadi pacarnya pun juga hasil paksaan. Arvino adalah laki-laki pemaksa, itu intinya. Uh, posesif.


Suster yang membantu Audrey pamit keluar dari kamar rawat Audrey. Tak lama suara pintu kembali terbuka, menampakkan seorang laki-laki bertubuh tinggi dan dengan wajah datar masuk.


"Arvino." Desis Naiya yang melihat Arvino melangkah ke arahnya. Audrey hanya mengendikkan bahunya, tidak ikut campur lagi dengan orang yang bernama Arvino itu.


Sudah cukup Audrey selalu dicampakkan oleh nya. Audrey sudah dibutakan dengan cinta, yang terlalu dalam ke Arvino. Jadi Rasha bisa dengan mudah memutar balikkan keadaan, jika Arvino mengganggu lagi.


"Yaya, pulang." Ajak Arvino dengan dingin. Mata Arvino menatap tajam pada Naiya, karena gadis yang ada di depannya selalu susah diatur, jika berkaitan dengan Audrey, kakak nya.


"Gue gak mau, Vino." Ujar Naiya dengan sinis, sembari membalas tatapan itu. Audrey mengalihkan pandangannya dari handphone yang dipegang ke Naiya.


"Wah. Adek aku bisa ngelawan si iblis ternyata." Batinnya. Audrey hanya tersenyum miring menikmati pemandangan di depannya, drama sudah dimulai hari ini, hari kedua dia berada di dunia novel ini.


"Lah. Anjir, kasar banget nih cowok." Hilang sudah keformalan dirinya selama ini, melihat adiknya meringis merasakan sakit karena dipaksa seperti itu.


Audrey mencoba turun dari ranjang, berjalan dengan perlahan. Lumayan susah untuk melangkah, kakinya masih mati rasa. Cih, separah apa kecelakaan nya, sampai kakinya seperti ini.


Naiya sudah ditarik ke arah pintu, Arvino sama sekali tidak terhalangi, walaupun gadis yang ditarik memberontak.


"Orang tua mu yang menyuruh ku untuk memaksa kamu pulang, jangan dekat-dekat sama perempuan ular itu. Jangan membantah!" Bentak Arvino dengan nada rendah nya.


Audrey menggeram, dan mengepalkan tangannya. Kaki nya tidak terasa terus melangkah dan menarik tangan Arvino untuk menjauhi Naiya. Naiya disembunyikan di balik punggung Audrey.


"Kasar banget jadi cowok!"


Arvino menatap tajam Audrey. Apa-apaan gadis ini, biasanya dia tidak pernah membentak dirinya, apapun yang dia lakukan. Yang Audrey lakukan hanya mengejar, mengejar, dan mengejar cinta nya pada Arvino.

__ADS_1


Arvino tersenyum jengkel. "Wah, apaan nih, Lo belain adek Lo. Gak biasa," celetuk Arvino.


"Biasa nya Lo malah jijik deket adek Lo, ini malah gak ya." Lanjut Arvino sembari berpangku tangan, dan menatap sinis Audrey.


Audrey memutarkan bola matanya malas. Sudah. Dirinya tidak bisa berkata dengan formal, seperti kebiasaannya menjadi Rasha. "Hello.. ini hidup-hidup nya gue, kok Lo ngurus banget."


Rasha sangat diajarkan sopan santun oleh Om dan Tante nya dulu, dan diajarkan tata krama. Tapi sebagai Audrey sekarang, dia hanya akan menjadi dirinya sendiri. Rasha yang dulu bukan dirinya sebenarnya.


Rasha hanya mengikuti aturan dari orang-orang yang telah merawat nya. Dan begitulah cara ia membalas budinya.


Naiya hanya diam, lalu membuka suara. Dan menggenggam baju pasien kakaknya. "Udah kak. Gak usah diladenin cowok kayak dia."


Audrey melirik Naiya, dengan cepat melepaskan genggaman tangannya. "Arvino. Mulai saat ini, jangan ganggu hidup gue, atau pun hidup adek gue!"


Arvino menyeringai. "Kenapa? Lo iri ya, kalau adek Lo bisa akrab banget sama gue. Tapi ke Lo kagak, Cih. Cewek murahan." balas Arvino dengan nada mengejek.


"Eh, jaga omongan Lo. Mulut lemes banget jadi cowok! Lo tuh gak pantes buat adek gue, adek gue terlalu baik buat cowok buaya kek Lo."


Mereka beradu mulut. Membuat Naiya jengah, hancur sudah moodnya hari ini. Ini semua gara-gara laki-laki yang ada di depan kakaknya itu.


"Arvino! Cukup! Lo mending keluar, kakak gue butuh istirahat!" Usir Naiya dengan tegas.


Arvino mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan marah. Tangannya terangkat.


BUGH!


Dinding yang ada di samping pemuda itu, retak hanya sekali pukulan.


"Untung bukan wajah kalian, yang ada di sini. Liat aja kalian berdua, di sekolah nanti."


Arvino pergi dan keluar dari ruangan rawat itu. Meninggalkan Naiya yang termangu, dan Audrey yang biasa saja. Yah, karena memang sikap Arvino digambarkan dia sebagai orang yang keras, dan pemaksa.


"Pengganggu, padahal gue pengen rebahan." Batin Audrey.

__ADS_1


...☁️☁️☁️...


BERSAMBUNG...


__ADS_2