
Semua itu terngiang-ngiang di otak nya, tanpa terkecuali. Bersandar di kursi belajar nya menatap lurus apa yang bisa di jangkau penglihatannya. Audrey memutar-mutar kursinya.
"Kelihatan banget, kalau semua nya berubah. Agak sebal sebenarnya kalau segalanya berubah, ini kan hasil pikiran ku." Gumam nya, sembari menggigit ujung pulpennya.
"Mulai dari awal cerita yang seharusnya spektakuler, malah jadi berbanding terbalik. Harusnya yang menderita pemeran utama, bukan tokoh antagonis. Biasanya antagonis itu menderita di dekat-dekat ******* nya. Why?!" Geram nya sembari berbicara sendiri.
Saat ini Olivia sedang pulang ke rumah nya untuk menenangkan diri. Dan dalam hati Audrey, sebenarnya senang, karena bisa dengan leluasa berpikir mengenai semuanya. Bukan senang karena apa, yah!
"Tapi gue curiga. Ada yang buat alurnya hancur. Masa karena gue masuk ke cerita ini, jadi berubah semua? Gue pelakunya gitu?" Audrey berdiri dari kursinya, dan berjalan seperti setrikaan di dalam kamarnya.
"Kayak, gue yang harusnya dihindari banget sama Arvino, ini malah laki-laki itu yang bikin masalah. Harusnya dia senang dong, gue jauh dari dia. Gak bikin dia risih lagi! Ish!"
Mencak-mencak sendiri, ngomel-ngomel sendiri. Sudah mirip kayak orang gila dirinya ini. Tapi semua itu dihentikan karena ketukan dari luar kamar nya. Audrey menarik dan menghembuskan napas nya menenangkan diri.
"Tarik napas, buang~ jangan marah~"
Lalu setelah itu membuka pintu kamar nya. Loh, laki-laki itu, Mario. Ada apa kemari?
"Halo, kak Audrey!" Sapa nya dengan nada excited. Audrey tersenyum kaku.
"Hai~" Balas gadis itu. Memang terlihatnya keluarga Mahendra ini memang tidak ada yang bisa dipercaya, tapi untuk kali ini, dirinya mencoba mempercayai Mario yang lucu nan imut di hadapannya.
"Ada apa nih?" Tanya Audrey sedikit penasaran, mengapa laki-laki di depannya datang ke kamarnya.
"Kak! Malam ini kita dinner sekeluarga Mahendra. Jadi makanya aku ajak kakak, buat ke bawah nanti," jelas Mario sembari menopang tubuhnya di pintu kamar Audrey. "Kakak ikut kan? Jangan gak ikut lagi!"
Makan malam? Sebenarnya dirinya tak tertarik, untuk mengenal lebih jauh keluarga jahanam ini. Tapi sepertinya bukan hal buruk untuk ikut serta. Siapa tau ada hal yang baik, sepertinya.
"Iya, liat nanti malam. Sekarang kakak mau ngerjain tugas!" Bohong nya. Padahal mah, mau lanjutin berpikir. Otak mungilnya seharusnya memang gak dipakai untuk hal-hal aneh di sekelilingnya, tapi ya mau gimana lagi.
Mario manyun seketika. "Ih, kok ragu sih jawabnya."
"Iya! Ntar kakak datang kok," jawab Audrey dengan senyuman manis tapi menyeramkan, tapi Mario tidak peduli, dia malah tersenyum senang.
"Yeay! Kakak udah janji, ya! Awas kalau gak dateng." Setelah itu Mario langsung pergi meninggalkan gadis itu terpaku ditempatnya.
"Let's see. Apa ada yang bermuka dua, atau orang yang tulus? Cuman mau tau, setidaknya bersikap sama seperti mereka yang menunjukkan sikap aslinya sangat menyenangkan."
..._____...
__ADS_1
Dengan akhir meregangkan otot-otot tubuh nya di kasur, dirinya melihat jam yang ada di dinding. Dinner keluarga Mahendra akan segera dimulai, dia pergi mandi dan berganti baju. Dirinya sudah siap.
