Trap

Trap
Keberadaan


__ADS_3

Saat ini Merry dan juga Mario tengah berada dalam perjalan menuju tempat yang ingin Merry tunjukkan. Mario sama sekali tidak tahu lokasi tempat tersebut. Ia hanya mengikuti arah arah yang di tunjukkan oleh Merry.


Dalam pikirannya, Mario membayangkan tempat yang akan mereka datangi adalah tempat yang begitu romantis atau tempat yang begitu menyenangkan untuk pasangan kekasih. Namun bayangan tersebut langsung saja terhempas jauh saat Merry menyuruhnya untuk berhenti di sebuah bangunan yang pasti tidak ingin di datangi oleh pasangan kekasih manapun.


Mario masih nampak sangat kebingungan, Entah kenapa Merry sampai membawanya kemari. Matanya seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Kantor Polisi.


"Apa ini tempat yang kau maksud? Apa tidak salah kau mengajakku kemari?". Tanya Mario dengan ketidak percayaannya mengenai tempat tujuan Merry itu.


" Tidak. Memang ini tempatnya. Diam saja, nanti kau juga tau". Ujar Merry.


"Tunggulah disini saja. Aku akan segera kembali". Imbuhnya.


Merry kemudian masuk kedalam kantor polisi tersebut meninggalkan Mario yang masih nampak kebingungan.


Tak lama, Merrypun keluar dan mengajak Mario masuk kedalam berjalan melewati beberapa lorong hingga akhirnya masuk di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas.


Disana juga ada beberapa orang yang sedang bercengkerama seoah melepaskan rasa rindu masing masing. Namun, yang jadi sasaran Merry adalah seorang pria parubaya memakai kaos belang belang perpaduan hitam putih sedang duduk sendiri dan melemparkan senyum ke arah mereka.


Tanpa basa basi Merry menarik tangan Mario dan mengajaknya menghampiri pria tersebut. Merry tanpa ragu langsung memeluk pria itu dengan begitu hangat.


" Merry sangat merindukan ayah". ucap Merry disela pelukannya.


Apa? dia bilang ayah. apa laki laki ini adalah ayahnya?" . Ucap Mario dalam hati.


Merry memang sangat merindukankan ayahnya. Hampir beberapa bulan ia tidak datang untuk menjenguk ayahnya karena harus bekerja.


sedangkan di hari libur, kantor polisi tersebut tidak memberi izin untuk membesuk tahanannya.


Merry yang begitu larut dalam pelukan ayahnya tersebut hampir melupakan Mario yang masih berdiri mematung disampingnya.

__ADS_1


"Siapa laki laki yang sedang kau ajak kemari ini sayang?" . Ucap ayah Merry sambil melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Mario.


"Dia adalah Mario yah, dia atasan Merry". Tutur Merry.


"Dan Mario, ini adalah ayahku". Lanjut Merry sambil kembali memeluk ayahnya dari samping karna masih sangat merindukannya.


Mario menjabat tangan pria yang di akui Merry sebagai ayahnya tersebut sambil melemparkan senyum ke arahnya. Ayah Merry menerima jabatan tangan Mario itu dan membalas senyum pula.


"Ayo silahkan duduk. Merry memang selalu manja seperti ini". ujar ayah Merry yang kemudian duduk dengan posisi Merry masih memeluk erat tubuh rentanya. Sedangkan Mario duduk sendiri di seberang.


"Maaf paman, saya baru tahu kalau Merry masih memiliki seorang ayah". Ucap Mario dengan sopan.


" Jadi, apa kau pikir ayahku sudah meninggal?". Merry menjawab dengan sewotnya.


"Bukan begitu, maksudku- ".


" Apa!! apa maksudmu bicara seperti itu?". Merry memotong perkataan Mario dengan nada kesalnya hingga membuat Mario merasa serba salah.


"Kenapa ayah malah tertawa? seharusnya ayah marah dikira sudah meniggal?". ucap polos Merry.


" Tidak. Kenapa ayah harus marah?. Memangnya kamu pernah menceritakan tentang ayah padanya?". Tanya balik ayahnya yang langsung membuat Merry terdiam. Karna memang Merry baru kali ini mengajak seseorang menemui ayahnya.


"Maafkan jika Merry selalu membuat masalah di perusahaanmu. Dia memang anak yang keras kepala. Tapi saya yakin dia punya hati yang tulus, dia selalu mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Tidak pernah menutupi nutupi apapun". Ucap ayah Merry sambil mengelus elus rambut Merry dengan manja


"Ayah bicara apa, justru dia yang selalu menggangguku". Ucap Merry begitu manja pada ayahnya.


" Wajar saja, bukankah dia bosmu nak?". Ucap Ayahnya. Merrypun tak mampu berkata kalau berdebat dengan ayahnya.


"Maaf jika saya menyela". Ujar Mario.


"Sepertinya saya pernah melihat paman, tapi dimana?". Imbuhnya. yg langsung di balas tawa oleh ayah Merry.

__ADS_1


" kenapa paman malah tertawa?". Mario semakin kebingungan.


"Namaku Albert Wolfer. Dulu aku bekerja di sebuah perusahaan properti yang berada di bawah naungan DANKER grub. mungkin kita pernah bertemu di salah satu acara perusahaan. Bukankah kau juga memiliki usaha di bidang properti?". Ujar Albert ( ayah Merry).


" Aku tahu sekarang, paman adalah sekertaris pribadi tuan Woules Danker yang di tahan karna sudah- ". Mario menggantung kata katanya.


"Tidak. Ayahku bukan pembunuh. Semua hanya sebuah kesalah pahaman". Ucap Merry dengan tegas.


"Aku rasa jam besuk sudah berakhir, ayah jaga kesehatan ayah. Nanti Merry akan sering kemari." Merry berpamitan pada ayahnya dan memeluk nya kembali.


"Ayo". Imbuhnya sambil menarik tangan Mario keluar ruangan tersebut.


" Permisi paman". timpal Mario.


Mario kembali melajukan mobilnya keluar dari kantor polisi tersebut. Merry hanya diam menatap luar jendela membelakangi Mario.


"Kita mau kembali kekantor atau-"?.


" Antarkan aku pulang saja". Merry terdengar sedih saat berbicara.


"Apa kau baik baik saja?". Tanya Mario yang hanya diangguki oleh Merry sebagai jawabannya.


Mariopun menuruti perkataan Merry dan mengantarnya kembali ke rumahnya.


.


.


.


. Maaf aku lagi buntuuuu๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“

__ADS_1


__ADS_2