Transmigration : In My Novel

Transmigration : In My Novel
10. Audrey Pusing


__ADS_3

Gadis itu menatapi alat asma sang adik yang ada di tangannya. Benarkah, Rosie yang menyebabkan Naiya kehilangan obat penting ini? Kenapa banyak sekali hal yang membuatnya berpikir.


Lebih baik mati dan masuk surga, ketimbang hidup di dunia novel dan banyak pikiran. Eh, tapi kalaupun mati masih tidak tentu, masuk surga atau tidak. Audrey kini duduk di bangku nya. Sendirian.


"Tapi, dia keliatan anak baik-baik."


Dia ini orangnya mudah curigaan. Jadi susah untuk percaya orang-orang, membuatnya berdecih pelan, lalu menyimpan alat itu di dalam tasnya. Bangkit dan melangkah ke luar kelas, membawa satu pulpen dan buku.


"Gabut. Pengen nulis sesuatu jadinya," gumamnya sambil berjalan ke arah taman. Namun, dirinya tertahan, saat ada seseorang yang memanggil nya.


"Odrey!"


Yang dipanggil berbalik, melihat Rosie dengan seorang pemuda berjalan cepat ke arahnya. Dia menaikan sebelah alisnya, bingung kenapa Rosie memanggil nya. Beberapa orang yang sudah datang pada pagi hari itu, memandang Rosie, yang terlihat berani pada Iblis nya SMA Rajawali.


"Kenapa, Ochie?" Tanya Audrey, dengan panggilan nama Ochie. Rosie menyunggingkan senyumnya mendengar panggilannya.


"Gak papa. Ochie cuman mau nanya, Odrey liat ndak ada barang jatuh pas kita tabrakan?" Tanya Rosie. "Aku mau ngembaliin, tapi aku gak tau itu punya siapa."


Pemuda yang bersama Rosie hanya diam, bergeming. Tatapan nya datar, tidak bicara. Audrey mengajak Rosie untuk ke kelasnya, untuk memperlihatkan alat yang dimaksud.


"Ini?"


"Iya, bener, ini! Oiya, kamu tau siapa yang punya?"


Audrey hanya bisa tersenyum kesal, dia menunjuk pada nama yang tertera jelas pada alat itu. Membuat Rosie menyengir, dan pemuda di belakangnya hanya menahan tawanya.


"Ochie gak tau," cengir nya. "Tapi, Naiya siapa? Naiya pacarnya Arvino, bukan?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Iya dia," jawab pemuda yang sedari tadi diam. Rosie mengangguk mengerti, dan menengadahkan tangan nya.


Audrey menyernyit. "Tangan kenapa?"


"Aku mau ngembaliin ke orangnya lah, Odrey." Alat nya dimasukkan ke saku Audrey, dan menggelengkan kepalanya.


"Naiya kan adiknya," celetuk teman Rosie terlihat jengah dengan kelemotan gadis itu. Rosie mengerucutkan bibirnya, dan mengangguk sembari menggaruk pipinya.

__ADS_1


"Aku kan ndak tau."


Sepertinya dia bukan pelaku dari orang yang mencuri obat alat pernapasan Naiya. Tapi kenapa bisa ada ditangannya, saat dirinya akan bertanya, Olivia datang sembari merangkul nya.


Olivia melihat sinis pada Rosie dan pemuda yang bersama nya. "Kenapa anak kecil ada di sini? Sono, pergi ke TK lagi!"


"Ochie bukan anak kecil!" Seru Rosie melototkan mata nya pada Olivia. Olivia hanya menatap jijik pada sifat Rosie.


"Jangan panggil sahabat gue kayak gitu, Lampir!"


"Richard jeleq!"


"Oliv kek lampir!"


"Ricat lelaki abal-abal!"


"Perempuan jadi-jadian."


Audrey pusing mendengar Olivia dan dua orang di depannya, perlahan melepaskan rangkulan gadis di sebelahnya. Dan masuk ke kelas tanpa disadari ketiganya.


"Pusing aku, liat mereka yang berantem. Mo ke tempat TKP aja deh, abis itu cek CCTV seketika ilang yang tadi mau aku tulis."


...☁️☁️☁️...


"Ngekor mulu, kek induk sama anaknya," celetuk Raden. Jangan lupakan, pemuda itu juga ikut, karena ingin membolos les private nya.


