
Pemuda itu memang harus diberi pelajaran sedikit, agar bisa sadar. Kelakuannya itu sudah diluar batas, bagaimana kalau Naiya tidak mendapatkan obat nya, dan tidak ada satupun yang membantu nya. Bisa-bisa.. Naiya akan lewat. Aish. Jangan berpikiran yang aneh-aneh.
Olivia menatap sinis pada Arvino yang meminum kopi dari botolnya. Bisa-bisanya laki-laki itu menggunakan cara itu, untuk membuat nama Audrey menjadi kotor. Difitnah, dan dibuat seolah-olah pelakunya adalah gadis polos itu.
"Biasa aja liatnya," celetuk Aldi, melihat Olivia yang sedari tadi memandangi Arvino, walau pandangan nya bisa diartikan kalau gadis itu sedang marah akan perkataan pemuda itu. Tapi, tetap saja, Aldi cemburu.
Olivia memutar bola matanya malas. Audrey hanya bisa terkekeh kecil, karena dia tahu apa yang terjadi diantara mereka. Namun, dia datang, membuat semua nya berubah. Apa, perasaan mereka juga berubah?
"Diem deh Lo, Di. Ganggu tau gak. Kalian pulang deh, jangan gangguin!" Seru Naiya pada Arvino dan teman-temannya. Arvino membelalakkan matanya. Dia, diusir?!
"Kok aku diusir, sayang?! Harusnya yang diusir tuh para iblis itu!" Tunjuk Arvino pada Audrey dan dua temannya dengan marah. Rasanya ingin mematahkan jari itu, seenaknya menunjuk dirinya. Sangat tidak sopan.
"Kita udah putus dari jauh-jauh hari, Arvino." Desis Naiya. Tunggu, mereka sudah putus? Tidak mungkin. Kenapa jadi yang paling penting hancur. Tapi sudah lah, memang seharusnya adik dari Audrey ini tidak bersama seseorang yang brengsek seperti Arvino.
Nafas pemuda itu menderu keras. Detik berikutnya, pemuda itu membuka pintu keluar dengan kasar. "Kita pergi."
"Just go, doggie!" Umpat Olivia.
"Astaga," ucap Audrey mendengar Olivia, yang pertama kali mengumpat. Bahkan dia tidak menulis satupun kata kasar dari mulut Olivia di buku nya. Olivia tersenyum tipis.
"Gue kan jengkel, Drey."
...🥀🥀🥀...
Hari ini, seperti biasa. Sekolah. Dengan menaiki bis lagi, membayar bus dengan kartu. Sebenarnya sangat ingin rasanya merasakan kasih sayang orangtuanya, dengan mengantarkan nya ke sekolah, mengobrol dan menikmati perjalanan. Tapi, lagi, dia sudah terbiasa dengan kesendirian.
Memasang earpod di telinga, dan mendengarkan musik kesukaan nya. "Secret Love Song". Menyandarkan tubuhnya dan melihat lua jendela, yang bus seperti nya berhenti di salah satu halte lagi, dan menaikkan penumpang. Cukup ramai pada pagi hari ini.
__ADS_1
"Rasanya setiap perasaan yang aku rasa, semua tercampur. Kadang tidak terasa, terkadang juga terasa. Rasa kasihan, rasa cinta, rasa egois, dan yang lain, tergabung dan hati ini tidak merasa apapun. Lagi, hal yang sama seperti Rasha dulu, aku tidak bisa lagi merasakan sentuhan." Dia menatap tangan nya, dan menghembuskan nafas nya.
Mengapa dirinya berbicara seperti itu? Karena, kemarin malam, pada saat dia di rumah, pulang dari rumah sakit, dia memasak makanan layaknya anak kos, yaitu mie instan. Dengan air yang mendidih tentu saja itu panas, dan panci yang dia pakai tentu panas, tapi dia tidak merasakannya.
"Jangan berpikiran yang aneh, Drey."
Dua puluh menitan, dia menghabiskan waktunya di dalam bus, dan akhirnya berhenti di halte sekolah nya. Untung saja tidak macet. Dia keluar dari bus. Raden menyapanya begitu keluar dari bus. Tunggu, dia menunggu nya?
"Pagi, Drey! Tau gak, katanya si Olivia, Maureen udah selesai skor! Lo kenal kan? Kata Olivia Lo kenal. Emang dia siapa?" Oceh Raden, mengikuti langkah Audrey masuk ke sekolah. Gadis itu hanya bisa memutarkan bola matanya malas.
"Gue gak kenal Maureen." Ucap nya dengan dingin. Iya, memang dia tidak kenal, dia kan —sedikit banyak nya— lupa ingatan. Raden mengangguk, dan ber-oh ria.
