Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
11. Cobaan Audrey


__ADS_3

Kini dirinya duduk, sendirian, di taman rumah sakit. Menghela nafasnya, betapa minim otaknya disuruh berfikir, dia menatap buku yang dipegang. Imajinasi nya terhadap buku ini, sangat jauh dari yang sekarang.


Dia ialah penulis asli dari novel ini, namun ia tidak mengerti lagi alur cerita dari novel Nothing Like You. "Aku butuh bantuan, Marsya."


Audrey membuka lembaran pertama dari buku, dan menulis kan pada bagian awal. Ingin menulis sesuatu yang terjadi pada nya, jika dirinya kembali ke dunia sebenarnya, Rasha bisa menulis lagi. Pikirannya memang hanya untuk berimajinasi.


"Kangen Marsya." Wajah yang sedari tadi datar, samar-samar menjadi sendu. Tangannya terus menulis mencurahkan segala isi pikirannya. Membuat nya seperti catatan harian.


Audrey menutup buku itu setelah beberapa menit menulis, lalu mendongak menatap langit. Dia membuat novel Nothing Like You ini, pada awalnya sebagian diambil dari kisah nyata nya.


Sebuah pengkhianatan dalam hubungannya sewaktu menjadi Rasha. Penyakit yang dideritanya saat jadi Rasha, saat tabrakan dulu itu, membuat penyakit itu ada. Tidak bisa merasakan sakit.


Audrey merasakan mata nya berkaca-kaca. Setidaknya, saat menjadi Audrey, dia bisa merasakan sakit. Harus jaga diri di sini, di dunia yang asing. Dunia yang bukan miliknya, dunia yang bahkan dia tidak mengerti.


Audrey baru saja beberapa hari di sini, tapi rasanya tertekan. Dengan pikiran nya yang suka berterbangan kemana-mana, dengan otak yang diakui tidak pintar dalam menyelesaikan suatu hal.


"Permintaan ku memang terkabul, tapi kalau kayak gini, lebih baik mati daripada hidup," gumam nya.


"Apa maksud Lo, dengan lebih baik mati daripada hidup?" Tanya seseorang yang tiba-tiba ada di belakang Audrey. Membuat gadis itu berjengit kaget, dan menoleh ke belakang.


"Raden."


Pemuda itu duduk di samping Audrey, dan melirik sebentar buku yang dipegang gadis itu. Wajahnya terlihat marah. "Apa maksud omongan Lo tadi, Drey?"


Audrey tersenyum. "Lo salah denger," sanggah nya dengan lembut, berusaha tidak terlihat berbohong. Raden merasa aneh, mengapa Audrey seperti menutupi sesuatu?


"Apa artinya, jangan menutupi sesuatu dari gue, Drey. Cukup kasih tau," kata Raden agak memaksa. Audrey menghela nafasnya, dan menghadap Raden. Pemuda di depannya ingin tahu tentang nya, padahal mereka baru mengenal. Risih tahu. Maaf-maaf saja, ya Raden.


"Mind your own business," ujar Audrey dengan sinis. Dia tidak suka jika dipaksa untuk memberitahukan hal yang 'Secret' mengenai nya. Raden tersentak, dan mengusap tengkuknya canggung.

__ADS_1


"Maaf. Kalau gue terlalu ikut campur, cuman, gue.. khawatir aja, tentang Lo yang tiba-tiba ngomong soal itu, dan maaf gue ikutin Lo sampe sini."


Audrey membetulkan posisi duduknya, dan mengangguk singkat. "It's okay. Kebanyakan orang memang pastinya akan kepo, tapi yang tadi Lo denger itu mungkin salah. Gue pergi dulu."


Gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi Raden, yang menatap nya dengan tatapan sulit diartikan. Pemuda itu merasa janggal, dari pertama kali bertemu dengan gadis itu, rasanya ia ingin tahu lebih banyak tentang nya.


Apa ya, yang terjadi pada hati dan pikiran nya? Kenapa dia sangat ingin tahu mengenai Audrey, bahkan selalu khawatir dengan gadis berparas cantik itu.


