
"Jadi, kenapa tadi gak sekolah? Baru masuk kok udah bolos aja."
Maureen terkekeh, malam ini setelah mereka sedikit berbincang akhirnya keduanya bisa ngobrol dengan leluasa. Di apartemen Maureen tentunya. Maureen meneguk minuman kalengnya. Begitupun Audrey.
"Yah, gak semangat sih aku. Gara-gara ada yang gak suka aku, padahal aku udah balik ke sekolah."
Audrey tertohok sebenarnya tapi mereka tertawa bersama karena hal itu. Audrey tersenyum, dia jadi rindu saat-saat dirinya semasa Rasha, bersama sahabatnya. Apa kabar dengan Marsya, ya? Apa dia baik-baik saja disana? Apa perempuan itu kelabakan untuk memberitakan kenapa pertemuan itu dibatalkan? Atau Marsya malah juga merindukan nya, seperti Rasha merindukan sahabat nya?
Krek..
"Eh? Drey, Oi! Itu kalengnya ngapa di remukin?" Maureen menyadarkan nya dari lamunan yang tak pernah ia tahu ada atau tidaknya jawaban dari semua pertanyaan dalam benak nya.
"Tangan kamu luka, Ra— Drey." Hampir. Barusan dia hampir memanggil gadis di depannya dengan nama asli dari jiwa dalam raga tersebut, tapi itu seharusnya tidak keceplosan.
Audrey meletakkan kaleng itu ke meja, dan melihat telapak tangannya yang memang sedikit terluka karena tajam dari kaleng. Maureen bangkit mengambil P3K di dalam kamar. Dan mengobati nya. Entah kenapa dia merasa Maureen itu seperti Marsya.
...☁️☁️☁️...
Pagi ini, dirinya makan sendirian. Dan sudah menyiapkan sandwich, ah, kebiasaannya. Audrey dengan terburu-buru menghabiskan roti isi itu dan meminumnya. Dan berdiri dari kursi nya.
"Kak Drey!" Panggilan itu menghentikan dirinya yang akan menjauhi ruang makan. Mario? Pemuda itu di hadapannya, tersenyum manis terpatri di wajah imut dari pemuda itu.
"Ma.. Mario, mau berangkat?" Pertanyaan bodoh! Ya iyalah, tentu terlihat dari penampilan pemuda itu yang sudah siap dengan seragam sudah melekat di tubuh tegapnya.
Mario terkekeh imut, "iya nih. Kak Drey, mau bareng?"
Audrey tersenyum, dan menggeleng. "Sekolah kita beda arah, dan juga aku udah dijemput sama temen."
Mario berubah murung, dan mengangguk paham. "Okeh deh, tapi lain kali aku yang anter kakak ya! Aku gak mau kejadian kemarin keulang."
Audrey mengangguk dan melambaikan tangannya. "Iya, makasih ya udah khawatirin aku. Aku duluan, temen Kakak udah di depan."
Mario menatap punggung gadis di depannya dengan murung, dirinya berjalan ke ruang makan untuk melihat sarapan apa yang telah disiapkan untuk keluarga. Melihat ada dua sandwich, dan penasarannya karena tumben para pembantu disini membuat makanan seperti ini. Mencicipi salah satunya.
Hap..
"Em.. enak!"
..._____...
"Tunggu, ada satu lagi."
__ADS_1
"Hah? Siapa?"
Seseorang lagi masuk ke mobil setelahnya. Dan di mulutnya tersumpal roti sandwich yang dirinya buat. Membuat gadis di depan tersenyum dalam diam, sudah lama dirinya tak melihat roti buatan nya dimakan oleh orang lain. Ah, waktu dulu, hanya dia yang memakan semuanya, Marsya juga sih.
"Bikinan Lo enak juga."
Celetukan dari belakang membuat dirinya tersadar dari lamunannya. "Makasih, Liv."
"Sandwich bikinan Audrey emang enak! Gue ud—" Lagi dirinya hanya hampir kelepasan menceritakan dirinya versi Marsya. Maureen mengatupkan bibirnya terdiam.
"Lo pernah makan juga?" Tanya Olivia sembari mengunyah. Audrey juga merasa heran.
"Dari tampilan nya emang enak!" Seru nya mencoba terkekeh walau kaku. Mobil yang dikendarainya sudah sampai di parkiran sekolah.
"Eh ini dah nyampe." Alih nya. Dan berhasil. Mereka berdua teralihkan perhatiannya.
..._____...
Audrey menyadari, cerita ini belum sepenuhnya berjalan, karena tentu semua karakter disini belum terlihat. Mulai dari alur dan konflik. Tapi ia ingat benar, Audrey pasti kena karma setelah apa yang diperbuatnya selama ini.
Dia sendirian di taman. Sudah masuk pelajaran pertama sebenarnya, namun jam kosong untuk pelajaran fisika. Memejamkan mata mengingat alu per-alur cerita.
"Lo ngapain di sini?!"
"Siapa?" Beo Audrey yang sempat tercengang.
"Lu ngapain disini! Masuk! Jam pelajaran pertama aja udah mulai, malah bolos." Pemuda itu menepuk dahinya sendiri dan menghela napas.
