
Flashback on
Sirine ambulans mendengung di jalanan kota itu, setelah beberapa lama Marsya menelepon Rasha karena perempuan itu tidak datang ke tempat yang jadi tujuannya, ke tempat pertemuan itu.
Marsya akhirnya pergi ke rumah Rasha, ingin tahu kenapa Rasha tidak bisa dihubungi, dan apa alasannya perempuan itu tidak datang? Namun hal tak disangka olehnya muncul dihadapannya.
Mobil yang ia kendarai berhenti, dan dia keluar dari situ, melihat kejadian yang ada di depan matanya. Mobil yang ia kenal, itu mobil Rasha. Dan orang yang tergeletak di aspal yang tengah dibawa oleh brankar rumah sakit ke dalam mobil ambulans, dengan mobil truk yang masih di sana, lalu sopir truk yang gelisah dan bingung saat polisi mewawancarainya.
"A.. apa yang terjadi? Sha, ini gak mungkin kan?" Marsya melihat temannya yang sedang dimasukkan ke mobil itu, dan segera dibawa. Dengan langkah gemetar, dia masuk kembali ke mobil dan ikut di belakang ambulans itu.
Iris matanya berkaca-kaca, dan pada akhirnya mengalir setetes, dan menjadi deras, banjir air mata. Dia melap air itu, matanya berkabut, wajahnya memerah. Sungguh dia takut.
...π€π€π€...
Dia menangis di rumah sakit, walaupun Rasha masih sempat dibawa ke ruang operasi, ia takut, dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Dia menggumamkan sebaris bait doa, agar setidaknya Tuhan dapat mendengar permintaan nya.
"Sha, jangan tinggalin aku. Jangan tinggalin sahabat Kamu. Kita udah hidup dari kecil, bareng-bareng terusβ"
Pintu itu terbuka, seorang dokter keluar dari ruang operasi itu, dengan wajah lelah dan berantakan. "Dengan keluarga Rasha?"
Marsya mengangguk, "iya dok."
"Kami sudah berusaha keras untuk membuat Rasha tetap bersama kita di dunia ini, namun Tuhan lebih sayang padanya. Kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena ini semua sudah kehendak Tuhan, mohon maaf, dan mohon bertabah, nona."
Hari ini, hari yang paling Marsya benci. Mungkin kalau bukan karena pertemuan itu Rasha tetap disini bersamanya. Tidak meninggalkan dirinya dalam gelap dan sepi nya dunia, yang bahkan tidak pernah menganggap mereka.
__ADS_1
Hidup mereka seakan aib bagi dunia yang fana ini, bukan, bukan Rasha yang aib, tapi dirinya. Dirinya sebuah aib keluarga, namun cahaya muncul, ketika Rasha datang dengan sebuah lagu baru nan indah di hadapan nya.
Tapi.. sekarang tidak lagi. Bahkan lagu itu tidak dapat ia dengar, karya itu tidak dapat lagi ia tangkap, keunikan itu tidak lagi bisa ia agungkan, kekuatan itu lepas dari sayap nya yang enggan membentang, keikhlasan itu enggan datang yang membuat kedua kaki nya tidak dapat menumpu tubuh lagi.
Mata nya enggan ia taklukan, membuat kolam air itu hancur dan pada akhirnya keluar tanpa henti.
...π€π€π€...
Acara pemakaman selesai. Marsya kembali ke rumah nya. Dengan wajah yang pucat, dan tak ada lagi guratan semangat. Bahkan di rumah nya hanya ada kesepian.
"Sha, gimana caranya biar aku ikut kamu?" Marsya menatap foto figura di atas nakas. Kebersamaan mereka dari kecil, yang tak terpisahkan. Tapi maut bisa memisahkan mereka melebihi jauh yang diperkirakan.
"Aku sangat ingin, kesana, ke tempat kamu berada. Apakah kamu di surga? Atau kamu masih terjebak di suatu tempat?"
...π€π€π€...
Mata itu mengerjap menyesuaikan warna terang di ruang itu. Mata nya men-scan seisi ruangan. Yang ada hanyalah putih berkeliaran di situ.
"Aku dimana?!" Dia membalikkan tubuhnya dan mencari jalan keluar dari sana.
"Lo di dalam alam bawah sadar diri Lo sendiri, Marsya."
Sosok bayangan menghampiri nya, dan berkata yang tak masuk akal bagi Marsya. Membuat perempuan menyernyit melihat sosok aneh itu.
"Lo tau, gue di sini buat bantu Lo, Sya. Bantu Lo buat bisa buat apa yang Lo mau. Seperti ikut ke tempat Rasha berada," ujarnya yang tiba-tiba ada di belakang Marsya. Membuat Marsya kaget dan membalikkan badan, mengarah ke sosok itu.
__ADS_1
"Siapa Lo?" Tanya Marsya dengan nada marah, takut dipermainkan.
"Gue? Gue adalah seseorang yang bakal nolong Lo. Jadi mau apa nggak?"
Sosok itu menghilang, dan sekejap mata muncul terbalik dan melayang-layang di sekitar Marsya. "Karena waktu Lo gak banyak."
Marsya menunduk, mengepal erat tangan nya. Ya bimbang, itu yang ia rasakan sekarang. Pilihan itu membuat nya bingung.
"Lima detik lagi, Marsya~"
Marsya menggeram, dan mendongak menatap sosok itu. "Udah tau jawabannya?" Tanya sosok itu sembari memiringkan kepalanya.
Marsya mengangguk, "gue.. mau."
Sosok itu menyeringai. "Oke. Tapi Lo harus tau, kalau semua itu ada konsekuensinya."
Marsya menghembuskan nafasnya yang memburu, menenangkan diri. "Ya, gue tau."
Sosok tersenyum lebar, "baiklah. Mulai saat ini, Lo bisa ketemu dia lagi."
Flashback Off
...βοΈβοΈβοΈ...
BERSAMBUNG...
__ADS_1