Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
21. Bawah Sadar


__ADS_3

Audrey bertanya-tanya apa itu tadi? Kenapa Maureen bisa tahu ada sosok itu bersama dirinya? Apa sebenarnya orang-orang sebenarnya melihat sosok itu, atau tidak?


Audrey memberengut, membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang menerpa penglihatannya. Dia melirik ke kiri dan kanan. Dan sebelah kanannya ada Maureen yang menatap khawatir.


"Drey, akhirnya Lo sadar." Maureen berkata lega seperti itu sembari menggenggam erat tangan Audrey. Audrey membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu.


"Lo.. tau ada sosok itu dari kapan?" Tanya Audrey, sembari berusaha bangun dari tidur nya dibantu Maureen.


"Eh.. buset langsung digas," canda Maureen terkekeh kaku, menggaruk tengkuknya. Audrey menatap serius dirinya membuat semakin gugup gadis yang sedang berdiri di samping brankar nya.


"Jawab aja, Ren."


Maureen berdeham, menarik napas untuk menjelaskan sesuatu hal yang Audrey ingin tahu informasi nya. "Jadi.. Lo dengar 'kan, kalau sosok itu selalu berusaha ambil simpati Lo, agar kalian bisa ngobrol lebih lama, dan dia bisa menjelaskan maksudnya dia sebenarnya, kenapa berusaha dia ambil energi Lo untuk bertahan hidup, untukโ€”"


"Tu.. tunggu tunggu. Stop! Lo bisa jelasin satu-satu? Gue.. gak ngerti, kenapa dia coba pengaruhi gue?"


Maureen memegang bahu Audrey, menatap matanya tajam. "Dia pengaruhi Lo, agar bisa memperbaiki alurnya ke jalur yang sebenarnya. Dia.. berusaha supaya bisa ngorbanin dirinya, agar adiknya gak sakit terus. Sakit yang diderita Naiya, harusnya bisa hilang!"


Sembari melepaskan tangannya dari bahu gadis itu, "Walau gue tau, Lo gak mungkin mau menjalankan alur ini, karena pada akhirnya selalu Audrey yang menderita. Lo mau ubah alur itu demi kenyamanan Lo, dan demi membuat semuanya baik-baik aja. Tapi gue yakin, itu gak semudah itu, Drey."


Audrey terdiam. "Gue cuman mau ubah semuanya jadi lebih baik lagi." Gumamnya dengan kata-kata tanya itu.


"Lo.. bisa langsung ngobrol sama Audrey yang asli, gue bantu lo."


"Caranya?"


"Tutup mata Lo, dan tidurlah. Kegelapan di dalam sana kn menghantarkan mu pada sosok itu, aku akan menjaga mu disini."


Audrey terdiam. Dia tak mungkin percaya begitu saja. Tapi dia mencobanya, menutup mata. Maureen menjaganya dari luar bawah sadarnya. Perlahan kesadaran Audrey menghilang, lalu menuju alam bawah sadarnya.


..._____...


Trek..


Pria yang sedang terduduk di depan komputer nya langsung menatap orang yang baru saja memberikan kertas-kertas yang sudah disatukan dengan klip itu.


Pria yang duduk itu membetulkan kacamata nya, lalu mengambil kertas-kertas itu, dan membaca nya.


"Ada perkembangan tentang kasus ini, Ray?"


Orang itu menaikkan sebelah alisnya, "Just read those papers, sir."

__ADS_1


Pria itu terkekeh dan membacanya, setiap katanya membuatnya menyernyitkan dahi nya heran. "Kenapa kita mendapatkan kasus aneh, Ray?"


"Saya tidak tahu, Sir. Tapi atasan sudah memerintahkan hal ini pada kita, sir Alex."


Pria yang disebut Alex itu memijit pelipisnya. "Jelaskan saja intinya, Ray!"


"Setelah tabrakan terjadi, korban dinyatakan meninggal, tapi ada hal janggal dari semua itu. Korban memang dinyatakan meninggal tapi rekap medis yang sudah kami periksa tidak ada tanda pemeriksaan pada korban. Dan kemungkinan besar semua itu juga berkaitan dengan hilangnya teman korban. Kami telah membuka handphone korban dan melihat log telepon terakhirnya dengan temannya yang menghilang."


Alex membolak-balikkan halaman kertas-kertas tersebut sembari mendengarkan penjelasan dari Ray. "Hm. Baiklah terima kasih informasinya, Ray. Jadi maksud dari semua itu apakah kemungkinan besar kecelakaan itu bisa saja disengaja, dan pelaku nya adalah teman korban?"


"Mohon maaf, tapi ada tambahan, Sir Alex. Kami juga sudah memeriksa rumah dari teman korban, dan yang kami temukan hanyalah foto figura korban dengan temannya tergeletak di tengah kasur. Dan rumah tersebut terlihat sudah tidak terurus. Dipastikan hilangnya teman korban, disaat korban dimakamkan."


Alex berdiri dan menaruh kertas-kertas tersebut di meja. Kakinya melangkah ke dekat jendela dan melihat luar. Memasukkan ke dua tangannya ke saku, dan memejamkan matanya.


"Ya. Saya sudah mendengar itu. Korban telah dinyatakan tewas dalam kejadian tapi setelah membuat surat persetujuan untuk membuka kuburan korban dan disetujui oleh keluarga korban, semua tersebut aneh!"