"Apa.. gue punya perasaan sama Audrey? Ah, mana mungkin. Gue gak pernah ada rasa sama siapapun," gumamnya. Lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya, berjalan ke arah di mana Audrey menghilang. Masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Olivia mendekati gadis yang baru saja datang, itu adalah Audrey. Audrey mendudukkan dirinya di kursi, mereka sedang di lorong tunggu depan kamar Naiya. Olivia ikut duduk di kursi samping nya.


"Dari mana Lo, Drey?" Tanya Olivia, setelah hening beberapa saat. Audrey menoleh pada Olivia, dan mengendikkan bahunya.


"Ke taman, liat air mancur," jawab Audrey asal. Buku dalam genggaman tangannya dieratkan. Raden menyusul dari arah yang tadi, dan duduk bersama mereka berdua.


"Eh, apaan. Kenapa Lo ke sini? Noh, pergi, pulang, gak ada urusan juga kan di sini. Cuman buat bolos les doang." Nyinyir Olivia, dia menyandarkan tubuhnya pada kursi, sembari melipat tangannya di depan dada.


"Kok gue gak ditahan?"


"Lah, ngapain ditahan?" Tanya Olivia, membuat Raden berdengus.


"Gue jodohin lama-lama kalian," jengah Audrey.


...☁️☁️☁️...


Naiya yang sedang duduk di atas kasur, menatap tajam pada Arvino yang ada di hadapannya. Tangan gadis itu menggenggam erat seprai kasur nya, menahan marah.


"Ini semua karena Lo kan, Arvino. Orang yang Lo suruh buat hilangin obat penting gue!"

__ADS_1


Gigi Arvino menggelatuk, mata nya merah. "Jangan asal nuduh, sayang. Aku gak pernah kayak gitu, mau aku kasih kamu hukuman karena udah berani sama aku?"


Tiga pemuda yang ada di dalam sana hanya dapat diam, takut-takut Arvino melakukan hal yang diluar nalar. Gadis itu sama sekali tidak menampilkan raut takut.


"Gue tau, Lo yang taruh obat itu di kelas nya Rosie, Arvino." Gumam Naiya, supaya yang mendengar hanya dia dan Arvino. "Maka dari itu, gue cari ke sana."


Arvino mendecih, dan menyeringai. "Kalaupun iya, dan kalaupun nggak, apa mau kamu sayang?" Tangan pemuda itu mencoba meraih wajah Naiya, tapi langsung ditepis dengan kasar oleh nya.


"Apa maksud Lo, lakuin itu semua?!"


"Hanya ingin membuat Audrey menjadi pelaku utama nya saja." Arvino mengusap tengkuknya, dan membenarkan letak rambut nya. Pemuda itu terkekeh, ternyata dia secepat itu ketahuan.


"Bodoh." Desis Audrey yang masuk ke dalam kamar itu, membuat seisi ruangan melihat padanya. Gadis itu masuk, dengan Olivia, dan Raden. Dan mendekati ranjang Naiya.


"Kamu tau siapa yang lakuin, kenapa gak bilang sama kakak, Nay?"


Naiya menunduk, dan memainkan tangannya. "Maaf kak. Aku cuman takut sama Arvino."


"Takut? Bahkan hari ini pun bisa saja laki-laki brengsek ini cuman tinggal nama." Batin Audrey. Tapi tidak mungkin dia berbicara seperti itu, sangat aneh nanti.


"Takut? Ada kakak yang jagain kamu. Dan Arvino gak akan bisa nyentuh kamu sehelai rambut pun," ujar Audrey, sembari menatap Arvino sinis.


Naiya terdiam dan wajahnya sumringah. Olivia dan Raden tersenyum melihat adik dan kakak di depan mereka. Gavino, Nano, dan Aldi hanya diam. Aldi bangun, dan merangkul Arvino.


"Udah lah, Vin. Lo tau, perempuan titisan setan kayak dia, gak usah diladenin. Yang ada kita gila," nyinyir Aldi. Arvino menepis tangan Aldi dari bahu nya, dan berbalik untuk duduk di sofa kamar itu.


"Lo bener, Di. Gue gak usah ladenin setan kayak dia," tunjuk Arvino dengan kasar pada Audrey yang sudah tidak memperhatikan nya.


"Apalagi, kayak nya, Lo lagi drama depan gue dan adek Lo. Dengan sikap sok peduli ke Naiya."

__ADS_1


...☁️☁️☁️...


BERSAMBUNG...


__ADS_2