"Lu siapa sih dodol?" Tanya Audrey sedikit menaikkan oktaf suaranya.
"Gue ketua OSIS, masa gak terkenal sih? Lo anak baru apa gimana?"
"Lah, jawab aja ngapa sih. Lu siapa?" Tekankan pada pemuda itu, jangan berbalik bertanya, apalagi pertanyaan nya tak berfaedah.
Pemuda itu memijit pangkal hidung nya, "okey okey. Kenalin dah, gue Ben Elfarick Abramovich, panggil aja El, karena gue gak mau disamain kayak Ben Ten. Terus Lo siapa?"
Audrey agak terkejut menatap pemuda di depannya. Bodoh sekali dia, mengapa dia tak tahu kalau di depannya ini adalah Ketua OSIS SMA Rajawali. Si tokoh Protagonis setelah Arvino, walau sekarang Arvino lebih mirip monster kematian. Dia hanya figuran yang pernah membantu Naiya, namun setelah nya hanya tinggal nama, karena Arvino membuatnya tak bernyawa. Ingatkan dia, bahwa Arvino sama sekali tidak ingin milik nya disentuh oleh siapapun.
"Gak penting siapa gue."
"Sumpah, kenapa ada sih cewek nyebelin kek Lo!"
__ADS_1
"Dih. Salah Lo sendiri dateng-dateng ngerusuh. Gue lagi nyoba tidur, ya, tadi! Malah Lo ganggu."
Mereka berdebat tentang hal kecil yang sama sekali tidak bermanfaat. Pertengkaran kecil itu berhenti setelah mendengar bel pergantian pelajaran berbunyi, mengingatkan Elfarick bahwa tugas nya lebih penting dari perdebatan ini.
"Udah deh! Sekarang Lo dihukum. Karena Lo bolos jam pelajaran," final El karena darah nya sudah mendidih sedari tadi.
"Lo juga bolos loh ya! Ketos kok bolos," ledek Audrey. Audrey berbalik berlari menjauhi El yang tak sigap, membuatnya membulatkan matanya dan langsung mengejar Audrey.
"Woi cewek nyebelin! Berhenti! Jangan kabur Lo!"
Kenapa jadi main india-indiaan. Audrey hanya tak ingin berurusan dengan Elfarick, karena dia pasti tak pernah bisa lepas dari jeratan seseorang, menurut nya sih begitu.
Bruk..
Yawlah, rasa ingin menenggelamkan diri ke lautan terdalam di dunia. Kenapa bisa-bisanya dia terjatuh dengan tidak etis nya, dan mendarat dengan lutut kanan, lalu tubuhnya, dan kepala nya. Untung saja tidak ada luka di daerah kepala. Audrey mencoba bangun perlahan, ingin nangis karena malu, tapi juga sakit.
"Astaga cewek nyebelin! Makanya jangan lari! Jatuh 'kan jadinya." Datang-datang bukannya bantuin malah diomelin.
Elfarick menghampiri dirinya yang sedang terduduk di lantai memegangi lutut kanan nya yang memar, dan sedikit terluka mengeluarkan darah. Dagu nya juga agak nyut-nyutan.
Elfarick panik saat melihat Audrey yang mata nya berkaca-kaca, bersiap untuk mengeluarkan air mata. Aish, jangan cengeng, Rasha, jangan nangis. Kalau nangis malunya berkali-kali lipat lagi tambah nya.
"Ututu. Ayo sini gue gendong, gue obatin." Elfarick berjongkok di depannya, berbalik agar Audrey bisa digendong olehnya. Audrey menyernyit sakit saat mencoba bergerak.
"Sakit~"
Oh, sial. Kenapa dirinya kenapa merengek? Akh, mau ditaruh mana wajahnya. Di pertemuan pertama malah melakukan hal yang memalukan seperti ini. Hiks, pengen pulang jadinya, pikir Audrey.
Hap..
"Ya udah gini aja, ya." Audrey tidak bisa menahan wajahnya yang memerah. Digendong nya tubuh mungil Audrey ala Bridal style dan dibawanya melangkah ke arah ruang UKS.
"G.. gue gak berat?"
"Gak, Lo keringanan. Gak kerasa malah!"
Mendengar itu si gadis mendengus sebal. Selalu saja dari awal pemuda ini bersikap menyebalkan. Tapi perhatian juga. Hehe. Jangan ketawa, jangan senyum Audrey! Dia baik begini karena dia mau nangkap kamu, udah kayak penagih hutang aja. Hutang nya yaitu menjalani hukuman karena bolos.
Dibalik dinding yang melihat aktivitas keduanya sedari tadi, menggeram menatap kemesraan dua sejoli yang tak menyadari keberadaan pemuda ini. Mata tajamnya melotot, dan ubun-ubun nya serasa berputar. Tangannya mengepal kuat karena melihat gadis yang selalu mengejarnya malah bersama yang lain.
"Audrey! Lo berurusan sama orang yang salah!"
__ADS_1
...☁️☁️☁️...
BERSAMBUNG...