
Hari yang paling dinanti, akhirnya tiba. Audrey dengan riang keluar dari rumah sakit. Sudah jengah dengan bau obat-obatan yang menyengat di hidung. Dan tubuhnya sudah bisa digerakkan dengan lancar, terutama kaki nya.
Tapi, sudah selama itu. Dia tidak pernah sekalipun menanyakan kepada Naiya, penyebab kecelakaan yang terjadi padanya. Mau bertanya bagaimana, setiap dia akan bertanya-tanya Naiya seperti menghindar darinya.
Apa se-menakutkan itu kah wajahnya, melebihi setan kredit? Mulai dari pertemuan dengan si pengganggu itu, sampai sekarang. Atau, Naiya masih membencinya? Jadi, daripada marah dan akhirnya bertengkar, Naiya lebih memilih menjauh.
Tidak apalah. Saat ini misi dirinya hidup dengan tenang, tanpa ada kegiatan yang membuatnya tertekan. Seperti deadline ketikan, pertemuan dengan fans, dan menjadi populer.
Kaki nya melangkah keluar, dan seorang gadis lain yang menghampiri nya. Mempunyai paras yang lumayan, rambut yang tergerai lembut, hitam legam. Mata nya berwarna abu-abu.
"Audrey. Ayo pulang," ajaknya. Siapa? Audrey melirik Naiya yang sudah membantu nya memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
"Ayo kak, pulang." Naiya memapah Audrey, karena kakinya masih belum pulih seutuhnya. Gadis yang sedari tadi diam, hanya mengekor di belakang. Audrey duduk di depan, sedangkan Naiya di belakang.
"Dia kenal gue, berarti gue kenal dia juga, apalagi Naiya juga kenal, kayaknya." Batin Audrey. Audrey mengingat nama-nama tokoh di dalam novelnya. Gotcha, dapat. Nama panjangnya, Olivia Grizelle. Sahabat satu-satunya Audrey.
Gadis yang paling berani pada Audrey. Berani dalam artian paling peduli, walaupun Audrey gadis yang paling keras. Tapi, ia membuat karakter ini menjadi antagonis, sama seperti Audrey.
Perjalanan hanya diisi keheningan, tidak ada yang membuka pembicaraan. Audrey menatap handphone nya, dan menggulir beranda yang ada di salah satu aplikasi.
"Oh boy, cakep-cakep semua. Ini lagi, kayak sugar daddy. Wuih, hot banget perutnya." Pekik Audrey dalam hatinya. Baru kali ini dia membuka aplikasi lagi, karena saat menjadi Rasha, dia hanya memfokuskan diri pada imajinasi-imajinasi nya.
"Meleleh aku mas~" Saat melihat salah satu video laki-laki yang baru saja keluar dari kolam berenang dengan slow-motion. Dan mengetuk tanda suka pada video itu. Bukan hanya video itu saja, tapi beberapa foto yang lain juga, tanpa melihat siapa itu.
Mulai hari ini, Audrey akan mencari pasangan yang sempurna bagi dirinya sendiri.
"Kita sampai." Mobil milik gadis itu memasuki halaman sebuah mansion. Mansion milik siapa? Tentu milik keluarga Mahendra.
...☁️☁️☁️...
Mereka bertiga masuk ke mansion itu. Sepi. Tanpa ada sambutan dari keluarga, namun, bagi Rasha, itu sudah biasa. Hidup tanpa ada yang tahu, rasa sakit akan kesendirian.
Om dan Tante nya saat menjadi Rasha, hanya merawat nya sampai dewasa, dan menjadi perempuan yang kuat. Meskipun demikian, Rasha hanya ingin sebuah kasih sayang dari orang tua nya.
Mata Audrey yang sedari tadi berbinar karena mansion milik keluarga Mahendra, bahkan lebih besar dari milik nya sendiri, sekarang menjadi datar. Binaran matanya seketika hilang.
Dia lupa, kalau dia sangat dibenci oleh keluarganya sendiri. Hei, terima saja, jika diri nya sama sekali tidak akan bisa mendapatkan kasih sayang dari siapapun. Keluarga nya hanya menyambut Naiya, tapi tidak dengan dirinya. Padahal dia yang baru keluar dari rumah sakit, susah payah dirinya untuk sembuh.
Mari ingatkan lagi dia sebagai Rasha, bahwa semua nya dia yang buat. Kesendirian, kejahatan, dan juga kebencian terhadap adik nya sendiri, dia yang buat, pada Audrey.
__ADS_1
"Kalau gini kenyataannya, gue gak bakal bikin antagonis ini se-menderita itu." Audrey hanya menghela nafas lelah. Mata nya menangkap sosok orang tua nya yang meninggalkan nya di pintu, menarik Naiya menjauh.
Kakinya sedikit terdorong mudur. Seseorang memeluk nya. Matanya berkedip beberapa kali.
"Eh, saha ieu teh?" Tanya Audrey dalam hatinya, melihat seorang pemuda yang memeluk nya erat.
"Kak Audrey. Kakak gak ada yang sakit lagi kan?" Tanya pemuda itu, sembari mengecek seluruh badan Audrey. Audrey hanya tersenyum tipis, dan mengangguk singkat. Pemuda itu menoleh pada gadis yang di belakang Audrey.
"Kak Oliv, masuk aja, kak. Biar gue yang bawain koper nya kak Audrey," ujar pemuda itu pada Olivia. Gadis cantik yang sedari tadi diam, akhirnya melangkah masuk. Sebelumnya hanya menjawab pemuda itu dengan anggukan.
"Kak, ayo aku antar ke kamar kakak," ajaknya.
"Untung aja ada yang masih baik, eh, tapi siapa nih laki-laki ya?"
