
Naiya sudah menceritakan hal itu. Tentu Audrey tidak tenang, dia harus mencari tahu, siapa pelakunya. Namun, saat dirinya akan pergi, ada dua orang berlawanan jenis masuk ke dalam.
Dan dia tahu siapa mereka. Kedua orang paruh baya itu menatap datar pada nya, dan beralih menatap Naiya dengan lembut.
"Siapa yang ngelakuin ini ke kamu, Naiya?" Tanya pria paruh baya itu, dengan tatapan hangat yang menyapa Naiya. Tidak seperti dirinya, Audrey hanya terkekeh miris melihat nasibnya.
Olivia yang ada di dekat sofa kamar itu berdecak melihat suami-istri Mahendra itu. Padahal bagus, tadi tidak ada mereka yang mengganggu ketenangan.
"Siapa lagi, pah. Kalau bukan Audrey yang menyebabkan Naiya selalu masuk rumah sakit," jawab seseorang dari pintu masuk ruang rawat.
"Arvino," gumam Naiya risih. Gadis itu mengepalkan tangannya kesal, cukup, kakaknya selalu disalahkan karena nya.
"BENAR BEGITU, AUDREY?" Nada pria itu meninggi. Membuat suasana menegang.
"Bukan kakak yang ngelakuin, pah!" Sentak Naiya. Membuat Pria itu menatap tajam sang anak, wanita di sampingnya hanya bisa berdiam diri.
"Udah. Kamu jujur aja, jangan bohong." Wanita itu mengelus puncak rambut Naiya. Mereka berdua membuat Audrey naik darah.
"Bukan saya, yang melakukannya Tuan, Nyonya," kata Audrey dan menekankan nama panggilan keduanya. Tatapan tidak suka dari nya, tentu membuat kedua manusia itu risih. Terlebih tatapan nyinyir dari Olivia.
"Anak sialan, selalu membuat ulah. Selalu aja buat Naiya seperti ini. Padahal dulu, kamu tidak seperti ini," cemooh wanita itu. Nama wanita itu adalah, Layla Mandira Ovalae.
"Untung dia sudah kamu usir, mas." Tatapan menusuk diberikan dari keduanya. Mata Audrey menatap tajam Layla, mungkin bisa-bisa mengeluarkan leser dari matanya.
Wanita ini. Musuh utama nya, sekarang! Layla bisa menjadi bom waktu, yang entah kapan akan meledak, dan pastinya ledakan nya berakibat buruk bagi sekitar.
"Kakek Mahendra tidak akan terima, kalau saya pergi dari rumah, papa." Audrey tersenyum sinis, saat melihat papa dari Audrey asli menegang di tempatnya, saat membicarakan mengenai Kakek.
"Jangan bawa-bawa ayah saya," desis Pria itu. Namanya Seno Ajidarma Mahendra.
"Semua kepunyaan Om itu, punya nya kakek Fahri Mahendra. Jadi, Om harus tau itu," sahut Olivia. Dia tidak mau kalah dengan Arvino, yang menyeletuk agar suasana bertambah parah.
Tentu. Ayah dari pria itu, kakek kandung Audrey. Orang satu-satunya yang percaya, kalau gadis itu tidak lah bersalah. Semua hanyalah manipulatif seseorang, dan apakah wanita ini?
Banyak yang dapat dicurigai.
__ADS_1
"Diam! Jangan coba-coba ikut campur, Olivia. Saya membiarkan kamu, bukan berarti kamu bisa seenaknya!" Bentak Seno. Papa nya sudah menjengkelkan menurut nya.
"Tapi, itu benar 'kan, Pah. Saya bukan pengadu, sih~" Tangan Audrey meraih handphone nya yang ada di saku almamater sekolah nya. "Bisa aja sekarang juga, kakek datang untuk menjemput ku."
Seno langsung menatap tajam tangan Audrey yang sudah memegang handphonenya. "Okay. Okay. Tidak perlu untuk menelpon kakek itu," ujar Seno. Geraman kesal, namun pelan dari Layla, walau tidak terdengar. Tangannya mengepal tak terima, dan itu tidak sengaja Audrey lihat.
Audrey menyeringai, "aku tau, dia pasti gak terima. Udah bau tanah juga, masih aja jahat!"
...☁️☁️☁️...
Esoknya, Audrey ke sekolah, terlihat sekolah telah sepi, ya, itu karena dia datang terlalu pagi. Dirinya sendirian, tidak bersama Olivia. Gadis itu pasti akan mencegahnya, katanya demi kebaikan Audrey. Agar dia tidak terlibat dengan Arvino lagi.