Ray berdiri tegap, seperti tahu apa jawaban dari pernyataan dari Sir Alex. "Kuburan itu kosong."


Alex mengangguk, dan membalikkan badannya menatap Ray, "bisa dibilang lebih spesifiknya, ini semua sudah direncanakan."


Ray melirik kertas tersebut menatap nama korban yang tertera, dan meneguk ludah sendiri. Misteri apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa ada mayat hidup kembali?


'Rasha Aileen Theodora'


...๐Ÿ’ค๐Ÿ’ค๐Ÿ’ค...


"Audrey! Woi! Keluar lu! Kita harus bicara empat mata!"


ZHAAA..


"Akhirnya, Lo nyari gue juga, Sha."


Dirinya terhenti dari langkah nya setelah mendengar ada yang berbicara. Sosok itu ada bersamanya saat ini.


"Drey, kenapa Lo selalu ganggu gue sih?"


"Sha.. Sha.. kan gue udah bilang gue itu mau kasih kamu clue, tapi tepatnya gue mau balasannya. Ya.. syarat nya lah. Sama sama untung kita."


Rasha menyernyit, "cepat bilang Lo mau apa?"


Suara kekehan menyambutnya dari sebelah kirinya. Derap langkah sosok itu terdengar. Jadi, selama ini dia menyentuh tanah? Okeh, cukup tahu tak usah tempe.

__ADS_1


"Gue cuman mau, Lo perbaiki semuanya. Alur yang Lo buat, dengan apa yang Lo jalani sekarang gak sesuai!"


Rasha mengepalkan tangannya, menatap sosok yang mulai terbentuk sempurna itu.


"Gue.. bingung. Kenapa Lo segitunya mau buat semuanya berjalan sesuai alur? Padahal niat gue baik, cuman mau bikin kehidupan Lo jadi lebih baik lagi, Drey!"


"Gue tau itu! Tapi kalau alurnya hancur... kalau semua itu hancur dan tidak sesuai lagi." Audrey berlutut, menatap telapak tangan nya. "Naiya.. tidak akan bisa sembuh."


Rasha melotot dan tertawa tak percaya mendengar itu. "Lo buat gue masuk tubuh Lo, karena Lo gak sempat bilang kalau Lo mau Naiya sembuh memakai organ tubuh Lo kan?"


Rasha mengusak rambut nya, "Lo bodoh apa gimana? Lo terlalu menuruti kata ayah Lo. Lo terlalu baik dan memanjakan Naiya, walau itu semua gak Lo tunjukin dengan membuat kerusuhan yang membuat Naiya pada akhirnya membenci kakaknya sendiri. Ada apa sebenarnya ini?!"


Audrey menunduk memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya, "gue gak bisa ninggalin adik kecil gue yang rapih itu dengan orang-orang jahat itu. Gue gak mau mati sia-sia tanpa buat dia bahagia. Tapi ternyata dengan begitu juga gak semudah yang gue bayangkan. Ayah semakin menjadi, mama.. dia bukanlah orang yang bisa dipercaya. Gue cuman percaya Naiya, adik gue yang gak pernah mau dengar dan percaya pada kakaknya."


Rasha terdiam. "Lo marah karena adik Lo gak percaya Lo? Tapi masih peduli? Dan kemudian lebih baik Lo diam dan mengikuti semua perintah orangtua bajingan Lo? Dan juga biarin Naiya menderita karena itu?"


Audrey mendongak tersenyum tipis, "gue cuman mau menunjukkan kalau kakaknya selalu ada di sisinya. Tapi dia gak bisa liat itu, Sha."


Sosok itu mulai dikelilingi oleh asap-asap hitam, dengan angin keras yang menerpa keduanya. Membuat Rasha terasa tubuhnya lama-lama tertarik ke arah lain dari sosok Audrey yang mulai tak terkendali.


"Mereka jahat sama kami, Sha. Tolong, tolong bantu gue selesaikan semuanya!!" Teriakan itu terakhir yang didengar nya, sebelum dia menghilang dari tempat alam bawah sadarnya itu.


...๐Ÿ’ค๐Ÿ’ค๐Ÿ’ค...


Maureen terkejut melihat badan Audrey yang menggelinjang gelisah. Dia mencoba membangunkan Audrey yang kejang-kejang dan bergumam tak jelas.


"AUDREY! BANGUN!" Maureen dengan sengaja memukul dahi gadis itu, membuat gadis itu tersadar dan mengaduh sakit karena dahinya dipukul cukup keras oleh Maureen.


"Woilah! Ngadi-ngadi Lo ya. Main mukul, man kenceng lagi mukul nya!"


Audrey mengusap-usap dahinya yang terasa panas. Maureen menatapnya cemberut dan melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Ya.. maap. Gue kan khawatir Lo kenapa-kenapa di dalam sana."


"Haish."


Audrey menghela napasnya, mengingat apa yang 'Audrey asli' katakan saat di bawah alam sadar itu.


"Audrey asli merasa sangat menderita melihat adiknya, saat dirinya kecelakaan, dia belum sempat mengatakan sesuatu, dan takut dirinya akan meninggalkan sang adik. Pada akhirnya, jiwaku yang datang ke tubuhnya. Apa ini bisa dikatakan masuk akal? Hidup di dalam novel saja sudah tak masuk akal bagiku," batinnya.


..._____...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2