Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
6. Dapat Dipercaya


__ADS_3

Olivia, gadis itu memang selalu menjadi sahabat Audrey satu-satunya. Dia yang selalu ada, tapi namanya di novel hanya disebutkan sebagai pengkhianat sahabatnya.


Olivia yang memang selalu jengkel akan sikap Audrey, akhirnya menjauh, dan tidak lagi berteman dengan sang antagonis, terlebih dirinya tidak dianggap keberadaan nya oleh Audrey.


Selain dari semua itu, dia dengan sukarela menjauh dari Audrey karena hal ini.


Olivia mencintai salah satu sahabat Arvino, yang juga mencintai nya, tapi ternyata ada satu persyaratan yang harus gadis itu laksanakan.


'Kita pacaran. Tapi Lo harus jauhin Audrey, pembawa sial itu!'


Bagaikan hipnotis, ucapan pemuda itu langsung Olivia lakukan, ini adalah luka terbesar bagi Audrey. Selain penolakan yang selalu dia dapatkan dari Arvino, tenyata temannya pun meninggalkan nya.


Saat ini, Rasha, ah, atau bisa dibilang Audrey menatap gadis yang dibicarakan.


"Gue pegang kata-kata Lo, ya, Drey. Gue tekanin sekali lagi, gue cuman mau Lo gak tersakiti lagi!" Audrey mengangguk singkat.


"Hm. By the way, ayo masuk. Bel udah mau bunyi," ajak Olivia. Mereka berjalan beriringan menuju kelas, dan tentu Audrey duduk dengan Olivia.


"Aku harap, kamu dapat dipercaya, Liv," batin Audrey.


Olivia menggigit ujung pulpen di tangannya. "Drey, gue begini karena peduli," ujarnya dalam hati, sebenarnya ada hal menjanggal dalam hatinya, membuatnya mengkhawatirkan keadaan ke depannya.


"Gue harap kedepannya gak ada masalah, Drey."


...☁️☁️☁️...


Tatapan-Tatapan dari orang sekitar tak membuatnya risih, karena memang sudah terbiasa dirinya mendapatinya. Banyak juga mencemoohnya, tak membuatnya gentar.


"Kak!"


Audrey bersama Olivia berjalan ke arah kantin, tapi terhenti karena Naiya menghampiri sang kakak. Olivia menghembuskan nafas berat.


"Ngapain sih Lo dateng? Ntar yang ada Audrey yang kena lagi!" Dengan gusar Olivia berkata begitu.


Naiya terdiam. Benar juga, tapi dirinya kan hanya ingin dekat dengan sang kakak.


"Udah, gak papa, Liv. Lagipula, dia adek gue," ujar Audrey, tangannya mengusap lembut kepala Naiya. Adiknya tentu menerimanya dengan senang, sudah lama tidak mendapatkan perhatian dari Audrey.


"Mau bareng?"


Naiya mengangguk. Dan mengait tangannya di lengan Audrey, mereka bertiga jalan beriringan. Gadis itu terlihat nyaman dengan sang kakak, Olivia tersenyum tipis melihat kakak beradik di depannya.

__ADS_1


Sudah lama tidak melihat mereka akrab begini, semenjak Arvino datang ke kehidupan anak-anak perempuan Mahendra. Pemuda itu datang membuat semuanya hancur.


"Naiya!"


Tuhkan, baru saja dia pikirkan, sekarang orang itu datang bersama teman-temannya. Ah, satu lagi, satu teman Arvino adalah orang yang dia sukai.


"Udah kita bilang, jangan dekat-dekat sama cewek kayak dia, Naiya!" Ujar salah satu dari mereka, yang sedari tadi Olivia tatap. Sembari menarik tangan Naiya agar menjauhi Audrey.


"Gak, Aldi! Dia kan kakak gue!" Naiya menepis kasar tangan pemuda itu.


Pemuda yang baru saja dipanggil Aldi, orang yang Olivia kagumi dari dulu. Tapi, selalu ia tahan sendiri perasaannya, karena Aldi jahat pada Audrey. Lama-lama jengah akan kelakuan Audrey, membuatnya meninggalkan gadis itu.


Nama panjangnya Aldi Sky Pratama. Pemuda ganteng, kaya raya, tapi rada galak, ditambah tidak pekaan. Pemuda yang termasuk inti dalam grupnya ini selalu menyukai peperangan antara Arvino dengan Audrey.


Seperti saat ini. Dia sangat membenci Audrey, maka dia akan menjadi provokator pertama yang menyulut emosi masing-masing dari jagoan.


"Aldi, ya? Novel aku udah berubah. Seharusnya gak ada adegan ini, oh, iya. Aku kan udah akrab lagi sama Naiya, jadi gak mungkinlah masih sesuai dengan novel aku," pikiran nya berterbangan, dan akhirnya terputus akibat sentakan tangan yang menyentuh kulit mulus nya.


