Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
20. Bingung


__ADS_3

Audrey bangun dan kembali ke kesehariannya. Walau masih bertanya-tanya apa yang terjadi kemarin, siapa dan apa mahluk itu—sosok hitam yang menyerupai nya. Dan mengaku sosok itu adalah dirinya. Dirinya versi asli, atau dirinya versi jahat. Atau sosok itu hanya sok mengaku padahal dia hanyalah hantu atau mahluk yang memengaruhi.


Dari semua itu, apapun yang terjadi. Dia.. harus memastikan nya, dia tak tahu apa yang terjadi tapi setidaknya berusaha jauh lebih baik daripada hanya membicarakan itu terjadi. Tersadar karena harus berangkat sekolahpun dia bangkit dari kursi nya, tapi panggilan menghentikannya. Berbalik menatap orang yang entah siapa itu.


"Drey, kamu pergi sama mama ya."


Audrey menajamkan matanya, tentu aneh melihat mamanya. Padahal dari kemarin wanita ini hanya diam, menuruti perintah suaminya. Menutup rapat mulut, dan hanya berbicara jika diajak bicara. Irit kata. Tapi dia tetap merespon.


"Tumben, anda mengajak saya? Ada apa?" Tanya dirinya menatap datar mamanya. Wanita di hadapannya itu diam, sembari menggigit bibir bawahnya. Enggan berbicara lebih lanjut? Atau itu bibir gatal makanya digigit?


Mulut itu terbuka kemudian, mama nya menarik Audrey dan membawa ke mobil yang akan dipakai, "kamu akan telat kalau kita ngobrol di rumah."


Audrey sadar sih kalau dirinya memang takut telat, akhirnya masuk. Mungkin mamanya lagi kesurupan. Suasana hening di dalam mobil, Audrey hanya menatap handphone nya. Audrey tidak ada niatan sama sekali membuka percakapan, atau sedikitpun melirik. Dirinya senang jadi uang nya gak perlu habis untuk ongkos. Asik masuk tabungan. Mereka sudah memakai seatbelt mereka masing-masing demi keselamatan tentunya.


Tapi atmosfer dari mereka sangat mampu membuat tekanan yang asing datang ke antara ibu dan anak tersebut. Wanita itu menggenggam erat setir dari mobil itu, mulai membuka pembicaraan, yang dipikirkan memang diperlukan diantara keduanya.


"Hm, Audrey," panggilnya pada sang anak.


Audrey menyernyit dan berdeham menjawab panggilan mamanya itu. Handphone nya memang telah disimpan, tapi dia tetap menatap ke luar jendela. Telinga nya dipasang kuat-kuat.


"Mama.. mama sebenarnya senang, akhirnya kamu mau berani memberikan pendapat mu tentang perjodohan Naiya dengan Arvino itu," wanita itu berucap ragu.


Audrey menghela napasnya, tentang Naiya rupanya. Sebenarnya, apa arti dirinya di mata orang tuanya? Walaupun dia sadar, dialah yang secara tidak langsung menciptakan semua ini. Dia penulis, dari buku novel ini. Audrey menyilangkan tangannya.


"Mama senang, Naiya akhirnya gak jadi berjodoh dengan laki-laki gak baik itu. Karena dari dulu mama selalu minta tolong ke kamu, tapi kamu gak pernah mau membuka semuanya. Padahal selain untuk Naiya, ini juga untuk mu juga," jelas mamanya.

__ADS_1


"Untuk saya? Agar apa? Agar saya yang menjadi pengganti Naiya? Kan anda sudah tau kebusukan Arvino, lalu kenapa saya yang menanggungnya?" Tanya Audrey dengan datar tak habis pikir dengan mamanya itu.


"Bukankah kamu mencintai Arvino, maka dari itu, ini adalah sebuah keuntungan?"


Audrey berdengus, "cinta? Itu hanya kewarasan saya yang sempat menghilang, namun kembali lagi karena saya sadar bahwa laki-laki itu tidak lah lebih dari sampah masyarakat yang seharusnya tak dipertahankan lagi."


Wanita tua itu tersenyum puas, "kamu banyak berubah, Drey. Mama gak tau apa yang bisa membuat mu yang sekarang menjadi tegas, dan tak mau diatur. Tapi bagi mama diri kamu yang sekarang lebih baik dari yang dulu."