Tapi Audrey sadar, jika semua yang bersangkutan dengan Naiya, pasti ada Arvino disitu. Jadi, dia mengesampingkan ketenangan nya sekarang. Supaya bisa membersihkan namanya, yang kotor akan kelakukan Audrey asli.
"Naiya kambuh. Asma memang bisa kambuh dengan sendirinya, tapi Naiya bilang, ada seseorang yang menjahatinya."
Melangkah ke arah kelas, tanpa menoleh. Pikirannya terfokus pada apa yang terjadi. Mengusak rambutnya sendiri, seperti orang gila.
PUK!
Bahu nya secara tidak sengaja menabrak seseorang, hampir saja orang itu terjatuh. Reflek Audrey menatap orang yang ditabraknya. Siapa?
Audrey menarik nafasnya dan membuangnya. "It's okay. Aku yang salah, gak liat jalan. Kamu gak perlu minta maaf," senyumnya, agak sedikit kaku.
Gadis itu terlihat mengerjapkan matanya. "Kok gak kayak omongan orang?" Gumam orang itu. Audrey yang masih bisa mendengar itu hanya tersenyum tipis. Pasti banyak yang berpikir dirinya jahat.
"Orang-orang cuman banyak omong, mbak. Jadi, jangan didengerin," kata Audrey. Dia tidak mengenal gadis di depannya, hanya bisa memanggil dengan embel-embel mbak.
Gadis itu tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang gatal. "Ja.. jangan manggil mbak. Kesannya aku keliatan tua," ringis nya.
"Memang nama kamu siapa?"
"Rosie Agatha Aawinord, itu nama aku. Kalau kamu?"
Tunggu, dia kenal nama ini. Rosie, sepupu dari Gavino, yang hanya disebutkan beberapa kali di dalam novel buatannya sendiri. Dikabarkan dia di penjara atas tuduhan pembunuhan pada sepupunya sendiri.
__ADS_1
Rosie berada di sana, di tempat kejadian. Saat mengikuti Arvino dan Gavino ke tepi tebing. Miris memang nasib gadis ini. Apa, dia tidak perlu ikut campur akan nasib orang ini?
Tapi Rosie hanyalah gadis yang tidak mengerti apa-apa, harus merasakan penderitaan dalam penjara dan malah dibenci oleh semua, karena kesalahpahaman itu.
"Aku, Audrey Helena Mahendra. Panggil yang kamu mau aja," jawab nya mengenalkan diri. Pipi gembul gadis itu bergerak saat mengangguk singkat.
"Aku panggil Odrey aja ya. Lucu," cengir nya. "Panggil aku Ochie aja, ya. Itu nama panggilan aku biasanya," lanjutnya.
"Oh iya, aku udah telat, Odrey. Aku mau nemuin temen ku dulu di depan ya. Sampai jumpa," pamit Rosie. Dengan berlari menjauh, tapi dia tidak sadar ada yang terjatuh dari sakunya, saat tabrakan tadi. Audrey melihat barang yang sudah tergeletak di lantai.
Audrey mendekati barang itu, dan mengambilnya. Ini, kan?! Obat asma Naiya, karena dialat itu terdapat namanya, kenapa bisa jatuh dari saku Rosie?
...☁️☁️☁️...
"Hai! Maaf aku telat." Rosie berhenti berjalan di samping pemuda itu.
"Gak papa. Jadi, barang apa yang kamu tanyain? Kok kamu bisa gak tau sih barang-barang yang ada di dalam tas kamu?"
"Iya, karena itu bukan barang aku! Tapi bukan aku ngambil, tiba-tiba aja udah ada, pas kemarin aku beres-beres tas." Rosie merogoh sakunya, kiri dan kanan. Gadis itu menyernyit bingung.
Dia kembali merogoh tas, mengacak-acak isinya. "Kok, gak ada?"
"Apanya?"
"Barang nya ilang. Aduh, mana aku belum tau itu punya siapa. Ochie harus ngasih ke pemilik nya, tapi gak tau siapa." Rosie panik.
Pemuda itu mengusap lembut rambut Rosie. "Tenang, ingat-ingat di mana kamu terakhir kali megang. Nah coba kita ke sana lagi, kalau udah ingat."
Rosie mencoba mengingat tempatnya. Matanya membulat, sebelumnya dia tidak sengaja bertemu Audrey. Apa, jatuh di tempat itu?
"Coba, kita ke depan kelas 11 MIPA 3!" Seru Rosie, sembari menggeret pemuda itu.
"Terakhir sih di situ."
Gadis itu benar-benar polos, sampai tidak tau apa nama barang penting yang terjatuh itu. Lugu dan polos, atau itu semua hanya pura-pura?
__ADS_1
...☁️☁️☁️...
BERSAMBUNG...