Olivia hanya menatap sinis pada Raden. "Lo sendiri, ngapain ngikutin kita, sok kenal banget."


"Eleh. Pendek dasar!"


"Anjir! Lo gak lebih tinggi dari Aldi," ledek Olivia balik.


"Maap, gak kenal." Membuat Olivia mendelik tajam pada Raden, rasanya ingin membuat wajah pemuda itu tidak berbentuk lagi. Lama-lama Audrey ingin menyumpal mulut orang-orang yang sangat berisik ini, jalan mereka berhenti saat sampai si depan kamar Naiya.


"Diem, ya. Di sini rumah sakit, bukan tempat dugem," ujar Audrey menahan kesal, lalu masuk diikuti dua orang itu.

__ADS_1


"Apa hubungannya?" Gumam Olivia, sembari menggaruk pipinya.


"Kakak~" Sapa Naiya, gadis itu tersenyum senang menyambut kedatangan kakak nya. Audrey dapat melihat ada empat pemuda yang sudah duduk anteng di sofa.


Tentu mereka adalah Arvino, Aldi, Nano, dan Gavino. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, mulai dari Gavino yang hanya memfokuskan diri pada handphone, Nano yang membaca buku sembari minum minuman nya, Aldi yang tidur, dan Arvino menatap tajam padanya.


Audrey hanya mengacuhkan mereka, dan beralih ke Naiya yang sudah menunggu nya. "Adiknya kakak, gimana keadaan kamu?" Tanya sembari mengusap rambut milik Naiya dengan sayang.


"Iya dong, aku udah sehat. Kata dokter hari ini udah bisa pulang sih, tapi malam. Sekalian dijemput mamah sama papa."


Audrey mengangguk singkat, dan duduk di samping ranjang. Menatap serius pada Naiya, "tapi kakak mau tanya serius sama kamu. Kamu benar-benar gak tau, siapa yang jebak kamu?"


Naiya terdiam, mengalihkan pandangannya dari Audrey, lalu menelan ludahnya sendiri. "Aku benar-benar gak tau kak, siapa yang jebak aku," jawabnya sembari kembali melihat manik mata Audrey.


Jujur, Audrey tidak percaya begitu saja. Kenapa? Karena saat melihat di CCTV yang ada di TKP, yaitu kantin, tapi tidak ada apapun saat kemarin, begitu juga di dekat toilet. Yang membuatnya curiga adalah, CCTV yang mengarah ke kelas lain, di sana memperlihatkan alat pernapasan itu Naiya simpan di dekat tas orang lain. Tapi kenapa, Naiya melakukan itu?


"Kemarin CCTV udah aku cek, tapi kenapa yang ada, Naiya sendiri lah pelaku nya?" Batin Audrey bertanya-tanya.


Raden menyernyitkan dahinya melihat Naiya. Seperti pernah dirinya lihat, dia mencoba mengingat-ingat. Ah iya, kemarin dari arah kantin, gadis itu berjalan, ke arah kelas nya. Kelas XI MIPA 1, dimana tempat yang sama dengan CCTV Audrey lihat.


Raden membulatkan matanya, saat ingat, jika Naiya masuk ke kelas dengan mengendap-endap. Saat dilihat-lihat, Naiya mencurigakan.


"Kenapa kak? Kakak gak percaya sama aku?" Seketika Audrey gelagapan, lalu menenangkan diri. Arvino mengepalkan tangannya.


"Kakak macam apa tuh, gak percaya sama adiknya," provokasi Arvino. Membuat Raden menimpuk pemuda itu menggunakan bantal sofa dekat nya. "Aw!" Ringis Arvino, saat bantal itu melayang ke wajahnya.


"Mulutnya minta dislepet," sahut Raden, menatap Arvino dengan polos.


Audrey menghela nafasnya. "Kakak bukan gak percaya, kakak cuman nanya. Karena mau nyari tau, siapa yang berani ngelakuin hal jahat ke adik tersayang nya kakak."


Naiya mengangguk dan menundukkan kepalanya. "Sowryy.."


Audrey hanya bisa tersenyum membalas ujaran Naiya yang terbilang suaranya cukup kecil.


"Gak ada yang patut dipercaya, di dunia ini, Drey."

__ADS_1


...☁️☁️☁️...


BERSAMBUNG...


__ADS_2