"Drey, ayo keluar," ajak seseorang yang langsung masuk ke dalam kamar. Gadis itu mengangguk melihat Olivia di luar kamar nya, tak berani masuk.
"Okey." Mereka berdua berjalan ke arah tempat makan, sudah berjejer rapi orang-orang yang ditebak Audrey mereka adalah keluarga Mahendra. Yang ia kenali hanya Mario, Olivia, dan Naiya, dan bahkan ada keluarga Arvino?!
"Ngapain anak kamu datang? Biasa nya dia gak datang. Yah, kita juga gak peduli sih," celetuk salah satu pria yang ada di sebelah ayah Mahendra. Audrey duduk bersama Mario dan Olivia, yang memandang mereka datar.
"Mario! Ngapain kamu bareng mereka. Sini, duduk dekat Lily, kalian kan sudah dijodohkan." Mario menatap malas ayahnya, udah gemuk, tukang nyinyir, dan banyak hal lagi yang membuatnya tak suka. Bukan karena hal perjodohan yang baru saja akan dibicarakan disini.
Audrey menatap Mario, dan seseorang perempuan yang ditunjuk. Padahal Mario hanya figuran di cerita nya. Ternyata, di sini lebih yang dari ia kira. Tapi yang sama sekali gadis itu perhatikan adalah seseorang yang tak jauh darinya tersenyum tak tau artinya apa.
"Drey, saya sudah melihat mu dari dekat. Dan itu artinya, hidup mu akan berubah lebih dari yang kamu bayangkan!" Batin orang itu.
Audrey memutuskan perhatian nya dari Mario karena merasakan ada tatapan yang membuatnya tak nyaman. Mengalihkannya ke depan, tapi tak ada satupun yang menatap dirinya. Mungkin, hanya perasaan nya.
"Rasha, mau saya kasih clue gak?"
Tubuhnya menegang, suara apa itu? Kenapa tiba-tiba ada yang berbisik di telinga nya? Dia melirik ke segala arah, dan mulai gelisah tak menentu, tapi secara alami dirinya menyembunyikan keresahannya.
"Jangan takut. Saya cuman kasih clue, kenapa kamu di bawa ke sini." Bisikan itu lagi, dengan diakhiri tawa menyebalkan dari seseorang itu. Membuat Audrey menutup sebelah telinga nya. Menenangkan diri.
"Apa maksud mu? Dan siapa kamu?" Tanya nya dan tentu dalam hatinya. Jika dia berbicara sendiri, akan terlihat seperti orang gila, tambah panjang jadinya kalau dilihat keluarga jahanam bermuka dua di depannya itu.
"Kak. Itu dimakan," senggol Mario yang melihat Audrey seperti nya melamun entah kesambet apa. Dia menyodorkan piring yang ada di depannya, sudah disiapkan Olivia tentunya. Tak mungkin disiapkan oleh yang lain, bisa-bisa diracunin, atau malah dijampi-jampi. Kan seram.
"Ng, eh iya! Ini dimakan kok," senyum Audrey dan memakannya perlahan, sembari mencoba memfokuskan diri pada bisikan yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Beneran tidak mau dapet clue nih? Padahal saya mau ngasih tau, kalau ini semua— rahasia hihihi."
Yang mendengarkan hanya kesal dalam hati, bisa-bisanya ia dipermainkan oleh sosok itu. Jadi tambah penasaran apa yang dimaksudkan.
"Baiklah, jadi sekarang kita masuk ke dalam topik utama kita. Karena keluarga besar Mahendra dan keluarga besar Bagaskara sudah terkumpul, juga keluarga Daforanz dan keluarga Argantara. Mari kita mulai," ujar pria yang duduk di seberang, yang Audrey yakini sebagai ayah.
"Ya, tentu, ini membuat keluarga kita semakin erat hubungan nya, ya, kan, Cakra."
Yang dipanggil Cakra mengangguk setuju. "Saya dari keluarga Daforanz, akan memperkenalkan anak saya Lily Allenata Daforanz. Silahkan nak, perkenalkan diri kamu," kata Cakra mempersilahkan anaknya.