Audrey menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia berada di sini hanya dengan ingatan Rasha pada isi novel dirinya sendiri, tidak ada sama sekali ingatan dari Audrey asli.
Pingsan pada saat pertama kali hanya karena terkejut, bisa-bisanya ia masuk ke dalam dunia yang aneh ini.
"Mario, ngapain kamu bareng orang kayak dia?" tanya seorang laki-laki bertubuh gemuk, dan berkumis tipis dengan sinis.
"Memang kenapa? Audrey kan sepupu ku, keluarga ku, dan Audrey baru aja keluar dari rumah sakit. Kenapa kalian gak ada rasa empati nya ke salah satu keluarga kalian sendiri?" Jawab sinis pemuda itu yang bernama Mario.
Nama panjangnya Mario Adyatma Bagaskara. Anak dari keluarga Bagaskara. Adik perempuan dari ayah Audrey, yang menikah dengan salah satu anak Bagaskara. Dan dia laki-laki bertubuh gemuk itu.
Audrey melongo, dan tangannya bertepuk tangan kecil. Perkataan sinis dari Mario patut diacungi jempol, untuk membalas perkataan si laki-laki gemuk itu. Audrey yang selangkah di belakang Mario, maju, dan menarik tangan Mario.
"Rio, ayo, katanya mau antar a— Gue ke kamar?"
"Oh, iya. Ayo kak. Kita gak usah ladenin mereka."
Audrey sedikit tersanjung, karena Mario ini membantunya terus menerus. Tapi di dunia ini tidak ada yang bisa dia percaya. Matanya melirik Naiya, yang hanya diam.
Sepertinya adiknya memang tidak akan pernah mempercayai nya. Satu-satunya cara untuk mengubah sikap mereka pada Audrey adalah, berubah. Berubah dari yang dulu selalu jahat, caper, dan apapun hal negatif, menjadi orang yang lebih baik.
"Loneliness, telah membuat diriku terbiasa dan membuatku menjadi orang yang berbeda. Bukan lagi seseorang yang haus akan perhatian." Audrey telah bertekad sekarang.
...☁️☁️☁️...
Gadis itu memasuki kamarnya, setelah Mario membantunya membawakan barang-barang ke kamar. Pemuda itu juga telah membantu nya menemukan kamarnya.
__ADS_1
Audrey melihat sekeliling kamar. Warna nya sesuai dengan apa yang disuka, warna hitam. Seperti kegelapan yang mengarungi hatinya. Dia duduk termenung di atas kasurnya sendiri.
"Kalau mau nangis, nangis aja." Audrey mendongak menatap seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya. Gadis yang mengantarnya, Olivia. Handuk di kepalanya, mengartikan dia baru saja selesai mandi.
"Siapa yang mau nangis?" Audrey menyernyit, kenapa gadis itu bisa seenaknya masuk ke kamarnya?
Olivia terkekeh. Dan berjalan ke arah meja rias, mulai menyisir rambutnya, setelah mengeringkan nya menggunakan handuk.
"Gue udah biasa liat Lo nangis sendirian di pojokan. Oh iya, karena hari ini Lo pulang dari rumah sakit, gue nginep ya. Ntar Lo kesepian, kalau gak ada gue."
Audrey mengendikkan bahunya, dan menidurkan badannya. "Gue udah bisa kesepian. Jadi gak perlu Lo kasihanin gue."
Olivia yang telah selesai menyisir, menyernyit bingung. Biasa nya Audrey tidak sedingin ini, tapi mungkin itu hanya pikiran nya.
Olivia berdecih. "Iya deh, terserah Lo."
Audrey yang masih melihat langit-langit kamar nya membuka mulutnya. "Oliv, Lo tau penyebab gue kecelakaan?"
Olivia berjalan ke Audrey yang sedang merebahkan diri di kasur. "Lah, kan Lo yang tiba-tiba dorong si Naiya."
Audrey kaget, dan terbangun dari rebahan nya. "Ceritain lebih jelas, gue lupa."
Olivia ikut duduk di sampingnya. Dan mulai bercerita. "Ya, dia kan lagi mau nyebrang tuh, terus ada motor gitu ngebut. Dia pas itu juga lagi kambuh sakitnya, gue liat Lo langsung lari, pas lagi jalan bareng sama gue."
"Gue kira Lo kebelet, makanya lari cepet. Tau-tau malah nyelamatin si anak penyakitan itu. Alhasil, bukannya berterima kasih, keluarga Lo malah nyalahin Lo karena kambuhnya Naiya. Mana Naiya gak ngomong apa-apa."
"Kejadian itu ngebuat Lo kritis beberapa hari. Sampe akhirnya Lo pernah dinyatakan meninggal. Tapi hidup lagi," Jelas Olivia.
Sebenarnya Audrey agak terperangah. Olivia dia gambarkan sebagai seorang gadis yang pendiam dan tak banyak bicara. Dan sekarang dia menjadi banyak bicara.
Audrey menyimak penjelasan Olivia sedikit marah, kenapa Naiya tidak ada bilang apapun ke semua keluarga kalau dia diselamatkan oleh kakaknya. Di novel buatannya memang tertulis kalau Audrey masuk rumah sakit, tapi kejadiannya tidak ia jelaskan.
"Tapi, apa omongan Olivia, bisa gue percaya?" Batin Audrey bimbang.
"Ya udahlah. Yang penting kita gak usah deket-deket ke anak penyakitan itu. Karena dia itu pembawa kesialan doang buat Lo!"
Olivia benar-benar pembawa pengaruh buruk baginya, jika dirinya dengan mudah percaya. Dia akan menjadi orang terbodoh. Audrey sebagai penulis cerita ini, seharusnya tahu, siapa yang benar-benar baik. Seharusnya.
...☁️☁️☁️...
__ADS_1
BERSAMBUNG...