Trap

Trap
Sosok itu


__ADS_3

Merry tengah bersiap untuk pergi ke pesta yang di adakan Marvin. Ia nampak cantik dengan balutan Dress berwana gelap sepanjang lututnya, yang di padukan dengan blezzer berwarna campuran antara putih dan fanta. di tambah sentuhan make up yang terlalu sederhana membuat kecantikan naturalnya terlihat jelas.


Denis menghampiri Merry yang masih sibuk memasangkan highthills pada kakinya. Dan kebetulan memang Merry sudah membuka pintu kamarnya hingga Denis bisa langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kak, di depan ada kak Mario". Ucap Denis.


" Baiklah , kakak akan segera keluar. Apa kau yakin tidak apa apa dirumah sendirian?". Ucap Merry yang tidak tega meninggalkan Denis.


"Kakak tidak perlu khawatir aku akan baik baik saja". Ujar Denis disertai senyuman lembut yang menandakan ia tidak keberatan.


" Kalau begitu kakak pergi dulu, dan segera beristirahatlah. Setelah acaranya selesai kakak akan langsung pulang". Ucap Merry sambil mencium kening Denis dan berlalu keluar rumah menghampiri Mario.


Mario tengah duduk dikursi teras sambil memainkan ponselnya. Pandangannya langsung teralihkan oleh Merry yang baru saja keluar dari dalam rumah dan diikuti oleh Denis di belakangnya.


"Kau cantik sekali". Ucap Mario beranjak dari duduknya sambil menatap lekat ke arah Merry.


"Jadi selama ini aku tidak cantik?". Seru Merry yang langsung memukul telak pandangan Mario.


"Kau cantik, tapi malam ini lebih cantik lagi". Ujar Mario.


" Sudahlah, ayo kita berangkat. dan Denis cepat masuk lalu tidur jangan lupa tutup pintunya". Tutur Merry yang diangguki oleh Denis tanda mengerti.


"Den, kita pergi dulu kau hati hati dirumah". Mario ikut menimpali ucapan Merry.


.


.


*************


.

__ADS_1


.


Merry sedikit terkejut setelah mengetahui bahwa lokasi pesta tersebut berada di sebuah cafe yang bersebalahan dengan sebuah taman yang menjadi saksi bisu awal keterpurukan hidup Merry.


"Kau baik baik saja?". Tanya Mario yang melihat perubahan pada raut wajah Merry.


" Aku baik baik saja". Jawab Merry.


"Kalau begitu ayo kita masuk". Ajak Mario. Dan Merrypun mengiyakannya. Mario menggandeng tangan Merry selama memasuki area cafe hingga sampai di area outdorr di bagian balkon atas gedung tersebut yang menjadi lokasi pesta berlangsung.


Seluruh karyawan juga beberapa tamu undangan sudah mulai memenuhi tempat itu. tinggal menunggu seseorang yang digadang gadang Marvin menjadi tamu istimewanya.


Mario berpamitan pada Merry untuk menghampiri Marvin yang sedang bercengkerama dengan rekan bisnisnya. Merry yang kini sendiri lalu berjalan ke pinggiran balkon dan berhenti tepat di dekat pagar besi pembatas balkon tersebut.


Matanya mulai menyapu seluruh pemandangan taman disebelah gedung tersebut dari atas tempatnya bernaung saat ini. Kemudian pandangannya terhenti pada salah satu bangku yang menghadap ke sebuah kolam air mancur yang menampilkan warna bak pelangi saat malam hari akibat sorotan lampu warna warni yang sengaja di pasang mengelilingi air mancur tersebut.


Entah perasaan apa yang saat ini memenuhi seluruh pikiran Merry hingga tak terasa matanya mulai terpenuhi dengan air yang siap beratraksi terjun bebasnya.


"Kau sedang apa disini Merry ?". Suara Nella yang seketika mengejutkan Merry.


" Apa kau habis menangis?". Tanya Nella melihat mata Merry yang masih sendu.


"Tidak, tadi ada debu yang masuk ke mataku". Bantah Merry.


" Kemari biar aku meniupnya". Seru Nella.


"Tidak perlu. Aku rasa sudah hilang. Ayo kita mengambil minum saja, aku merasa haus". Merry mencoba mengalihkan perhatian Nella.


Merry dan Nella sama sama mengambil segelas minuman yang tersedia disana. Kemudian mereka mencari duduk dan berbincang hingga Marvin mulai memberi sambutan disana.


Marvin mulai berpidato di atas mini panggung yang tersedia. Semua para staf dan beberapa tamu undangan sedikit berkumpul di depan panggung itu tanpa terkecuali. Merry dan Mario berdiri tepat di barisan paling depan menatap langsung pada Marvin.

__ADS_1


Seusai berpidato Marvin mulai mempersilahkan tamu istimewanya yang juga kebetulan baru sampai disana untuk segera naik ke atas panggung tersebut.


Sosok laki laki berpakaian rapi, bertubuh tegap dengan ekspresi wajah yang dingin namun menampilkan aura istimewa tersendiri, usianya jauh lebih muda dari Marvin.


Laki laki itu datang bersama pria parubaya yang juga berpakaian rapi berjalan di belakangnya.


" Tuan Reynard Alves Danker". Begitu nama itu disebut oleh Marvin, Merry tanpa sengaja menjatuhkan gelas minuman yang sedang ia pegang hingga menimbulkan suara yang keras karena pecah. hal itu membuat sebagian mata mengarah padanya.


Kaki yang menumpu tubuh Merry tiba tiba melemas hingga badannya terhuyung ke belakang. Beruntung Mario dengan sigap segera menahan tubuh Merry agar tidak sampai terjatuh kelantai.


"Kau tidak apa apa?". Tanya Mario cemas.


" Aku baik baik saja hanya tiba tiba pusing". Ucap Merry.


Mario membatu Merry berdiri dengan tegak kembali. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir, namun dengan senyumnya Merry mencoba meyakinkan Mario bahwa dia baik baik saja.


Merry lalu mendongakkan kepalanya , menatap ke arah laki laki yang kini sudah berada di samping Marvin di atas panggung. Sekilas tatapan mereka saling bertemu. Nampak dengan jelas raut wajah saling terkejut diantara keduanya.


Merry tanpa sengaja meremas tangan Mario yang masih menggenggamnya. Sontak itu membuat Mario kembali menghawatirkan keadaan Merry.


"Lebih baik kita mencari tempat duduk, agar kau dapat sedikit beristirahat". Seru Mario dengan nada sedikit memerintah dan langsung mebawa Merry beralih dari kerumunan itu, Merrypun mengikutinya tanpa penolakan.


Berbeda dengan Reynard yang masih menatap tajam ke arah Merry dan Mario yang semakin menjauh dari sana..


.


.


.


..

__ADS_1


.


.Jangan lupa like ya cintaaaa 😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2