Walau gugup, dirinya akan membiasakan diri. Lily berdiri dari kursinya dan memperkenalkan diri setelah membungkuk sedikit memperlihatkan kesopanannya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah dipersilahkan ayah saya, Cakra Basukara Daforanz. Perkenalkan saya Lily Allenata Daforanz." Dengan cepat Lily duduk kembali, menghiraukan tatapan orangtuanya yang menatap tajam dirinya. Audrey lumayan kagum melihat aura pemberontak keluar dari Lily.
"Bisa nih diajak ke jalan yang benar. Jangan sampai dipengaruhi oleh keluarga jahanam ini." Yap, tentunya dalam hati, dia tidak akan merusak moment perkenalan ini, setidaknya supaya kenal saja, daripada penasaran nama mereka yang susah ditebak.
Keluarga Argantara berdeham, dan pria yang tak lain tak bukan, ayah dari Arvino menatap anaknya. "Perkenalkan saya dari keluarga Argantara, akan memperkenalkan anak saya Arvino Putra Bagaskara Argantara. Silahkan nak, perkenalkan diri kamu," katanya.
Tapi sebelum Arvino bangkit dari duduknya, sebuah bisikan dari bundanya membuat sedikit bergetar.
"Kali ini jangan buat bunda dan ayah kamu malu, Arvino," tekan bundanya menatap dirinya dengan seram. Hal itu tak luput dari perhatian Audrey, membuat dirinya menyernyit.
Arvino terdiam, memang selama ini dirinya membuat kedua orangtuanya malu? Apa maksudnya? Firasat nya buruk tentang hal ini. Apalagi tiga keluarga dikumpulkan untuk membahas tuntas semuanya dan itu hari ini.
"Saya Arvino Putra Bagaskara Argantara, anak dari ayah Zee Jirga Argantara, dan bunda Emillia Roxanne Georgian."
Agak bingung sebenarnya Audrey ini, kenapa perkenalan ini begitu formal, padahal bukan acara besar ataupun resmi. Dirinya menoleh pada Olivia yang dari tadi memerhatikan dengan seksama kedua orang yang baru memperkenalkan diri.
Ayah dari keluarga Mahendra tersenyum puas. Lalu berdiri, "saya juga memperkenalkan diri. Saya Nino Bismanra Mahendra."
Lalu menatap Audrey agak datar, "dan anak-anak saya, anak pertama saya adalah, Audrey Helena Mahendra. Dan anak kedua saya adalah, Naiya Floella Mahendra. Silahkan kalian berdiri, dan perkenalkan diri kalian dari kamu Audrey."
Audrey menerka, sepertinya ayah dari Mahendra ini hanya mencoba ber-akting agar memperlihatkan sebenarnya keluarganya baik-baik saja. Padahal aslinya tidak. Dirinya berdiri, dan menjadi pusat perhatian, Ugh, dirinya tak menyukai ini.
"Audrey Helena Mahendra," ujarnya datar, dan duduk kembali. Mario bertepuk tangan seperti orang gila, dan terkekeh menatap kakak sepupu jauh nya itu. Melihat anak pertama nya begitu, membuat Nino memijit pelipisnya.
Lalu, Naiya berdeham dan berdiri. "Saya Naiya Floella Mahendra."
Seperti sang kakak, dirinya menjadikan kakaknya panutan. Kayaknya sifat keduanya akan mulai berkaitan.
..._____...
"Dan saya Naiya Floella Mahendra, menolak keras tentang perjodohan saya dengan Arvino!"
Mendengar hal itu, semua nya terbelalak. Audrey tentu juga melotot, Hoi, alurnya bukan seperti itu. Apa dia harus ikut campur untuk tetap mengarahkan semua ke alur nya? Tapi, kalau begitu, dirinya juga harus ke sifat asli dari karakter ini, yaitu mengejar Arvino, lalu membenci Naiya adiknya sendiri, membuat semuanya persis seperti di novel. Ih, jijik.
"So, Anda tak penasaran, kenapa semua bisa berjalan seperti ini, Rasha?"
Sosok itu mengenal dirinya yang asli?! WTH!
BERSAMBUNG...
__ADS_1