"Udah gue bilang berapa kali?! Lo gak usah deket-deket sama pacar gue!" Bentak Arvino di depannya wajah Audrey. "Perubahan Lo juga, itu tujuannya buat narik perhatian gue lagi kan?"


Masih percaya diri rupanya pemuda ini, harus dikasih paham memang. Audrey melepaskan tangannya dan mendorong Arvino menjauh. Wajahnya dilap kasar.


Naiya melongo, dan bertepuk tangan kecil menatap kakaknya. Orang-orang sekitar berbisik-bisik satu sama lain, mengapa seseorang yang selalu mengejar pemuda tampan itu malah berteriak jijik akibat sentuhan Arvino.


Olivia menahan senyumnya. Sepertinya benar, Audrey sudah berubah.


"Lebih baik, sama gue ya gak?" Tiba-tiba datang orang yang tadi pagi Audrey temui. "Kenalin, Raden Shaka Brawijaya. Anaknya keluarga Brawijaya."


Audrey menepuk dahinya, kenapa mereka harus bertemu lagi. Tingkah konyol Raden membuatnya aneh, karena tokoh ini berbanding terbalik dari tulisan nya.


Olivia menarik tangan Audrey agar berdiri di sampingnya. "Gue gak mau, Lo deket-deket sama buaya darat," bisik nya pada Audrey. Buaya darat katanya?


"Buaya yang ka— Lo maksud, Raden?"


"Iya. Dia tuh sepupu gue," ujar Olivia sembari mengangguk singkat. Benar, Olivia dan Raden memang sepupu jauh, tapi, tidak terlalu dia dalami untuk mengenalkan mereka di buku itu.


Naiya yang berada di tengah hanya celingak-celinguk. Audrey mengkode untuk mendekat, tentu dengan cepat dia tangkap kode itu. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju kantin, meninggalkan Arvino dan Raden yang saling menatap tajam.


"Mereka gak capek ya, matanya saling tatapan. Ntar jadi bromance soalnya, kan kasian novel gue melenceng," gumam Audrey.


...☁️☁️☁️...

__ADS_1


Makanan kini sudah tersedia di meja, setelah menunggu beberapa lama untuk dimasak, dan disajikan. Makanan hangat itu masuk ke tenggorokan, perutnya yang meronta kelaparan akhirnya terpenuhi.


"Mantep. Cacing-cacing aku udah terpenuhi," kata Naiya terkekeh geli dengan ucapannya. Olivia yang masih belum terbiasa akan kedekatan Naiya hanya bisa diam tanpa ikut campur.


Audrey menepuk pelan kepala Naiya, sepertinya ini sudah jadi kebiasaannya. Adiknya sangat lucu, iya jadi sangat ingin melindungi adiknya.


"Waspada tetap terutama."


BRAK!


"EH KODOK, EH KODOK." Latah Audrey. Gebrakan itu juga mengakibatkan Olivia hampir tersedak, dan untung saja penyakit Naiya tidak kambuh Pemuda yang baru saja menggebrak meja itu menyengir.


"Aih, maaf, ya."


Naiya mengusap dadanya, bersabar agar tidak memukul orang yang baru saja datang. "Nano, kurang ajar!"


Pemuda itu juga salah satu teman Arvino. Yang otak nya paling lemot, Nano Nathaniel Jhonson. Selain lemot, pemuda itu paling centil dari grup nya. Laki-laki kok centil. Lihat saja gaya nya, rambut nya sedikit panjang, dengan bando ungu bertengger di kepala nya.


"Nano-Nano milky ngapain Lo kesini?" Tanya Olivia dengan suara rendahnya. Minumannya habis dia minum, karena hampir tersedak bakso bulat licin itu.


Audrey hanya memandang sinis para pemuda yang mengerubungi mereka bertiga. Ingat, dirinya sendiri akan meledak sewaktu-waktu.


"Gue, mewakili anak-anak Stronghold, eh, apa tadi?" Nano nampak berpikir, apa yang seharusnya dia akan katakan.


Arvino dan Aldi menepuk dahinya. Kacau, grup nya seperti tidak ada harga dirinya kalau begini, Nano merusak semuanya. Padahal tadi sudah didiskusikan perkataan apa yang akan dikeluarkan.


Arvino, Aldi, dan satu lagi temannya yang Audrey tebak ialah Gideon. Gideon Morgan Alexander. Satu-satunya yang paling datar, dan paling sedikit berbicara.


"Udah, inget! Audrey Helena Mahendra! Lo udah disuruh ayah Mahendra, dan Ibu Mahendra, juga udah perintahin." Nano mendekatkan mulutnya ke telinga Audrey.


"Lo tuh, bakal diusir. Karena kesalahan Lo banyak."


"Sebanyak itu?" Tanya Audrey dengan sinis.


"Iya, banyak!"


"Kayak Lo gak punya dosa aja. Setiap orang itu punya dosa dan kesalahannya tersendiri, termasuk Lo! Jadi jangan sok alim, dan hanya bisanya menghakimi orang."


...☁️☁️☁️...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2