Dirinya menyernyit bingung dengan pembicaraan wanita di depannya. "Maksud nya anda apa?"


Mama nya melirik sekilas sang anak yang masih belum merubah panggilan itu, dan terkekeh. "Mama ingat.. waktu dulu kamu selalu menjadi anak yang penurut pada mama dan sama ayah Mahendra. Kemudian ayah kamu makin jadi, dengan semua alasan karena kekayaan. Membuat kamu memang gak bisa menolak, apalagi adik mu. Kamu gak bisa mengemukakan pendapat kamu, padahal mama ada di sisi kamu. Tapi kamu gak liat itu, pada akhirnya mama diam.. karena mungkin itu sudah pilihan kamu."


Wait, penjelasan panjang lebar itu memang didengar nya. Tapi arti dari semua itu apa? Dia masih tak mengerti. Setidak tahu itu dia tentang apa yang terjadi. Otak nya terpanggang.


"Nah, kita udah sampai, Drey."


Audrey bergegas keluar dari mobil, dan berjalan menjauhi kendaraan mama nya. Mengeratkan genggaman tangannya pada tali ranselnya. Mama nya tersenyum, dan mengiriminya pesan, tempat dimana mereka akan bertemu.


"Aku penurut? Abis itu karena aku terlalu penurut, hal itu dimanfaatkan ayah, tapi mama membela ku, tapi aku biasa aja, seakan-akan keputusan ayah tidak akan menyakiti aku. Dan pada akhirnya mama menyerah?"


Audrey mencoba merapihkan semua misteri yang terus berlanjut itu. Potongan puzzle yang terkemas dengan baik. Apa sosok itu, yang bermain-main dengannya?


Jalannya bukan ke arah ruang kelas, tapi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Wajah cantik Audrey terlihat lelah. Pantulan cahaya ditatap dengan seksama.


"Kenapa? Kaget? Melihat pantulanmu sendiri?"

__ADS_1


"Anj.. Apa-apaan, kenapa Lo bisa di dalam situ?!" Tunjuk Audrey dengan kaget.


"Udah gue bilang, gue itu Lo. Tapi dibeda dimensi, Audrey. Lo gak jauh lebih kejam dari apa yang dibuat oleh seorang penulis. Tulisan yang berubah hidup," ungkap sosok itu.


"Pergi Lo, sialan!" Amuknya.


"Jaga lisan kamu, Drey. Seperti kata pepatah mulutmu harimaumu. Lo jahat, Lo kejam, Lo lebih buruk dari Arvino."


Audrey menggeram, mengeratkan tangannya di wastafel. Memandang tajam cermin itu, menenangkan diri dan pikiran. Berusaha tak mendengar pengaruh jahat itu.


Air matanya tak terasa menetes, tangannya menutup telinga. Dia mencoba tak berteriak kesal ada sosok itu. Sosok yang terus menerus datang padanya di setiap harinya.


Sebelum dia mencapai lantai, dirinya melihat Maureen yang datang, walau buram. Dan matanya membaca mulut Maureen yang bergerak seperti mengucapkan sesuatu kalimat.


"Lebih baik, kamu dengarkan sosok itu.. Rasha. Ikuti.. kemauannya."


Itu.. namanya. Kenapa Maureen bisa tahu?


Dan pandangan nya menggelap pada saat kalimat itu sampai di akhirnya. Dia sudah tak tahu kejadian apa yang terjadi selanjutnya. Sosok itu, perkataan Maureen yang janggal, energinya yang menipis, mudah lelah, dan lainnya.


Sebenarnya ada apa ini? Perasaan menekan di dadanya membuat sesak, air mata yang keluar tak sengaja pada saat mendengar mamanya bicara menjelaskan sikapnya mengapa begitu. Apa itu dia lakukan secara sadar, atau tidak? Dirinya tak tahu.


"Tolong ikuti kemauan sosok ini, sosok kamu di lain dimensi. Terjebak, tak bisa kembali. Kembali ke tempat yang seharusnya. Dendam yang belum terungkap, misteri yang terus kamu lakukan. Itu karena aku butuh bantuan mu. Energi itu, aku perlukan agar aku tidak menghilang secara sia-sia, Rasha. Ini aku Audrey asli!"


..._____...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2