"Jadi, Lo gak kenal gue?" Celetuk seseorang di belakang mereka. Membuat Raden menengok ke belakang. Sementara itu, Audrey hanya mengacuhkan orang itu. Lagian, ngomong sama siapa dia, kan cewek itu tidak memanggil namanya.
"Drey," panggil orang yang satunya. Audrey kenal, itu suara Olivia. Dia berbalik, menatap Raden, Olivia, dan satunya lagi yang terlihat asing. Apa dia Maureen yang dibicarakan?
Voila. Itu dia. Maureen, adalah seseorang yang kejam nya seperti Audrey, tapi masih lebih baik Maureen. Tapi, kenapa mereka jadi sedekat ini? Di dalam novel dia, Audrey dan Olivia tidak pernah dekat dengan Maureen, malah mereka menjadi musuh.
"Maureen?" Gumam Audrey.
"Yes, i am," sahut nya. Ah, benar. Okeh, sekarang dirinya benar-benar percaya, kalau semua ini sudah tercampur aduk, dan sangat berubah dari alur. Selalu mengatakan itu. Audrey hanya tersenyum lelah.
"Oh." Audrey berbalik dan kembali melangkah meninggalkan tiga orang yang menatap nya dengan pandangan yang berbeda.
"Begitu doang respon Lo, Drey? Gue kira Lo bakal kangen sama gue." Ujar nya dalam hati. Maureen hanya menatap sendu punggung Audrey yang menjauh.
"Sorry ya, Ren. Kata Naiya, sebagian ingatan nya hilang." Jelas Olivia merasa tak enak pada Maureen. Maureen tersenyum dan menggeleng.
__ADS_1
"Gak papa. Setidaknya tadi dia tau nama gue."
"Den, tadi respon nya pas lu tanya ke Audrey, cuman dijawab gitu doang?" Tanya Olivia pada Raden. Raden mengangguk. Sebenarnya dia tidak hanya mengikuti permintaan dua gadis di depannya. Tapi dia khawatir, ucapan Audrey kala itu masih terngiang-ngiang di otak nya.
"Apa Audrey baik-baik saja? Apa maksud dari perkataannya. Gak mungkin kan dia mau bunuh diri," batin Raden. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju kelas masing-masing. Kelas Raden berbeda dengan para gadis itu.
"Setidaknya, Rasha aman di sini. Dan penyakit nya tidak muncul."
...☁️☁️☁️...
Maureen Alexandra Wallie. Pengusik, pembully, kejam seperti Audrey. Tapi, masih lebih parah Audrey. Yang aku pertanyakan sekarang adalah, kenapa mereka bisa dekat. Apalagi Olivia dan Maureen. Ada cerita, yang pastinya aku tidak sadari sedang berjalan.
Dan tentu, masing-masing tokoh memiliki cerita nya masing-masing, tak mungkin aku di sini, tahu apa yang mereka perbuat, dan lakukan di sana. Aku bahkan tak tahu, apa yang terjadi, kenapa bisa transmigrasi? Kenapa aku hidup, hanya untuk tersakiti lagi? Kenapa aku hidup hanya untuk dipinta agar bisa menyelesaikan semua masalah yang dibuat Audrey asli?
Aku, hanya meminta diberi waktu untuk hidup. Jika, begini lebih baik mati, daripada hidup. Maureen tersenyum pada ku, saat mata kami bertemu. Membuat ku menyernyitkan dahi. Apa yang membuat Maureen terlihat akrab dengan Audrey?
Tapi, senyuman itu. Aku pernah lihat, asing memang tapi terasa sering melihatnya. Siapa Maureen?
Mereka berjalan ke arah ku. Untuk apa, jangan ganggu waktu tenang ku. Aku hanya ingin menyendiri, merenungi nasib, yang aku sama sekali tidak tahu memecahkan misteri dari novel ku sendiri.
Ajaib. Tapi ini nyata, semua yang ada di novel dibuat berputar balik, atau bisa dibilang berubah total. Itu penyebabnya pasti karena aku, ada di dunia ini. Dunia novel, dunia asing, yang bahkan tak ada jalan keluar, agar aku bisa kembali ke dunia di mana seharusnya aku tinggal.
Aku tertekan. Tidak ada yang dapat ku percaya. Tidak ada yang ku kenal, hanya nama dan sifat yang terkadang malah terputar balik. Tidak ada orang yang ku anggap nyaman. Semua kuanggap ancaman. Tapi, kenapa aku menganggap semua nya ancaman, padahal aku tahu, siapa yang bisa ku percaya saat ini.
...☁️☁️☁️...
BERSAMBUNG...
__ADS_1